• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»Hilirisasi Nikel Jadikan Perdagangan Indonesia Lebih Strategis dalam Industri Global

Hilirisasi Nikel Jadikan Perdagangan Indonesia Lebih Strategis dalam Industri Global

  • Kata Indonesia
  • - Monday, 5 October 2026

Hilirisasi Nikel Jadikan Perdagangan Indonesia Lebih Strategis dalam Industri Global

Oleh: Yusuf Rinaldi

Perubahan posisi Indonesia dalam industri nikel global menunjukkan bahwa hilirisasi mulai menggeser pola perdagangan sumber daya alam dari sekadar ekspor bahan mentah menuju penguatan industri pengolahan di dalam negeri. Dengan pangsa produksi nikel olahan yang disebut telah mencapai sekitar 41 persen dari produksi dunia, Indonesia memiliki modal ekonomi yang semakin besar untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok industri global. Tantangannya kini bukan lagi sekadar meningkatkan produksi, melainkan memastikan penguasaan teknologi dan nilai tambah semakin dalam berada di dalam negeri.

 

Perkembangan tersebut menjadi semakin strategis ketika pemerintah mulai mengarahkan hilirisasi nikel hingga membangun ekosistem baterai. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa pengembangan hilirisasi tidak akan berhenti pada pembangunan smelter, tetapi diarahkan menuju produksi bahan baku baterai, termasuk precursor, serta pembentukan ekosistem industri baterai. Pengembangan tersebut terutama ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sektor otomotif dan energi baru terbarukan.

 

Arah kebijakan itu menunjukkan adanya perubahan orientasi dalam melihat nikel. Komoditas tersebut tidak lagi semata-mata diposisikan sebagai sumber penerimaan ekspor, tetapi sebagai bahan strategis yang dapat menjadi fondasi bagi pengembangan industri manufaktur baru. Ketika rantai pengolahan diperpanjang hingga produk antara dan komponen baterai, nilai ekonomi yang tercipta juga berpotensi semakin besar dibandingkan apabila Indonesia hanya menjual bijih atau produk olahan dasar.

 

Dari perspektif perdagangan internasional, perubahan ini penting karena struktur perdagangan global semakin ditentukan oleh penguasaan rantai pasok. Industri kendaraan listrik, penyimpanan energi, dan energi terbarukan membutuhkan berbagai mineral strategis, termasuk nikel. Karena itu, kemampuan Indonesia menguasai produksi nikel olahan memberikan posisi tawar yang berbeda dibandingkan satu dekade lalu.

 

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai konsistensi kebijakan hilirisasi, termasuk larangan ekspor bijih, telah mengubah posisi Indonesia dari eksportir bijih menjadi pusat produksi nikel olahan. Menurutnya, peningkatan pangsa produksi nasional mencerminkan keberhasilan menarik investasi smelter sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.

 

Data yang dikutip dari Our World in Data berbasis British Geological Survey juga memperlihatkan besarnya perubahan tersebut. Produksi nikel olahan Indonesia meningkat dari sekitar 22 ribu ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada 2023. Dalam periode yang sama, pangsa Indonesia terhadap produksi nikel olahan dunia meningkat dari sekitar 1 persen menjadi 41 persen.

 

Angka tersebut memberikan konsekuensi ekonomi sekaligus kebijakan. Dengan posisi produksi yang besar, Indonesia memiliki ruang lebih luas untuk memengaruhi dinamika pasokan dan memperoleh manfaat ekonomi dari komoditas strategis tersebut. Namun, kekuatan produksi juga harus diimbangi dengan tata kelola yang mampu menjaga keberlanjutan industri, termasuk pengaturan produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

 

Yusuf menilai pengendalian produksi dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan, menjaga harga nikel, serta mengoptimalkan penerimaan negara. Namun, kebijakan kuota tetap perlu memperhatikan kebutuhan bahan baku smelter. Pengurangan produksi yang terlalu ketat berisiko mengganggu pasokan industri pengolahan dalam negeri, sementara produksi yang berlebihan dapat meningkatkan risiko kelebihan pasokan dan menekan harga. Pengaturan produksi karena itu perlu ditempatkan dalam kerangka menjaga kesinambungan seluruh ekosistem industri.

 

Di sisi lain, manfaat hilirisasi sudah terlihat melalui peningkatan investasi, ekspor, penerimaan negara, serta penciptaan lapangan kerja di kawasan industri. Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution Ronny P. Sasmita menilai lonjakan produksi nikel olahan menunjukkan telah terjadi transformasi struktural dalam industri nasional. Investasi hilirisasi yang mencapai Rp300,1 triliun pada semester I 2026 atau sekitar 29,7 persen dari total investasi nasional, serta Rp584,1 triliun sepanjang 2025, memperlihatkan besarnya peran hilirisasi dalam menarik modal ke sektor industri.

 

Namun, besarnya investasi belum otomatis berarti Indonesia telah menguasai seluruh manfaat ekonomi dari nikelnya. Tahap berikutnya adalah memastikan investasi tersebut menghasilkan transfer teknologi, meningkatkan keterlibatan pemasok domestik, memperkuat kualitas tenaga kerja, dan memperluas basis manufaktur nasional.

 

Dalam konteks itu, pengembangan teknologi HPAL, nickel sulphate, precursor, cathode active material, recycling hingga industri baterai menjadi penting. Tahapan tersebut dapat memperpanjang rantai nilai sekaligus mengurangi ketergantungan pada ekspor produk dengan tingkat pengolahan yang masih terbatas.

 

Ke depan, kekuatan produksi tersebut perlu diikuti dengan pendalaman industri agar manfaat ekonomi dari nikel semakin besar dirasakan di dalam negeri. Pengembangan teknologi HPAL, nickel sulphate, precursor, cathode active material, recycling hingga industri baterai menjadi bagian penting untuk memperpanjang rantai nilai. Dengan penguasaan teknologi dan pasar yang semakin kuat, hilirisasi nikel dapat memperbesar peran Indonesia dalam rantai pasok sekaligus perdagangan industri global.

 

)*Penulis Merupakan Pengamat Ekonomi

Hilirisasi Nikel Jadikan Perdagangan Indonesia Lebih Strategis dalam Industri Global

October 5, 2026

Hilirisasi Nikel Membuktikan Perdagangan Indonesia Tidak Lagi Bertumpu pada Bijih Mentah

October 5, 2026

Hilirisasi Nikel Jadikan Perdagangan Indonesia Lebih Strategis dalam Industri Global

By Kata IndonesiaOctober 5, 20260

Hilirisasi Nikel Jadikan Perdagangan Indonesia Lebih Strategis dalam Industri Global Oleh: Yusuf Rinaldi Perubahan posisi…

Hilirisasi Nikel Membuktikan Perdagangan Indonesia Tidak Lagi Bertumpu pada Bijih Mentah

By Kata IndonesiaOctober 5, 20260

Hilirisasi Nikel Membuktikan Perdagangan Indonesia Tidak Lagi Bertumpu pada Bijih Mentah Oleh : Jonathan Janoel…

Hilirisasi Nikel Jadi Modal Besar Perdagangan Indonesia Hadapi Pasar Global

By Kata IndonesiaOctober 5, 20260

Hilirisasi Nikel Jadi Modal Besar Perdagangan Indonesia Hadapi Pasar Global Jakarta – Di tengah persaingan…

Hilirisasi Nikel Perkuat Posisi Indonesia dalam Rantai Pasok Global

By Kata IndonesiaOctober 5, 20260

Hilirisasi Nikel Perkuat Posisi Indonesia dalam Rantai Pasok Global Jakarta – Hilirisasi nikel mendorong perubahan…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.