• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Stop Rasisme dan Hargai Perbedaan Demi Keutuhan NKRI

Stop Rasisme dan Hargai Perbedaan Demi Keutuhan NKRI

  • Kata Indonesia
  • - Wednesday, 21 August 2019

Oleh : Edward Krey (Penulis adalah mahasiswa Papua, tinggal di Yogyakarta)

 Wajar kiranya apabila kita marah ketika martabat bangsa dilecehkan, namun ingat bukan berarti kita menganggap semua orang sama saja. Padahal setiap insan itu unik dan tidak bisa disamakan dengan sebuah objek, apalagi objek cacian yang tidak pantas.

Isu Rasis sebenarnya telah lama hilang di Nusantara, apalagi setelah munculnya konsep kota ramah HAM yang dicanangkan di beberapa wilayah di Indonesia. Sehingga perbedaan dan keberagaman tidak menjadi halangan untuk menjalin persatuan.

Sebelumnya, sejumlah Ormas menggeruduk asrama Mahsiswa Papua yang berada di Surabaya. Mereka bahkan berusaha masuk ke dalam asrama namun dicegah oleh aparat keamanan yang berjaga di pagar asrama. Pemicunya disinyalir karena Mahasiswa Papua enggan mengibarkan Bendera Merah Putih di halaman asrama. Massa Ormas kemudian melempari asrama mahasiswa dengan batu sembari mengeluarkan kalimat yang bernada rasis terhadap mahasiswa yang saat itu tengah berada di asrama.

Ketua Dewan Adat Serui, Ones Wayoi turut menyayangkan kejadian yang dialami oleh Mahasiswa Papua di Pulau Jawa tersebut. Aksi yang menimpa Mahasiswa Papua jelas tidak sesuai dengan perilaku masyarakat yang faham akan norma adat dan agama.

Pihaknya juga mengatakan, Papua merupakan bagian dari NKRI. Sehingga kenapa harus ada aksi rasisme seperti itu. Jika Indonesia telah menjunjung tinggi nilai Pancasila, maka sudah sepatutnya masyarakat Papua tidak mendapatkan perlakuan seperti itu.

Jika kita pahami apa yang dilakukan oleh Mahasiswa Papua di Asrama Papua yang berada di Surabaya, tentu semestinya perlu dilakukan penanganan dan penindakan secara hukum, bukan penghakiman massa yang disaksikan oleh institusi negara dan direkam oleh wartawan tanpa koran.

Tindakan rasis yang dilakukan merupakan bentuk penghinaan dan penyangkalan terhadap harkat dan kemanusiaan yang jelas – jelas dilindungi oleh UU No 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Berbagai komponen masyarakat sipil dimanapun berada, tentunya patut menunjukkan sikap menghargai eksistensi masing – masing etnis dan agama serta mendorong perilaku non diskriminatif dalam bentuk apapun.

Seluruh komponen masyarakat sipil khususnya ormas dan organisasi kemahasiswaan tentu memiliki peran untuk menyuarakan perlindungan terhadap kebebasan berekspresi, bebas dari sikap rasis dan stigmatisasi terhadap mahasiswa atau siapapun sebagai wujud dari negara yang menjunjung tinggi demokrasi dan keadilan.

Jika aksi perlakuan diskriminasi yang dialami oleh Mahsiswa Papua tidak segera dihentikan, tentu akan menimbulkan kebencian dan ketidakharmonisan di kalangan masyarakat di tanah Papua.

Koordinator Lembaga Musyawarah Adat Teluk Saereri, David Rumansara menghimbau kepada pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Walikota Surabaya dan segenap jajarannya untuk dapat memberikan perlindungan kepada Mahasiswa asal Papua sebagai bagian dari warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sementara itu warga asli Bumi Papua yang tinggal di luar Papua sudah semestinya tidak terhasut dengan ajakan untuk melakukan aksi demo yang dapat mengganggu ketertiban masyarakat lokal.

Permasalahan yang dialami Mahasiswa Papua di Jawa Timur haruslah diselesaikan dengan cara – cara persuasif dan tidak dengan cara kekerasan.

Suara stop rasisme juga digaungkan oleh Ikatan Mahasiswa Papua Lampung (Ikmapal) yang meminta agar masyarakat tidak terprovokasi dan menghentikan segala tindakan rasis kepada sesama manusia dan anak bangsa Indonesia.

Pihaknya menilai bahwa oknum yang mengatakan rasis tersebut haruslah ditahan karena terbukti telah melakukan pelanggaran HAM.

Di Lampung, Mahasiswa Asal Papua tidak merasakan dampak dari permasalahan tersebut dan semuanya berjalan normal – normal saja.

Pihak kepolisian juga telah datang, untuk menyatakan sikap dan menjamin para Mahasiswa Papua dapat belajar menuntut Ilmu dengan aman.

Bahkan Walikota Bandar Lampung Herman HN juga pernah mengundang Mahasiswa Papua untuk datang ke rumah dinasnya, Herman pun menyampaikan kepada para Mahasiswa asal Papua tersebut atas terjaminnya keamanan mereka.

Hal seperti itu tentu patut dicontoh, sebagai bentuk penerapan semboyan bhineka tunggal ika, yang bermakna berbeda beda tetapi tetap satu jua.

Perbedaan yang ada bukan berarti menjadi halangan untuk tetap menjaga persatuan, keberagaman yang ada sudah sepatutnya disyukuri, karena keberagaman merupakan kekayaan budaya yang belum tentu dimiliki oleh bangsa lain.

Stop Rasisme di Bumi Pertiwi, warna kulit boleh berbeda, namun bukan berarti perbedaan harus menimbulkan luka.

 

 

Pemerintah Genjot Pemerataan Listrik hingga Pelosok Desa

June 20, 2026

Sikapi Demonstrasi, Pemerintah Terus Jalankan Efisiensi dan Pembenahan Tata Kelola

June 20, 2026

Pemerintah Genjot Pemerataan Listrik hingga Pelosok Desa

By Kata IndonesiaJune 20, 20260

Pemerintah Genjot Pemerataan Listrik hingga Pelosok Desa Jakarta – Pemerintah mempercepat upaya pemerataan akses listrik…

Sikapi Demonstrasi, Pemerintah Terus Jalankan Efisiensi dan Pembenahan Tata Kelola

By Kata IndonesiaJune 20, 20260

Sikapi Demonstrasi, Pemerintah Terus Jalankan Efisiensi dan Pembenahan Tata Kelola *Jakarta* – Kepala Badan Komunikasi…

Gerakan Mahasiswa Harus Tetap Jadi Suara Rakyat, Bukan Alat Elite

By Kata IndonesiaJune 20, 20260

Gerakan Mahasiswa Harus Tetap Jadi Suara Rakyat, Bukan Alat Elite Di beberapa wilayah belakangan ini…

Sinergitas Bersama Tolak Demo Anarkis di Papua

By Kata IndonesiaJune 20, 20260

Sinergitas Bersama Tolak Demo Anarkis di Papua Oleh : Yohanes Wandikbo Papua saat ini berada dalam fase penting pembangunan yang membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat. Berbagai program pemerintah yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan, pembangunan infrastruktur, penguatan sumber daya manusia, hingga pengembangan potensi ekonomi daerah terus dijalankan untuk mempercepat kemajuan di Tanah Papua. Dalam situasi tersebut, stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat menjadi modal utama yang harus dijaga bersama. Karena itu, sinergitas antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, pemuda, dan seluruh warga Papua menjadi kunci dalam menolak segala bentuk aksi anarkis yang berpotensi mengganggu keamanan dan menghambat pembangunan. Pada negara demokrasi, kebebasan berpendapat merupakan hak yang dijamin oleh konstitusi. Setiap warga negara memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi, kritik, maupun masukan terhadap kebijakan publik. Namun, kebebasan tersebut tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab untuk menjaga ketertiban umum dan menghormati hak masyarakat lainnya. Penyampaian aspirasi yang dilakukan secara damai, santun, dan sesuai ketentuan hukum merupakan wujud kedewasaan demokrasi yang perlu terus dikedepankan. Sebaliknya, tindakan anarkis yang mengarah pada perusakan fasilitas umum, intimidasi, atau gangguan terhadap aktivitas masyarakat hanya akan menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi daerah dan masyarakat itu sendiri. Komitmen menjaga situasi tetap kondusif terlihat dari langkah yang diambil aparat keamanan menjelang pelaksanaan berbagai agenda nasional di Papua. Salah satunya pada penyelenggaraan Pesta Paduan Suara Gerejawi Nasional XIV di Manokwari yang dihadiri ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa Papua merupakan wilayah yang aman, damai, dan mampu menjadi tuan rumah berbagai kegiatan berskala nasional. Dalam hal ini, Kapolda Papua Barat Irjen Pol Alfred Papare menyampaikan bahwa kepolisian tetap menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat di muka umum sebagaimana dijamin oleh undang-undang. Namun, aparat berharap seluruh pihak dapat bersama-sama menjaga situasi keamanan selama berlangsungnya agenda nasional tersebut. Menurutnya, pendekatan persuasif dan dialog terus dilakukan guna membangun kesadaran bersama bahwa stabilitas keamanan merupakan kepentingan seluruh masyarakat Papua. Pendekatan yang mengedepankan dialog tersebut menunjukkan bahwa pemerintah dan aparat keamanan tidak menutup ruang demokrasi. Sebaliknya, negara hadir untuk memastikan setiap aspirasi dapat disampaikan dengan cara yang tertib dan bertanggung jawab. Langkah ini sekaligus membuktikan bahwa keamanan dan demokrasi bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan dalam kerangka hukum dan kepentingan bersama. …

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.