Di saat dunia merayakan Hari Buruh Internasional pada 1 Mei kemarin, sebuah kabar duka yang menyayat hati datang dari dunia kesehatan Indonesia. Dokter Myta Aprilia Azmy, seorang tenaga medis muda yang sedang menjalani program internship (magang) di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi, menghembuskan napas terakhirnya.
Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Pulung Agustanto, menyatakan duka cita yang mendalam sekaligus mengecam dugaan eksploitasi beban kerja yang menyertai kematian dr. Myta.
“Kejadian ini bukan sekadar berita duka, melainkan alarm keras bahwa ada yang salah dalam manajemen perlindungan tenaga medis kita di mana seorang pekerja kemanusiaan justru kehilangan nyawa akibat beban kerja yang tidak manusiawi,” ujar Pulung.
Berdasarkan laporan dari IKA FK Universitas Sriwijaya, dr. Myta diduga dipaksa bekerja melampaui batas kemampuan fisik manusia. Terdapat indikasi kuat bahwa ia bertugas selama tiga bulan berturut-turut tanpa libur di bangsal dan IGD, sering kali tanpa supervisi dokter definitif yang seharusnya mendampingi tenaga magang.
Menurut laporan tersebut, kondisi memuncak saat dr. Myta tetap diwajibkan menjalani jaga malam meski kesehatannya terganggu dengan gejala demam tinggi, sesak napas, dan saturasi oksigen yang anjlok hingga 80 persen.
“Menugaskan seseorang yang sedang sesak napas untuk tertugas adalah tindakan yang tidak bisa dinalar. Kita sedang membicarakan nyawa manusia, bukan mesin yang bisa dipaksa bekerja tanpa henti,” tegas Pulung.
Pulung mengingatkan bahwa tragedi di Jambi ini menambah daftar panjang dokter muda yang gugur saat bertugas di tahun 2026. Dalam pemantauannya, setidaknya sudah ada empat kasus dokter internship yang meninggal dunia di berbagai wilayah.
Ia mencatat, selain di RSUD KH Daud Arif, Jambi, kejadian yang mengakibatkan dokter internship meninggal dunia juga terjadi di RSUD Pagelaran Cianjur, RS Bhayangkara Denpasar, serta RSUD Soesilo Swali, Tegal.
Menurut Pulung, meski latar belakang medis setiap kasus mungkin berbeda, namun rentetan kematian dokter muda dalam waktu yang berdekatan ini sudah lebih dari cukup bagi Kementerian Kesehatan untuk melakukan audit investigatif secara menyeluruh.
“Kita harus mencari akar masalahnya, apakah ini masalah sistemik, kegagalan supervisi, atau budaya kerja yang toksik,” tambahnya.
Pulung Agustanto meminta Kemenkes RI tidak hanya melihat ini sebagai ‘angka statistik’ atau kejadian medis biasa. Ia mendesak adanya reformasi pada Program Internship Dokter Indonesia (PIDI). Terutama soal pengaturan jam kerja yang lebih manusiawi dan perlindungan kesehatan tenaga medis.
“Jangan sampai tunas-tunas muda berguguran karena kecerobohan dan kekacauan system kita,” pungkas Pulung.
Safe Screen, Safe Mind: PP TUNAS dan Perlindungan Anak Oleh : Abdul Razak Transformasi digital…
Langkah kaki Datuk Dr. Bungsu Aziz bin Haji Jaafar terhenti sejenak saat memasuki pelataran Pondok…
PP TUNAS Lindungi Anak dari Terorisme dan Radikalisme Digital Jakarta – Pemerintah terus memperkuat komitmen…
PP TUNAS Perkuat Perlindungan Anak, Cegah Paparan Radikalisme Digital Jakarta, - Pemerintah terus memperkuat upaya…
Sekolah Rakyat dan Penegasan Negara atas Hak Pendidikan Oleh: Hanif Ridho Pemerintah terus memperkuat peran…
Sekolah Rakyat Jamin Hak Dasar Pendidikan Masyarakat Oleh: Tiana Pramesti Kehadiran Sekolah Rakyat menjadi penegasan…