• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Reuni 212 : Propaganda Politik Dalam Kemasan Agama

Reuni 212 : Propaganda Politik Dalam Kemasan Agama

  • Kata Indonesia
  • - Sunday, 24 November 2019

Oleh : Ahmad Zaki (Pengamat Sosial Politik)

Persaudaraan Alumni (PA) 212 akan menggelar reuni pada 2 Desember 2019. Masyarakat cenderung tidak bersimpati karena telah sadar bahwa kegiatan tersebut telah melenceng jauh dari tujuannya dan hanya digunakan untuk kepentingan politik maupun penyebaran konsep khilafah.

Penilaian publik terhadap permasalahan negara yang banyak terpublikasi oleh media kini kian meningkat. Masyarakat telah mampu membedakan mana yang sekiranya menyimpang atau tidak benar. Termasuk pelaksanaan Reuni 212, yang dianggap akan memunculkan kegaduhan politik. Ormas yang setuju dengan penerapan sistem khilafah ini bisa dikelompokkan sebagai kaum ekstrimis. B

menghakimi, namun pada perjalanannya, tuntutan-tuntutan terhadap pemerintah menjadi Overaktif. Lalu apa sih sebenarnya sistem khilafah ini, mengapa begitu banyak pihak yang notabene tokoh agama kebelet menerapkan sistem ini?
Khilafah bisa didefinisikan sebagai sebuah sistem kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim yang berada di dunia. Kaitannya guna menerapkan hukum-hukum Islam serta mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Yang mana pemimpinya disebut Khalifah, imam ataupun Amirul Mukminin. Namun, dalam penerapannya tak bersesuaian dengan Nusantara yang mengacu kepada Ideologi Pancasila.

Apalagi paham khilafah ini memiliki banyak sekali tatanan yang harus dipahami. Mulai dari sistem, pemimpin hingga ajaran yang dianut para Amirul Mukminin berbeda-beda. Sehingga fanatisme terhadap paham ini harus dijabarkan secara jelas.
Hubungan dengan ormas ini ialah, perilaku imam besar FPI yang pro dengan aturan keIslamannya guna menggulingkan pemerintahan Indonesia yang sah. Padahal, Nusantara terdiri dari beragam agama, suku, ras, dan juga kebudayaan. Padahal Pemerintah juga tak keberatan untuk bekerja sama dengan ormas Islam selagi tak bertentangan dengan ideologi Pancasila.

Pun dengan sejumlah kasus yang menyeret Imam besar HRS. Kebanyakan adalah tidak pro dengan pemerintah. Bisa saja nantinya dalam acara reuni 212 akan ada propaganda (lagi) yang memojokkan pemerintah hingga ajakan-ajakan yang dinilai dapat memicu kekisruhan. Bukan takut, namun pemerintah tak ingin persatuan dan kesatuan menjadi carut marut. Meski didapuk sebagai pengisi acara 212, pihaknya masih bercokol di Arab Saudi tertahan oleh masalah denda overstaynya.
Sementara itu, PA 212 terus berupaya agar pentolan FPI bisa secepatnya pulang kampung. Bahkan, dirinya telah menyurati Dubes Arab Saudi untuk Indonesia hingga Kemenlu. Ia berharap mendapatkan titik terang akan pencekalan sang Imam besar. Sehingga akan diketahui dengan pasti dimana letak inti masalahnya.

Ketua PA 212 ini mengatakan jika Habib Rizieq berkomitmen untuk menghadiri Reuni Akbar 212 yang akan digelar di Monas, Jakarta Pusat. Namun kepastian tersebut tentunya harus menunggu terlebih dahulu pencekalannya dicabut.
Reuni 212 ini sebelumnya adalah jalan panjang guna menyuarakan keadilan. Yang sebelumnya dianggap dinistakan oleh mantan gubernur DKI, Ahok. Namun ketika Ahok sudah dipenjara, aksi lanjutan ini dicurigai memiliki esensi lain. Sehingga banyak pihak yang menolak acara 212 susulan. Selain mengganggu, aksi ini juga sarat agenda politik, yang tak sejalan dengan khitah awalnya.

Dalam balutan keagamaan inilah kiranya politik dinaungi agar tak terendus media maupun pemerintahan. Menggiring massa dengan aneka rayuan bernada agama dan kedamaian bukanlah hal tepat untuk mendapatkan dukungan. Agaknya perlu ditelaah kembali apa tujuan dari dilaksanakannnya aksi-aksi ini. Masyarakat juga merasa gerah, jika ormas yang sepatutnya menjaga kesucian suatu agama harus dinodai dengan kepentingan yang terkesan sangat duniawi.

Jika sudah begini, bukan berarti pemerintah mencekal Islam, pemerintah menyudutkan Islam bahkan tidak pro dengan Islam. Padahal jika dilihat secara logika, negara kita mayoritas terdiri dari muslim yang bisa saling menghormati umat minoritas lainnya. Islam tak pernah mengajak kepada kebatilan, bahkan Nabi besar junjungan Umat Islam saja mau merangkul musuh dalam mempertahankan kotanya. Lalu, jika keturunannya saja enggan menengok sisi lain dari keberagaman negara, apa bisa menjalin persatuan yang sebenarnya.

Negara disini berperan netral dan tak memihak. Ideologi Pancasila secara faktual dapat berjalan dengan umat Islam tanpa harus mengesampingkan agama maupun pihak lainnya. Jadi, tak perlu lagi mendramatisasi keadaan seolah pemerintah menganaktirikan muslim, padahal tidak ada bukti perihal tersebut. Akhir kata, Indonesia sebetulnya memiliki orang-orang pandai dan sangat nasionalis. Hanya saja terkadang permasalahan sepele-pun bisa menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. Boleh saja menggelar aksi dengan beragam pemahaman, asal tidak menyimpang serta dapat berjalan beriringan dengan falsafah NKRI.

Peningkatan Kontribusi Hilirisasi Membuka Peluang Penguatan Industri Nasional 

October 26, 2026

Makin Dirasakan Manfaatnya, Kontribusi Hilirisasi terhadap Investasi Meningkat

October 26, 2026

Peningkatan Kontribusi Hilirisasi Membuka Peluang Penguatan Industri Nasional 

By Kata IndonesiaOctober 26, 20260

Peningkatan Kontribusi Hilirisasi Membuka Peluang Penguatan Industri Nasional  Oleh: Bara Winatha Peningkatan kontribusi hilirisasi terhadap investasi dan ekspor membuka peluang strategis bagi penguatan industri nasional di tengah dinamika ekonomi global. Melalui pengolahan sumber daya alam di dalam negeri, Indonesia berpeluang meningkatkan nilai tambah produk, menciptakan lapangan kerja, mengembangkan teknologi, dan memperbesar penerimaan devisa. Namun, keberhasilannya tidak cukup diukur dari pertumbuhan investasi semata, melainkan juga dari kemampuan membangun industri yang produktif, kompetitif, dan berkelanjutan. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa kontribusi investasi hilirisasi mencapai 35 persen pada triwulan III 2026, meningkat dari 26 persen pada 2024. Kenaikan tersebut menunjukkan semakin besarnya peran kegiatan pengolahan dalam struktur investasi nasional sekaligus memperkuat arah pembangunan ekonomi berbasis nilai tambah. Menurut Rosan, investasi perlu menghasilkan manfaat yang lebih luas, terutama penyerapan tenaga kerja, peningkatan kemampuan teknologi, dan penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Pengembangan industri nikel dan baterai kendaraan listrik menjadi salah satu fokus pemerintah. Dalam pelaksanaannya, keseimbangan antara ketersediaan bahan baku, kapasitas pengolahan, dan kebutuhan industri lanjutan harus dijaga agar ekspansi produksi disertai peningkatan kualitas manufaktur. Prospek hilirisasi juga tercermin dalam proyeksi ekspor yang disampaikan Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN, Septian Hario Seto, memperkirakan nilai ekspor produk hilirisasi mencapai US$50 miliar pada akhir 2026. Angka tersebut meningkat sekitar 45 persen dibandingkan capaian 2024 sebesar US$34,5 miliar. Pertumbuhan diperkirakan terutama berasal dari pengolahan nikel, aluminium, serta komponen baterai litium. Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa basis hilirisasi Indonesia mulai meluas. Septian memperkirakan ekspor produk aluminium mencapai US$7,2 miliar pada 2026, lebih dari dua kali lipat nilai 2024 sebesar US$3,5 miliar. Peningkatan kapasitas produksi dan rencana investasi fasilitas peleburan aluminium atau smelter menjadi faktor pendukung pertumbuhan sektor ini. Di sisi lain, industri baterai menawarkan peluang untuk memperkuat penguasaan teknologi. Indonesia mulai mengembangkan produksi komponen kendaraan listrik, termasuk anoda dan katoda, serta memiliki fasilitas pemurnian litium meskipun tidak mempunyai sumber daya litium domestik. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan industri dapat ditempuh melalui kemampuan pengolahan, integrasi rantai pasok, dan kerja sama teknologi, bukan semata kepemilikan bahan mentah.…

Makin Dirasakan Manfaatnya, Kontribusi Hilirisasi terhadap Investasi Meningkat

By Kata IndonesiaOctober 26, 20260

Makin Dirasakan Manfaatnya, Kontribusi Hilirisasi terhadap Investasi Meningkat Jakarta – Hilirisasi industri semakin memperkuat perannya…

Penerimaan Negara dari Migas Diproyeksi Lampaui Target 2026

By Kata IndonesiaOctober 26, 20260

Penerimaan Negara dari Migas Diproyeksi Lampaui Target 2026 JAKARTA – Peningkatan penerimaan negara dari sektor…

Harga Minyak Menguat, Prospek Pendapatan Negara dari Migas Meningkat

By Kata IndonesiaOctober 25, 20260

Harga Minyak Menguat, Prospek Pendapatan Negara dari Migas Meningkat JAKARTA — Sektor hulu minyak dan…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.