• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»Penegakan Hukum terhadap OPM Menjadi Kunci Pemulihan Papua

Penegakan Hukum terhadap OPM Menjadi Kunci Pemulihan Papua

  • Kata Indonesia
  • - Wednesday, 18 February 2026

Penegakan Hukum terhadap OPM Menjadi Kunci Pemulihan Papua

Oleh: Ruben Murib

Gelombang kekerasan bersenjata yang kembali terjadi di Papua bukan sekadar catatan kriminal biasa, melainkan alarm serius bagi negara untuk memperkuat keberpihakan pada keselamatan warga sipil. Ketika sebuah pesawat perintis ditembaki saat mendarat di Bandara Korowai Batu, Boven Digoel, Papua Selatan, publik tidak hanya dikejutkan oleh brutalitas aksinya, tetapi juga oleh pesan ancaman yang menyertainya, yaitu kelompok bersenjata masih berupaya menciptakan ketakutan di ruang-ruang hidup masyarakat. Dalam situasi seperti ini, sikap negara tidak boleh ragu. Tindakan tegas terhadap Organisasi Papua Merdeka (OPM) atau Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pilihan kebijakan.

 

Insiden di Bandara Korowai Batu memperlihatkan betapa rentannya jalur transportasi perintis yang selama ini menjadi urat nadi bagi masyarakat pedalaman. Serangan yang meninggalkan belasan lubang peluru pada badan pesawat dan merenggut nyawa awak penerbangan adalah bentuk kekerasan yang secara terang-terangan menyerang fasilitas publik. Kasatgas Humas Ops Damai Cartenz 2026, Kombes Pol. Yusuf Sutejo, memaparkan bahwa berdasarkan olah TKP, keterangan saksi, dan barang bukti, terdapat 13 bekas proyektil di badan pesawat. Fakta ini bukan sekadar angka, melainkan simbol bahwa aksi bersenjata dilakukan dengan niat membunuh dan menciptakan teror terbuka di ruang sipil.

 

Dalam kronologi yang disampaikan Yusuf Sutejo, penyerangan terjadi ketika pesawat sudah mendarat dan bergerak menuju apron. Penumpang yang baru turun maupun yang hendak melanjutkan perjalanan dibuat panik. Bahkan pilot dan kopilot dikejar hingga ditembak di dekat runway. Jika ruang bandara yang seharusnya menjadi titik aman saja bisa berubah menjadi arena penembakan, maka jelas ada persoalan serius yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan setengah hati.

 

Langkah Satgas Damai Cartenz yang menerjunkan personel untuk mengamankan area Korowai serta melakukan pengejaran patut dipandang sebagai respons yang tepat. Dalam konteks Papua, ketegasan bukan identik dengan kekerasan berlebihan, melainkan penegakan hukum yang terukur agar ruang publik tidak dikuasai oleh senjata ilegal.

 

Yang perlu digarisbawahi, serangan seperti ini bukan hanya menyasar aparat keamanan, tetapi juga merusak kehidupan warga biasa. Jalur penerbangan perintis di Papua bukan fasilitas mewah, melainkan akses vital bagi distribusi logistik, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan mobilitas masyarakat. Ketika kelompok bersenjata menembaki pesawat sipil, sebenarnya yang diserang bukan hanya awak penerbangan, tetapi juga harapan warga pedalaman untuk hidup normal. Oleh sebab itu, agenda pemerintah untuk memastikan stabilitas keamanan di Papua adalah agenda kemanusiaan, bukan semata agenda politik.

 

Tindakan tegas juga semakin relevan ketika serangan OPM menyasar objek vital nasional lainnya. Dalam insiden di KM 50 Area PT Freeport Indonesia, Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Tri Purwanto menyampaikan bahwa terjadi kontak tembak yang menyebabkan seorang prajurit gugur dan sejumlah korban lainnya terluka, termasuk pekerja sipil. Serangan di kawasan strategis seperti ini tidak bisa dianggap gangguan kecil, sebab dampaknya dapat meluas terhadap keamanan investasi, keselamatan pekerja, serta kelangsungan ekonomi Papua sendiri. Ketika negara menjamin keamanan objek vital, yang dilindungi bukan hanya perusahaan, tetapi juga ribuan pekerja lokal dan rantai ekonomi yang bergantung pada stabilitas wilayah.

 

Di tengah situasi yang mencekam, suara tokoh Papua sendiri menjadi penegas bahwa kekerasan bersenjata tidak pernah sejalan dengan nilai masyarakat Papua. Tokoh pemuda Papua, Ali Kabiay, menyampaikan sikap keras bahwa aksi penembakan terhadap pesawat sipil merupakan tindakan yang mencederai nilai kemanusiaan dan memalukan harga diri orang Papua. Ali Kabiay juga mendorong aparat untuk memburu pelaku serta mengusulkan pembangunan pos keamanan di wilayah perbatasan yang rawan. Pandangan ini penting karena memperlihatkan bahwa ketegasan negara mendapat legitimasi sosial dari warga Papua yang menginginkan kehidupan damai.

 

Sikap serupa juga disampaikan Wakil Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua, Max Abner Ohee. Dalam pernyataannya, Max Abner Ohee mengecam keras aksi penembakan yang menewaskan awak pesawat, anggota TNI, dan melukai warga sipil. Max menilai tindakan kelompok separatis bersenjata sebagai pelanggaran berat terhadap nilai kemanusiaan. Pernyataan MRP ini menegaskan bahwa agenda keamanan bukan bertentangan dengan prinsip HAM, melainkan justru bagian dari perlindungan HAM itu sendiri, karena hak paling dasar adalah hak untuk hidup tanpa ancaman senjata.

 

Pemerintah melalui berbagai satgas ataupun operasi di Papua menunjukkan garis kebijakan yang semakin jelas, yaitu menegakkan hukum dengan pendekatan profesional dan terukur. Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Brigjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani, menegaskan bahwa aparat hadir untuk memastikan masyarakat tetap merasa aman, dan setiap aksi kekerasan terhadap warga sipil maupun fasilitas publik akan ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku. Penegasan ini menjadi komitmen negara untuk tidak membiarkan teror berkembang menjadi normalitas.

 

Ketegasan terhadap OPM bukan berarti menutup ruang dialog pembangunan, melainkan memastikan bahwa pembangunan hanya bisa berjalan jika keamanan ditegakkan. Papua tidak boleh terus-menerus disandera oleh kelompok bersenjata yang memaksakan agenda politik dengan cara membunuh. Jika negara ragu, korban akan terus berjatuhan. Jika negara tegas, masyarakat punya peluang lebih besar untuk hidup normal, bekerja, bersekolah, dan mengakses layanan dasar tanpa rasa takut.

 

*) Pemerhati Sosial Politik Papua

Pembasahan Gambut Menjadi Langkah Penting Memutus Siklus Karhutla

November 7, 2026

Kasus Penyadapan Ilegal Diusut, Semua Pihak Diminta Tunduk pada Hukum

November 7, 2026

Pembasahan Gambut Menjadi Langkah Penting Memutus Siklus Karhutla

By Kata IndonesiaNovember 7, 20260

Pembasahan Gambut Menjadi Langkah Penting Memutus Siklus Karhutla Oleh : Sigit Prasetyo Pembasahan gambut menjadi…

Kasus Penyadapan Ilegal Diusut, Semua Pihak Diminta Tunduk pada Hukum

By Kata IndonesiaNovember 7, 20260

Kasus Penyadapan Ilegal Diusut, Semua Pihak Diminta Tunduk pada Hukum Jakarta – Kasus dugaan penyadapan…

Mengapresiasi Prabowo: Berani dan Tegas kepada Pengancam Negara 

By Kata IndonesiaNovember 7, 20260

Mengapresiasi Prabowo: Berani dan Tegas kepada Pengancam Negara  Oleh: Amril Jambak Ada saatnya seorang pemimpin harus mengambil sikap tegas. Bukan semata-mata untuk menunjukkan kekuasaan, melainkan untuk memastikan bahwa negara tidak boleh dipermainkan oleh siapa pun. Terlebih jika persoalan yang dihadapi menyangkut keselamatan kepala negara, keamanan pemerintahan, serta kedaulatan bangsa. Perkembangan terbaru mengenai dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat negara menjadi persoalan serius yang tidak boleh dipandang sebagai perkara biasa. Apalagi, dugaan tersebut menyeret sejumlah individu dari lingkungan institusi penegak hukum. Pada 3 November 2026, Bareskrim Polri menetapkan tiga personel kepolisian berinisial LSP, ASN, dan EH sebagai tersangka dalam perkara dugaan penyadapan tanpa prosedur, akses ilegal, serta penghapusan data elektronik. Ketiganya kemudian menjalani penahanan untuk kepentingan penyidikan. Sehari setelahnya, 4 November 2026, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden Prabowo sangat prihatin atas peristiwa tersebut. Pemerintah bahkan menilai perkara itu memiliki indikasi yang mengarah pada perbuatan makar dan berpotensi membahayakan keselamatan pimpinan serta kepentingan negara. Langkah Presiden yang menandatangani keputusan pemberhentian Listyo Sigit Prabowo dari jabatan Kepala Staf Kepresidenan juga menunjukkan bahwa persoalan ini tidak dibiarkan berlarut-larut. Untuk sementara, Presiden menunjuk Letjen TNI Ariyo Windutomo sebagai Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan. Keputusan tersebut patut diapresiasi. Sebab, seorang presiden tidak boleh ragu mengambil tindakan ketika terdapat persoalan serius yang menyentuh keamanan dan kewibawaan negara. Indonesia adalah negara hukum, bukan negara yang boleh dikendalikan oleh kepentingan kelompok, jaringan kekuasaan, ataupun faksi tertentu.…

Terbongkarnya Penyadapan Ilegal Menjadi Tonggak Penting Supremasi Hukum

By Kata IndonesiaNovember 7, 20260

Terbongkarnya Penyadapan Ilegal Menjadi Tonggak Penting Supremasi Hukum  Oleh: Citra Ann Pengungkapan kasus dugaan penyadapan ilegal yang melibatkan sejumlah perwira tinggi Polri menjadi perhatian penting dalam upaya memperkuat supremasi hukum di Indonesia. Perkara yang menyasar komunikasi Presiden Prabowo Subianto, sejumlah pejabat negara, tokoh politik, media, hingga kalangan masyarakat sipil tersebut menunjukkan pentingnya pengawasan terhadap penggunaan kewenangan aparat. Penanganan kasus ini sekaligus menjadi ujian bagi komitmen institusi penegak hukum dalam memastikan tidak ada pihak yang kebal terhadap proses hukum. Praktik penyadapan pada dasarnya merupakan instrumen yang dapat digunakan untuk mendukung proses penegakan hukum dengan persyaratan dan mekanisme yang ketat. Namun, penggunaan kewenangan tersebut tanpa dasar hukum berpotensi berubah menjadi tindakan yang melanggar privasi dan hak asasi manusia. Oleh karena itu, setiap tindakan pemantauan komunikasi harus memiliki tujuan yang sah, mengikuti prosedur, serta dapat dipertanggungjawabkan sesuai peraturan perundang-undangan. Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri Komjen Asep Edi Suheri, menegaskan bahwa dugaan penyadapan ilegal yang menyeret tiga perwira tinggi berinisial LSP, ASN, dan EH merupakan tindakan oknum, bukan kebijakan institusi Polri. Penegasan itu disampaikan menyusul pengungkapan dugaan penyadapan terhadap sejumlah nomor telepon milik pejabat negara dan berbagai kalangan masyarakat. Asep menjelaskan bahwa Polri telah memiliki Peraturan Kapolri Nomor 5 Tahun 2010 sebagai pedoman pelaksanaan tugas Pusat Pemantauan Polri agar kegiatan pemantauan berjalan sesuai prosedur. Dugaan pelanggaran dalam perkara ini berkaitan dengan perintah penyadapan sejumlah nomor telepon tanpa prosedur yang sah dan tidak berhubungan dengan kepentingan penegakan hukum. Para tersangka juga diduga memerintahkan penghapusan berkas hasil sadapan dalam sistem Lawful Interception Management System (LIMS) pada Oktober 2026. Sementara itu, penyidik masih memeriksa seorang saksi berinisial SU untuk mengungkap rangkaian peristiwa dan pihak-pihak yang berkaitan dengan perkara tersebut. Ketentuan mengenai penyadapan telah memberikan batasan yang jelas terhadap penggunaan instrumen pemantauan komunikasi. Berdasarkan Peraturan Kapolri Nomor 5 Tahun 2010, penyadapan hanya dapat dilakukan untuk kepentingan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, serta pemeriksaan di persidangan atas tindak pidana berdasarkan undang-undang. Pelaksanaannya juga harus memperhatikan perlindungan HAM, legalitas, kepastian hukum, perlindungan konsumen, dan kerahasiaan. Pengawasan terhadap kewenangan penyadapan menjadi bagian penting untuk mencegah aparat bertindak di luar batas hukum. Tanpa pengawasan dan pertanggungjawaban, teknologi pemantauan yang seharusnya membantu proses penyidikan justru dapat menimbulkan pelanggaran terhadap hak masyarakat. Karena itu, pengungkapan dugaan penyimpangan di lingkungan kepolisian perlu diikuti evaluasi terhadap pelaksanaan prosedur dan penguatan pengawasan internal.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.