• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Lomba Artikel»Sebab Hoax Laku dan Dampaknya terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kita

Sebab Hoax Laku dan Dampaknya terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kita

  • Kata Indonesia
  • - Thursday, 22 August 2019

Oleh : Ardan Marua

Hoax, kata yang bermakna kasar, namun bertubuh licin dan mudah menyebar. Selain karena sifatnya yang acap kali sensasional, faktor sosial-budaya juga turut menjadi pendorong beredarnya hoax, seperti minimnya budaya literasi, dan terutama kegemaran dalam berbagi cerita alias bergosip.

Berdasarkan data UNESCO, minat masyarakat Indonesia mengonsumsi literasi sangat rendah. Riset bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked pun menunjukkan hal serupa, bahwa Indonesia berada di urutan kedua terbawa dari 62 negara soal minat literasi. Itu artinya minat cerita kita lebih tinggi 60 kali lipat dari minat kita mengonsumsi literasi, dalam hal ini membaca buku. Padahal dari segi infrastruktur untuk mendukung minta baca, peringkat Indonesia di atas bangsa-bangsa Eropa.

Dalam acara Rapat Koordinasi Nasional Bidang Perpustakaan yang diselenggarakan pada lima bula lalu, 14-16 Maret 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando dalam sambutannya menyampaikan bahwa Indonesia saat ini memiliki 164.610 perpustakaan. Itu menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah infrastruktur perpustakaan terbanyak nomor dua di bawah India yang memiliki 323.605 perpustakaan dan di atas Rusia dengan memiliki 113,440 perpustakaan, dan Cina perada di urutan keempat dengan jumlah 105 831 perpustakaan.

Parahnya menurut UNESCO, dari sekian ratus juta penduduk Indonesia, hanya 0,001 persen masyarakat yang mempunyai minat baca yang baik. Artinya, bangsa ini benar-benar bangsa penggosip. Parahnya lagi, meski minat baca buku kita rendah tapi menurut data Wearesocial mengungkapkan bahwa orang Indonesia mampu berjam-jam menatap layar gadget, sehari kurang-lebih bisa 9 jam.

Dari sinilah, meningkatnya penggunaan smartphone sebagai medium bercengkerama, senda gurau, juga turut mempengaruhi beredarnya hoax. Melalui media sosial, yang dapat diakses melalui smartphone, siapa pun dapat berbagi cerita, bergosip, dan mengunggah foto atau video pengalaman-pengalaman yang seru dan menghibur. Dampaknya, hoax ikut serta di dalamnya.

Lembaga Digital Marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 hingga memasuki tahun 2019 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia bisa mencapai 100 juta orang. Sayangnya perkiraan itu meleset. Sampai saat ini, menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) jumlah penggunanya sudah mencapai 117, 17 juta orang. Dan berdasarkan laporan tahunan Digital 2019 tentang perilaku online yang dihimpun Hootsuite dan We Are Social yang dikutip dari The Guardian, Indonesia menempati peringkat kelima soal pengguna internet terbanyak dan paling lama di dunia.

Smartphone menjadi salah satu media yang paling banyak di gunakan untuk mengakses internet, khususnya media sosial. Urusan-urusan ini orang Indonesia paling kuat bermedia sosial selama berjam-jam, bahkan termasuk paling cerewet di media sosial. Jakarta termasuk kota yang paling cerewet di dunia maya karena sepanjang hari, aktivitas kicauan dari aku Twitter yang berdomisili di ibu kota Indonesia ini paling padat melebihi Tokyo dan New York. Laporan ini berdasarkan riset Semiocast, sebuah lembaga independen di Paris, Prancis.

Jadi bisa dibayangkan, mereka yang tak melek membaca, tapi suka menatap layar gadget berjam-jam dan cerewet di media sosial pula. Jadi jangan heran Indonesia menjadi konsumen empuk untuk informasi provokatif, hoax, dan fitnah. Begitu dapat informasi yang dianggap menarik, bisa menghebohkan jagat maya, langsung like dan share. Padahal informasinya tersebut belum tentu benar, dan bisa jadi hanya dimaksudnya untuk memprovokasi pengguna media sosial dan membela kohesi nasional. Jika demikian, rakyat terbelah, social distrust, apa dampaknya bagi pertumbuhan ekonomi kita?

Cybercrime dan Dampaknya Terhadap Ekonomi Kita

Saat ini kita sedang memasuki arena pasar baru, pasar ruang virtual. Kejahatan cyber seperti penyebaran berita bohong, hacking, pishing, carding, dan segala macamnya, yang bersifat menumbuhkan ketidakpercayaan masyarakat dan merugikan keuangan individu maupun negara jelas-jelas sangat berbahaya dan menjadi ancaman perekonomian, khususnya ekonomi digital.

Di tahun depan, 2020, pemerintah menargetkan ekonomi digital Indonesia akan mencapai 130 milyar dolar AS atau setara RP 1.750 Triliun. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Direktur Jendral (Dirjen) Penyelenggara Pos dan Informatika (PPI) Kementerian Komunikasi dan Informasi, Ahmad R. Ramli. “Masalahnya saat ini cybercrime saat luar biasa. Kita hanya bisa mencapai target ekonomi digital jika semua transaksi bisa dipastikan aman. Transaksi akan aman jika tidak ada anonimaus”, katanya.

Berdasarkan data hasil penelitian perusahaan keamanan dunia maya McAfee dengan Central for Strategic dan Internasional Studies (CSIS) yang diumumkan pada tahun lalu, kerugian tahunan dari kejahatan cybercrime secara global telah mencapai US$600 miliar atau setara Rp 8.160 triliun (asumsi US$1 = Rp 13.600) pada 2017, yang didorong oleh meningkatnya kecanggihan para hacker (peretas), berita palsu, dan bertambah banyaknya kejahatan di toko online. Dalam penelitian ini juga disebutkan bahwa pencurian kekayaan intelektual mencapai seperempat kerugian tahunan dari kejahatan siber.

Atas dasar itu semua, tanpa kehati-hatian bermedia sosial, bisa pastikan, ekonomi kita niscaya akan jatuh tersungkur. Jika ekonomi kita anjlok, siapa yang rugi? Yang rugi bukan orang di negara lain tapi kita, kita semua bangsa Indonesia dengan seluruh tumpah darahnya. Jika tak ingin ini terjadi, maka berhati-hatilah dalam bermedia sosial.

Supaya negara kita maju, kita hanya perlu berhati-hati dan menahan diri. Syaratnya itu saja, tidak lebih. Karena kebohongan yang diulang-ulang dan disebarkan secara sistematis, bagi saya, tidak akan pernah menjadi kebenaran. Tetapi berpotensi membuat kita tertipu dan tak berdaya menggali kebenaran yang sesungguhnya, serta kohesi sosial dan rasa saling percaya pun ikut tergerus.

Maka dari itu, saya pikir, kemerdekaan sejak nurani menjadi keharusan setiap dari kita lakukan untuk menuju Indonesia yang jaya dan berdaulat atas segara potensi yang dimiliknya.

Kekerasan OPM Ancam Warga Sipil, Masyarakat Dukung Tindakan Tegas Apkam

August 19, 2026

Bersama Membawa Bantuan dan Harapan Bagi Penyintas Gempa NTT

August 19, 2026

Kekerasan OPM Ancam Warga Sipil, Masyarakat Dukung Tindakan Tegas Apkam

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Kekerasan OPM Ancam Warga Sipil, Masyarakat Dukung Tindakan Tegas Apkam MIMIKA – Kekerasan yang diduga…

Bersama Membawa Bantuan dan Harapan Bagi Penyintas Gempa NTT

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Bersama Membawa Bantuan dan Harapan Bagi Penyintas Gempa NTT Oleh: Servatius Yosef Bencana gempa bumi…

Kapasitas Terbatas! Jadilah Bagian dari 300 Tokoh Pendidikan Dunia di GIHES 2026

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Panitia Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor bersama Forum Pondok Alumni Gontor (FPAG) akan…

Satgas Terpadu Gempa NTT Pastikan Setiap Pengungsi Mendapat Perlindungan

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Satgas Terpadu Gempa NTT Pastikan Setiap Pengungsi Mendapat Perlindungan  Oleh: Samhaji Syukur Musibah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Kepulauan Flores, Nusa Tenggara Timur, menjadi ujian ketangguhan nasional sekaligus momentum pembuktian nyata atas keberhadiran negara dalam mengayomi seluruh lapisan masyarakat terdampak. Didasari kesadaran mendalam akan besarnya skala dampak sosial dan kerusakan fisik di lapangan, langkah proaktif pemerintah pusat bersama jajaran pemerintah daerah dalam memetakan serta merespons situasi krisis secara terstruktur layak mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya. Kehadiran negara bukan sekadar simbol penanganan krisis formalitas, melainkan wujud pelaksanaan mandat konstitusional untuk melindungi keselamatan setiap jiwa warga negara. Pembentukan Satuan Tugas Terpadu Penanganan Pascabencana Gempa NTT yang diinisiasi oleh pemerintah pusat menjadi konsolidasi instrumen kekuasaan publik yang krusial agar tidak ada satu pun warga terdampak yang terabaikan dalam fase tanggap darurat ini. Keputusan taktis yang diambil oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno dalam merespons cepat dinamika pascagempa mencerminkan tata kelola krisis yang terukur, inklusif, dan berorientasi pada keselamatan publik. Pembentukan satuan tugas khusus pascagempa dipusatkan untuk menjangkau titik-titik pengungsian mandiri yang tersebar di wilayah perbukitan maupun pemukiman terpencil. Menko PMK Pratikno menjelaskan bahwa percepatan pendataan pengungsi mandiri merupakan fondasi utama agar pemenuhan kebutuhan logistik, obat-obatan, dan sarana tempat tinggal sementara dapat terdistribusi secara konsisten dan adil. Konsolidasi lintas sektor yang menyatukan peran pemerintah daerah, jajaran TNI, Polri, BPBD, hingga tingkatan kecamatan dan desa membuktikan bahwa sekat-sekat administratif tidak boleh membatasi penyaluran bantuan kemanusiaan pada saat-saat paling kritis. Langkah penanganan yang sigap di tingkat pusat menemukan titik tumpu yang kuat melalui kesiapan instansi teknis penanggulangan bencana di daerah. Kepala BPBD Nusa Tenggara Timur Mahadin Sibarani mengonfirmasi bahwa rincian dampak fisik, termasuk kerugian pada ribuan unit rumah warga serta ratusan fasilitas umum dan infrastruktur sosial, terus diverifikasi dalam basis data yang terintegrasi. Pendataan komprehensif ini menjadi landasan strategis bagi pembentukan satgas daerah untuk memperkuat komando lokal. Dengan komando operasional yang solid di tingkat tapak, berbagai tantangan teknis dalam menjangkau posko penampungan yang sulit diakses dapat diselesaikan secara efektif melalui kolaborasi intensif bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Kementerian Sosial, dan Kementerian Kesehatan. Penguatan kelembagaan penanganan krisis ini juga selaras dengan komitmen pengawasan ketat yang dijalankan oleh pimpinan legislatif. Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati menekankan bahwa peninjauan langsung di lapangan serta sinergi lintas lembaga merupakan kunci utama untuk memastikan efisiensi penyaluran pasokan logistik, fasilitas kesehatan, dan hunian sementara bagi warga terdampak. Pengawasan melekat dari parlemen memastikan bahwa setiap kebijakan tanggap darurat yang digulirkan eksekutif berjalan secara transparan, akuntabel, dan berfokus penuh pada pemulihan fisik maupun trauma psikologis masyarakat. Kehadiran pimpinan DPR bersama pejabat kementerian di titik bencana menegaskan jaminan bahwa seluruh fungsi pemerintahan bekerja sinergis demi mengembalikan rasa aman publik. Dukungan taktis legislatif semakin konkret dengan adanya kesiapan akselerasi prosedur penganggaran bencana di tingkat parlemen. Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Haryadi menegaskan kesiapan DPR untuk mempercepat proses persetujuan alokasi maupun alih fungsi anggaran pemerintah apabila kebutuhan penanganan bencana di lapangan meningkat. Fleksibilitas serta kemudahan prosedur persetujuan anggaran di DPR menjamin bahwa seluruh tahapan tanggap darurat hingga rehabilitasi tidak akan terkendala oleh hambatan administratif. Komitmen ini menunjukkan betapa harmonisnya relasi kerja antara pemerintah dan DPR dalam mengutamakan keselamatan rakyat di atas segala kerumitan birokrasi anggaran. Pengawasan taktis terhadap efektivitas penanganan bencana di kawasan terdampak juga dikawal oleh pimpinan dewan lainnya melalui peninjauan lapangan yang mendalam. Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal menegaskan pentingnya laporan kondisi riil dan langkah taktis yang diambil selama masa tanggap darurat untuk menjamin kepastian pelayanan pengungsi di berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Manggarai dan daerah sekitarnya. Cucun menyampaikan bahwa masukan konkret dari pemerintah daerah serta instansi terkait akan menjadi acuan utama dalam menetapkan kebijakan pemulihan jangka pendek dan menengah. Pendekatan ini memastikan bahwa penanganan dampak gempa bumi dilakukan secara merata tanpa mengesampingkan kabupaten yang membutuhkan intervensi khusus.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.