• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Natal Kesunyian

Natal Kesunyian

  • Kata Indonesia
  • - Saturday, 21 December 2019

Oleh: Yudi Latif

Saudaraku, dalam krisis dengan kehilangan rasa saling percaya, diperlukan kejernihan mata batin untuk melihat jalan keluar. Tetapi gemerlap kehidupan pasca-modern, seperti yang memaguti Indonesia saat ini, adalah kehidupan yang disesaki kebisingan sampah suara. Politisi, pedagang, ilmuwan dan agamawan berlomba berebut pengeras suara, jualan ”kecap nomor satu”. Nyaris tak ada yang siap mendengar suara orang lain, bahkan suara batinnya sendiri.

Dalam pasar perebutan suara, ketika setiap pihak datang dengan klaim kebenarannya sendiri-sendiri, tak ada suara yang dapat dipercaya kecuali yang dikatakan dalam bahasa diam.

Hanya dalam diam, Tuhan sebagai bahasa kebenaran punya ruang untuk hadir di relung hati, menemani kita dalam sunyi. Seperti kata Bunda Teresa, “Tuhan adalah karib kesunyian. Pepohonan, bunga, dan rerumputan tumbuh dalam kesunyian. Tengok juga bintang, bulan, dan matahari, semua bergerak dalam sunyi.”

Momen kesunyian inilah yang mesti dihadirkan umat Islam ketika memasuki masjid dan ”rumah Allah” (baitullah), serta umat Nasrani ketika memasuki gereja dan Hari Natal. Berhaji dan umrah bukanlah rekreasi dalam gerombolan peziarah. Dan Natal bukanlah eksibisi kerlip lampu dan pohon natal. Keduanya merupakan ritus reflektif, untuk mengenang para panteon peradaban, yang berani keluar dari jalan ramai, menuju jalan sunyi pengorbanan.

Muhammad Asad dalam The Road to Mecca melukiskan: “Terdapat lebih banyak lanskap yang indah di dunia, tetapi tak satu pun, aku kira, yang dapat membentuk spirit manusia yang begitu kuat seperti jalan ke Mekkah…Padang pasir adalah sesuatu yang telanjang, bersih dan tak mengenal kompromi. Ia menghapus hati manusia dari berbagai fantasi yang menghadirkan angan-angan palsu, sehingga membuatnya bebas menyerahkan dirinya terhadap sesuatu yang Absolut yang tak bercitra: yang terjauh diantara yang jauh, namun yang terdekat diantara yang dekat.”

Dalam sunyi dan ketelanjangan diri, dengan sengatan terik padang pasir, ada kekudusan dalam kepasrahan. Di dalam kekudusan dan kepasrahan ada kekhusyuan dalam peribadatan. Dalam kekhusyuan peribadatan, kesucian dan kebenaran ilahi bisa didekati. Dalam kedekatan dengan Ilahi, ada pijar pencerahan untuk mengemban misi kekhalifahan. Dan di dalam misi kekhalifahan ada pesan perdamaian.

Alhasil, kesunyian menghadirkan kekayaan yang lain, yang tidak dimiliki oleh kebanyakan manusia modern. Manusia modern boleh jadi bergelimang harta benda, namun acapkali mengidap kemiskinan yang lain. Bukan hanya kemiskinan keterasingan, tetapi juga kemiskinan spiritual, yang membuat mereka hidup dengan penuh kecemasan dan kekerasan.

Hanya dengan belajar menghikmati sunyi, manusia modern punya harapan untuk keluar dari kemiskinan sejenis ini. Dalam kata-kata Bunda Teresa, ”Buah dari kesunyiaan adalah peribadatan; buah dari peribadatan adalah keyakinan; buah dari keyakinan adalah kecintaan; buah dari kecintaan adalah pelayanan; buah dari pelayanan adalah perdamaian.”

Setiap upaya pembebasan memerlukan latihan kesunyian penggembalaan. Bukankah sebagian besar nabi pernah menjadi gembala ternak, untuk belajar mengayomi di jalan sunyi? Lewat pelatihan olah batin sepanjang jalan sunyi pelayanan, manusia dapat memadukan keimanan dan pengorbanan. Seperti Siti Hajar yang terlempar dari keramaian Palestina menuju kesunyian padang pasir lembah Bakkah (Mekkah), atau seperti Yesus dari Nazaret yang terlempar dari kemapanan menuju sunyi penyaliban.

Gelombang pasang gairah keagamaan hendaklah tidak berhenti di keramaian permukaan. Semangat keagamaan harus mampu menyelam ke kesunyian kedalaman spiritualitas untuk memulihkan sayap keimanan dan sayap pengorbanan dalam kehidupan. Bersama tumbuhnya gairah keagamaan, tumbuh pula daya asketisme, altruisme dan toleransi.

Lewat momen reflektif sepanjang jalan sunyi pengorbanan, semoga muncul kekuatan dan kelahiran baru. Seperti kata Carl Gustav Jung, ”Hanyalah dengan misteri pengorbanan diri, seseorang bisa mengalami kelahiran baru.”

(Yudi Latif, Makrifat Pagi)

Danantara Perkuat Investasi untuk Pembangunan Nasional

August 22, 2026

Danantara Perkuat Investasi Strategis untuk Pembangunan Nasional

August 22, 2026

Danantara Perkuat Investasi untuk Pembangunan Nasional

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Danantara Perkuat Investasi untuk Pembangunan Nasional  Oleh: Ricky Rinaldi Pemerintah terus memperkuat transformasi ekonomi nasional dengan menempatkan investasi sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan jangka panjang. Dalam arah kebijakan menuju 2027, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memperoleh peran strategis sebagai instrumen untuk mengoptimalkan aset negara, memperkuat investasi, dan mendorong pembangunan sektor-sektor strategis. Kehadiran Danantara menunjukkan upaya pemerintah membangun sumber pertumbuhan baru yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Presiden Prabowo Subianto menegaskan posisi tersebut dalam penyampaian Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) 2027 beserta Nota Keuangan di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada 14 Agustus 2026 lalu. Presiden menyebut Danantara sebagai dana kedaulatan yang harus menjadi instrumen untuk membangun kapasitas bangsa dalam jangka panjang. Danantara karena itu diarahkan bukan sekadar sebagai pengelola aset negara, melainkan sebagai bagian dari strategi investasi dan pembangunan sektor strategis yang memberikan manfaat berkelanjutan. Arah tersebut memperlihatkan perubahan pendekatan dalam mengelola kekuatan ekonomi nasional. Aset negara perlu ditempatkan pada kegiatan produktif yang mampu meningkatkan kapasitas industri, mempercepat hilirisasi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan nasional. Melalui pengelolaan yang terintegrasi, Danantara diharapkan mampu menghubungkan kekayaan negara dengan kebutuhan investasi serta proyek pembangunan yang memiliki nilai strategis dan manfaat jangka panjang. Peran Danantara semakin penting dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa konsolidasi aset Danantara dapat menjadi katalis peningkatan investasi. Danantara dapat memaksimalkan aset dan proyek untuk menarik partisipasi sektor swasta dan pelaku ekonomi nonpemerintah. Dengan demikian, investasi negara dapat menciptakan efek crowd-in, yakni mendorong dunia usaha meningkatkan ekspansi, membuka fasilitas produksi baru, dan memperluas kegiatan bisnis. Pendekatan tersebut menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional merupakan tanggung jawab bersama seluruh pelaku ekonomi. Pemerintah tidak hanya berperan sebagai penyedia anggaran, tetapi juga menciptakan kondisi yang memungkinkan sektor swasta berkembang. Investasi Danantara dapat menjadi pemicu awal yang kemudian diikuti modal swasta sehingga kapasitas ekonomi nasional meningkat secara lebih luas. Sinergi tersebut juga berpotensi memperbesar penciptaan lapangan kerja dan memperkuat aktivitas ekonomi di berbagai daerah. Strategi investasi Danantara diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki nilai strategis dan potensi dampak luas. Delapan sektor utama yang menjadi fokus meliputi energi terbarukan, mineral, infrastruktur digital, infrastruktur dan utilitas, real estat, layanan keuangan, pangan dan pertanian, serta layanan kesehatan. Pemilihan sektor tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat ketahanan nasional, dan membangun fondasi pertumbuhan baru yang lebih bernilai tambah.…

Danantara Perkuat Investasi Strategis untuk Pembangunan Nasional

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Danantara Perkuat Investasi Strategis untuk Pembangunan Nasional Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara…

Danantara Kawal Penyederhanaan BUMN agar Aset Negara Lebih Produktif  

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Danantara Kawal Penyederhanaan BUMN agar Aset Negara Lebih Produktif Jakarta – Transformasi dan restrukturisasi Badan…

Ketahanan Energi 2027: Jalan Besar Indonesia Menuju Kemandirian Energi 

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Ketahanan Energi 2027: Jalan Besar Indonesia Menuju Kemandirian Energi  Oleh: Hanan Alfawazi Ketahanan energi merupakan salah satu fondasi utama bagi keberlanjutan pembangunan nasional. Tanpa pasokan energi yang cukup, terjangkau, dan dapat diandalkan, pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, pembangunan infrastruktur, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat akan menghadapi berbagai hambatan. Karena itu, arah kebijakan energi Indonesia pada 2027 memiliki arti strategis, bukan sekadar sebagai agenda sektoral, melainkan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian nasional. Kebutuhan energi terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, sementara produksi minyak nasional menghadapi tekanan penurunan alamiah. Pada saat yang sama, dinamika geopolitik global membuat harga dan pasokan energi semakin sulit diprediksi. Kondisi tersebut membuat penguatan sumber energi domestik menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Dalam konteks tersebut, target lifting minyak sebesar 610 ribu barel per hari dan lifting gas sekitar 950 ribu barel setara minyak per hari dalam RAPBN 2027 menjadi salah satu instrumen penting. Target tersebut dinilai realistis oleh Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya, terutama dengan melihat peluang optimalisasi lapangan produksi yang telah ada serta pengembangan sumur-sumur baru. Namun, peningkatan lifting tidak dapat dicapai hanya dengan menetapkan target. Sektor hulu migas membutuhkan investasi, teknologi, kepastian regulasi, serta proses pengembangan lapangan yang efisien. Tantangan natural decline juga harus dihadapi secara serius karena sebagian lapangan migas nasional telah memasuki fase produksi yang matang. Anggota Dewan Energi Nasional Saleh Abdurrahman melihat masih terdapat ruang untuk menahan laju penurunan alamiah tersebut melalui optimalisasi sumur eksisting dan pengembangan sumur baru. Pengembangan wilayah frontier serta penggunaan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) juga menjadi bagian dari pilihan strategis untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi nasional. Artinya, kebijakan peningkatan lifting harus ditempatkan sebagai agenda jangka panjang. Pemerintah tidak cukup hanya mengejar angka produksi dalam satu tahun anggaran, tetapi juga harus memastikan keberlanjutan investasi dan penemuan cadangan baru. Jika investasi hulu berjalan konsisten, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat ekosistem industri migas nasional.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.