• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Plus-Minus Iddah Politik: Menahkik Perkum NU No 12 Tahun 2025 

Plus-Minus Iddah Politik: Menahkik Perkum NU No 12 Tahun 2025 

  • Kata Indonesia
  • - Sunday, 16 August 2026

Oleh: KH. Anis Maftukhin 

“Iddah Politik”. Istilah yang tengah viral jelang Muktamar NU ke 35 in dicuplik dari Perkum NU Nomor 12 Tahun 2025 dan ART NU Pasal 51. Bunyinya kira-kira begini: siapa pun yang hendak mencalonkan diri menjadi nakhoda PBNU, jika kebetulan ia mantan pengurus partai politik, maka ia harus menjalani masa “karantina” selama satu tahun penuh.

Niatnya, tentu saja, semerbak mewangi. Ini adalah semacam cooling-off period, pengejawantahan dari spirit Khittah 1926 yang diketuk palu di Situbondo empat dekade silam. NU ingin memastikan pucuk pimpinannya sudah tuntas mandi junub dari urusan syahwat politik praktis sebelum mengimami puluhan juta nahdliyin. Organisasi ini, bagaimanapun, bukanlah onderdil partai.

Tapi, mari kita bedah urusan ini dengan nalar ushul fiqh yang sedikit jenaka. Jika kita meminjam istilah “iddah” dari khazanah hukum perceraian, logikanya menjadi sedikit melompat. Iddah perempuan yang ditalak suaminya adalah tiga kali masa suci (quru’), atau kalau suaminya meninggal dunia, empat bulan sepuluh hari. Lantas, dari dalil mana jatuh ketetapan bahwa berpisah dari partai politik membutuhkan iddah dua belas bulan?

Apakah residu ideologi partai dianggap lebih pekat menempel di ubun-ubun ketimbang benih mantan suami di dalam rahim? Ataukah politik praktis diam-diam telah dihukumi sebagai najis mughalladhah (najis berat)—setara liur anjing—sehingga untuk menyucikannya sang kader harus dibasuh tujuh kali putaran purnama, di mana salah satunya dicampur dengan debu administratif?

Tentu saja ini logika yang mengada-ada. Dan di situlah letak absurditas jaring pengaman yang terlalu rapat; alih-alih melindungi rumah besar bernama jam’iyah, ia malah berpotensi merantai anak-anak kandungnya sendiri.

Kita sering lupa, ladang persemaian kader NU itu ibarat kebun botani yang riuh. Mereka tak hanya lahir dari mihrab masjid atau ndalem kiai. Kader NU tumbuh mekar di birokrasi, di kampus-kampus, di pasar, dan ya, di gedung parlemen. Menyamaratakan semua politisi sebagai anasir yang pasti akan menodai kemurnian NU adalah sebentuk su’udzon institusional.

Lihatlah Gus Yusuf Chudlori. Pengasuh Pesantren API Tegalrejo ini adalah purwarupa kiai yang urat nadinya bersambung langsung dengan denyut nadi rakyat miskin. Beliau kiai tulen, namun ndilalah pernah memimpin DPW PKB Jawa Tengah tiga periode. Kini, ketika beliau menanggalkan jaket hijaunya, aturan satu tahun ini mendadak berdiri seperti satpam galak di depan gerbang PBNU, menyuruhnya duduk manis dulu di pos penjagaan selama dua belas bulan.

Sejenak, mari kita panggil arwah para leluhur untuk tabayyun. KH Idham Chalid memimpin PBNU hampir tiga dekade (1956–1984), dan di saat yang sama, beliau santai saja merangkap jabatan jadi Wakil Perdana Menteri, Ketua Parlemen, hingga Ketua Umum PPP. Mundur sedikit ke belakang, KH Wahid Hasyim meracik fondasi jam’iyah sembari aktif di Masyumi dan menjadi Menteri Agama.

Apakah kemuliaan mereka luntur? Apakah NU pada zaman itu lantas tergadai di pasar loak kekuasaan? Sejarah mencatat dengan tinta emas: tidak. Di tangan kiai-kiai khalaf nan arif ini, politik bukanlah noda kotor yang harus dibilas setahun lamanya. Politik, bagi mereka, adalah instrumen khidmah—sebuah alat cangkul untuk menggarap sawah kemaslahatan umat.

Kritik tajam KH Imam Jazuli terasa sangat presisi ketika ia menyebut aturan ini sebagai “gejala purifikasi berlebihan”. Menyederhanakan netralitas dan integritas kepemimpinan semata-mata pada durasi penantian administratif 12 bulan adalah pembacaan teks yang dangkal. Ini mereduksi nilai kultural luhur Khittah menjadi sekadar Standard Operating Procedure ala korporasi.

Di alam demokrasi modern yang penuh keriuhan ini, mari jujur pada diri sendiri: siapa kiai yang benar-benar steril dari preferensi politik? Bahkan kiai sepuh yang tak pernah memegang kartu tanda anggota partai pun punya gerbong kultural yang efek elektoralnya lebih dahsyat dari kampanye ketua umum partai manapun. Durasi satu tahun tak pernah jadi jaminan apa-apa. Kader yang sudah dikarantina setahun bisa saja masih menjadi wayang dari dalang politik di luar sana, sementara kader yang baru semalam murtad dari partai bisa jadi langsung wushul dan ikhlas mengabdi semata untuk jam’iyah.

Lantas, jika iddah 12 bulan ini kita anggap berlebihan, apa gantinya?

Banyak jalan menuju Mekah, dan lebih banyak lagi jalan menuju kemaslahatan. Kita bisa memakai Pakta Integritas. Biarkan sang calon meneken sumpah setia di bawah bayang-bayang Majelis Tahkim. Jika di kemudian hari ia terbukti fasik—memelintir PBNU demi kepentingan partisan—Majelis Tahkim bisa langsung menjatuhkan talak bain kubra. Copot di tengah jalan. Selesai perkara.

Bukankah Perkum Nomor 14 Tahun 2025 sudah mengatur resolusi konflik semacam ini? Atau, cobalah berbaik sangka pada kewarasan para Muktamirin. Utusan PCNU dan PWNU dari seluruh penjuru mata angin itu bukan santri takhassus kelas ibtidaiyah yang baru belajar kitab Safinah. Mereka adalah para kiai, para aktivis yang hidungnya sudah kelewat peka mengendus mana calon yang membawa proposal tulus untuk umat, dan mana yang membawa proposal pesanan bandar politik. Mereka punya daya filter yang jauh lebih canggih dari sekadar selembar aturan tahunan.

Ada tawaran jalan tengah yang layak direnungkan para muktamirin. Yakni, “iddah” tetap ada, tapi durasinya didiskon. Kalau setahun, ya jadikan enam bulan misalnya. Atau lebih elegan lagi: biarkan kader berkompetisi dengan atribut apa adanya. Begitu terpilih, hari itu juga ia wajib melucuti seluruh jabatan politiknya. Mengikat tanpa mengurung. Menjaga marwah tanpa harus memasang kawat berduri di halaman sendiri.

Muktamar ke-35 di Tambakberas harusnya menjadi panggung yang riang gembira untuk merayakan kematangan organisasi berusia satu abad lebih ini. Aturan-aturan yang diracik semestinya menjadi jembatan yang menghubungkan potensi-potensi kader, bukan tembok tebal yang didirikan di atas fondasi kecurigaan.

Iddah politik itu sah-sah saja, tapi takarannya perlu dilarutkan dengan kebijaksanaan. Sebab pada akhirnya, derajat seorang nahkhoda NU tak pernah diukur dari berapa lama ia dikurung untuk menebus “dosa” politiknya, melainkan dari seberapa lapang dadanya untuk menampung seluruh keluh kesah umat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Pengasuh Ponpes WALI, Tuntang, Kab Semarang

Data BPS Ungkap Fundamental Ekonomi Nasional Dinilai Tetap Kuat

November 6, 2026

Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Tengah Ketidakpastian Global

November 6, 2026

Data BPS Ungkap Fundamental Ekonomi Nasional Dinilai Tetap Kuat

By Kata IndonesiaNovember 6, 20260

Data BPS Ungkap Fundamental Ekonomi Nasional Dinilai Tetap Kuat JAKARTA – Kondisi perekonomian Indonesia dinilai…

Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Tengah Ketidakpastian Global

By Kata IndonesiaNovember 6, 20260

Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Tengah Ketidakpastian Global  Oleh: Agus Yanuar Perekonomian Indonesia memperlihatkan daya tahan di tengah ketidakpastian global dengan mencatat pertumbuhan sebesar 5,47 persen secara tahunan pada kuartal III 2026. Angka yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi nasional masih bergerak positif, meskipun belum menyamai capaian awal tahun. Kinerja ini menjadi modal untuk menjaga optimisme, sekaligus pengingat bahwa ketahanan ekonomi perlu diperkuat melalui kebijakan konsisten dan pembangunan yang manfaatnya dirasakan masyarakat. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Edy Mahmud, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 mencapai 5,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut memang lebih rendah daripada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen, tetapi meningkat dibandingkan kuartal II 2026 sebesar 5,29 persen dan kuartal III 2025 sebesar 5,04 persen. Perbandingan tersebut memperlihatkan momentum perekonomian masih terjaga, meskipun perkembangan setiap kuartal perlu dicermati agar perlambatan tidak berlanjut. BPS mencatat produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada kuartal III 2026 mencapai Rp6.741 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp3.633,2 triliun. Seluruh lapangan usaha berhasil membukukan pertumbuhan positif. Kondisi ini menunjukkan pergerakan ekonomi tidak hanya bergantung pada satu bidang, melainkan ditopang berbagai sektor yang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nasional. Lima lapangan usaha dengan kontribusi terbesar terhadap PDB adalah industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Edy Mahmud menyebutkan bahwa gabungan kelima sektor tersebut mencakup sekitar 65,31 persen dari total PDB nasional. Industri pengolahan memberikan kontribusi 19,22 persen, disusul pertanian 13,46 persen, perdagangan 13,24 persen, konstruksi 10,20 persen, serta pertambangan sebesar 9,19 persen. *Penulis merupakan pengamat kebijakan publik Dari sisi pertumbuhan, industri pengolahan meningkat 5,87 persen dan berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Kinerja tersebut memperlihatkan peran industri dalam menciptakan nilai tambah, menjaga produksi, serta mendukung rantai pasok dan kesempatan kerja. Perdagangan tumbuh 7,14 persen dan konstruksi mencapai 6,42 persen, sementara pertambangan kembali mencatat pertumbuhan positif sebesar 0,91 persen. Adapun pertanian hanya tumbuh 0,46 persen. Angka ini patut menjadi perhatian karena pertanian berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, penghidupan masyarakat pedesaan, dan stabilitas harga kebutuhan sehari-hari.…

Ketahanan Ekonomi RI Menjadi Modal Menjaga Optimisme Nasional

By Kata IndonesiaNovember 6, 20260

Ketahanan Ekonomi RI Menjadi Modal Menjaga Optimisme Nasional  Oleh: Abdul Gofar Ketahanan ekonomi Indonesia yang tetap terjaga di tengah ketidakpastian global menjadi modal penting bagi pemerintah untuk mempertahankan optimisme nasional sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,47 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada triwulan III 2026. Capaian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi nasional masih berada dalam jalur positif dengan dukungan berbagai sektor produktif, peningkatan perdagangan, serta penguatan industri manufaktur. Produk Domestik Bruto (PDB) berdasarkan harga konstan tercatat mencapai Rp3.633,2 triliun, sedangkan berdasarkan harga berlaku mencapai Rp6.741,0 triliun. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut memperlihatkan kemampuan Indonesia menjaga momentum pembangunan di tengah berbagai tantangan perekonomian internasional. Menurutnya, industri pengolahan menjadi sektor yang memberikan kontribusi paling besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dengan andil mencapai 1,20 poin persentase. Selain itu, perdagangan menyumbang 0,94 poin persentase, konstruksi sebesar 0,62 poin persentase, serta sektor informasi dan komunikasi memberikan kontribusi 0,49 poin persentase. Industri pengolahan sendiri mengalami pertumbuhan sebesar 5,87 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional. Peningkatan tersebut didukung permintaan pasar domestik maupun internasional yang semakin membaik. Salah satu subsektor yang memperlihatkan perkembangan positif adalah industri makanan dan minuman dengan pertumbuhan 7,09 persen. Kinerja ini ditopang peningkatan ekspor Crude Palm Kernel Oil (CPKO), produk turunan minyak kelapa sawit atau CPO, serta pemanfaatannya untuk kebutuhan produksi biodiesel di dalam negeri. Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional juga mencatatkan pertumbuhan 8,10 persen seiring meningkatnya produksi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan pupuk menjelang musim tanam. Sementara itu, industri logam dasar tumbuh mencapai 9,94 persen berkat peningkatan ekspor berbagai komoditas, termasuk katoda tembaga, nickel matte, dan aluminium. Perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil serta sepeda motor, turut menunjukkan perkembangan dengan pertumbuhan 7,14 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun 2025 sebesar 5,46 persen dan tahun 2024 sebesar 4,85 persen. Sebelum pengumuman pertumbuhan ekonomi tersebut, sejumlah indikator makroekonomi juga telah memberikan gambaran positif mengenai kondisi perekonomian nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai stabilitas harga, perkembangan industri manufaktur, dan kinerja perdagangan luar negeri menjadi tiga faktor penting yang menjaga kekuatan ekonomi Indonesia. Ia menyampaikan bahwa pemerintah berupaya mempertahankan keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan melalui koordinasi kebijakan yang berkelanjutan. Dari sisi harga, inflasi Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan, masih berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5±1 persen. Inflasi inti juga melambat menjadi 2,56 persen, sedangkan inflasi harga yang diatur pemerintah mencapai 3,24 persen. Meskipun demikian, kelompok pangan bergejolak masih perlu mendapatkan perhatian karena mengalami inflasi 5,81 persen akibat kenaikan harga cabai rawit, cabai merah, dan tomat. Fenomena El Niño yang memperpanjang musim kemarau turut memengaruhi produksi dan ketersediaan sejumlah komoditas pangan.…

Rupiah Bergerak, Peluang Penguatan Masih Terbuka

By Kata IndonesiaNovember 6, 20260

Rupiah Bergerak, Peluang Penguatan Masih Terbuka Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.