• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Mencermati Perburuan Kursi, Koalisi VS Oposisi

Mencermati Perburuan Kursi, Koalisi VS Oposisi

  • Kata Indonesia
  • - Tuesday, 30 July 2019

Oleh : Ismail (Pengamat Sosial Politik)

Kubu koalisi tampak seperti kebakaran Jenggot, ketka kemenangan Capres yang diusungnya Joko Widodo, menyisakan kegalauan, ketenangan dan kepastian mereka terhadap jatah kursi kabinet yang terusik oleh fenomena kedekatan Presiden Jokowi dengan mantan rivalnya Prabowo Subianto. Bahkan Prabowo juga telah menjalin kedekatan pula dengan ketua Umum PDI-P Megawati Soekarno Putri.

Pertemuan antara Megawati dan Prabowo juga berlangsung akrab dan dikenal sebagai diplomasi nasi goreng, karena dalam kesempatan tersebut Megawati membuat nasi goreng racikannya yang juga menjadi favorit Gus Dur.

Kedekatan antara keduanya tentu tidak harus membuat kita merasa kaget, karena faktanya Megawati pernah berpasangan dengan Prabowo ketika Pilpres 2019, hal ini menunjukkan bahwa politik merupakan sesuatu yang dinamis, dimana terkadang lawan bisa menjadi kawan.

Meski begitu, pertemuan tersebut mengindikasikan tidak tertutup akan adanya “koalisi plus – plus” dalam susunan kabinet periode 2019 – 2024.

Di lain pihak kubu koalisi minus PDI-P juga sudah pasang kuda2 dengan mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh ketua dan sekretaris masing – masing di markas Partai Nasdem, dimana partai koalisi tersebut seakan menyiratkan keberatan dengan penambahan peserta koalisi, kecuali partai Nasdem yang terang – terangan menyatakan bahwa penambahan partai koalisi tidak diperlukan, menurut Nasdem kekuatan koalisi sudah lebih dari cukup, sangat terlihat tidak sepahamnya partai Nasdem terlihat juga dari dua kali markas partai Nasdem dijadikan tuan rumah pertemuan, anehnya pertemuan yang kedua justru dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menjadi lawan politik ketika Pilgub DKI.

Dari pertemuan tersebut sangat terlihat kecemburuan Partai Nasdem, terhadap partai Gerindra yang semakin mendekat pada Jokowi dan PDIP, sebenarnya peta politik yang berubah itu suatu keniscayaan, yang tadinya lawan bisa menjadi kawan dan hal itu lumrah terjadi.

Misalnya dalam konteks Pilkada baik bupati atau gubernur, dukungan partai tentu tidak linier dengan koalisi pusat, tergantung kesepakatan parpol tingkat daerah, bahkan koalisi itupun tidaklah permanen. Karena setiap 5 tahun akan ada pemilu kembali, sehingga sangat dimungkinkan peta politik akan berubah.

Contohnya Gubernur Banten Wahidin, ketika Pilgub lawannya adalah Ratu Atut, pada pilkada tahun lalu mereka bersatu berkoalisi dengan Andika Hazrumy (Anaknya Ratu Atut) melawan Rano Karno dari PDI-P, demikianlah politik, oleh karena itu tidak perlu adanya kecemburuan atau bahkan show of force kepada mitra koalisi yang lain termasuk kepada Presiden terpilih.

Yang kita khawatirkan kecemburuan yang sudah terlanjut diperlihatkan secara eksplisit ternyata tidak diikuti oleh kawan koalisi yang lain, bagaimanapun kepentingan masing – masing partai akan dikedepankan, yaitu kepentingan meraih kursi, kesetiakawanan akan menjadi ‘usang’ tatkala kekuasaan yang menjadi incaran para politisi.

Tentu alangkah lebih baik juga tetap solid mendukung Presiden terpilih sekaligus menjadi koalisi yang solid dan mendukung penuh kebijakan pemerintah yang akan berjalan 5 tahun kedepan.
Daripada ditinggalkan teman, kemudian tidak mendapat kursi di kabinet, justru kursinya dialihkan kepada lawan dan berubah jadi oposisi, tentu hal tersebut akan sangat disayangkan.

Partai koalisi tentunya harus sadar bahwa pemilihan kabinet merupakan hak preroogatif Presiden sepenuhnya, meski demikian bukan tidak mungkin Presiden akan meminta saran kepada partai pengusungnya, siapa yang kelak akan membantunya dalam kabinet Indonesia Kerja.

Meski nantinya sudah masuk dalam kabinet, bukan berarti posisi tersebut membuatnya bisa duduk dengan nyaman, karena reshuffle kabinet juga sangat mungkin terjadi, seperti ketika Anies Baswedan dicopot dari jabatannya sebagai Menteri Pendidikan,

Para politisi harus sadar bahwa tidak ada lawan atau kawan abadi dalam ranah politik, yang ada adalah kepentingan yang abadi, dalam ranah pilpres 2019 PAN dan PKS merupakan partai koalisi pengusung Prabowo, namun akan berbeda jika nantinya ada Pilbup atau Pilgub.

Contohnya, Ganjar Pranowo tidak mendapatkan dukungan dari PAN dan PKB, namun dalam ranah Pilpres, PKB seakan getol mendukung Jokowi karena adanya ulama kharismatik yang mendampingi Jokowi yaitu KH Ma’ruf Amin. Hal tersebut menunjukkan bahwa menjadi politisi tidak boleh kaku.

Partai koalisi tentu memiliki tugas yang lebih besar daripada harap – harap cemas mendapatkan kursi, yaitu tetap mendukung dan mengawal arah kebijakan presiden.

 

Kekerasan OPM Ancam Warga Sipil, Masyarakat Dukung Tindakan Tegas Apkam

August 19, 2026

Bersama Membawa Bantuan dan Harapan Bagi Penyintas Gempa NTT

August 19, 2026

Kekerasan OPM Ancam Warga Sipil, Masyarakat Dukung Tindakan Tegas Apkam

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Kekerasan OPM Ancam Warga Sipil, Masyarakat Dukung Tindakan Tegas Apkam MIMIKA – Kekerasan yang diduga…

Bersama Membawa Bantuan dan Harapan Bagi Penyintas Gempa NTT

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Bersama Membawa Bantuan dan Harapan Bagi Penyintas Gempa NTT Oleh: Servatius Yosef Bencana gempa bumi…

Kapasitas Terbatas! Jadilah Bagian dari 300 Tokoh Pendidikan Dunia di GIHES 2026

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Panitia Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor bersama Forum Pondok Alumni Gontor (FPAG) akan…

Satgas Terpadu Gempa NTT Pastikan Setiap Pengungsi Mendapat Perlindungan

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Satgas Terpadu Gempa NTT Pastikan Setiap Pengungsi Mendapat Perlindungan  Oleh: Samhaji Syukur Musibah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Kepulauan Flores, Nusa Tenggara Timur, menjadi ujian ketangguhan nasional sekaligus momentum pembuktian nyata atas keberhadiran negara dalam mengayomi seluruh lapisan masyarakat terdampak. Didasari kesadaran mendalam akan besarnya skala dampak sosial dan kerusakan fisik di lapangan, langkah proaktif pemerintah pusat bersama jajaran pemerintah daerah dalam memetakan serta merespons situasi krisis secara terstruktur layak mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya. Kehadiran negara bukan sekadar simbol penanganan krisis formalitas, melainkan wujud pelaksanaan mandat konstitusional untuk melindungi keselamatan setiap jiwa warga negara. Pembentukan Satuan Tugas Terpadu Penanganan Pascabencana Gempa NTT yang diinisiasi oleh pemerintah pusat menjadi konsolidasi instrumen kekuasaan publik yang krusial agar tidak ada satu pun warga terdampak yang terabaikan dalam fase tanggap darurat ini. Keputusan taktis yang diambil oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno dalam merespons cepat dinamika pascagempa mencerminkan tata kelola krisis yang terukur, inklusif, dan berorientasi pada keselamatan publik. Pembentukan satuan tugas khusus pascagempa dipusatkan untuk menjangkau titik-titik pengungsian mandiri yang tersebar di wilayah perbukitan maupun pemukiman terpencil. Menko PMK Pratikno menjelaskan bahwa percepatan pendataan pengungsi mandiri merupakan fondasi utama agar pemenuhan kebutuhan logistik, obat-obatan, dan sarana tempat tinggal sementara dapat terdistribusi secara konsisten dan adil. Konsolidasi lintas sektor yang menyatukan peran pemerintah daerah, jajaran TNI, Polri, BPBD, hingga tingkatan kecamatan dan desa membuktikan bahwa sekat-sekat administratif tidak boleh membatasi penyaluran bantuan kemanusiaan pada saat-saat paling kritis. Langkah penanganan yang sigap di tingkat pusat menemukan titik tumpu yang kuat melalui kesiapan instansi teknis penanggulangan bencana di daerah. Kepala BPBD Nusa Tenggara Timur Mahadin Sibarani mengonfirmasi bahwa rincian dampak fisik, termasuk kerugian pada ribuan unit rumah warga serta ratusan fasilitas umum dan infrastruktur sosial, terus diverifikasi dalam basis data yang terintegrasi. Pendataan komprehensif ini menjadi landasan strategis bagi pembentukan satgas daerah untuk memperkuat komando lokal. Dengan komando operasional yang solid di tingkat tapak, berbagai tantangan teknis dalam menjangkau posko penampungan yang sulit diakses dapat diselesaikan secara efektif melalui kolaborasi intensif bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Kementerian Sosial, dan Kementerian Kesehatan. Penguatan kelembagaan penanganan krisis ini juga selaras dengan komitmen pengawasan ketat yang dijalankan oleh pimpinan legislatif. Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati menekankan bahwa peninjauan langsung di lapangan serta sinergi lintas lembaga merupakan kunci utama untuk memastikan efisiensi penyaluran pasokan logistik, fasilitas kesehatan, dan hunian sementara bagi warga terdampak. Pengawasan melekat dari parlemen memastikan bahwa setiap kebijakan tanggap darurat yang digulirkan eksekutif berjalan secara transparan, akuntabel, dan berfokus penuh pada pemulihan fisik maupun trauma psikologis masyarakat. Kehadiran pimpinan DPR bersama pejabat kementerian di titik bencana menegaskan jaminan bahwa seluruh fungsi pemerintahan bekerja sinergis demi mengembalikan rasa aman publik. Dukungan taktis legislatif semakin konkret dengan adanya kesiapan akselerasi prosedur penganggaran bencana di tingkat parlemen. Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Haryadi menegaskan kesiapan DPR untuk mempercepat proses persetujuan alokasi maupun alih fungsi anggaran pemerintah apabila kebutuhan penanganan bencana di lapangan meningkat. Fleksibilitas serta kemudahan prosedur persetujuan anggaran di DPR menjamin bahwa seluruh tahapan tanggap darurat hingga rehabilitasi tidak akan terkendala oleh hambatan administratif. Komitmen ini menunjukkan betapa harmonisnya relasi kerja antara pemerintah dan DPR dalam mengutamakan keselamatan rakyat di atas segala kerumitan birokrasi anggaran. Pengawasan taktis terhadap efektivitas penanganan bencana di kawasan terdampak juga dikawal oleh pimpinan dewan lainnya melalui peninjauan lapangan yang mendalam. Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal menegaskan pentingnya laporan kondisi riil dan langkah taktis yang diambil selama masa tanggap darurat untuk menjamin kepastian pelayanan pengungsi di berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Manggarai dan daerah sekitarnya. Cucun menyampaikan bahwa masukan konkret dari pemerintah daerah serta instansi terkait akan menjadi acuan utama dalam menetapkan kebijakan pemulihan jangka pendek dan menengah. Pendekatan ini memastikan bahwa penanganan dampak gempa bumi dilakukan secara merata tanpa mengesampingkan kabupaten yang membutuhkan intervensi khusus.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.