Dinamika Muktamar Nahdlatul Ulama mendadak bergerak cair dan penuh kejutan. K.H. Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), yang sebelumnya diprediksi bakal terganjal aturan administrasi, kini dipastikan lolos persyaratan dan resmi berlayar dalam bursa pencalonan Ketua Umum PBNU.
Kepastian ini mengemuka setelah pembahasan krusial di Komisi Organisasi mematahkan spekulasi terkait aturan “idah politik”. Penjelasan tegas dari Ketua Sidang Komisi Organisasi, Prof. Dr. Asrorun Niam Sholeh, menjadi titik balik utama yang menguatkan posisi Gus Yusuf di arena perhelatan tertinggi NU tersebut.
Prof. Niam mengonfirmasi bahwa rancangan aturan mengenai idah politik—ketentuan jeda waktu bagi pengurus atau kader partai politik—belum diratifikasi atau disahkan secara resmi. Dengan demikian, regulasi pencalonan sepenuhnya dikembalikan pada klausul AD/ART semula yang memang tidak mencantumkan batasan masa idah politik.
Gugurnya wacana idah politik ini otomatis mengubah peta pertarungan. Peluang terbuka lebar tidak hanya bagi Gus Yusuf, tetapi juga kader-kader potensial lain maupun tokoh berintegritas yang sebelumnya diprediksi terkendala aturan tersebut. Kendati demikian, Komisi Organisasi memberikan garis tegas terkait larangan merangkap jabatan (double jabatan). Setiap kader dari latar belakang partai yang nantinya terpilih menjadi Ketua Umum PBNU wajib melepaskan jabatan politiknya.
Kepastian hukum dari forum sidang ini direspons cepat oleh jajaran Pengurus Cabang (PCNU). Terbukanya fakta hukum di arena muktamar membuat peta dukungan bergeser secara signifikan. Sejumlah PCNU yang tadinya ragu kini mulai mengubah arah dan mengalihkan dukungan penuh mereka kepada Pengasuh API ASRI Tegalrejo tersebut.
Selain isu syarat calon, Komisi Organisasi juga merampungkan pembahasan terkait mekanisme akhir pemilihan Ketua Umum PBNU. Forum mengkaji secara mendalam opsi pemungutan suara langsung (voting) oleh Muktamirin versus mekanisme Ahwa (Ahlul Halli wal Aqdi). Melalui mekanisme Ahwa, PCNU dan peserta Muktamar mengusulkan nama-nama kiai sepuh yang kemudian ditabulasi untuk menentukan sosok terbaik yang memimpin PBNU ke depan.
Dengan terpenuhinya seluruh kualifikasi organisasi dan mengalirnya dukungan baru dari basis cabang, kapal perjuangan Gus Yusuf di Muktamar kini resmi berlayar penuh menuju putaran penentuan.