Nasional

Wah Gak Nyangka, Ini Alasan SETARA Institute Nobatkan Depok Jadi Kota Paling Intoleran

Kota Depok menjadi kota paling intoleran di Indonesia versi SETARA Institute. Kota di Jawa Barat itu berada di urutan ke-93 dari 93 kota di Indonesia dalam penilaian Indeks Kota Toleran (IKT) 2021.

“Problem utama di Depok dua hal ya, itu sebenarnya bobotnya tinggi. Pertama adalah adanya produk-produk hukum yang diskriminatif, existing, dan efektif dijalankan pemerintah,” ujar Direktur Eksekutif SETARA Institute Ismail Hasani di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (30/3).

Problem kedua, Ismail mengatakan Wali Kota Depok pernah menginstruksikan penutupan Masjid Al Hidayah, yang disebut sebagai tempat ibadah Ahmadiyah, pada Oktober 2021. Selain itu, Ismail mengatakan warna religius di Kota Depok sangat didominasi oleh Islam.

Hal itu, kata Ismail, terlihat dari banyaknya ruang publik hingga sektor properti perumahan Islami. Menurut Ismail, hal tersebut sebagai bagian dari proses segregasi yang dipicu oleh kepemimpinan politik di tingkat lokal.

“Kita bisa melihat bagaimana tidak terbukanya kepala daerah Depok terhadap kemajemukan,” kata Ismail.

Adapun penilaian Indeks Kota Toleran, kata Ismail, terdiri dari delapan indikator. Penilaian tersebut antara lain Rencana Pembangunan, Kebijakan Diskriminatif, Peristiwa Intoleransi, Dinamika Masyarakat Sipil, Pernyataan Publik Pemerintah Kota, Tindakan Nyata Pemerintah Kota, Heterogenitas agama, dan Inklusi Sosial Keagamaan.

Selain itu, Ismail mengatakan pihaknya juga menyebar quesioner kepada masyarakat untuk meminta yang pendapat soal toleransi di 93 kota. SETARA Institute juga melakukan penilaian dengan melihat pemberitaan di media soal kasus dan penerapan produk peraturan daerah.

Riset yang dilakukan SETARA Institut mempertimbangkan empat variabel dengan delapan indikator sebagai tolak ukur berbasis paradigma hak konstitusional warga sesuai hak asasi manusia (HAM).

Variabel pertama adalah regulasi pemerintah dengan indikator RPJMD dan kebijakan diskriminatif. Selanjutnya adalah tindakan nyata dengan indikator pernyataan dan tindakan nyata pemerintah kota.

Kemudian, variabel ketiga Regulasi Sosial mencakup indikator peristiwa intoleransi dan dinamika masyarakat sipil. Dan variabel keempat Demografi Sosial- Agama meliputi indikator heterogenitas dan inklusi sosial.

Share
Published by
Kata Indonesia

Terpopuler

MBG Dapat Respons Positif, Publik Nilai Program Beri Manfaat Nyata

MBG Dapat Respons Positif, Publik Nilai Program Beri Manfaat Nyata Jakarta- Program Makan Bergizi Gratis…

2 minutes ago

Buruh dan Museum Marsinah: Refleksi Komitmen Pemerintah terhadap Keadilan Sosial

Buruh dan Museum Marsinah: Refleksi Komitmen Pemerintah terhadap Keadilan Sosial Oleh : Benedict Wibisono Peringatan…

7 minutes ago

Museum Marsinah, Buruh, dan Komitmen Pemerintah terhadap Kesejahteraan

Museum Marsinah, Buruh, dan Komitmen Pemerintah terhadap Kesejahteraan Oleh : Antonius Utomo Pembangunan Museum Marsinah…

12 minutes ago

Pemerintah Hadir untuk Buruh, Museum Marsinah Jadi Simbol Penghormatan

Pemerintah Hadir untuk Buruh, Museum Marsinah Jadi Simbol Penghormatan Jakarta — Pemerintah terus menunjukkan komitmennya…

25 minutes ago

Jelang May Day 2026, Pemerintah Tegaskan Dukungan untuk Buruh lewat Museum Marsinah

Jelang May Day 2026, Pemerintah Tegaskan Dukungan untuk Buruh lewat Museum Marsinah Jakarta – Menjelang…

34 minutes ago

Governing the Platforms: PP TUNAS dan Otoritas Negara di Ruang Digital Anak

Governing the Platforms: PP TUNAS dan Otoritas Negara di Ruang Digital Anak Oleh : Muhammad…

42 minutes ago