• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Kerja Keras yang Tidak Semuanya Sama

Kerja Keras yang Tidak Semuanya Sama

  • Kata Indonesia
  • - Wednesday, 19 August 2026

Oleh: Gus Izzat Fahd 

Kita sering mengatakan, kalau mau sukses harus kerja keras. Tapi benarkah ungkapan itu berlaku sesederhana yang kita ucapkan? Kalimat “kerja keras” nyatanya tidak dipahami dengan artikulasi yang sama oleh semua orang. Apakah makna “kerja keras” bagi kelompok paling bawah dalam masyarakat sama dengan makna “kerja keras: bagi kelompok menengah, atau menengah atas?

Ternyata tidak sesederhana mengucapkannya, dan tidak sesederhana itu pula memahaminya. Kenyataan sering kali kalah oleh ungkapan yang terlanjur kita percayai begitu saja dan sore ini, saya menyaksikan sendiri jarak antara ungkapan dan kenyataan itu.

Saya bertemu seseorang yang menurut saya sudah sangat bekerja keras bahkan mungkin jauh lebih keras dari yang pernah kita duga. Sebutlah namanya Pak A. Ia seorang kuli panggul hasil panen, mengangkut gabah dari tengah sawah ke pinggir jalan agar mudah dibawa pedagang, hingga akhirnya menjadi beras yang kita makan sehari hari. Ia bekerja mulai pukul satu siang hingga pukul enam sore.

Di sela istirahatnya, saya menyapa sambil menyodorkan sebatang rokok. “Ngopi dulu sambil ngerokok, lek,” kata saya, memulai percakapan basa-basi. Ia menyulut rokok itu, lalu bergurau dengan sesama rekannya sebuah lelucon yang konteksnya tak sepenuhnya saya pahami. Saya hanya ikut tersenyum, meski tak benar benar mengerti apa yang membuat mereka tertawa.

Namun di situlah saya melihat sesuatu yang menyentuh ia tampak menikmati pekerjaan yang penuh peluh itu. Sementara saya, jika bekerja, selalu menginginkan ruangan ber ac yang nyaman, pakaiannya justru bercampur tanah, tanpa alas kaki, di bawah sengatan matahari yang tak kenal ampun. Hati saya diam-diam berbisik “Kamu tidak pernah benar benar melihat betapa keras mereka bekerja. Lalu mengapa kondisi mereka seakan tidak pernah berubah, seolah tak pernah terputus dari lingkaran yang sama?”

Pertanyaan itu terus terngiang, bahkan setelah saya meninggalkan sawah. Sebab jika kerja keras memang kunci kesuksesan, mestinya merekalah yang pertama kali mencapainya. Tapi kenyataannya tidak demikian dan pertanyaan itulah yang menuntun saya pada bacaan yang, tanpa sengaja, menjawabnya dengan cara yang tidak saya duga.

Sembari menunggu tumpukan gabah selesai diangkut, saya membuka Instagram sekadar mencari hiburan ringan seperti biasa, barangkali ada yg lucu saat perlombaan 17 agustusan. Namun perhatian saya berhenti pada sebuah unggahan dari akun “ruangberpikir.id”, yang membuka pembahasan dengan kalimat “Kenapa orang miskin terus dipaksa miskin? Kemiskinan bukan cuma mengambil uang, ia juga mengambil energi untuk berpikir.”

Kalimat itu terasa seperti jawaban tak terduga atas pertanyaan yang baru saja saya ajukan pada diri sendiri di tengah sawah. Saya membaca lebih lanjut, dan menemukan bahwa gagasan tersebut merujuk pada pemikiran Matthew Desmond sosiolog dari Universitas Princeton, penerima Hadiah Pulitzer, yang dalam bukunya *Poverty, by America (2023)* mengkritik cara pandang umum yang menilai kemiskinan semata sebagai akibat ketidaksungguhan, kurang kreativitas, atau kurang kerja keras individu.

Desmond mengajak kita mengubah arah pertanyaan. Bukan lagi “kenapa mereka miskin”, melainkan “kenapa kemiskinan terus dipertahankan”. Pergeseran ini kecil dalam kata, tapi besar dalam arah pandang: pertanyaan pertama menuding individu, sementara pertanyaan kedua mengajak kita menelisik sistem struktur ekonomi yang menetapkan siapa mendapat akses dan siapa tidak, kebijakan yang menguntungkan sebagian kelompok sambil membiarkan kelompok lain berjuang sendirian, hingga pola sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi seperti takdir yang sulit diputus.

Bisa jadi, kondisi Pak A bukan semata soal kemauannya, melainkan karena sistem kehidupan yang tidak berpihak padanya sehingga tidak ada jalan lain baginya kecuali bekerja keras hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup paling mendasar dari sekedar makan, minum, dan sandang yang layak. Bukan berarti ia tidak punya mimpi. Bisa jadi sistemlah yang menyudutkannya, jauh sebelum ia sempat memilih.

Tentu, ini bukan berarti kerja keras individu sama sekali tidak berarti. Usaha pribadi tetap penting, dan banyak orang berhasil keluar dari kesulitan lewat kerja keras mereka sendiri. Namun yang ingin ditekankan Desmond adalah kerja keras saja tidak cukup menjelaskan mengapa sebagian orang tetap terjebak, betapapun keras mereka berusaha sebab ada faktor struktural di luar kendali individu yang ikut menentukan hasil akhirnya.

Salah satu temuan pada akun tersebut juga menyebutkan dasar yang memperkuat argumen ini dari riset di bidang psikologi dan ekonomi perilaku, yang dikenal dengan istilah *scarcity mindset* atau pola pikir kelangkaan dipopulerkan oleh ekonom Sendhil Mullainathan dan psikolog Eldar Shafir dalam buku *Scarcity Why Having Too Little Means So Much (2013)*.

Penelitian mereka menunjukkan bahwa ketika seseorang terus-menerus hidup dalam kekurangan baik uang maupun waktu otak akan secara otomatis mengalihkan sebagian besar kapasitas berpikirnya untuk menangani kekurangan itu. Fenomena ini disebut sebagai “pajak kognitif” (cognitive tax) semakin besar tekanan kekurangan, semakin sedikit ruang mental yang tersisa untuk berpikir jangka panjang, membuat keputusan yang matang, atau merencanakan masa depan.

Itulah sebabnya, seseorang bisa saja sangat cerdas, namun tetap kesulitan merencanakan lima tahun ke depan ketika setiap malam pikirannya masih dipenuhi bagaimana memenuhi kebutuhan untuk satu atau dua minggu ke depan. Bukan karena tidak punya mimpi, tetapi karena keadaan memaksa pikirannya terus kembali pada hal-hal yang paling mendesak. Bagaimana mungkin seseorang bisa bermimpi jauh ke depan, jika pikirannya masih dipenuhi biaya makan, kontrakan, listrik, kesehatan, dan uang sekolah?

Inilah yang membuat Desmond menyebut kemiskinan lebih tepat dipahami sebagai sebuah siklus, bukan sekadar angka di saldo rekening. Ia menggambarkan kemiskinan sebagai kondisi multidimensional yang sering kali bertumpuk dengan masalah kesehatan yang tidak tertangani, trauma, kekerasan lingkungan, kerentanan keluarga, hingga kegagalan institusi publik yang seharusnya memberi perlindungan.

Karena itu, kritik terhadap kemiskinan seharusnya tidak berubah menjadi penghinaan bagi mereka yang mengalaminya. Sangat mungkin, seseorang sebenarnya punya kemampuan untuk menjadi pengusaha, ilmuwan, seniman, pemimpin, bahkan profesional hebat. Tapi jika seluruh energinya habis hanya untuk bertahan sampai akhir bulan, kemampuan itu tidak akan pernah mendapat ruang untuk tumbuh dan berkembang.

Maka, ketika melihat seseorang yang hidup dalam kemiskinan, mungkin kita perlu menahan diri untuk sekadar melontarkan kata “kerja keras”. Sebaliknya, ada pertanyaan yang jauh lebih jujur untuk diajukan: “Berapa banyak energi yang sudah kau habiskan hanya untuk bertahan hidup?”

Saya teringat lagi pada Pak A pada tawanya di sela lelah, pada tubuhnya yang basah peluh sejak siang hingga senja. Barangkali ia tidak pernah membaca Desmond, tidak pernah mendengar istilah scarcity mindset. Tapi hidupnya sendiri adalah bukti hidup dari semua itu bahwa ia bukan orang yang tidak pernah berusaha, melainkan orang yang energinya dan mungkin juga mimpinya telah lama dipinjam paksa oleh keharusan untuk sekadar bertahan hingga esok hari.

Mungkin pada akhirnya, kita tidak cukup hanya melihat orang miskin sebagai mereka yang kurang bekerja keras. Kita perlu melihat manusia di balik keringatnya, perjuangan di balik diamnya, dan mimpi yang mungkin tertunda karena seluruh energinya habis untuk bertahan hidup.

Di akhir tulisan ini ada kutipan syair WS Rendra berjudul “kesaksian” yang kemudian dijadikan lagu oleh Kantata Takwa

“Orang-Orang harus di bangunkan

Aku bernyanyi menjadi saksi

Realitas harus di laporkan

Aku bernyanyi menjadi saksi

Lagu ini jeritan jiwa

Hidup bersama harus di lindungi

Lagu ini harapan jiwa

Kehidupan layak harus di pertahankan”

Pada akhirnya, menjadi saksi bukan sekadar melihat, tetapi berani memahami. Bukan sekadar mengetahui bahwa kemiskinan ada, tetapi bertanya mengapa ia terus terjadi. Sebab di balik setiap orang yang sedang bertahan, mungkin ada mimpi yang belum sempat hidup. Dan mungkin, tugas kita bukan menghakimi perjuangan mereka, melainkan memastikan bahwa setiap manusia tetap memiliki kesempatan untuk hidup dengan layak dengan cara kita masing-masing.

 

Jember, 19 Agustus 2026 02.11 wib

Kerja Keras yang Tidak Semuanya Sama

August 19, 2026

Pemerintah Bergerak Selamatkan Penyintas Gempa NTT

August 19, 2026

Kerja Keras yang Tidak Semuanya Sama

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Oleh: Gus Izzat Fahd  Kita sering mengatakan, kalau mau sukses harus kerja keras. Tapi benarkah…

Pemerintah Bergerak Selamatkan Penyintas Gempa NTT

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Pemerintah Bergerak Selamatkan Penyintas Gempa NTT Oleh : Abdul Razak Pemerintah terus mempercepat penanganan darurat…

Pemerintah Percepat Bantuan Gempa NTT lewat Jalur Darat dan Udara

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Pemerintah Percepat Bantuan Gempa NTT lewat Jalur Darat dan Udara Jakarta – Pemerintah menegaskan komitmennya…

Pemerintah Siapkan Dukungan Anggaran bagi Daerah Terdampak Gempa NTT

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Pemerintah Siapkan Dukungan Anggaran bagi Daerah Terdampak Gempa NTT JAKARTA — Pemerintah terus memperkuat penanganan…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.