Jakarta – Pengamat Pemilu dari Rumah Demokrasi Ramdansyah mengatakan demokrasi dan media itu merupakan bagian yang utuh. Melekat tidak kemudian terpisah dan kemudian tidak bisa keluar dari diri kita hari ini.
“Tapi tentu saja teknologi yang sangat berlimpah ini. Tidak menyebabkan kita semakin bodoh, tidak semakin membuat kita mager (males gerak). Tidak paham bahwa kemudian teknologi yang akhirnya mendominasi kita,” ujarnya di acara Webinar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Esa Unggul dengan tema Media Sosial dan Politik: Strategi Komunikasi Yang Terkini, Selasa (12/12/2023).
Ramdansyah yang juga akademisi di STISIPPB Soppeng, menjelaskan, untuk mendapatkan informasi itu dan kemudian
orang bertindak itu pada aspek kognisi dia tahu, kemudian empati dia merasakan,
kemudian dia akan bertindak berdasarkan
Empati yang dilakukan.
“Tetapi hari ini yang terjadi adalah, jadi ketika orang beranjak dari simpati kemudian konasi, tanpa memiliki pengetahuan cukup..justru pada akhirnya dia bertindak tidak dalam bentuk timeline berurutan yakni pengetahuan, simpati dan tindakan. Tetapi orang nggak tahu informasi apapun langsung mengklik begitu saja. Kecepatan tangan itu lebih didahulukan ketimbang pikiran. Nah ini yang cenderung terjadi hari ini,” ujar Mantan Ketua Panwaslu DKI Jakarta tersebut.
“Sehingga kemudian empati yang muncul adalah sangat-sangat subyektif. Kalau dia sesuai dengan agama saya, kalau dia sesuai dengan suku saya, atau sesuai dengan golongan saya, maka itu yang akan saya kirim ulang. Akan saya forward ke banyak platform media sosial,” imbuh Ramdansyah.
Distorsi ini, jelas Ramdansyah akan terjadi. Karena apa? Berlimpahnya informasi justru tidak membuat orang lebih paham.
Tidak membuat kita menjadi mengerti atau vertehen.
“Jadi ini yang kemudian menyebabkan kerusakan ruang publik. Seharusnya kan dalam ruang publik, kita menemukan yang namanya kebenaran. Kemudian kebenaran itu diadu. Sehingga kemudian mendapatkan kebenaran seutuhnya,” beber Ramdansyah.
Idealnya, kata Ramdansyah berusaha untuk mencegah kerusakan ruang publik. Sepertinya kita perlu meningkatkan literasi digital kepada masyarakat dan membuat banyak orang menngerti.
“Kalau saya melihat bahwa strategi atau solusi untuk membuat orang kemudian paham mengerti, maka kita
tidak hanya memberikan informasi, tapi juga KIE. komunikasi dan juga edukasi atau KIE (Komunikasi, informasi dan Edukasi) Orang tidak hanya diberikan pesan searah saja seperti informasi dalam spanduk, flyer atau baliho. Tetapi dia kemudian harus melakukan komunikasi dan dialog interaktif Jangan lupa kita juga harus melakukan
tindakan yang namanya edukasi. Ini harus dilakukan upaya untuk membuat literasi tinggi tetapi tidak menanggalkan pemahaman terhadap suatu realitas,” beber Ramdansyah.
“Kita berhadapan dengan publik dengan masyarakat yang rata-rata lama sekolahnya dibawah 8 tahun. Literasi oke, informasi banyak, Facebook Twitter Instagram, YouTube dan sebagainya. Tapi ngerti ngga sih apa yang dibaca? . Jadi kecepatan tangan itu lebih cepat daripada pikiran cukup berbahaya, sehingga informasi yang distorsi langsung bablas beredar diruang publik,” imbuhnya.
Ramdansyah kemudian membeberkan gambar, yang seolah ada dua gambar dalam satu foto. Sehingga gambar ini, ada seolah olah dua gambar. Namun jelas Ramdansyah tidak bisa ini dua bentuk. Salah satunya benar.
“Harus ada fakta kebenaran yang terungkap. Saya melihat bahwa kebenaran, atau fakta atau informasi
itu harus akurat,” ujarnya.
“Bahwa Informasi dari si A, si B itu berbeda ngga apa. Tapi kemudian kita tidak boleh menjadi hipokrit. Kenapa kita mendapatkan informasi pada akhirnya condong kepada subyektitas, sesuai selera kita. Karena memang alam bawah sadar banyak mendominasi tindakan,” imbuhnya.
Lebih lanjut Ramdansyah mengatakan, jumlah pemilih pemula kita itu sangat besar sekali. Cuma ini adalah kaum rebahan, bisa jadi mereka akan
milih pasangan tertentu dan punya informasi yang cukup.
“Tetapi pada hari H, belum tentu mereka akan ke TPS. Mereka akan malas gerak (mager). Jadi rebahan, yah ini sudah jadi budaya sehingga pasangan calon yang diunggulkan banyak gen z harus berhati hati. Preferensi pilihan gen z terhadap calon si A, B, atau C ketika diwawancarai lembaga survei, tetapi belum tentu dia pergi ke TPS (tempat pemungutan suara),” ujarnya
Adapun demokrasi digital, Ramdansyah melihat science membutuhkan masyarakat. Dan masyarakat membutuhkan science.
“Dan Artificial Inteljen hanya memberikan kemudahan pada aspek kognisi. Tetapi tidak pada aspek afeksi dan konasi. Informasi berlebih, tapi kalau tidak dipahami informasinya menjadi salah,’ ujar Ramdansyah.
“Jadi saya melihat demokrasi dan media itu bagian yang utuh. Melekat tidak kemudian terpisah dan kemudian tidak bisa keluar dari diri kita hari ini. Tapi tentu saja teknologi yang sangat berlimpah ini
tidak menyebabkan kita semakin bodoh,
semakin membuat kita mager, tidak paham bahwa kemudian teknologi yang akhirnya mendominasi kita,” pungkasnya.
Dari Regulasi ke Implementasi: Mengawal Kepatuhan Platform terhadap PP TUNAS Oleh : Andhika Rachma Transformasi…
Kepatuhan Platform sebagai Kunci Keberhasilan PP TUNAS Oleh: Nadira Larasati Transformasi digital telah membuka ruang…
Pemerintah Kawal Kepatuhan Platform terhadap PP TUNAS hingga Juni 2026 Jakarta - Pemerintah terus mengawal…
PP TUNAS Diperkuat, Platform Digital Harus Terapkan Perlindungan Anak Nyata Jakarta - Pemerintah terus memperkuat…
Ketua MPR Ahmad Muzani telah memanggil dua juri Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar di…
Alumni Pondok Pesantren Modern Al Ikhlash Kuningan angkatan 2013 asal Bandung, Mohamad Abda’u Zaki, dipercaya…