• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»Menghadapi Tekanan Global dengan Swasembada Pangan

Menghadapi Tekanan Global dengan Swasembada Pangan

  • Kata Indonesia
  • - Monday, 23 March 2026

Menghadapi Tekanan Global dengan Swasembada Pangan

Oleh: Arman Prasetyo

Ketegangan geopolitik global kembali meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Konflik di Timur Tengah yang melibatkan rivalitas antara Amerika Serikat dan Iran, serta dinamika konflik yang melibatkan Israel, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dan rantai pasok pangan dunia. Dalam sistem perdagangan global yang saling terhubung, gangguan geopolitik sering kali berdampak pada kenaikan harga komoditas, keterlambatan distribusi, hingga potensi kelangkaan pangan di berbagai negara.

 

Dalam situasi seperti ini, negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor pangan menjadi sangat rentan. Oleh karena itu, upaya memperkuat produksi domestik dan mencapai swasembada pangan menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas nasional. Indonesia menyadari tantangan tersebut dan memilih memperkuat fondasi pertanian nasional sebagai benteng menghadapi tekanan global.

 

Presiden Prabowo Subianto menilai dinamika geopolitik dunia justru dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi sektor pangan. Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Presiden menjelaskan bahwa krisis global mendorong pemerintah untuk mempercepat agenda strategis yang telah dirancang sebelumnya, khususnya dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional.

 

Tekanan global yang meningkat memaksa negara untuk bekerja lebih cepat dalam memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terjamin. Ia memandang bahwa kondisi global saat ini memperkuat urgensi untuk mengandalkan kekuatan produksi domestik dan memanfaatkan potensi sumber daya agraria yang dimiliki Indonesia secara optimal.

 

Dalam perspektif geopolitik pangan, kemampuan suatu negara dalam memproduksi pangan secara mandiri merupakan elemen penting dari kedaulatan nasional. Negara yang mampu menjaga stabilitas pasokan pangan domestik akan lebih tangguh menghadapi gejolak global, baik yang disebabkan oleh konflik geopolitik, krisis ekonomi, maupun perubahan iklim.

 

Ketua Dewan Pakar DPP Pemuda Tani Indonesia, Bayu Dwi Apri Nugroho, menilai bahwa konflik global sejauh ini memang belum berdampak langsung terhadap ketahanan pangan Indonesia. Namun ia mengingatkan bahwa situasi tersebut tetap perlu diantisipasi apabila konflik berlangsung dalam jangka panjang dan mengganggu distribusi komoditas pangan dunia.

 

Menurut Bayu, kondisi geopolitik global justru dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat pencapaian swasembada pangan. Ia menilai sejumlah program pemerintah saat ini telah mengarah pada penguatan produksi nasional, mulai dari optimalisasi lahan pertanian, pencetakan sawah baru, hingga modernisasi sektor pertanian melalui mekanisasi.

 

Langkah-langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas pertanian nasional. Tantangan terbesar sektor pertanian saat ini adalah menurunnya minat generasi muda untuk bekerja sebagai petani, sementara mayoritas petani yang ada telah berusia relatif lanjut. Tanpa inovasi teknologi dan modernisasi alat pertanian, produktivitas sektor ini berpotensi mengalami stagnasi.

 

Karena itu, modernisasi pertanian melalui penggunaan alat mesin pertanian, digitalisasi informasi pertanian, serta pengembangan varietas tanaman unggul menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas produksi pangan nasional. Teknologi pertanian yang lebih efisien dapat membantu meningkatkan hasil produksi sekaligus mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual.

 

Selain faktor geopolitik, sektor pertanian juga menghadapi tantangan perubahan iklim. Informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menunjukkan bahwa musim kemarau tahun ini diperkirakan mulai pada April dan berpotensi berlangsung cukup panjang. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produktivitas pertanian apabila tidak diantisipasi dengan baik.

 

Untuk menghadapi potensi kekeringan, diperlukan koordinasi yang kuat antara pemerintah, penyuluh pertanian, dan petani di lapangan. Penyuluh memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi cuaca, pola tanam yang tepat, serta strategi adaptasi terhadap kondisi iklim yang berubah. Dengan komunikasi yang baik, petani dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dalam menentukan waktu tanam dan jenis komoditas yang dibudidayakan.

 

Bayu juga menekankan bahwa ketahanan pangan seharusnya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga dimulai dari tingkat rumah tangga. Pemanfaatan lahan pekarangan untuk menanam sayuran secara mandiri dapat menjadi langkah sederhana namun efektif untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

 

Pendekatan ini menciptakan sistem ketahanan pangan berlapis, dimulai dari rumah tangga, kemudian komunitas, desa, hingga tingkat nasional. Ketika masyarakat memiliki kesadaran untuk memproduksi sebagian kebutuhan pangannya sendiri, ketergantungan terhadap pasar dapat berkurang dan stabilitas pangan nasional menjadi lebih kuat.

 

Di sisi lain, Indonesia juga memiliki kekuatan besar pada sektor komoditas pertanian strategis. Produksi minyak sawit nasional terus menunjukkan tren positif dan menjadi salah satu penopang penting ekonomi agraria nasional. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menjelaskan bahwa produksi crude palm oil (CPO) Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 51,6 juta ton, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

 

Peningkatan produksi tersebut menunjukkan bahwa sektor perkebunan nasional masih memiliki kapasitas besar untuk menopang stabilitas ekonomi dan ketahanan pangan berbasis komoditas strategis. Dengan pengelolaan yang tepat, sektor pertanian dan perkebunan dapat menjadi fondasi kuat bagi ketahanan nasional.

 

Dalam konteks geopolitik global yang semakin kompleks, negara yang mampu menjaga ketersediaan pangan domestik akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Oleh karena itu, percepatan swasembada pangan bukan sekadar agenda pembangunan sektor pertanian, tetapi juga strategi nasional untuk menjaga stabilitas ekonomi dan sosial.

 

)*Penulis Merupakan Pengamat Ekonomi Agraria

RUU Ketenagakerjaan Didorong Perluas Lapangan Kerja dan Upskilling Pekerja

September 9, 2026

Pemerintah Tepat Mengutamakan Keselamatan Warga dan Penerbangan saat Erupsi

September 9, 2026

RUU Ketenagakerjaan Didorong Perluas Lapangan Kerja dan Upskilling Pekerja

By Kata IndonesiaSeptember 9, 20260

RUU Ketenagakerjaan Didorong Perluas Lapangan Kerja dan Upskilling Pekerja Jakarta – Rancangan Undang-Undang (RUU) Pelindungan…

Pemerintah Tepat Mengutamakan Keselamatan Warga dan Penerbangan saat Erupsi

By Kata IndonesiaSeptember 9, 20260

Pemerintah Tepat Mengutamakan Keselamatan Warga dan Penerbangan saat Erupsi Oleh: Galih Bagus Wiratama Erupsi Gunung…

Informasi Resmi adalah Kunci agar Waspada Bencana Tidak Berubah Menjadi Kepanikan

By Kata IndonesiaSeptember 9, 20260

Informasi Resmi adalah Kunci agar Waspada Bencana Tidak Berubah Menjadi Kepanikan Oleh: Yandi Arya Adinegara…

Kami Alihkan Pesawatnya ke Surabaya, Catatan perjalanan mengikuti dua konferensi di Jakarta dan Bali

By Kata IndonesiaSeptember 9, 20260

Pada 5 September, saya berangkat dari Kuningan menuju Jakarta dengan kereta api. Tujuan pertama saya…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.