Pada 5 September, saya berangkat dari Kuningan menuju Jakarta dengan kereta api. Tujuan pertama saya Hotel Borobudur, tempat berlangsungnya Global Islamic Holistic Education Summit atau GIHES. Saya mengikuti rangkaian hari pertama sejak pembukaan hingga diskusi-diskusi berikutnya.
Perjalanan kali ini memang tidak dirancang untuk berhenti di Jakarta. Setelah mengikuti GIHES, saya harus segera menuju Denpasar untuk menghadiri konferensi berikutnya, International Conference on Social Sciences atau ICOSS.
Dua konferensi di dua kota dalam waktu yang nyaris berhimpitan. Di atas kertas, semuanya tampak bisa diatur. Tiket pesawat telah dipesan, jadwal sudah dihitung, dan saya tinggal berpindah dari Jakarta ke Denpasar.
Ternyata perjalanan tidak selalu mau tunduk kepada perhitungan manusia.
Pagi-pagi sekali pada 6 September, bahkan sebelum azan Subuh terdengar, saya sudah berangkat menuju bandara. Saya diantar oleh salah seorang ustaz. Sesampainya di sana, kami masih sempat menunggu masuknya waktu Subuh.
Pada layar informasi, penerbangan saya masih tertulis on schedule. Saya tentu merasa tenang. Namun, dari pengeras suara bandara terdengar pengumuman bahwa layanan penerbangan ditutup sementara akibat aktivitas vulkanik Anak Krakatau.
Kami masih berharap. Barangkali hanya penundaan sebentar. Lagi pula, pada layar keberangkatan, penerbangan saya tetap tertulis on schedule. Beberapa penerbangan lain juga menunjukkan keterangan yang sama.
Kami pun masuk ke ruang tunggu. Mata terus memandang layar, sementara telinga menangkap pengumuman demi pengumuman. Menjelang pukul tujuh pagi, harapan itu akhirnya runtuh. Status penerbangan berubah menjadi cancelled.
Bukan hanya penerbangan saya. Penerbangan lain yang sebelumnya masih tampak on schedule ternyata juga dibatalkan.
Di situlah petualangan sesungguhnya dimulai.
Saya harus tiba di Denpasar untuk mengikuti konferensi berikutnya. Tidak mungkin hanya duduk menunggu bandara kembali dibuka tanpa kepastian. Pikiran segera mencari jalan lain. Kalau tidak bisa terbang dari Jakarta ke Denpasar, bagaimana kalau penerbangan dialihkan dari Surabaya?

Saya mencari tiket Surabaya-Denpasar. Alhamdulillah, masih ada penerbangan sekitar pukul sembilan malam. Saya menghitung waktunya. Kalau segera naik kereta dari Jakarta menuju Surabaya, seharusnya pesawat itu masih dapat dikejar. Tiket pesawat Surabaya-Denpasar pun saya ambil.
Sekarang tinggal mencari kereta ke Surabaya.
Di aplikasi KAI, beberapa jadwal masih terlihat tersedia. Namun, ketika hendak dieksekusi, tiketnya tidak dapat dibeli. Barangkali banyak penumpang pesawat yang dibatalkan pagi itu mempunyai pikiran yang sama, yaitu menyerbu jalur darat menuju Surabaya.
Sambil menggunakan taksi menuju Gambir, saya terus mencoba mencari tiket. Pikiran saya sederhana. Kalau aplikasi tidak bisa, mungkin masih dapat membeli tiket secara go show di stasiun.
Begitu tiba di Gambir, jawaban yang saya terima singkat dan tegas, “Sudah tidak ada tiket ke Surabaya, Pak.”
Waduh! Padahal tiket pesawat dari Surabaya ke Denpasar sudah berada di tangan. Pesawatnya belum dibatalkan. Masalahnya, bagaimana caranya saya tiba di Surabaya?
Saya kembali memutar otak. Jadwal kereta saya periksa satu demi satu. Mata saya kemudian tertuju pada Kereta Sembrani. Kereta itu bisa membawa saya ke Surabaya dengan waktu yang masih memungkinkan untuk mengejar penerbangan malam. Sayangnya, tiket Sembrani dari Gambir juga sudah tidak dapat dipesan.
Saya mencoba cara lain. Kalau tidak bisa naik dari Gambir, bagaimana kalau saya mencegatnya dari Cirebon? Saya masukkan rute Cirebon-Surabaya. Ternyata muncul!
Kereta Sembrani yang tidak bisa saya naiki dari Gambir masih bisa saya pesan dari Cirebon. Tanpa berpikir panjang, tiket langsung diamankan.
Satu persoalan selesai, tetapi persoalan berikutnya segera muncul. Bagaimana caranya tiba di Cirebon sebelum kereta berangkat?
Mencari mobil sewaan tentu akan membutuhkan waktu. Akhirnya saya mencoba memesan taksi daring langsung dari Jakarta menuju Cirebon. Alhamdulillah, ada pengemudi yang bersedia mengambil perjalanan sejauh itu. Pengemudinya masih muda dan mobilnya mobil listrik.
Saya menjelaskan keadaan kami. “Pak, kita harus sampai Cirebon sebelum pukul dua belas. Bisa?” Ia melihat peta dan menghitung waktu. “Bisa, Pak.”
Saya mengingatkan bahwa kami sedang mengejar kereta. Kalau harus agak cepat, tidak apa-apa. Untuk sementara, kenyamanan tidak usah terlalu didahulukan. Tidak lama kemudian ia bertanya, “Kalau saya agak zigzag, boleh, Pak?” Saya menjawab, “Boleh!”
Maka meluncurlah kami menuju Cirebon. Sesekali perjalanan harus disesuaikan dengan kebutuhan mengisi daya mobil listrik. Namun, pengemudi muda itu benar-benar berusaha mengejar waktu.
Sepanjang perjalanan, keluarga di rumah terus bertanya, “Sudah terbang atau belum?” Saya menjawab dengan tenang, “Pesawatnya kita alihkan ke Surabaya. Sekarang kita pakai kereta.”
Jawaban itu terdengar seolah-olah semuanya sudah beres dan kami sedang duduk nyaman di dalam kereta. Padahal saat itu saya masih berada di dalam taksi daring, meluncur dari Jakarta menuju Stasiun Cirebon sambil berharap tidak tertinggal Sembrani.
Alhamdulillah, sekitar pukul setengah dua belas kami tiba di Cirebon. Bahkan masih ada waktu untuk salat. Kereta yang akan kami naiki ternyata terlambat sekitar lima belas menit. Keterlambatan yang biasanya membuat orang mengeluh, kali ini justru terasa seperti pertolongan.
Setelah sejak pagi berpacu dengan waktu, akhirnya saya bisa duduk agak tenang sambil menunggu kereta. Sembrani pun datang. Saya naik dan melanjutkan perjalanan menuju Surabaya.
Setibanya di sana, suasananya sangat ramai. Rupanya banyak penumpang mengalami nasib serupa. Penerbangan mereka dibatalkan, lalu mereka berusaha mencari jalan alternatif menuju tujuan masing-masing melalui Surabaya.
Dari stasiun, saya kembali mencari taksi menuju Bandara Juanda. Alhamdulillah, kendaraan didapat dan perjalanan berjalan lancar. Tepat sekitar pukul delapan malam, saya tiba di Juanda, satu jam sebelum jadwal penerbangan ke Denpasar. Barulah saya dapat menarik napas panjang.
Perjalanan yang semula direncanakan sederhana, dari Jakarta menuju Denpasar dengan pesawat, berubah menjadi rangkaian panjang: bandara, Gambir, jalan tol, Cirebon, Kereta Sembrani, Surabaya, Juanda, kemudian baru terbang ke Denpasar.
Udara tidak bisa dilalui, kami masuk lewat jalan darat. Tiket dari Gambir habis, kami mencegat kereta dari Cirebon. Pesawat dari Jakarta dibatalkan, kami pun “memindahkan” pesawatnya ke Surabaya.
Semua dilakukan untuk menghubungkan dua konferensi, satu di Jakarta dan satu lagi di Bali.
Inilah salah satu pengalaman perjalanan yang sulit saya lupakan. Mencari ilmu dan berbagi ilmu kadang tidak cukup hanya dengan menyiapkan makalah dan bahan presentasi. Ada kalanya kita juga harus menyiapkan keberanian mengambil keputusan, kecepatan memutar otak, dan kesediaan menempuh jalan yang sama sekali tidak direncanakan.
Kadang-kadang perjuangan ilmiah tidak berlangsung di ruang konferensi. Ia justru terjadi di bandara yang ditutup, di aplikasi tiket yang tidak bisa dieksekusi, di dalam taksi listrik yang berpacu menuju Cirebon, dan di kereta yang sedang dikejar.
Mudah-mudahan semua lelah itu menjadi bagian dari ikhtiar yang bermanfaat. Sebab, jika niatnya mencari dan berbagi ilmu, jalan yang berliku pun akhirnya dapat menjadi ilmu sekaligus cerita yang layak dibagikan.
Oleh M. Tata Taufik