• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Masyarakat Papua Menolak HUT OPM

Masyarakat Papua Menolak HUT OPM

  • Kata Indonesia
  • - Sunday, 24 November 2019

Oleh : Rebecca Marian

Situasi Papua dan Papua Barat cenderung aman dan kondusif, terutama jelang HUT Organisasi Papua Merdeka (OPM). Masyarakat Papua pun cenderung menolak perayaan tersebut mengingat sepak terjang OPM yang melakukan aksi keji terhadap masyarakat.

Belajar pada pengalaman, OPM ini merupakan basisnya kelompok bergaris keras serta menganut paham radikal di Papua. Tak hanya berlaku keji dan brutal, kelompok ini juga diwaspadai sejumlah pihak, terutama aparat keamanan. Sebab, pergerakannya juga meresahkan warga. Kiprahnya dalam hal pengupayaan Kemerdekaan rak pernah mereda, hingga seringkali hal ini menjadi polemik bagi Papua sendiri. Pasalnya, Papua menolak merdeka, mereka merasa telah menjadi bagian dari NKRI dan tak terpisahkan. Dari dulu hingga nanti, baik secara de Facto dan de jure. Secara nasional maupun internasional. Sehingga apapun yang terjadi, OPM ini begitu mengganggu keamanan dan kedamaian masyarakat Bumi Cendrawasih.

OPM ini merupakan kelompok separatis yang sering melakukan kekejaman kepada warga sipil. Bahkan, menjelang 1 Desember, masyarakat diminta untuk tetap waspada karena kelompok ini kerap melakukan aksi brutal guna menunjukkan eksistensinya. Momen tersebut ditengarai sebagai hari kemerdekaan dan juga lahirnya Organisasi Papua Merdeka (OPM). Tak pandang bulu, kelompok separatis secara membabi buta akan menyerang korbannya. Apalagi dengan yang anti kemerdekaan Papua. Tentunya memang harus berhati-hati.

Kolonel Cpl Eko Daryanto selaku Kapendam XVII/Cenderawasih menyebut, setidaknya terdapat tiga titik yang akan diberi perhatian khusus oleh aparat keamanan. Titik-titik ini dikenal sebagai basis mereka selama ini. Pihaknya tak menampik jika ada informasi seperti pergerakkan ke wilayah Tembaga Pura, kemudian di Puncak serta Nduga.
Khusus di Tembaga Pura, pihak keamanan menerima informasi jika kelompok KKB ada yang sedang menuju wilayah tersebut. Maka dari itu, kewaspadaan aparat di wilayah yang menjadi operasional PT Freeport Indonesia tersebut akan kian dioptimalkan. Namun, dirinya menegaskan menjelang 1 Desember nanti TNI tak menyiapkan manuver khusus.

Kendati demikian, RI Johny G Plate selaku Menkominfo menjelaskan bahwa pihak Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), menyatakan, pemerintah tidak akan membatasi internet ketika OPM akan memperingati ulang tahunnya pada 1 Desember mendatang. Namun, jika terjadi hal lain seperti kekacauan, maka tak menutup kemungkinan pembatasan terpaksa akan dilakukan hingga situasi kembali kondusif. Pembatasan akses internet ini perlu dilakukan guna menghindari penyebaran konten-konten maupun berita hoax yang bisa memicu kekisruhan lebih parah lagi.

Aksi-aksi brutal KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) yang merupakan kelompok separatis, sebelumnya menimpa aparat keamanan. Insiden tersebut terjadi pada Agustus silam. Briptu Heidar (korban) ditemukan meninggal setelah sebelumnya disandera dan dibunuh ketika akan melarikan diri.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol AM Kamal mengatakan, kejadian bermula pada Senin siang pukul sebelas waktu setempat. Briptu Heidar yang tengah bertugas melakukan penyelidikan di daerah Kabupaten Puncak. Saat melintas di Kampung Usir, Briptu Heidar diduga diserang oleh KKB. Menurut Kombes Pol Kamal, pihaknya telah berkoordinasi dengan TNI guna melakukan pendekatan terhadap para tokoh masyarakat di Kabupaten Puncak. Dirinya juga mengklaim bahwa telah melakukan negoisasi dengan pimpinan KK Lekagak Talenggen, sebelum jenazah Briptu Heidar ditemukan.

Gerakan Separatis OPM mencerminkan, bahwa apa yang mereka lakukan tidaklah sejalan dengan ideologi Pancasila. Mereka secara terang-terangan telah terbukti berani menyerang sesama warga Papua bagi yang tak mendukung mereka. Apalagi aksi brutal ini sudah tidak bisa ditolerir lagi. Maka, menjelang HUT OPM aparat diminta perlu menindak tegas jika kelompok separatis ini kembali berulah.

Kejadian ini tentunya bisa dijadikan sebagai krisis nasional, dimana ketika negara sedang berjuang membangun NKRI dari wilayah pinggiran, nyatanya masih saja ada sekelompok orang yang meluluskan serangan kepada aparat serta ingin memisahkan diri dari Nusantara.
Tak menampik keinginan memerdekakan Papua ini berdasar alasan ingin mengelola wilayahnya sendiri dan tak tersentuh pemerintahan. Akan tetapi, bagaimanapun juga, warga asli Papua saja telah memproklamirkan kemerdekaannya melalui NKRI, OPM bisa apa?

Terlebih, masyarakat Bumi Cendrawasih ini merasa jika apa yang diperjuangkan oleh OPM bukanlah untuk mereka. Ditambah, aksi-aksi keji yang membuat keresahan dan mengancam keamanan warga turut menjadi alasan mengapa Papua menolak OPM, termasuk pelaksanaan HUT 1 Desember nanti.

Kasus Penyadapan Ilegal Diusut, Semua Pihak Diminta Tunduk pada Hukum

November 7, 2026

Mengapresiasi Prabowo: Berani dan Tegas kepada Pengancam Negara 

November 7, 2026

Kasus Penyadapan Ilegal Diusut, Semua Pihak Diminta Tunduk pada Hukum

By Kata IndonesiaNovember 7, 20260

Kasus Penyadapan Ilegal Diusut, Semua Pihak Diminta Tunduk pada Hukum Jakarta – Kasus dugaan penyadapan…

Mengapresiasi Prabowo: Berani dan Tegas kepada Pengancam Negara 

By Kata IndonesiaNovember 7, 20260

Mengapresiasi Prabowo: Berani dan Tegas kepada Pengancam Negara  Oleh: Amril Jambak Ada saatnya seorang pemimpin harus mengambil sikap tegas. Bukan semata-mata untuk menunjukkan kekuasaan, melainkan untuk memastikan bahwa negara tidak boleh dipermainkan oleh siapa pun. Terlebih jika persoalan yang dihadapi menyangkut keselamatan kepala negara, keamanan pemerintahan, serta kedaulatan bangsa. Perkembangan terbaru mengenai dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat negara menjadi persoalan serius yang tidak boleh dipandang sebagai perkara biasa. Apalagi, dugaan tersebut menyeret sejumlah individu dari lingkungan institusi penegak hukum. Pada 3 November 2026, Bareskrim Polri menetapkan tiga personel kepolisian berinisial LSP, ASN, dan EH sebagai tersangka dalam perkara dugaan penyadapan tanpa prosedur, akses ilegal, serta penghapusan data elektronik. Ketiganya kemudian menjalani penahanan untuk kepentingan penyidikan. Sehari setelahnya, 4 November 2026, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden Prabowo sangat prihatin atas peristiwa tersebut. Pemerintah bahkan menilai perkara itu memiliki indikasi yang mengarah pada perbuatan makar dan berpotensi membahayakan keselamatan pimpinan serta kepentingan negara. Langkah Presiden yang menandatangani keputusan pemberhentian Listyo Sigit Prabowo dari jabatan Kepala Staf Kepresidenan juga menunjukkan bahwa persoalan ini tidak dibiarkan berlarut-larut. Untuk sementara, Presiden menunjuk Letjen TNI Ariyo Windutomo sebagai Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan. Keputusan tersebut patut diapresiasi. Sebab, seorang presiden tidak boleh ragu mengambil tindakan ketika terdapat persoalan serius yang menyentuh keamanan dan kewibawaan negara. Indonesia adalah negara hukum, bukan negara yang boleh dikendalikan oleh kepentingan kelompok, jaringan kekuasaan, ataupun faksi tertentu.…

Terbongkarnya Penyadapan Ilegal Menjadi Tonggak Penting Supremasi Hukum

By Kata IndonesiaNovember 7, 20260

Terbongkarnya Penyadapan Ilegal Menjadi Tonggak Penting Supremasi Hukum  Oleh: Citra Ann Pengungkapan kasus dugaan penyadapan ilegal yang melibatkan sejumlah perwira tinggi Polri menjadi perhatian penting dalam upaya memperkuat supremasi hukum di Indonesia. Perkara yang menyasar komunikasi Presiden Prabowo Subianto, sejumlah pejabat negara, tokoh politik, media, hingga kalangan masyarakat sipil tersebut menunjukkan pentingnya pengawasan terhadap penggunaan kewenangan aparat. Penanganan kasus ini sekaligus menjadi ujian bagi komitmen institusi penegak hukum dalam memastikan tidak ada pihak yang kebal terhadap proses hukum. Praktik penyadapan pada dasarnya merupakan instrumen yang dapat digunakan untuk mendukung proses penegakan hukum dengan persyaratan dan mekanisme yang ketat. Namun, penggunaan kewenangan tersebut tanpa dasar hukum berpotensi berubah menjadi tindakan yang melanggar privasi dan hak asasi manusia. Oleh karena itu, setiap tindakan pemantauan komunikasi harus memiliki tujuan yang sah, mengikuti prosedur, serta dapat dipertanggungjawabkan sesuai peraturan perundang-undangan. Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri Komjen Asep Edi Suheri, menegaskan bahwa dugaan penyadapan ilegal yang menyeret tiga perwira tinggi berinisial LSP, ASN, dan EH merupakan tindakan oknum, bukan kebijakan institusi Polri. Penegasan itu disampaikan menyusul pengungkapan dugaan penyadapan terhadap sejumlah nomor telepon milik pejabat negara dan berbagai kalangan masyarakat. Asep menjelaskan bahwa Polri telah memiliki Peraturan Kapolri Nomor 5 Tahun 2010 sebagai pedoman pelaksanaan tugas Pusat Pemantauan Polri agar kegiatan pemantauan berjalan sesuai prosedur. Dugaan pelanggaran dalam perkara ini berkaitan dengan perintah penyadapan sejumlah nomor telepon tanpa prosedur yang sah dan tidak berhubungan dengan kepentingan penegakan hukum. Para tersangka juga diduga memerintahkan penghapusan berkas hasil sadapan dalam sistem Lawful Interception Management System (LIMS) pada Oktober 2026. Sementara itu, penyidik masih memeriksa seorang saksi berinisial SU untuk mengungkap rangkaian peristiwa dan pihak-pihak yang berkaitan dengan perkara tersebut. Ketentuan mengenai penyadapan telah memberikan batasan yang jelas terhadap penggunaan instrumen pemantauan komunikasi. Berdasarkan Peraturan Kapolri Nomor 5 Tahun 2010, penyadapan hanya dapat dilakukan untuk kepentingan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, serta pemeriksaan di persidangan atas tindak pidana berdasarkan undang-undang. Pelaksanaannya juga harus memperhatikan perlindungan HAM, legalitas, kepastian hukum, perlindungan konsumen, dan kerahasiaan. Pengawasan terhadap kewenangan penyadapan menjadi bagian penting untuk mencegah aparat bertindak di luar batas hukum. Tanpa pengawasan dan pertanggungjawaban, teknologi pemantauan yang seharusnya membantu proses penyidikan justru dapat menimbulkan pelanggaran terhadap hak masyarakat. Karena itu, pengungkapan dugaan penyimpangan di lingkungan kepolisian perlu diikuti evaluasi terhadap pelaksanaan prosedur dan penguatan pengawasan internal.…

Data BPS Ungkap Fundamental Ekonomi Nasional Dinilai Tetap Kuat

By Kata IndonesiaNovember 6, 20260

Data BPS Ungkap Fundamental Ekonomi Nasional Dinilai Tetap Kuat JAKARTA – Kondisi perekonomian Indonesia dinilai…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.