UI Connect: Gagasan Dewi Puspitorini untuk Kolaborasi Alumni yang Progresif
Jakarta – Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) tengah memasuki fase penting dengan digelarnya pemilihan Ketua Umum periode 2025–2028 pada 23–24 Agustus mendatang. Dari sejumlah kandidat, nama dr. Dewi Puspitorini, Sp.P, MARS, alumni Fakultas Kedokteran UI angkatan 1987, mencuri perhatian lewat gagasan segarnya yang menekankan kolaborasi lintas fakultas dan generasi.
Dalam visinya, Dewi menekankan pentingnya menghadirkan organisasi alumni yang inklusif, modern, dan berdampak nyata bagi bangsa. Visi tersebut ia tegaskan melalui kegiatan “Alumni UI We Care!” di Gedung IASTH, Jakarta Pusat, yang mempertemukan alumni dengan masyarakat melalui beragam program, mulai dari job fair, talkshow kewirausahaan, bazar UMKM, hingga layanan kesehatan gratis.
“Guyub bukan sekadar kebersamaan, melainkan kekuatan untuk bergerak maju secara kolektif. Alumni UI harus menunjukkan peran nyata, tidak hanya di kampus, tapi juga di tengah masyarakat,” ujar Dewi.
Salah satu terobosan utama yang ditawarkan Dewi adalah pengembangan UI Connect, platform digital yang menjadi wadah interaktif bagi alumni lintas daerah dan mancanegara. Melalui platform ini, alumni dapat saling terhubung, berkolaborasi, serta mengembangkan jejaring secara lebih efektif.
“Teknologi harus digunakan untuk mendekatkan, bukan membatasi. Dengan UI Connect, alumni dari seluruh dunia bisa tetap terhubung dalam satu ekosistem yang inklusif dan dinamis,” jelasnya.
Inovasi digital ini menjadi bagian dari visi besar bertajuk “Membangun ILUNI UI yang guyub, progresif, inklusif, dan berdampak nyata bagi alumni, almamater, dan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.”
Selain transformasi digital, Dewi juga menyoroti tata kelola organisasi yang akuntabel. Menurutnya, ILUNI UI harus dikelola dengan standar profesional agar dapat menjadi teladan organisasi modern.
“ILUNI UI harus menjadi contoh organisasi yang bersih, terbuka, dan berdampak nyata bagi bangsa. Legitimasi lahir dari akuntabilitas yang konsisten,” tegas Dewi.
Dukungan terhadap Dewi turut datang dari kalangan alumni lintas fakultas. Ketua Umum ILUNI Fakultas Kedokteran UI, dr. Wawan Mulyawan, menilai Dewi memiliki kapasitas kepemimpinan yang dibutuhkan di era perubahan cepat.
“Dewi memiliki visi yang jelas dan kapasitas nyata. Ia bisa memadukan kompetensi profesional dengan semangat kolaboratif untuk menyatukan keberagaman alumni,” ujar Wawan.
Selain kiprah profesionalnya sebagai dokter spesialis paru yang pernah menjabat Direktur Profesi Tenaga Kesehatan RSPAD dan dokter pribadi Presiden, Dewi juga aktif dalam berbagai organisasi alumni, mulai dari Sekretaris Umum ILUNI FKUI, Wakil Ketua Umum ILUNI FKUI, Sekum FIAKSI, hingga Ketua IKAMARS UI.
Dengan inovasi digital UI Connect, tata kelola yang profesional, serta perhatian pada kesejahteraan alumni, Dewi menawarkan wajah organisasi yang lebih inklusif, adaptif, dan berkontribusi nyata bagi bangsa.-
[ed]
[8/20, 1:33 PM] Hem: *Bendera Merah Putih Harus Jadi Simbol Utama Kemerdekaan*
JAKARTA — Dalam rangka peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, sejumlah pejabat negara menegaskan kembali pentingnya Bendera Merah Putih sebagai simbol utama yang tidak tergantikan. Di tengah maraknya budaya populer dan munculnya simbol-simbol alternatif, pemerintah menekankan bahwa Merah Putih harus tetap dijunjung tinggi sebagai lambang pemersatu bangsa.
Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, menyatakan bahwa meski masyarakat mengekspresikan kreativitas melalui pengibaran bendera lain, kecintaan rakyat terhadap Merah Putih tetap tidak tergoyahkan.
“Saya kira itu ekspresi kreativitas, ekspresi inovasi, dan pasti hatinya adalah Merah Putih, semangatnya Merah Putih. Saya kira kecintaan rakyat Indonesia kepada Merah Putih tidak akan tertukar dengan apa pun. Saya meyakini itu,” ujarnya
Ia menambahkan, momentum bulan kemerdekaan seharusnya menjadi sarana memperkuat persatuan bangsa.
“Merah Putih adalah perekat seluruh elemen bangsa. Simbol lain bisa hadir sebagai ekspresi, tetapi jangan sampai menyingkirkan lambang negara,” tegas Muzani.
Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menyampaikan pandangan senada. Ia menilai kreativitas masyarakat dalam menggunakan simbol lain tidak perlu dipermasalahkan selama Merah Putih tetap dikibarkan.
“Benderanya itu enggak ada masalah, selama Merah Putih tetap dikibarkan. Secara keseluruhan, bahwa kreativitas pengibaran-pengibaran bendera dan juga pemakaian bendera One Piece itu menurut kita enggak ada masalah,” ungkapnya.
Meski begitu, Dasco mengingatkan agar masyarakat tetap membedakan antara simbol hiburan dan simbol kenegaraan. Ia menekankan bahwa peringatan HUT RI harus dimaknai lebih dalam sebagai momentum memperkuat cinta tanah air, bukan sekadar perayaan seremonial.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan pentingnya menjaga kesakralan peringatan kemerdekaan, khususnya di bulan Agustus.
“Kami berharap di bulan Agustus ini janganlah ternodai dengan hal-hal yang tidak sakral,” tegasnya
Menurut Prasetyo, pemerintah tidak menutup ruang bagi kreativitas masyarakat, tetapi harus ada batas yang jelas. Merah Putih wajib dikibarkan dengan penuh khidmat pada setiap peringatan HUT RI sebagai bentuk penghormatan terhadap para pejuang bangsa.
Ia juga mengajak generasi muda menjadikan Merah Putih sebagai sumber inspirasi dalam berkarya.
“Bendera ini adalah simbol perjuangan yang mempersatukan kita semua. Generasi muda harus menjaganya, karena di situlah harga diri bangsa Indonesia,” pungkasnya.
Dengan demikian, berbagai pernyataan pejabat negara ini menegaskan kembali bahwa menjaga kehormatan Bendera Merah Putih bukan sekadar ritual, tetapi bentuk penghormatan terhadap sejarah, persatuan, dan jati diri bangsa.
(*/rls)
[edRW]