• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»PP TUNAS: Resiliensi Media Dimulai dari Kepatuhan Platform Digital

PP TUNAS: Resiliensi Media Dimulai dari Kepatuhan Platform Digital

  • Kata Indonesia
  • - Thursday, 2 July 2026

PP TUNAS: Resiliensi Media Dimulai dari Kepatuhan Platform Digital

Oleh : Garvin Reviano

Transformasi digital telah mengubah cara pandang masyarakat Indonesia mengakses informasi. Kehadiran berbagai platform digital memungkinkan arus informasi bergerak lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Namun, di balik kemudahan tersebut muncul tantangan baru berupa penyebaran hoaks, disinformasi, konten berbahaya, hingga menurunnya kualitas ekosistem media yang selama ini menjadi pilar demokrasi. Perkembangan demokrasi yang relevan dengan perubahan jaman menjadi harapan yang paripurna, namun kecepatan arus informasi yang tidak diimbangi dengan beleid dapat menjadi preseden buruk bagi kemajuan bangsa. Dalam konteks tersebut, lahirnya Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak di Ruang Digital atau PP TUNAS menjadi langkah strategis pemerintah dalam memperkuat tata kelola ruang digital yang sehat.

 

Resiliensi media pada dasarnya adalah kemampuan ekosistem informasi untuk tetap menghasilkan konten yang akurat, bertanggung jawab, dan terpercaya di tengah derasnya arus informasi digital. Media yang resilien tidak hanya bergantung pada profesionalisme insan pers, tetapi juga membutuhkan dukungan dari platform digital sebagai pintu utama distribusi informasi. Selama ini, algoritma platform sering kali lebih mengutamakan keterlibatan pengguna dibandingkan kualitas informasi. Akibatnya, konten sensasional, provokatif, atau bahkan menyesatkan dapat menyebar lebih cepat daripada informasi yang telah melalui proses verifikasi jurnalistik. Karena itu, kepatuhan platform digital terhadap aturan nasional menjadi elemen penting dalam menciptakan ruang digital yang lebih sehat dan adil.

 

PP TUNAS hadir dengan semangat membangun tanggung jawab bersama antara pemerintah, penyelenggara sistem elektronik, pelaku industri digital, serta masyarakat. Regulasi ini mendorong setiap platform untuk menerapkan mekanisme perlindungan yang lebih kuat terhadap pengguna, khususnya anak-anak, sekaligus meningkatkan akuntabilitas dalam mengelola konten. Dengan adanya standar yang jelas, platform digital didorong untuk memperkuat moderasi konten, meningkatkan transparansi algoritma, serta memastikan bahwa teknologi yang mereka gunakan tidak menjadi sarana penyebaran informasi yang merugikan masyarakat.

 

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa PP TUNAS merupakan tonggak penting dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman, sehat, dan bertanggung jawab. Menurutnya, negara memiliki kewajiban memastikan bahwa perkembangan teknologi berjalan seiring dengan perlindungan terhadap masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak. Ia menekankan bahwa platform digital tidak dapat lagi hanya berperan sebagai penyedia layanan teknologi, melainkan juga harus bertanggung jawab atas tata kelola ruang digital yang mereka kelola. Kepatuhan terhadap regulasi, menurutnya, bukanlah hambatan bagi inovasi, melainkan fondasi untuk menciptakan ekosistem digital yang berkelanjutan, terpercaya, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

 

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa regulasi yang adaptif justru menjadi faktor yang memperkuat daya saing industri digital. Dalam banyak negara maju, kepastian hukum telah menjadi syarat utama bagi berkembangnya investasi teknologi. Platform digital yang patuh terhadap regulasi akan memperoleh kepercayaan publik yang lebih tinggi, sementara masyarakat memperoleh jaminan bahwa hak-haknya sebagai pengguna terlindungi. Kepercayaan publik inilah yang menjadi modal utama dalam membangun resiliensi media di era digital.

 

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menyampaikan bahwa perlindungan masyarakat di ruang digital memerlukan kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan platform digital, lembaga pendidikan, keluarga, media massa, hingga komunitas masyarakat. Ia menilai bahwa PP TUNAS merupakan bentuk komitmen negara dalam memastikan ruang digital menjadi tempat yang aman untuk belajar, berinteraksi, dan berkreasi. Karena itu, seluruh penyelenggara platform digital diharapkan menjalankan kewajibannya secara konsisten agar manfaat transformasi digital benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

 

Kolaborasi tersebut menjadi kunci dalam membangun literasi digital yang semakin kuat. Regulasi tidak akan berjalan optimal tanpa kesadaran seluruh pemangku kepentingan untuk mematuhi aturan yang berlaku. Platform digital memiliki kemampuan teknologi yang sangat besar dalam mendeteksi konten berbahaya, sementara media massa tetap menjadi institusi yang mengedepankan proses verifikasi informasi. Ketika keduanya berjalan selaras, masyarakat akan memperoleh informasi yang lebih berkualitas sekaligus terlindungi dari berbagai risiko penyalahgunaan teknologi.

 

Di sisi lain, keberadaan PP TUNAS juga memberikan kepastian hukum bagi seluruh pelaku industri digital. Regulasi yang jelas akan menciptakan standar operasional yang sama bagi setiap platform, sehingga persaingan berlangsung secara sehat dan berkeadilan. Media massa yang selama ini menjalankan prinsip jurnalistik tidak lagi menghadapi kompetisi yang timpang dengan konten-konten yang mengabaikan etika maupun akurasi. Dengan demikian, kualitas informasi yang beredar di ruang publik dapat terus meningkat seiring berkembangnya inovasi digital.

 

PP TUNAS menunjukkan bahwa resiliensi media tidak hanya dibangun melalui peningkatan kapasitas media itu sendiri, tetapi juga melalui kepatuhan seluruh platform digital terhadap aturan yang berlaku. Melalui sinergi antara pemerintah, platform digital, media massa, dunia pendidikan, dan masyarakat, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun ekosistem digital yang tidak hanya inovatif, tetapi juga berintegritas, sehingga transformasi digital benar-benar menjadi kekuatan bagi kemajuan bangsa.

 

)* Pemerhati Isu Sosial

Kiai Kampung Geram! Seruan Tolak LPJ PBNU Viral di Grup WhatsApp, Singgung Nasib 100 Juta Warga NU

August 21, 2026

Pemerintah Targetkan BUMN Lebih Ramping, Sehat, dan Produktif pada Akhir 2026

August 21, 2026

Kiai Kampung Geram! Seruan Tolak LPJ PBNU Viral di Grup WhatsApp, Singgung Nasib 100 Juta Warga NU

By Kata IndonesiaAugust 21, 20260

Jelang gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang rencananya bertempat di Tambakberas, Jombang, suhu politik di…

Pemerintah Targetkan BUMN Lebih Ramping, Sehat, dan Produktif pada Akhir 2026

By Kata IndonesiaAugust 21, 20260

Pemerintah Targetkan BUMN Lebih Ramping, Sehat, dan Produktif pada Akhir 2026 Jakarta – Pemerintah terus…

GERBANG TOLL PBNU MANDATARIS MUKTAMAR KE-34 LAMPUNG

By Kata IndonesiaAugust 21, 20260

GERBANG TOLL: GERAKAN BARENG TOLAK LPJ PBNU. Saya: HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy. Cicit Sayyid…

Sekolah Rakyat Menjadi Wujud Nyata Asta Cita dalam Membangun Manusia Indonesia

By Kata IndonesiaAugust 21, 20260

Sekolah Rakyat Menjadi Wujud Nyata Asta Cita dalam Membangun Manusia Indonesia  Oleh: Aziz Rahman Program Sekolah Rakyat kian menunjukkan bagaimana agenda Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto diterjemahkan ke dalam kebijakan nyata pembangunan manusia. Pendidikan ditempatkan bukan hanya sebagai sarana memperoleh pengetahuan, tetapi juga sebagai instrumen untuk memperluas kesempatan, memutus rantai kemiskinan, dan memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki ruang yang lebih besar untuk menentukan masa depan. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan pentingnya percepatan pembangunan Sekolah Rakyat karena program tersebut merupakan prioritas pemerintah. Dalam koordinasi lintas kementerian pada Mei 2026, Dody menyebut rata-rata progres fisik pembangunan Sekolah Rakyat Tahap II di 93 lokasi telah mencapai 62,63 persen dan pemerintah menargetkan penyelesaian agar fasilitas dapat segera difungsikan. Ia juga menekankan bahwa dirinya turun langsung ke lapangan bukan hanya untuk memantau, tetapi sekaligus mencari solusi atas persoalan teknis yang muncul. Sikap tersebut memperlihatkan karakter pemerintahan yang ingin memastikan program prioritas tidak berhenti pada perencanaan. Bahkan ketika menemukan pekerjaan yang terlambat, Dody memberikan teguran keras kepada kontraktor pembangunan Sekolah Rakyat di Mamuju pada awal Agustus 2026. Teguran itu penting dibaca sebagai bentuk pengawasan dan keberpihakan pada kepentingan publik: percepatan harus berjalan bersama mutu, keselamatan, dan kepastian manfaat bagi peserta didik. Di sisi lain, pembangunan Sekolah Rakyat DKI Jakarta yang digarap Hutama Karya telah memasuki tahap pemanfaatan pada tahun ajaran 2026/2027, dengan 240 siswa bergabung pada gelombang pertama. Dari Papua, dukungan terhadap program ini memperlihatkan bahwa pemerataan pendidikan tidak boleh berhenti di pusat-pusat pertumbuhan. Bupati Biak Numfor Markus Octovianus Mansnembra sejak awal menyatakan kesiapan daerahnya mendukung Sekolah Rakyat. Pada tahap awal, Pemkab Biak Numfor mengusulkan revitalisasi aset Badan Diklat untuk dua rombongan belajar tingkat SMA dengan kapasitas 50 siswa, sekaligus menyiapkan lahan 10 hektare bagi pengembangan fasilitas jenjang SD dan SMP. Dalam perkembangannya, kapasitas pelaksanaan diperluas menjadi 100 siswa. Perkembangan terbaru semakin memperkuat arti penting dukungan daerah. Pada 1 Agustus 2026, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian melakukan groundbreaking Sekolah Rakyat di Biak Numfor dan mengajak kepala daerah se-Tanah Papua mendukung program tersebut. Dengan demikian, Sekolah Rakyat di Papua bukan hanya proyek pendidikan, tetapi simbol bahwa kebijakan nasional dapat hadir secara nyata hingga wilayah timur Indonesia. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul melengkapi gambaran tersebut dengan menempatkan ketepatan sasaran sebagai prinsip utama. Saat merespons kesiapan Biak Numfor, ia menegaskan bahwa program harus memprioritaskan anak dari keluarga penerima manfaat pada desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional, terutama yang berada di sekitar lokasi sekolah. Pemerintah juga terus membangun koordinasi lintas kementerian agar pengelolaan program, kurikulum, tenaga pendidik, dan mutu pendidikan berjalan selaras. Data nasional menunjukkan skala kebijakan ini terus membesar. Hingga April 2026, Sekolah Rakyat telah menjangkau hampir 15.000 siswa di 166 lokasi yang tersebar di 36 provinsi, dengan dukungan lebih dari 2.500 tenaga pendidik dan kependidikan. Sebelumnya, pada Januari 2026, Presiden Prabowo meresmikan 166 Sekolah Rakyat yang saat itu tersebar di 34 provinsi sekaligus melakukan groundbreaking 104 Sekolah Rakyat permanen. Perluasan cakupan hingga 36 provinsi menunjukkan program terus menjangkau wilayah yang lebih luas. Pada Juni 2026, ketika meninjau Sekolah Rakyat di Tabanan, Presiden kembali menegaskan bahwa program tersebut merupakan bentuk keberpihakan negara kepada masyarakat yang paling membutuhkan.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.