• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Rekonsiliasi dan Upaya Menjaga Keseimbangan Politik

Rekonsiliasi dan Upaya Menjaga Keseimbangan Politik

  • Kata Indonesia
  • - Tuesday, 16 July 2019

Oleh : Gita Warsita

Dengan berakhirnya drama Pilpres 2019 berupa pilihan presiden dan pilihan legislatif, semestinya ketegangan antar kubu sudah mulai mereda, hingga akhirnya mencapai ekuilibrium.

Namun keseimbangan itu harus dicapai melalui berbagai tahap, salah satunya adalah rekonsiliasi yang telah terjadi antara Prabowo dengan Jokowi di dalam MRT. Harapan masyarakat untuk rekonsiliasi tersebut akhirnya tercapai, media pun memberikan sorotan kepada kedua tokoh tersebut, sejuk, damai seakan tanpa dendam sedikitpun diantara keduanya.

Pertemuan tersebut menjadi bukti bahwa Jokowi senantiasa menjaga pertemanan dengan Prabowo yang merupakan rival politiknya, mantan walikota Surakarta tersebut sudah menunjukkan sebuah arti kemenangan yang sebenarnya.
Sedangkan Prabowo telah menunjukkan sikap kenegarawanan yang baik, ia juga terbukti mematuhi segala putusan Mahkamah Konstitusi dan tidak mengerahkan massa pada saat MK membacakan putusannya.

Namun yang menjadi masalah adalah, masih banyak pihak yang terbius oleh mantra kekuasaan. Layaknya musafir yang merasa dahaga di gurun pasir. Beberapa golongan ingin mencicipi manisnya kue kekuasaan.
Saat ini hampir di semua negara demokrasi menerapkan konsep Trias Politika, baik berupa pembagian maupun pemisahan kekuasaan.

Secara umum kekuasaan dapat dibagi menjadi beberapa fungsi yaitu legislatif, yudikatif dan eksekutif tetapi dengan nuansa yang berbeda.
Kekuasaan eksekutif bisa dipegang oleh raja, presiden atau perdana menteri. Kekuasaan yudikatif oleh Mahkamah Agung atau sejenisnya. Kekuasaan legislatif di parlemen bisa terbagi dalam Majelis Tinggi dan Majelis Rendah dengan berbagai variasi.

Di Inggris kita mengenal House of Lord dan House of Commons. Di Amerika Serikat ada Kongres yang terdiri dari House of Representatives (Dewan Perwakilan Rakyat) dan Senat. Sementara di Belanda kita mengenal Eerste Kamer dan Tweede Kamer.

Praktik Trias Politika di Indonesia cukup unik. Sementara untuk eksekutif kita hanya mengenal presiden, berbeda dengan legislatif dan yudikatif. Di legislatif kita mempunyai Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Sedangkan untuk yudikatif kita mempunyai Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Pada lembaga itulah dengan yudikatif sebagai pengecualian para politisi banyak yang berminat bermain disana.

Terlepas dari drama Pilpres, calon legislatif juga tak jarang menggelontorkan banyak anggaran untuk modal kampanye agar dapat merasakan kursi di parlemen, mulai dari hutang dengan jaminan sertifikat tanah, atau pinjam sanak saudara untuk keperluan mencetak alat peraga kampanye.

Persaingan
pun sangatlah ketat, bahkan terkadang ada partai yang sama sekali tidak berhasil meloloskan kadernya untuk mendapatkan kursi di DPR. Kegagalan ini ternyata berdampak pada psikis sang caleg yang merasa bahwa uangnya telah habis. Alhasil mereka pun akhirnya mendapatkan perawatan kejiwaan secara serius karena merasa shock atas kegagalannya.

Bagi yang berhasil duduk di kursi DPR, tentu saja selain menampung dan menyampaikan aspirasi rakyat, sebagian dari mereka juga telah menjalin kontrak politik dengan beberapa golongan yang telah memberikan dukungan kepadanya.
Dengan berbagai proyek yang ada, maka permainan para anggota DPR akan dimulai agar pundi – pundi rupiah yang telah menjadi modal kampanye dapat kembali masuk ke dalam kantongnya. Lantas jika mereka telah terlibat korupsi dan tertangkap KPK, mereka akan tetap tenang melambaikan tangan kepada awak media meski jas orange telah dipakainya.
Jika sudah seperti itu, siapa yang menjadi korban? Tentu rakyat yang memilihnya, karena merasa calon yang dipilih tidak menjalankan amanah dengan baik.

Selain itu isu tentang perpecahan juga masih saja muncul meski Prabowo dan Jokowi telah bertemu, dan berpelukan. Namun perpecahan tersebut ternyata ada dalam kubu Prabowo sendiri, dimana sebagian pendukungnya telah legowo menerima kekalahan, sementara beberapa pendukungnya yang lain menganggap bahwa Prabowo adalah pengkhianat, hal ini tentu hanya akan memperunyam stabilitas politik di Indonesia.

Padahal Pemilu sudah selesai beberapa bulan yang lalu, KPU dan MK sama – sama memutuskan kemenangan untuk Jokowi. Prabowo juga telah menyatakan siap untuk turut berperan dalam membangun Indonesia dengan menjadi oposisi. Karena bagaimanapun juga oposisi tetap dibutuhkan demi keseimbangan politis.

Dalam konteks perpolitikan, politik keseimbangan dimainkan dengan membagi pos – pos di lembaga – lembaga tersebut diantara mereka. Politik praktis berorientasi pada kekuasaan memang dianggap lumrah, tetapi hendaknya keseimbangan yang tercipta di sana tidak membuat rakyat terguncang karena nasibnya tertendang.

Satgas Terpadu Gempa NTT Pastikan Setiap Pengungsi Mendapat Perlindungan

August 19, 2026

Pemerintah Perkuat Satgas Terpadu Percepat Penanganan Gempa NTT

August 19, 2026

Satgas Terpadu Gempa NTT Pastikan Setiap Pengungsi Mendapat Perlindungan

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Satgas Terpadu Gempa NTT Pastikan Setiap Pengungsi Mendapat Perlindungan  Oleh: Samhaji Syukur Musibah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Kepulauan Flores, Nusa Tenggara Timur, menjadi ujian ketangguhan nasional sekaligus momentum pembuktian nyata atas keberhadiran negara dalam mengayomi seluruh lapisan masyarakat terdampak. Didasari kesadaran mendalam akan besarnya skala dampak sosial dan kerusakan fisik di lapangan, langkah proaktif pemerintah pusat bersama jajaran pemerintah daerah dalam memetakan serta merespons situasi krisis secara terstruktur layak mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya. Kehadiran negara bukan sekadar simbol penanganan krisis formalitas, melainkan wujud pelaksanaan mandat konstitusional untuk melindungi keselamatan setiap jiwa warga negara. Pembentukan Satuan Tugas Terpadu Penanganan Pascabencana Gempa NTT yang diinisiasi oleh pemerintah pusat menjadi konsolidasi instrumen kekuasaan publik yang krusial agar tidak ada satu pun warga terdampak yang terabaikan dalam fase tanggap darurat ini. Keputusan taktis yang diambil oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno dalam merespons cepat dinamika pascagempa mencerminkan tata kelola krisis yang terukur, inklusif, dan berorientasi pada keselamatan publik. Pembentukan satuan tugas khusus pascagempa dipusatkan untuk menjangkau titik-titik pengungsian mandiri yang tersebar di wilayah perbukitan maupun pemukiman terpencil. Menko PMK Pratikno menjelaskan bahwa percepatan pendataan pengungsi mandiri merupakan fondasi utama agar pemenuhan kebutuhan logistik, obat-obatan, dan sarana tempat tinggal sementara dapat terdistribusi secara konsisten dan adil. Konsolidasi lintas sektor yang menyatukan peran pemerintah daerah, jajaran TNI, Polri, BPBD, hingga tingkatan kecamatan dan desa membuktikan bahwa sekat-sekat administratif tidak boleh membatasi penyaluran bantuan kemanusiaan pada saat-saat paling kritis. Langkah penanganan yang sigap di tingkat pusat menemukan titik tumpu yang kuat melalui kesiapan instansi teknis penanggulangan bencana di daerah. Kepala BPBD Nusa Tenggara Timur Mahadin Sibarani mengonfirmasi bahwa rincian dampak fisik, termasuk kerugian pada ribuan unit rumah warga serta ratusan fasilitas umum dan infrastruktur sosial, terus diverifikasi dalam basis data yang terintegrasi. Pendataan komprehensif ini menjadi landasan strategis bagi pembentukan satgas daerah untuk memperkuat komando lokal. Dengan komando operasional yang solid di tingkat tapak, berbagai tantangan teknis dalam menjangkau posko penampungan yang sulit diakses dapat diselesaikan secara efektif melalui kolaborasi intensif bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Kementerian Sosial, dan Kementerian Kesehatan. Penguatan kelembagaan penanganan krisis ini juga selaras dengan komitmen pengawasan ketat yang dijalankan oleh pimpinan legislatif. Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati menekankan bahwa peninjauan langsung di lapangan serta sinergi lintas lembaga merupakan kunci utama untuk memastikan efisiensi penyaluran pasokan logistik, fasilitas kesehatan, dan hunian sementara bagi warga terdampak. Pengawasan melekat dari parlemen memastikan bahwa setiap kebijakan tanggap darurat yang digulirkan eksekutif berjalan secara transparan, akuntabel, dan berfokus penuh pada pemulihan fisik maupun trauma psikologis masyarakat. Kehadiran pimpinan DPR bersama pejabat kementerian di titik bencana menegaskan jaminan bahwa seluruh fungsi pemerintahan bekerja sinergis demi mengembalikan rasa aman publik. Dukungan taktis legislatif semakin konkret dengan adanya kesiapan akselerasi prosedur penganggaran bencana di tingkat parlemen. Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Haryadi menegaskan kesiapan DPR untuk mempercepat proses persetujuan alokasi maupun alih fungsi anggaran pemerintah apabila kebutuhan penanganan bencana di lapangan meningkat. Fleksibilitas serta kemudahan prosedur persetujuan anggaran di DPR menjamin bahwa seluruh tahapan tanggap darurat hingga rehabilitasi tidak akan terkendala oleh hambatan administratif. Komitmen ini menunjukkan betapa harmonisnya relasi kerja antara pemerintah dan DPR dalam mengutamakan keselamatan rakyat di atas segala kerumitan birokrasi anggaran. Pengawasan taktis terhadap efektivitas penanganan bencana di kawasan terdampak juga dikawal oleh pimpinan dewan lainnya melalui peninjauan lapangan yang mendalam. Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal menegaskan pentingnya laporan kondisi riil dan langkah taktis yang diambil selama masa tanggap darurat untuk menjamin kepastian pelayanan pengungsi di berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Manggarai dan daerah sekitarnya. Cucun menyampaikan bahwa masukan konkret dari pemerintah daerah serta instansi terkait akan menjadi acuan utama dalam menetapkan kebijakan pemulihan jangka pendek dan menengah. Pendekatan ini memastikan bahwa penanganan dampak gempa bumi dilakukan secara merata tanpa mengesampingkan kabupaten yang membutuhkan intervensi khusus.…

Pemerintah Perkuat Satgas Terpadu Percepat Penanganan Gempa NTT

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Pemerintah Perkuat Satgas Terpadu Percepat Penanganan Gempa NTT Jakarta – Pemerintah memperkuat pembentukan satuan tugas…

Satgas Gempa NTT Dikawal hingga Fase Darurat Beralih ke Rehabilitasi

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Satgas Gempa NTT Dikawal hingga Fase Darurat Beralih ke Rehabilitasi Jakarta – Penanganan korban gempa…

Kebijakan Transformatif Tunjukkan Negara Bergerak Cepat Membenahi Masalah

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Kebijakan Transformatif Tunjukkan Negara Bergerak Cepat Membenahi Masalah  Oleh: Agus Sasongko Sudah saatnya publik menilai perjalanan pembangunan bukan hanya dari janji, tetapi juga dari arah kebijakan dan hasil yang mulai terlihat di tengah kehidupan masyarakat. Dalam 21 bulan pemerintahan, berbagai langkah yang diambil menunjukkan adanya upaya mempercepat penyelesaian persoalan yang selama ini dianggap rumit dan membutuhkan waktu panjang. Di tengah tantangan pada sektor pangan, energi, pendidikan, kesehatan, hingga pelayanan publik, rangkaian kebijakan transformatif menjadi sinyal bahwa negara sedang bergerak lebih cepat membenahi masalah sekaligus membangun fondasi yang lebih kuat bagi masa depan Indonesia. Gambaran tersebut mengemuka dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung Nusantara, Jakarta. Pada kesempatan itu, Prabowo Subianto menyampaikan bahwa pemerintah telah memutuskan sekaligus menjalankan 121 kebijakan transformatif selama 663 hari pemerintahan. Artinya, rata-rata satu kebijakan lahir setiap lima hari sebagai bagian dari upaya menyelesaikan persoalan negara yang sebagian telah berlangsung selama puluhan tahun dan membutuhkan keberanian dalam pengambilan keputusan. Menurut Prabowo Subianto, pencapaian tersebut lahir dari kombinasi keberanian mengambil keputusan, kerja keras, arah kebijakan yang jelas, serta semangat gotong royong seluruh unsur bangsa. Pemerintah juga tidak mengklaim seluruh persoalan telah selesai, tetapi menilai berbagai tantangan nasional mulai memasuki tahap penyelesaian yang lebih nyata. Cara pandang tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan diposisikan sebagai proses berkelanjutan yang menuntut konsistensi, bukan sekadar mengejar pencapaian jangka pendek yang mudah dilupakan. Salah satu indikator keberhasilan yang paling menonjol selama setahun terakhir terlihat pada sektor pangan. Indonesia berhasil mencapai swasembada delapan komoditas utama lebih cepat dibanding target awal yang diperkirakan membutuhkan empat hingga lima tahun. Beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit menjadi komoditas yang berhasil diperkuat melalui kombinasi kebijakan produksi, distribusi, serta dukungan kepada petani. Pencapaian ini memperlihatkan bahwa percepatan kebijakan dapat menghasilkan dampak nyata ketika hambatan birokrasi dan distribusi mulai disederhanakan. Keberhasilan tersebut diperkuat oleh langkah pemerintah menghapus 145 aturan penyaluran pupuk yang selama ini dinilai menghambat akses petani. Selain itu, harga pupuk berhasil diturunkan hingga 20 persen sehingga biaya produksi menjadi lebih ringan. Kebijakan tersebut tidak hanya membantu meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga berdampak terhadap kinerja PT Pupuk Indonesia yang mencatat peningkatan keuntungan sebesar 252,8 persen. Situasi ini memperlihatkan bahwa kebijakan yang tepat dapat menghadirkan manfaat ganda, yakni memperkuat kesejahteraan petani sekaligus meningkatkan kinerja badan usaha milik negara. Pada sektor energi, pemerintah juga menunjukkan langkah strategis melalui implementasi diesel berbasis campuran biodiesel B50. Sejak 1 Juli 2026, Indonesia tidak lagi mengimpor solar dari luar negeri sehingga mampu menghemat devisa sekitar Rp170 triliun atau setara USD9,5 miliar. Langkah tersebut menjadi salah satu pencapaian penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri. Keberhasilan itu menunjukkan bahwa hilirisasi sumber daya dan pemanfaatan energi domestik mulai memberikan hasil yang konkret bagi perekonomian nasional.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.