• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Wajah Buruk Demonstrasi Mahasiswa

Wajah Buruk Demonstrasi Mahasiswa

  • Kata Indonesia
  • - Tuesday, 24 September 2019

Oleh : Raditya Rahman (Pengamat Sosial Politik)

Sangat disayangkan jika mahasiswa sebagai agent of change berlaku anarkistis. Apalagi hal ini tercermin dalam beberapa kasus demo berujung ricuh pada beberapa wilayah di Indonesia. Padahal mahasiswa memiliki cara yang lebih elegan dalam menyampaikan pendapat.

Belum juga rampung perbaikan fasilitas publik yang terdampak akibat demonstrasi berujung ricuh. Kini kabar duka datang lagi terkait mahasiswa melakukan aksi demo terhadap penentangan RKUHP. Mereka bersikap vandalisme juga membuat masyarakat merasa terancam.

Baca juga: Demi Wujudkan SDM Unggul, Presiden Jokowi Penuhi Aspirasi Tokoh Papua

Bukan hanya kerusakan benda-benda maupun fasilitas publik. Lebih lanjut dampak psikologis yang ditimbulkan akan memakan penyembuhan lebih lama. Terlebih bagi korban traumatik, tentunya kecemasan serta ketakutan akan terus mengikuti. Pun akan terasa ketika melihat aksi tersebut terulang kembali.
Akhir-akhir ini makin marak tindakan anarkis yang awalnya berasal dari aksi solidaritas.

Mengatasnamakan HAM, namun kenyataanya mereka malah berlaku serupa dan semena-mena kepada masyarakat lainnya. Bahkan, hingga timbul korban. Apalagi jika insiden semacam ini bermula dari hal ringan bernama isu yang belum tentu kebenarannya. Penggiringan opini publik hingga penambahan tagline di media sosial kian membakar semangat. Namun, bukan semangat positif yang dimunculkan, salah-salah dampak negatif berkepanjangan akan makin membuat suasana makin ruwet.

Menurut beberapa referensi, keseluruhan tindakan anarkis ini dimulai dengan adanya isu dan provokasi. Betapa ngeri provokasi membakar diri. Padahal sebagai seorang agent of change, peranan mahasiswa ini dinilai cukup krusial. Jiwa muda yang meletup-letup ditengarai mampu menimbulkan perspektif negatif, jika tak dikelola secara baik.

Kabar terbaru menyebutkan Aksi mahasiswa tolak Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) di depan Gedung DPR/MPR berlangsung rusuh dan anarkis pada (23/09). Massa berupaya menutup jalan Tol Dalam Kota yang berada di seberang kompleks parlemen, serta menggangu kenyamanan pengguna jalan. Aksi lain berlangsung di wilayah Jawa Barat, disebutkan jika sejumlah mahasiswa masih bertahan dalam aksinya di depan gedung DPRD. Massa berorsi menolak RKUHP serta revisi terkait UU KPK. Mereka juga menyerukan “revolusi” di hadapan barikade pertahanan kepolisian Polrestabes Bandung.

Melihat situasi ini, Mahasiswa harusnya menjadi penengah, mereka bisa membantu masyarakat dalam menyampaikan segala aspirasi kepada pemerintahan. Dengan catatan, mentaati segala bentuk aturan yang berlaku dan tidak bertindak semau sendiri. Meski, keadaan dalam kondisi darurat sekalipun. Mahasiswa sendiri juga mempunyai empat peranan penting yang harus dipahami serta dijalankan.

Sifat mental positif dengan selalu menyaring segala informasi yang bergulir. Akan bisa mencegah terjadinya emosi untuk melakukan hal negatif. Arti mahasiswa keseluruhan bukan hanya masalah belajar lagi, namun sebagai seorang dengan gelar “maha” siswa ini tentunya mampu menunjukkan contoh sikap yang lebih baik. Karena mahasiswa ini posisinya masih netral, tak dipengaruhi oleh partai politik, golongan hingga kepentingan lainnya.

Ditilik dadi segi kecerdasan, mahasiswa dinilai lebih melek secara intelektual. Mereka memiliki cara pikir yang matang. sehingga mampu menjembatani rakyat dan pemerintahan.

Sebelumnya kisah-kisah heroik terkait mahasiswa ramai diberitakan pada zaman dahulu. Bahkan tercermin pada momentum sumpah pemuda tahun 1928 silam. Dan pastinya masih ingat bukan, seruan bernada penyemangat dari presiden pertama kita, Ir. Soekarno?

Yang mana berbunyi, “Berikan aku 10 pemuda maka akan ku goncang dunia.” Kalimat ini tentunya dapat ditafsirkan dengan jelas. Jika sejumlah 10 pemuda saja yang berintegritas serta memiliki nasionalisme tinggi akan mampu menggerakkan semangat orang lain. Sehingga bisa dilihat betapa mahasiswa zaman dulu ini mampu berkontribusi dalam perubahan sejarah.

Lalu coba bandingkan dengan jumlah mahasiswa sekarang yang ratusan ribu orang? Pertanyaanya, mampukah mereka membawa perubahan positif yang signifikan?

Tak dipungkiri jika zaman bisa membawa perbedaan kultur. Indikasinya, cara mahasiswa zaman dulu tentunya berbeda dalam melakukan gerakan menuju perubahan. Jika dulu musuh utamanya adalah penjajah. Sementara sekarang banyak hal yang patut dijadikan fokus, bisa jadi kecanggihan teknologi, lingkungan serta pengendalian emosi.

Cara lain untuk masuk dalam peranan agent of change ialah dengan memiliki prestasi-prestasi akademik maupun non akademik. Yang mana hal ini dapat membantu memunculkan Indonesia di permukaan negara-negara maju di dunia. Tak harus muluk-muluk, menjadi agent of change ini bisa dimulai dari yang paling dasar, yakni diri sendiri. Kemudian bisa menyalurkannya kepada masyarakat. Mengingat, manusia adalah seorang mahkluk sosial yang tak mampu hidup sendiri..

Dari sini, sebagai warga negara yang baik berlaku positif serta tidak gampang terprovokasi dinilai sangat penting. Menjaga ketertiban, serta mengontrol diri agar tak terbawa arus akan membuat suasana makin aman, nyaman, dan kondusif terhindar dari sikap anarkistis. Karena aksi anarkis ini bukan solusi untuk menyelesaikan masalah.

Pemerintah Perkuat Satgas Terpadu Percepat Penanganan Gempa NTT

August 19, 2026

Satgas Gempa NTT Dikawal hingga Fase Darurat Beralih ke Rehabilitasi

August 19, 2026

Pemerintah Perkuat Satgas Terpadu Percepat Penanganan Gempa NTT

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Pemerintah Perkuat Satgas Terpadu Percepat Penanganan Gempa NTT Jakarta – Pemerintah memperkuat pembentukan satuan tugas…

Satgas Gempa NTT Dikawal hingga Fase Darurat Beralih ke Rehabilitasi

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Satgas Gempa NTT Dikawal hingga Fase Darurat Beralih ke Rehabilitasi Jakarta – Penanganan korban gempa…

Kebijakan Transformatif Tunjukkan Negara Bergerak Cepat Membenahi Masalah

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Kebijakan Transformatif Tunjukkan Negara Bergerak Cepat Membenahi Masalah  Oleh: Agus Sasongko Sudah saatnya publik menilai perjalanan pembangunan bukan hanya dari janji, tetapi juga dari arah kebijakan dan hasil yang mulai terlihat di tengah kehidupan masyarakat. Dalam 21 bulan pemerintahan, berbagai langkah yang diambil menunjukkan adanya upaya mempercepat penyelesaian persoalan yang selama ini dianggap rumit dan membutuhkan waktu panjang. Di tengah tantangan pada sektor pangan, energi, pendidikan, kesehatan, hingga pelayanan publik, rangkaian kebijakan transformatif menjadi sinyal bahwa negara sedang bergerak lebih cepat membenahi masalah sekaligus membangun fondasi yang lebih kuat bagi masa depan Indonesia. Gambaran tersebut mengemuka dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung Nusantara, Jakarta. Pada kesempatan itu, Prabowo Subianto menyampaikan bahwa pemerintah telah memutuskan sekaligus menjalankan 121 kebijakan transformatif selama 663 hari pemerintahan. Artinya, rata-rata satu kebijakan lahir setiap lima hari sebagai bagian dari upaya menyelesaikan persoalan negara yang sebagian telah berlangsung selama puluhan tahun dan membutuhkan keberanian dalam pengambilan keputusan. Menurut Prabowo Subianto, pencapaian tersebut lahir dari kombinasi keberanian mengambil keputusan, kerja keras, arah kebijakan yang jelas, serta semangat gotong royong seluruh unsur bangsa. Pemerintah juga tidak mengklaim seluruh persoalan telah selesai, tetapi menilai berbagai tantangan nasional mulai memasuki tahap penyelesaian yang lebih nyata. Cara pandang tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan diposisikan sebagai proses berkelanjutan yang menuntut konsistensi, bukan sekadar mengejar pencapaian jangka pendek yang mudah dilupakan. Salah satu indikator keberhasilan yang paling menonjol selama setahun terakhir terlihat pada sektor pangan. Indonesia berhasil mencapai swasembada delapan komoditas utama lebih cepat dibanding target awal yang diperkirakan membutuhkan empat hingga lima tahun. Beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit menjadi komoditas yang berhasil diperkuat melalui kombinasi kebijakan produksi, distribusi, serta dukungan kepada petani. Pencapaian ini memperlihatkan bahwa percepatan kebijakan dapat menghasilkan dampak nyata ketika hambatan birokrasi dan distribusi mulai disederhanakan. Keberhasilan tersebut diperkuat oleh langkah pemerintah menghapus 145 aturan penyaluran pupuk yang selama ini dinilai menghambat akses petani. Selain itu, harga pupuk berhasil diturunkan hingga 20 persen sehingga biaya produksi menjadi lebih ringan. Kebijakan tersebut tidak hanya membantu meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga berdampak terhadap kinerja PT Pupuk Indonesia yang mencatat peningkatan keuntungan sebesar 252,8 persen. Situasi ini memperlihatkan bahwa kebijakan yang tepat dapat menghadirkan manfaat ganda, yakni memperkuat kesejahteraan petani sekaligus meningkatkan kinerja badan usaha milik negara. Pada sektor energi, pemerintah juga menunjukkan langkah strategis melalui implementasi diesel berbasis campuran biodiesel B50. Sejak 1 Juli 2026, Indonesia tidak lagi mengimpor solar dari luar negeri sehingga mampu menghemat devisa sekitar Rp170 triliun atau setara USD9,5 miliar. Langkah tersebut menjadi salah satu pencapaian penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri. Keberhasilan itu menunjukkan bahwa hilirisasi sumber daya dan pemanfaatan energi domestik mulai memberikan hasil yang konkret bagi perekonomian nasional.…

Kebijakan Transformatif: Pemerintahan Jadi Cepat, Tegas, dan Berorientasi Hasil

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Kebijakan Transformatif: Pemerintahan Jadi Cepat, Tegas, dan Berorientasi Hasil Oleh: Ahmad Mustofa Di tengah berbagai…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.