• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Stok Pangan Aman Jelang Natal dan Tahun Baru 2020

Stok Pangan Aman Jelang Natal dan Tahun Baru 2020

  • Kata Indonesia
  • - Friday, 20 December 2019

Oleh: Edi Jatmiko

Pemerintah memastikan stok pangan jelang Natal dan Tahun Baru dalam kondisi aman. Selain itu, Pemerintah juga terus berupaya agar masyarkat mudah mengakses kebutuhan tersebut dengan harga yang terjangkau.

Sudah menjadi rutinitas menjelang hari besar keagamaan atau pergantian tahun, harga bahan-bahan pokok akan melonjak. Hal ini dipengaruhi oleh ketersediaan pangan, pendistribusian hingga faktor lainnya. Seringnya warga mengaitkan hari libur karena hari besar inilah yang menjadikan pasokan pangan berkurang. Akibatnya, stok yang adapun harganya dilambungkan.
Seolah sudah biasa akan hal ini, warga menjadi sedikit cuek jika harga sembako dan kelengkapannya mencapai kenaikan. Akan tetapi ada pula yang mengeluh atas kejadian seperti ini.

Namun, ada yang berbeda tahun ini. Pemerintah mengklaim melalui Badan Ketahanan Pangan akan melaksanakan rencana aksi pengamanan stabilisasi harga serta pasokan pangan. Menjelang Hari besar Keagamaan Nasional (HKBN) Natal 2018 dan Tahun Baru 2019. Yang meliputi; rapat koordinasi (rakor) oleh seluruh instansi dan pemangku kepentingan terkait pengamanan pasokan dan stabilisasi harga pangan di tingkat pusat dan juga daerah.

Pemantauan pasokan serta harga pangan pokok ini akan dilakukan terutama di pasar utama dan wilayah sentra produksi, termasuk menggelar pangan murah ataupun operasi pasar selektif. Menurut laporan, fokus program ini akan dilaksanakan di sembilan provinsi dengan mayoritas warga yang merayakan hari raya Natal dan Tahun Baru. Yaitu, Jakarta, Yogyakarta, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, NTT, Maluku, Kalimantan Barat dan Bali sebagai destinasi wisata.
Kepala Badan Ketahanan Pangan Agung Hendriadi memastikan pihaknya akan melancarkan pemantauan pangan pokok dan strategis, dalam kurun waktu November hingga Desember 2018 secara kumulatif dalam kondisi aman (surplus). Namun, daging sapi atau kerbau sebagai pengecualian. Ia menjelaskan jika ketersediaan sapi lokal selama bulan November-Desember mencapai 71.121 ton, sementara kebutuhan berada di angka 109.723 ton.

Kendati demikian, Agung menjamin defisit daging sebesar 38.611 ton akan terpenuhi dari stok sapi dan kerbau siap potong sebesar 36.952,56 ton. Bahkan, masih akan ditambah stok daging dan jeroan yang ada di gudang importir serta Bulog yang berada di angka 13.544 ton.
Semua stok tersebut akan terdistribusi di wilayah Jabodetabek, Bandung, Bali, Batam juga Kepulauan Riau. Di lembaga Bulog pun masih terdapat stok dan daging kerbau sebanyak 3.368,96 ton. Neraca final pada Desember ini diperkirakan mengalami surplus mencapai 17.296,52 ton.

Surplus ini ditengarai juga berlaku pada sembilan bahan pokok lainnya. Bahan pangan tersebut antara lain, beras dengan jumlah 3,83 juta ton, minyak goreng sebesar 24,50 juta ton, ketersediaan gula pasir 344 ribu ton, bawang merah 136 ribu ton, daging ayam 335 ribu ton, dan telur ayam ras mencapai 806 ribu ton.
Ketersediaan beras ini makin diperkuat oleh cadangan beras yang ada di masyarakat (yakni, rumah tangga petani, horeka dan juga penggilingan). Dikatakan bahwa data beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) menyebutkan, jika stok beras masih aman dan lebih tinggi jika dibanding dengan tahun lalu.
Dari kondisi di lapangan, pemerintah yakin hingga akhir tahun 2018, khususnya periode Natal dan Tahun Baru dipastikan harga pangan pokok dan strategis berada di garis aman dan stabil.

Sementara itu, berdasarkan sejumlah laporan dari semua pihak yang meliputi, Bulog, BUMD Pangan, DKPKP, Dinas UMKM, hingga Dinas Perindustrian dan Energi kompak menyatakan ketersediaan pangan menjelang dua hari besar tersebut stabil dan terkondisikan. Tak hanya berdasar atas laporan saja, namun instansi terkait langsung terjun ke lapangan guna memastikan keadaan riil serta mencocokkannya dengan keterangan stok pangan.

Dengan sejumlah data yang akurat serta didukung oleh pernyataan pihak terkait, hal ini tentunya makin membuat warga tenang dan nyaman saat menyambut Tahun Baru dan Natal. Bukan tak mungkin pemerintah kembali mengulang kejayaan dalam menstabilkan harga seperti saat menjelang Hari Raya Keagamaan Umat Islam (Idul Fitri). Hal ini tercermin saat pasokan bahan pangan telat, kemudian instruksi presiden Jokowi turun untuk melakukan sejumlah sidak. Termasuk perintahkan para menteri terkait guna menjaga kestabilan harga-harga pangan yang dinilai rawan menjelang hari besar. Tentunya langkah ini membuktikan bahwa pemerintah tak main-main atas perhatiannya kepada seluruh rakyat Indonesia, dalam mewujudkan stabilitas ekonomi nasional, yang aman dan terkendali terutama di bidang ekonomi.

Danantara Perkuat Investasi untuk Pembangunan Nasional

August 22, 2026

Danantara Perkuat Investasi Strategis untuk Pembangunan Nasional

August 22, 2026

Danantara Perkuat Investasi untuk Pembangunan Nasional

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Danantara Perkuat Investasi untuk Pembangunan Nasional  Oleh: Ricky Rinaldi Pemerintah terus memperkuat transformasi ekonomi nasional dengan menempatkan investasi sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan jangka panjang. Dalam arah kebijakan menuju 2027, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memperoleh peran strategis sebagai instrumen untuk mengoptimalkan aset negara, memperkuat investasi, dan mendorong pembangunan sektor-sektor strategis. Kehadiran Danantara menunjukkan upaya pemerintah membangun sumber pertumbuhan baru yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Presiden Prabowo Subianto menegaskan posisi tersebut dalam penyampaian Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) 2027 beserta Nota Keuangan di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada 14 Agustus 2026 lalu. Presiden menyebut Danantara sebagai dana kedaulatan yang harus menjadi instrumen untuk membangun kapasitas bangsa dalam jangka panjang. Danantara karena itu diarahkan bukan sekadar sebagai pengelola aset negara, melainkan sebagai bagian dari strategi investasi dan pembangunan sektor strategis yang memberikan manfaat berkelanjutan. Arah tersebut memperlihatkan perubahan pendekatan dalam mengelola kekuatan ekonomi nasional. Aset negara perlu ditempatkan pada kegiatan produktif yang mampu meningkatkan kapasitas industri, mempercepat hilirisasi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan nasional. Melalui pengelolaan yang terintegrasi, Danantara diharapkan mampu menghubungkan kekayaan negara dengan kebutuhan investasi serta proyek pembangunan yang memiliki nilai strategis dan manfaat jangka panjang. Peran Danantara semakin penting dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa konsolidasi aset Danantara dapat menjadi katalis peningkatan investasi. Danantara dapat memaksimalkan aset dan proyek untuk menarik partisipasi sektor swasta dan pelaku ekonomi nonpemerintah. Dengan demikian, investasi negara dapat menciptakan efek crowd-in, yakni mendorong dunia usaha meningkatkan ekspansi, membuka fasilitas produksi baru, dan memperluas kegiatan bisnis. Pendekatan tersebut menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional merupakan tanggung jawab bersama seluruh pelaku ekonomi. Pemerintah tidak hanya berperan sebagai penyedia anggaran, tetapi juga menciptakan kondisi yang memungkinkan sektor swasta berkembang. Investasi Danantara dapat menjadi pemicu awal yang kemudian diikuti modal swasta sehingga kapasitas ekonomi nasional meningkat secara lebih luas. Sinergi tersebut juga berpotensi memperbesar penciptaan lapangan kerja dan memperkuat aktivitas ekonomi di berbagai daerah. Strategi investasi Danantara diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki nilai strategis dan potensi dampak luas. Delapan sektor utama yang menjadi fokus meliputi energi terbarukan, mineral, infrastruktur digital, infrastruktur dan utilitas, real estat, layanan keuangan, pangan dan pertanian, serta layanan kesehatan. Pemilihan sektor tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat ketahanan nasional, dan membangun fondasi pertumbuhan baru yang lebih bernilai tambah.…

Danantara Perkuat Investasi Strategis untuk Pembangunan Nasional

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Danantara Perkuat Investasi Strategis untuk Pembangunan Nasional Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara…

Danantara Kawal Penyederhanaan BUMN agar Aset Negara Lebih Produktif  

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Danantara Kawal Penyederhanaan BUMN agar Aset Negara Lebih Produktif Jakarta – Transformasi dan restrukturisasi Badan…

Ketahanan Energi 2027: Jalan Besar Indonesia Menuju Kemandirian Energi 

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Ketahanan Energi 2027: Jalan Besar Indonesia Menuju Kemandirian Energi  Oleh: Hanan Alfawazi Ketahanan energi merupakan salah satu fondasi utama bagi keberlanjutan pembangunan nasional. Tanpa pasokan energi yang cukup, terjangkau, dan dapat diandalkan, pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, pembangunan infrastruktur, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat akan menghadapi berbagai hambatan. Karena itu, arah kebijakan energi Indonesia pada 2027 memiliki arti strategis, bukan sekadar sebagai agenda sektoral, melainkan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian nasional. Kebutuhan energi terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, sementara produksi minyak nasional menghadapi tekanan penurunan alamiah. Pada saat yang sama, dinamika geopolitik global membuat harga dan pasokan energi semakin sulit diprediksi. Kondisi tersebut membuat penguatan sumber energi domestik menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Dalam konteks tersebut, target lifting minyak sebesar 610 ribu barel per hari dan lifting gas sekitar 950 ribu barel setara minyak per hari dalam RAPBN 2027 menjadi salah satu instrumen penting. Target tersebut dinilai realistis oleh Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya, terutama dengan melihat peluang optimalisasi lapangan produksi yang telah ada serta pengembangan sumur-sumur baru. Namun, peningkatan lifting tidak dapat dicapai hanya dengan menetapkan target. Sektor hulu migas membutuhkan investasi, teknologi, kepastian regulasi, serta proses pengembangan lapangan yang efisien. Tantangan natural decline juga harus dihadapi secara serius karena sebagian lapangan migas nasional telah memasuki fase produksi yang matang. Anggota Dewan Energi Nasional Saleh Abdurrahman melihat masih terdapat ruang untuk menahan laju penurunan alamiah tersebut melalui optimalisasi sumur eksisting dan pengembangan sumur baru. Pengembangan wilayah frontier serta penggunaan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) juga menjadi bagian dari pilihan strategis untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi nasional. Artinya, kebijakan peningkatan lifting harus ditempatkan sebagai agenda jangka panjang. Pemerintah tidak cukup hanya mengejar angka produksi dalam satu tahun anggaran, tetapi juga harus memastikan keberlanjutan investasi dan penemuan cadangan baru. Jika investasi hulu berjalan konsisten, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat ekosistem industri migas nasional.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.