Oleh: KH. Hadiyanto Arief (Pimpinan Ponpes Darunnajah)
Tuduhan bahwa pesantren melestarikan budaya feodalisme sesungguhnya lahir dari salah tafsir terhadap konsep ta’dzim— penghormatan santri kepada guru dan kiai. Dalam tradisi pesantren, penghormatan bukan bentuk penghambaan sosial, tetapi jalan pendidikan jiwa. Santri belajar bahwa ilmu tidak sekadar dihafal, tetapi diresapi melalui adab. Ta’dzim menumbuhkan kerendahan hati, bukan ketaklukan.
Lihatlah seorang santri muda di halaman pesantren. Ia menunduk rendah dan mencium tangan kiainya setiap selesai majelis. Ia tidak melakukannya karena takut, bukan pula karena mencari muka. Ia melakukannya karena memahami bahwa tangan itu telah menuntunnya dari gelapnya kebodohan menuju cahaya ilmu. Dalam cium tangan itu tersimpan doa, rasa hormat, dan ikrar untuk menjaga warisan ilmu yang ia terima. Tidak ada unsur penindasan, sebab hubungan mereka dibangun atas dasar cinta dan keberkahan ilmu.
Bandingkan dengan seorang pekerja di kota besar. Ia juga menunduk di hadapan atasannya — kali ini di ruang rapat berpendingin udara. Ia menunduk bukan karena hormat, tapi karena takut kehilangan pekerjaan. Ia tersenyum terpaksa ketika upahnya dipotong atau lemburnya diabaikan. Ketundukannya lahir dari ketimpangan ekonomi: atasan punya kuasa, bawahan hanya bisa menerima. Di sinilah feodalisme modern bersemayam — di balik dasi, laporan laba, dan grafik keuntungan.
Feodalisme sejati justru tumbuh subur di luar pesantren — dalam struktur ekonomi kapitalistik dan demokrasi semu yang menuhankan citra dan kekuasaan. Dalam sistem kapitalis, manusia diukur dari harta dan jabatan, bukan ilmu dan akhlak. Relasi sosial menjadi transaksional: yang kaya dihormati, yang miskin disingkirkan. Hierarki kekuasaan ekonomi menciptakan kasta baru, di mana keputusan diukur oleh kepentingan modal, bukan kebenaran moral
Demikian pula dalam demokrasi semu: rakyat diberi ruang berbicara, tapi suara mereka diarahkan oleh elite dan media. Pemimpin dicitrakan sebagai “idola” yang tak boleh dikritik, sementara rakyat dibius oleh popularitas, bukan nilai. Inilah bentuk feodalisme modern — feodalisme yang berbalut demokrasi.
Pesantren berdiri di jalan yang berbeda. Ia menolak kesombongan sosial dan ekonomi, mengajarkan kesetaraan hakikat manusia di hadapan Allah, dan menegakkan adab sebagai fondasi keilmuan. Santri mencium tangan guru bukan karena takut, tetapi karena sadar bahwa ilmu adalah amanah yang suci. Kiai dihormati bukan karena status, tetapi karena keilmuannya memimpin jiwa, bukan menguasai harta.
Feodalisme menindas karena lahir dari kekuasaan; pesantren mendidik karena lahir dari kasih sayang.
Dan selama adab masih menjadi ruh pendidikan pesantren, tudingan feodalisme hanyalah bayangan yang tak mengenal cahaya.
Ulujami, 16 Okt 25