• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Lomba Artikel»Semangat Kemerdekaan dan Budaya Melawan Hoaks Dimulai dari Rumah

Semangat Kemerdekaan dan Budaya Melawan Hoaks Dimulai dari Rumah

  • Kata Indonesia
  • - Thursday, 22 August 2019

“Karena kabar hoax dibuat oleh orang jahat, disebar oleh orang bodoh, dan dipercaya oleh orang idiot.”

Oleh : Atiyattul Mawaddah

“Kemerdekaan Indonesia yang didapat dengan perjuangan dan pengorbanan, harusnya diisi dengan melawan hoax dan tidak memproduksi hoaks. Bukan malah menyebar dan menciptakan hoaks, yang pada akhirnya memecah belah keberagaman indah yang ada di Indonesia sejak dahulu kala. Anak jaman sekarang mulai berani menaburkan benih-benih penyebaran hoaks. Karena rata-rata dari mereka menjadi pengguna aktif internet.” ujar salah seorang rekanku yang kini mulai aktif dalam kampanye melawan hoaks di masyarakat. Hal ini adalah masalah yang harus dipikirkan oleh semua orangtua, bahwa memproduksi/ menyebarkan hoaks adalah tindakan negatif yang mencerminkan rasa tidak menghargai kemerdekaan yang telah diperjuangkan. Orang tua harus mampu memberi contoh, bagaimana cara mengisi kemerdekaan dengan bijak. Karena semangat kemerdekaan dan budaya melawan hoaks, dipelajari oleh anak-anak pertama kali di rumah, dari orang tua langsung.

Jika orang tua tidak menerapkan pola hidup melawan hoaks sejak dini, maka anak-anak yang berada dalam keluarga tersebut, juga akan mewarisi budaya negatif tersebut. Begitu pun sebaliknya, jika orang tua sejak dini mengajarkan pola hidup melawan hoaks, maka anak-anak akan melakukan hal yang sama, dan nantinya akan mengakar pada diri mereka hingga menjadi kebiasaan sampai dewasa. Semakin banyak orang tua yang sadar dan memahami manfaat melawan hoaks serta mengaplikasikannya, maka akan semakin banyak pula generasi muda yang mencontoh serta menerapkan budaya positif tersebut.

Sebagai orang tua, kita perlu memahami dampak yang akan ditimbulkan oleh hoaks. Seperti merugikan suatu pihak, memberikan reputasi buruk akan seseorang/sesuatu, menyebarkan fitnah, menyebarkan informasi yang salah, memicu perpecahan, membuang-buang waktu dan uang, penipuan publik, serta pemicu kepanikan publik. Hal ini tentu secara langsung berpengaruh pada psikologis masyarakat, yang membuat kita pada umumnya tidak percaya lagi pada sebuah fakta yang disajikan. Karena hoaks telah merasuki alam bawah sadar seseorang untuk tidak mudah mempercayai sebuah fakta, hingga menimbulkan ketidakyakinan.

Fakta ironi lainnya adalah seperti yang disampaikan oleh Akademisi Komarudin Hidayat (mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta) dalam www.kominfo.go.id. Bahwasannya momok dari penyebaran berita bohong atau hoaks tak ubahnya seperti peredaran narkotik dan pornografi. Bila dibiarkan, kata dia, berita hoaks bisa membahayakan dan merugikan masyarakat. Hoaks yang termasuk dalam tindakan kriminal di wilayah cyber ini, merupakan perpaduan antara manipulasi, kebohongan, dan kecurangan yang dapat menjatuhkan orang lain.

Tak cukup itu saja, hoaks ternyata menggunakan perasaan manusia sebagai obyek dan alat untuk memicu suatu reaksi. Sehingga mempengaruhi orang lain untuk melakukan hal-hal bodoh karena perasaan ingin membantu, cemas, takut, kasihan, dan marah. Maka teknik social engineering seperti penggunaan hoaks untuk kepentingan tertentu sering kali berhasil. Tak heran jika hoax dalam dalam Oxford English Dictionary didefinisikan sebagai malicious deception atau kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat. Sedangkan dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), hoaks diartikan sebagai berita bohong.

Para orangtua di Indonesia harus menyadari bahwa dengan melawan hoaks ternyata bisa menyelamatkan anak-anak kita dari fitnah, perpecahan, penipuan, kerugian waktu, dan bahaya lainnya. Dengan begitu, para orang tua akan memiliki motivasi untuk membiasakan diri dan keluarganya dalam melakukan perlawanan terhadap hoaks. Orang tua bisa mengajarkan pada anak-anak untuk melawan hoaks sedini mungkin dengan berbagai cara sederhana. Seperti:

  1. Tanamkan gemar membaca di rumah

Melek literasi dan gemar membaca, sangat berpengaruh pada anak untuk melawan hoaks sedini mungkin. Biasakan menyediakan bacaaan yang disukai anak di rumah, kenalkan anak pada buku, buatlah rutinitas membaca yang menyenangkan. Jika anak gemar membaca, maka judul-judul bombastis yang sering dibuat oleh media (menjadi sebab hoaks), tidak akan berpengaruh pada orang-orang yang membiasakan membaca isi berita.

  1. Latih anak untuk bijak menggunakan sosial media

Anak genarasi sekarang memang tidak akan lepas dari sosial media, maka dari itu orang tua berperan penting dalam mendidik anak untuk bersosial media sehat. Seperti menggunakan sosial media sesuai kebutuhan, tidak memposting hal-hal yang tidak penting, tidak memposting hal yang tidak memiliki sumber berita valid, serta lebih mengaktifkan anak di dunia nyata daripada di dunia maya.

  1. Latih anak untuk lebih kritis saat menerima informasi

Ajarkan anak untuk lebih memahami klarifikasi dan verifikasi. Serta tidak mudah percaya dan menyebar sebuah berita dengan gegabah. Orangtua juga mengikutsertakan anak-anak dalam kegiatan menyaring informasi dalam keluarga. Seperti orang tua melibatkan anak ketika ingin mengetahui dan mengecek sebuah berita termasuk dalam hoaks atau tidak. Bisa dengan cara mengenalkan laman www.data.turnbackhoax.id yang berfungsi sebagai database berisi referensi berita hoaks.

  1. Memahami bersama tentang bahaya dan dampak hoaks

Orang tua juga perlu menanamkan bahwa hoaks berbahaya dan selalu memiliki dampak buruk. Dengan memberi pengertian yang baik pada anak, seorang anak akhirnya memeiliki motivasi dan alasan yang kuat mengapa ia harus berpartisipasi dalam melawan hoaks.

  1. Memberi contoh melawan hoaks

Orang tua bisa memberi contoh pada anak dalam melawan hoaks dengan aktif untuk mengungkap hoaks-hoaks yang beredar. Tentu dengan mempertimbangkan kelima hal berikut: hati-hati dengan judul provokatif, cermati alamat situs, periksa fakta, cek keaslian foto, dan  ikut serta grup diskusi anti-hoaks.

  1. Melawan hoaks dengan melaporkan hoaks

Jika orang tua dan anak sudah berhadapan langsung dengan hoaks, maka orang tua perlu mengajari anak untuk jangan diam saja. Melawan hoaks bisa dengan melaporkan hoaks tersebut, agar tidak semakin menyebar. Seperti:

  1. Untuk media sosial facebook, gunakan fitur report tatus dan kategorikan informasi hoaks sebagai hatespeech/ harrasment/ rude/ threatening, atau kategori lainnya yang sesuai.
  2. Untuk google, bisa menggunakan fitur feedback untuk melaporkan situs dari hasil pencarian apabila mengandung informasi palsu atau hoaks.
  3. Untuk twitter memiliki fitur report tweet untuk melaporkan tweet yang mengandung konten negatif atau hoaks.
  4. Untuk Instagram, pilih laporkan. Kemudian tentukan alasan pelaporan. Lalu akan muncul halaman terima kasih dari instagram.
  5. Untuk pengguna internet bisa mengadukan konten negatif ke Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan mengirimkan e-mail ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id.
  6. Untuk pengguna internet juga bisa mengunjungi laman data.turnbackhoax.id yang menampung aduan hoax dari netizen.

Pemerintah Optimis Ketahanan Rupiah Hadapi Tekanan Global

November 2, 2026

Bikin Takjub! Inilah Cara Gontor Kampus 4 Darul Muttaqien Perkuat Kemandirian Pangan Lewat Tempe

November 2, 2026

Pemerintah Optimis Ketahanan Rupiah Hadapi Tekanan Global

By Kata IndonesiaNovember 2, 20260

Pemerintah Optimis Ketahanan Rupiah Hadapi Tekanan Global Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti…

Bikin Takjub! Inilah Cara Gontor Kampus 4 Darul Muttaqien Perkuat Kemandirian Pangan Lewat Tempe

By Kata IndonesiaNovember 2, 20260

Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 4 Darul Muttaqien Banyuwangi yang didirikan tahun 1987 dan resmi…

Pengawasan MBG dari Daerah Memperkuat Perlindungan Kesehatan Anak

By Kata IndonesiaNovember 2, 20260

Pengawasan MBG dari Daerah Memperkuat Perlindungan Kesehatan Anak Oleh : Gavin Asadit Pengawasan dari tingkat daerah menjadi bagian penting untuk memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan aman dan memberikan manfaat bagi kesehatan anak. Seiring meluasnya pelaksanaan program di berbagai wilayah, kualitas bahan pangan, kebersihan dapur, proses pengolahan, hingga ketepatan distribusi harus dijaga secara konsisten. Pengawasan yang melibatkan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, sekolah, dan Badan Gizi Nasional (BGN) diperlukan agar makanan yang diterima peserta didik memenuhi standar keamanan dan gizi. BGN telah mendorong penguatan koordinasi pengawasan MBG melalui optimalisasi peran Satuan Tugas (Satgas) MBG di daerah serta rencana penempatan personel BGN pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Langkah ini ditujukan untuk memperpendek rentang koordinasi antara pemerintah pusat dan ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyiapkan makanan bagi penerima manfaat di seluruh Indonesia. Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, menjelaskan bahwa besarnya cakupan program membutuhkan pembagian peran yang jelas agar pengawasan dapat berlangsung lebih dekat dengan pelaksanaan di lapangan. Menurutnya, personel BGN di daerah diharapkan dapat menjadi mitra koordinasi kepala daerah, mempercepat penanganan keluhan, dan membantu memastikan persoalan operasional segera ditindaklanjuti. BGN juga mendorong daerah yang belum membentuk Satgas MBG agar segera menyelesaikan pembentukannya. Hingga akhir Oktober, Satgas MBG telah terbentuk di 230 daerah. Penguatan tersebut diperjelas melalui Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 400.5/8545/SJ tentang Pelaksanaan Inspeksi dan Penilaian Kesesuaian SPPG di Daerah. Kebijakan ini mendorong gubernur, bupati, dan wali kota untuk terlibat dalam pemeriksaan berkala terhadap dapur MBG. Pemeriksaan dilakukan dengan mengacu pada indikator kelayakan yang telah disiapkan BGN, sehingga penilaian tidak hanya mengandalkan laporan administratif, tetapi juga kondisi nyata fasilitas dan proses pengolahan makanan. Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah daerah dalam mendukung pelaksanaan dan pengawasan MBG. Menurutnya, kepala daerah dapat menggerakkan perangkat daerah terkait untuk memeriksa kelayakan SPPG dan menindaklanjuti temuan di wilayah masing-masing. Keterlibatan dinas kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, ketahanan pangan, serta unsur pengawasan daerah memungkinkan pemeriksaan dilakukan dari berbagai sisi, mulai dari sanitasi hingga kualitas layanan. …

Pemerintah Perketat Pengawasan MBG Hingga Tingkat Daerah

By Kata IndonesiaNovember 2, 20260

Pemerintah Perketat Pengawasan MBG Hingga Tingkat Daerah Jakarta – Pemerintah memperketat pengawasan Program Makan Bergizi…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.