Tak banyak yang menyangka, seorang mantan ajudan Presiden Republik Indonesia pada akhirnya dipercaya menduduki kursi Wakil Presiden RI. Sosok tersebut adalah Try Sutrisno, perwira militer yang memulai karier dari lapangan sebelum perlahan menanjak ke jajaran elite militer dan akhirnya menjadi pendamping Presiden Soeharto.
Try Sutrisno mengawali karier militernya pada 1960. Saat itu, ia bergabung dengan kesatuan Zeni yang bertugas melakukan rekonstruksi dan destruksi prasarana militer di medan perang.
Ia awalnya ditugaskan di Palembang, sebelum dipindahkan ke Jakarta, Bandung, hingga beberapa kota di Jawa Timur. Kariernya sebagai perwira lapangan dijalani hingga 1974.
Pada tahun tersebut, sebuah penugasan mengubah perjalanan karier Try. Ia ditugaskan menjadi ajudan Presiden Soeharto. Dalam buku autobiografi Soeharto berjudul Pak Harto: The Untold Stories (2011), Try Sutrisno mengungkapkan, dirinya tidak menyangka akan menjadi ajudan presiden. Pasalnya, ia sudah lama berkarier sebagai perwira lapangan.
Namun, penugasan tersebut justru menjadi titik penting dalam perjalanan kariernya. Selama empat tahun mendampingi Soeharto, nama Try semakin dikenal.
Setelah menyelesaikan tugas sebagai ajudan, karier Try terus menanjak. Dikutip dari 5 Tahun Masa Bakti Bapak Try Sutrisno (1998), ia dipercaya menjadi Kepala Staf Kodam Udayana, kemudian Panglima Kodam Sriwijaya pada 1979 dan Panglima Kodam Jakarta Raya pada 1982.
Kariernya berlanjut ke jajaran petinggi ABRI. Try sempat menjabat Wakil Kepala Staf Angkatan Darat sebelum dipercaya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).
Menurut pengamat politik Salim Said dalam Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian (2013), keputusan mengangkat Try sebagai orang nomor satu di Angkatan Darat menunjukkan bahwa Soeharto sangat mempercayainya, meskipun latar belakang militernya berasal dari korps Zeni. Bagi Soeharto, pengangkatan Try juga dianggap sebagai dukungan loyalitas dari Angkatan Darat.
Namun, jabatan KSAD bukanlah puncak karier Try Sutrisno.
Pada 1988, Soeharto mengangkat Try sebagai Panglima ABRI. Ketika menduduki posisi tersebut, mulai muncul desas-desus bahwa Try akan menjadi Wakil Presiden. Akan tetapi, kabar tersebut tidak menjadi kenyataan. Pada tahun itu, Soeharto justru memilih Sudharmono sebagai Wakil Presiden.
Barulah lima tahun kemudian, kepercayaan yang telah terbangun sejak Try menjadi ajudan berujung pada posisi yang lebih tinggi. Pada 1993, Try Sutrisno resmi diangkat menjadi Wakil Presiden ke-6 RI.
Dalam proses tersebut, Try mengalahkan nama populer, yakni Menteri Riset B.J. Habibie yang dekat dengan kelompok Islam.
Menurut Salim Said, keputusan Soeharto memilih Try sebagai Wapres ke-6 tidak terlepas dari kedekatan yang telah terbangun sejak lama. Soeharto telah mengenal Try sejak masih menjadi ajudan. Selain faktor kedekatan dan loyalitas, Try juga dinilai hidup sederhana, tidak memiliki beban masa lalu, dan berpenampilan menarik.
Sementara itu, menurut sejarawan M.C. Ricklefs dalam bukunya Sejarah Indonesia Modern (2004), pengangkatan Try Sutrisno sebagai Wapres juga didorong oleh lingkaran orang dekat Soeharto.
Mereka memandang Try sebagai figur yang berpotensi menjadi suksesor apabila Soeharto wafat. Saat itu, usia Soeharto dinilai sudah terlalu lanjut, sedangkan Try dianggap memiliki kapasitas dan legitimasi untuk menjaga kesinambungan roda kepemimpinan nasional.
Perjalanan Try menuju kursi Wakil Presiden pun berlangsung panjang. Dari seorang ajudan presiden, Try Sutrisno akhirnya menjadi pendamping presiden. Ketika menjadi Wapres, Try banyak mengurusi pengawasan pembangunan nasional. Jabatan tersebut diembannya hingga 1998, sebelum kemudian digantikan oleh B.J. Habibie.