• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»Hari Pahlawan, Rekonsiliasi Sejarah: Penghormatan Bangsa Pada Soeharto Sebagai Pahlawan Nasional

Hari Pahlawan, Rekonsiliasi Sejarah: Penghormatan Bangsa Pada Soeharto Sebagai Pahlawan Nasional

  • Kata Indonesia
  • - Friday, 7 November 2025

Hari Pahlawan, Rekonsiliasi Sejarah: Penghormatan Bangsa Pada Soeharto Sebagai Pahlawan Nasional

Oleh: Margo Noff Ra

Hari Pahlawan selalu mengingatkan kita bahwa republik berdiri di atas kerja memori kolektif. Siapa yang kita ingat, bagaimana kita mengingat, dan mengapa ingatan itu layak diberi status kehormatan. Dalam horizon itu, dukungan sejumlah tokoh agama, akademisi, dan politisi agar negara menimbang pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto patut dibaca bukan sebagai ajakan melupakan luka, melainkan sebagai undangan menata ingatan secara matang. Politik ingatan yang dewasa tidak menghapus ambivalensi sejarah, namun menimbang kontribusi dengan ukuran publik yang jelas, berbasis bukti, serta berpihak pada ketahanan republik.

 

Dari sudut etik keagamaan, Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam Sholeh mengajukan parameter yang relevan bahwa setiap mantan presiden yang telah wafat memiliki kelayakan untuk dinilai jasa-jasanya sebagai pahlawan karena telah memikul beban pengabdian negara. Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada dendam historis—sebuah dorongan etis untuk melepaskan afek yang mengaburkan penilaian. Bagi kajian kebudayaan, hal inj menyentuh “etika pengakuan” dimana kemampuan komunitas politik mengakui jasa tanpa menafikan kritik, dan mengkritik tanpa meniadakan jasa. Di sini, lensa yang ditawarkan bukan amnesia, melainkan forensic remembrance—ingatan yang cermat, proporsional, dan bertanggung jawab.

 

Dari ranah organisasi keislaman, suara serupa datang dari Muhammadiyah. Ketua PP Muhammadiyah, Dadang Kahmad, menilai kontribusi Soeharto bersifat historis sekaligus strategis. Penekanan pada peran di masa revolusi—termasuk keterlibatan dalam perang gerilya dan momentum Serangan Umum 1 Maret 1949—mengembalikan diskursus pada premis awal republik bahwa pengakuan kedaulatan di mata dunia dibentuk oleh kerja militer-sipil yang sinkron. Secara teoretik menyentuh “genealogi kedaulatan”, narasi tentang bagaimana tindakan-tindakan strategis pada fase rapuh negara memberi efek legitimasi jangka panjang. Dalam tata bahasa Hari Pahlawan, kontribusi semacam itu berada di inti logika penghargaan.

 

Sementara itu, dari jajaran pemerintah, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menggarisbawahi aspek pembuktian historis terkait tuduhan pelanggaran HAM 1965–1966. Sebuah gelar negara harus berdiri di atas verifikasi, bukan insinuasi dan penting bukan untuk menutup kritik, tetapi untuk memastikan bahwa narasi penghukuman atau penganugerahan sama-sama tunduk pada standar bukti. Dengan begitu, pendidikan sejarah kita terhindar dari trial by rumor yang merusak kapasitas publik berpikir jernih.

 

Dukungan juga datang dari ranah politik kebijakan. Ketua DPP NasDem, Irma Suryani Chaniago, menekankan stabilitas politik pada era Orde Baru dan capaian swasembada pangan sebagai indikator penting menyentuh memori keseharian yang kerap menjadi basis legitimasi—bukan hanya narasi heroik, tetapi pengalaman hidup warganegara atas keamanan, pasokan pangan, dan keteraturan ekonomi.

 

Dari ruang akademik, suara Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis Universitas Dwijendra, Ni Made Adi Novayanti mengajak publik menatap capaian-capaian objektif selama tiga dekade kepemimpinan. Bangsa yang dewasa tidak menyederhanakan sejarah ke dalam dikotomi malaikat-setan, melainkan menyusun matriks penilaian yang menimbang dampak nyata kebijakan terhadap kesejahteraan publik, infrastruktur, dan kesinambungan institusi.

 

Karena itu, negara menimbang penganugerahan gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto yang telah diiringi protokol transparansi, pembukaan arsip yang relevan, panel penilaian lintas-disiplin, dan komunikasi publik yang menjelaskan indikator serta rasionalitas keputusan. Penghargaan ini peneguhan standar—bahwa republik bisa mengakui jasa besar sembari tetap memelihara ruang kritik.

 

Hari Pahlawan selalu menuntun kita pada etika pengakuan—bahwa sejarah bangsa bukan deret nama yang disakralkan, melainkan mozaik pencapaian dan luka yang diolah secara dewasa. Dalam bingkai itu, menimbang jasa Soeharto berarti menempatkan diri pada horizon keadilan memori untuk mengakui kontribusi strategisnya dalam konsolidasi negara-bangsa, stabilitas politik, pembangunan infrastruktur, ketahanan pangan, dan modernisasi birokrasi—seraya tetap membuka ruang kritik ilmiah yang jernih. Sikap semacam ini tidak menghapus kontroversi, tetapi menolak reduksionisme yang mana tidak mengultuskan, tetapi menimbang proporsional.

 

Penghargaan kenegaraan adalah bahasa simbolik yang, bila diberikan, tidak menutup arsip, justru mendorong pengelolaan pengetahuan yang lebih transparan dan akuntabel bagi generasi muda. Kita bisa, bersamaan, merawat memorialisasi yang adil dan memperluas studi kritis—agar ingatan publik tidak jadi alat balas dendam ideologis, melainkan perangkat pembelajaran kewargaan. Dengan begitu, diskursus “kepahlawanan” tidak berhenti pada romantika, tetapi berfungsi sebagai kontrak moral antargenerasi saat negara memberi hormat pada kerja yang menguatkan martabat kolektif, sementara masyarakat mempertahankan disiplin refleksi. Di titik itulah, pemberian gelar menjadi bagian dari tata krama republik yang matang. Sebuah keputusan yang menyeimbangkan fakta, konteks, dan hikmah, demi memantik kesadaran akan nilai-nilai kerja sunyi yang membangun negeri.

 

Pada akhirnya, Hari Pahlawan adalah ritus sipil yang menagih kedewasaan kolektif. Suara dari banyak pihak menunjukkan spektrum dukungan yang lahir dari logika berbeda namun saling bertaut—etika pengakuan, verifikasi historis, memori keseharian, dan pedagogi kebangsaan. Menimbang Soeharto untuk gelar Pahlawan Nasional, dalam kerangka itu, bukan keputusan emosional, melainkan uji kematangan institusi dan publik yang dikelola dengan bukti, proporsi, dan kejujuran intelektual, sehingga penghargaan ini dapat menjadi momentum rekonsiliasi memori—sebuah cara berbangsa yang tidak menutup mata pada kompleksitas, namun justru menggunakannya sebagai bekal untuk berjalan lebih tegap ke depan.

 

*) pemerhati kebudayaan

 

Merawat Demokrasi Yang Dewasa, Ketenangan Publik dan Penegakan Hukum Berbasis Bukti 

September 2, 2026

Menahan Diri Pascademo adalah Cara Menjaga Demokr si Tetap Bermartabat

September 2, 2026

Merawat Demokrasi Yang Dewasa, Ketenangan Publik dan Penegakan Hukum Berbasis Bukti 

By Kata IndonesiaSeptember 2, 20260

Merawat Demokrasi Yang Dewasa, Ketenangan Publik dan Penegakan Hukum Berbasis Bukti  Oleh : Desti Aisyah Demokrasi yang sehat tidak hanya ditandai dengan kebebasan masyarakat menyampaikan pendapat, tetapi juga kemampuan semua pihak menjaga ketenangan publik dan menghormati proses hukum. Di tengah perbedaan pandangan yang semakin mudah berkembang di ruang publik, kedewasaan demokrasi menjadi semakin penting. Kritik terhadap pemerintah harus tetap memiliki ruang, sementara tindakan yang melanggar hukum harus diproses secara adil. Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan karena kebebasan berpendapat dan kepastian hukum merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi. Prinsip negara hukum menempatkan hukum sebagai dasar untuk menjaga ketertiban sekaligus melindungi hak masyarakat. Peristiwa kericuhan setelah aksi demonstrasi di sekitar Gedung DPR/MPR pada 27 Agustus 2026 menjadi salah satu gambaran mengenai pentingnya keseimbangan tersebut. Aksi yang pada awalnya berlangsung sebagai penyampaian aspirasi kemudian berkembang menjadi kericuhan yang diwarnai perusakan dan gangguan terhadap ketertiban umum. Polda Metro Jaya menyebut sebanyak 322 orang diamankan untuk menjalani pemeriksaan, termasuk 160 anak. Dari proses pemeriksaan tersebut, sejumlah orang kemudian ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan dugaan keterlibatan dalam tindak pidana. Pada perkembangan berikutnya, jumlah tersangka dilaporkan bertambah menjadi 49 orang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan demonstrasi tidak hanya berkaitan dengan pengamanan massa, tetapi juga bagaimana aparat memilah antara peserta aksi yang menyampaikan aspirasi secara damai dengan mereka yang diduga melakukan pelanggaran hukum. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto menegaskan pentingnya membedakan masyarakat yang menjalankan hak menyampaikan aspirasi dengan pihak yang diduga melakukan tindakan pidana. Dalam proses penanganannya, kepolisian melakukan pemeriksaan berdasarkan usia, peran, dan dugaan keterlibatan masing-masing orang yang diamankan. Pendekatan tersebut penting untuk memastikan proses hukum tidak dilakukan secara serampangan. Setiap tindakan aparat mengindikasikan dasar yang jelas, sementara masyarakat yang diperiksa juga mendapatkan kepastian mengenai alasan mereka diamankan. Dengan demikian, penegakan hukum dapat berjalan secara terukur dan tetap menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum. Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah menegaskan bahwa kritik terhadap kebijakan pemerintah merupakan bagian dari pelaksanaan hak berpendapat yang harus dilindungi negara. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa demokrasi membutuhkan ruang yang aman bagi semua pihak untuk menyampaikan ketidakpuasan, termasuk melalui demonstrasi. Selama dilakukan secara damai dan sesuai ketentuan hukum, penyampaian aspirasi merupakan bagian dari mekanisme kontrol masyarakat terhadap pemerintah. Karena itu, menjaga ketenangan publik seharusnya berjalan bersamaan dengan memastikan hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat tetap dihormati. Dalam demokrasi, masyarakat tidak hanya berperan sebagai penerima kebijakan, tetapi juga memiliki hak untuk mengawasi dan memberikan kritik terhadap jalannya pemerintahan. Kritik yang disampaikan secara terbuka dapat menjadi masukan untuk memperbaiki kebijakan yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Karena itu, semua pihak perlu membangun pendekatan yang mampu membedakan kritik, aksi damai, dan tindakan yang benar-benar mengarah pada pelanggaran hukum. …

Menahan Diri Pascademo adalah Cara Menjaga Demokr si Tetap Bermartabat

By Kata IndonesiaSeptember 2, 20260

Menahan Diri Pascademo adalah Cara Menjaga Demokr si Tetap Bermartabat  Oleh: Ricky Rinaldi Demonstrasi merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi karena menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, kritik, dan penolakan terhadap kebijakan yang dinilai tidak sesuai dengan kepentingan publik. Kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum juga telah dijamin dalam konstitusi dan diatur melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998. Namun, demokrasi tidak hanya membutuhkan keberanian untuk menyampaikan pendapat, tetapi juga kedewasaan untuk menahan diri setelah aspirasi disampaikan. Menahan diri pascademonstrasi bukan berarti menghentikan kritik atau mengabaikan tuntutan masyarakat. Sikap tersebut justru menjadi bagian dari upaya menjaga agar perbedaan pendapat tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas. Setelah aksi berakhir, semua pihak memiliki tanggung jawab untuk mengembalikan persoalan pada ruang dialog, evaluasi, dan penyelesaian melalui mekanisme hukum yang berlaku. …

Masyarakat Diminta Tenang, Aparat Selidiki Kekerasan Pascademonstrasi

By Kata IndonesiaSeptember 2, 20260

Masyarakat Diminta Tenang, Aparat Selidiki Kekerasan Pascademonstrasi JAKARTA — Pemerintah mengajak masyarakat untuk tetap tenang…

Pemerintah Tegaskan Kericuhan Pascademo Diproses Berdasarkan Bukti 

By Kata IndonesiaSeptember 2, 20260

Pemerintah Tegaskan Kericuhan Pascademo Diproses Berdasarkan Bukti Jakarta — Pemerintah menegaskan penanganan kericuhan setelah aksi…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.