• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Lomba Artikel»Ritual Masyarakat Indonesia yang harus diubah untuk Mewujudkan Pembangunan dan Kepemimpinan Nasional 5 tahun kedepan : Mudah Mempercayai Hoax vs Sulit Mencerna Fakta

Ritual Masyarakat Indonesia yang harus diubah untuk Mewujudkan Pembangunan dan Kepemimpinan Nasional 5 tahun kedepan : Mudah Mempercayai Hoax vs Sulit Mencerna Fakta

  • Kata Indonesia
  • - Tuesday, 20 August 2019

Oleh : Cloudya Sihombing

 “Kebohongan dapat keliling dunia ketika kebenaran baru saja mengenakan sepatunya”, sebuah kutipan dari penulis terkenal asal Amerika Serikat, Mark Twain.

Sebuah riset yang dilakukan oleh Institut Teknologi Massachusetts mengungkapkan bahwa ternyata berita bohong atau lebih terkenal dengan sebutan ‘Hoax’ lebih mudah diterima dan lebih cepat menyebar ketimbang ‘Fakta’. Manusia memiliki kecenderungan untuk tertarik terhadap hal-hal baru. Kecenderungan ini membuat tiap individu gencar mencari informasi, hal ini tentu agar mereka menjadi yang pertama dalam mengetahui segala sesuatu. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh para penyebar hoax.

Selain memilih target, penyebar hoax juga lihai memilih isu untuk disebarkan. Berita-berita hoax cenderung memanipulasi emosi dan rasionalitas manusia, ketika perasaan lebih diutamakan maka di situlah hoax dapat ‘mengambil alih’. Cara ini, meskipun tidak langsung, akan memaksa individu untuk bersimpati karena apabila tidak bersimpati maka si individu kemungkinan akan mendapat cap sebagai orang yang tidak berperasaan atau semacamnya.

Lantas bagaimana cara menghadapi hoax? Apa kita sebagai individu yang telah merdeka pikiran dan rasionalnya harus serta merta percaya pada berita yang beredar dimana-mana? Ataukah kita justru ikut sebagai kontributor hoax di media sosial karena minimnya kesadaran akan cinta tanah air? Atau pula termasukkah kita sebagai generasi yang apatis dan tidak peduli pada keadaan dan masalah di depan mata kita sendiri? Aku berharap kau menjawab tidak untuk semua pertanyaan tadi. Jawab tidak bahwa engkau tidak akan serta merta percaya

pada berita apapun tanpa mengecek keasliannya. Jawab tidak bahwa engkau tidak akan menjadi salah satu dari penyebar hoax itu sendiri. Dan sekali lagi, jawab tidak bahwa engkau bukanlah masyarakat apatis yang tidak mau tahu terhadap persoalan negeri ini, melainkan engkau adalah orang yang peduli dan mau membantu menyelesaikan permasalahan negeri ini sekecil apapun kontribusimu.

Telah kita rayakah HUT-RI yang ke-74 tahun pada tanggal 17 Agustus kemarin dan pertanyaan yang masih membayangi kita terlebih saya sendiri adalah sudahkah kita merdeka dari prasangka negatif akan hoax dan sudahkah kita menjadi seorang warga negara yang bijak dalam mengolah informasi yang kita terima? Bukan sebuah paradigma baru lagi jika setiap orang memang cenderung lebih mudah mempercayai hoax ketimbang mencerna fakta yang sebenarnya. Dunia yang serba instant menjadikan kita sebagai generasi milenials bangsa ini lebih menyukai hal yang mudah dan cepat tanpa pikir-pikir panjang.

Jika dikaji lebih dalam lagi selama 74 tahun Indonesia merdeka, negeri kita masih disebut sebagai “Negara Berkembang”. Indonesia masih belum bisa memposisikan dirinya sebagai negara maju. Lantas apakah yang salah dalam sistem pemerintahan kita ini? Pembangunan dan kepemimpinan nasional Indonesialah kunci permasalahan yang membuat negeri kita sedikit tertinggal dibandingkan negara lain di kawasan Asia Pasifik. Pembangunan dimaksudkan untuk menyejahterakan masyarakat Indonesia baik itu melalui sistem pendidikan, jaminan kesehatan, infrastruktur, sistem sosial, ketenagakerjaan, produksi, dll. Di saat yang bersamaan, kepemimpinan juga dimaksudkan untuk mengarahkan/ mengerahkan kehidupan nasional (bangsa dan negara) dalam rangka pencapaian tujuan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta memperhatikan dan memahami perkembangan lingkungan strategis guna mengantisipasi berbagai kendala pemerintahan.

Namun, kontradiksinya adalah akankah pembangunan dan kepemimpinan itu akan berjalan mulus sementara masyarakat Indonesia sendiri terombang-ambing oleh krisis kepercayaan akan pemerintahnya? Tentu saja negara ini tidak akan mencapai kemajuan tanpa adanya andil dari segenap rakyat. Indonesia ada karena rakyatnya! Rakyat adalah komponon utama berdirinya sebuah negara. Rakyat mencerminkan keadaan negara itu sendiri. Rakyat yang tertib mencerminkan keadaan stabilitas pemerintahan, begitupun sebaliknya.

Keadaan pemerintahan akibat hoax adalah sebuah anomali yang jauh dari kata stabil. Rakyat sebagai kunci pemerintahan haruslah selektif dalam mencerna segala jenis informasi yang diterima karena mustahil Indonesia akan disebut sebagai “Negara Maju” jika didalam pemerintahannya masyarakat saling berasumsi negatif dan saling menjatuhkan.

 

Oleh karena itu yang perlu diperbaiki disini adalah kebiasaan lama rakyat Indonesia atau yang saya sebut sebagai “ritual” untuk lebih mudah mempercayai hoax ketimbang mencari dan mencerna fakta. Dengan semangat kemerdekaan dan persatuan, kita seharusnya lebih bersyukur karena kemerdekaan yang kita rasakan saat ini merupakan hasil tumpah darah para pehlawan kita dahulu, dimana kita tidak lagi merasakan ketakutan dan penderitaan seperti yang telah mereka hadapi.  Oleh sebab itu, janganlah kita generasi muda Indonesia dan rakyat kebanggaan Indonesia malah menghancurkan kemerdekaan yang telah diperjuangkan itu.

Hoax dapat kita analogikan sebagai penjajah yang ingin merebut kedaulatan negeri kita tercinta ini. Maka, lawanlah ia dengan bersikap kritis dan cermat! Jangan jatuhkan Indonesia kembali kedalam jurang penjajahan tetapi merdekakanlah ia lewat prestasi dan kontribusimu untuk  perwujudan Sustainable Development Goals (SDGs) yang marak dikumandangkan. Mari kita segenap rakyat Indonesia bersatu untuk menyukseskan pembangunan nasional negara kita bukan hanya 5 tahun kedepan tapi sepanjang hayat dikandung badan!

Referensi:

https: //zonasultra.com/ini-cara-mengatasi-berita-hoax-di-dunia-maya.html

https://akurat.co/ekonomi/id-590098-read-jokowi-5-tahun-kedepan-pembangunan-indonesia-sentris-dan-nasionalisasi-sda

https://akurat.co/news/id-339559-read-jangan-percaya-hoax-5-cara-melawannya-dari-penulis-luar-negeri

sumber:www.kompasiana.com

 

 

Pemerintah Genjot Pemerataan Listrik hingga Pelosok Desa

June 20, 2026

Sikapi Demonstrasi, Pemerintah Terus Jalankan Efisiensi dan Pembenahan Tata Kelola

June 20, 2026

Pemerintah Genjot Pemerataan Listrik hingga Pelosok Desa

By Kata IndonesiaJune 20, 20260

Pemerintah Genjot Pemerataan Listrik hingga Pelosok Desa Jakarta – Pemerintah mempercepat upaya pemerataan akses listrik…

Sikapi Demonstrasi, Pemerintah Terus Jalankan Efisiensi dan Pembenahan Tata Kelola

By Kata IndonesiaJune 20, 20260

Sikapi Demonstrasi, Pemerintah Terus Jalankan Efisiensi dan Pembenahan Tata Kelola *Jakarta* – Kepala Badan Komunikasi…

Gerakan Mahasiswa Harus Tetap Jadi Suara Rakyat, Bukan Alat Elite

By Kata IndonesiaJune 20, 20260

Gerakan Mahasiswa Harus Tetap Jadi Suara Rakyat, Bukan Alat Elite Di beberapa wilayah belakangan ini…

Sinergitas Bersama Tolak Demo Anarkis di Papua

By Kata IndonesiaJune 20, 20260

Sinergitas Bersama Tolak Demo Anarkis di Papua Oleh : Yohanes Wandikbo Papua saat ini berada dalam fase penting pembangunan yang membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat. Berbagai program pemerintah yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan, pembangunan infrastruktur, penguatan sumber daya manusia, hingga pengembangan potensi ekonomi daerah terus dijalankan untuk mempercepat kemajuan di Tanah Papua. Dalam situasi tersebut, stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat menjadi modal utama yang harus dijaga bersama. Karena itu, sinergitas antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, pemuda, dan seluruh warga Papua menjadi kunci dalam menolak segala bentuk aksi anarkis yang berpotensi mengganggu keamanan dan menghambat pembangunan. Pada negara demokrasi, kebebasan berpendapat merupakan hak yang dijamin oleh konstitusi. Setiap warga negara memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi, kritik, maupun masukan terhadap kebijakan publik. Namun, kebebasan tersebut tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab untuk menjaga ketertiban umum dan menghormati hak masyarakat lainnya. Penyampaian aspirasi yang dilakukan secara damai, santun, dan sesuai ketentuan hukum merupakan wujud kedewasaan demokrasi yang perlu terus dikedepankan. Sebaliknya, tindakan anarkis yang mengarah pada perusakan fasilitas umum, intimidasi, atau gangguan terhadap aktivitas masyarakat hanya akan menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi daerah dan masyarakat itu sendiri. Komitmen menjaga situasi tetap kondusif terlihat dari langkah yang diambil aparat keamanan menjelang pelaksanaan berbagai agenda nasional di Papua. Salah satunya pada penyelenggaraan Pesta Paduan Suara Gerejawi Nasional XIV di Manokwari yang dihadiri ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa Papua merupakan wilayah yang aman, damai, dan mampu menjadi tuan rumah berbagai kegiatan berskala nasional. Dalam hal ini, Kapolda Papua Barat Irjen Pol Alfred Papare menyampaikan bahwa kepolisian tetap menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat di muka umum sebagaimana dijamin oleh undang-undang. Namun, aparat berharap seluruh pihak dapat bersama-sama menjaga situasi keamanan selama berlangsungnya agenda nasional tersebut. Menurutnya, pendekatan persuasif dan dialog terus dilakukan guna membangun kesadaran bersama bahwa stabilitas keamanan merupakan kepentingan seluruh masyarakat Papua. Pendekatan yang mengedepankan dialog tersebut menunjukkan bahwa pemerintah dan aparat keamanan tidak menutup ruang demokrasi. Sebaliknya, negara hadir untuk memastikan setiap aspirasi dapat disampaikan dengan cara yang tertib dan bertanggung jawab. Langkah ini sekaligus membuktikan bahwa keamanan dan demokrasi bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan dalam kerangka hukum dan kepentingan bersama. …

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.