• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Penyederhanaan Birokrasi Wujudkan Profesionalitas ASN

Penyederhanaan Birokrasi Wujudkan Profesionalitas ASN

  • Kata Indonesia
  • - Saturday, 18 January 2020

Oleh: Edi Jatmiko

Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf berkomitmen untuk menyederhanakan birokrasi. Upaya tersebut merupakan bagian dari upaya mewujudkan profesionalitas Aparatur Sipil Negara (ASN).

Dalam rangka menuju prioritas pembangunan demi Indonesia maju, pemerintah tengah bergelut dengan tatanan negara yang baru. Salah satunya ialah, pemangkasan birokrasi. Khususnya di sektor eselonisasi, yang sebelumnya terdapat 4 klasifikasi nantinya disunat menjadi 2 saja. Sementara eselon yang dipangkas akan digantikan oleh jabatan fungsional yang menghargai keahlian dan kompetensi.

Bak gayung bersambut, sebenarnya setelah lahirnya UU No.5/2014 berkaitan dengan ASN sudah tidak dikenal lagi istilah eselonisasi dalam birokrasi di Indonesia. Pasal 13 UU dimaksud menjelaskan, hanya terdapat 3 jenis jabatan dalam ASN yakni Jabatan Administrasi (JA), Jabatan Fungsional (JF), beserta Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT). Ketiga jenis jabatan dalam ASN tersebut memiliki perannya masing-masing di dalam lembaga birokrasi.
Ditengarai JF disini merupakan tulang punggung dalam sebuah organisasi birokrasi di Indonesia karena perannya yang mampu menyokong dan memberikan input segala kebijakan pemerintah yang akan diputuskan oleh JPT.

Pola birokrasi di Indonesia saat ini cenderung bersifat hierarkis, kaku, dan lambat saat merespons perubahan zaman dikarenakan masih menggunakan model birokrasi Weberian yang diakui sebagai hasil warisan masa lampau oleh pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. Yakni, dengan karakteristik sangat struktural dan sentralistik.
Meskipun sisi positif dari model Weberian ini adalah semua pekerjaan terbagi secara jelas dan merata, namun di era disrupsi dunia saat ini yang dikenal dengan istilah VUCA (Volatibility, Uncertaintay, Complexibility and Ambiguity) yang berarti segala sesuatu harus bergerak cepat dalam upaya merespons berbagai perubahan, organisasi sektor publik pun tidak boleh kaku dan berjalan laksana mesin.
Hal ini tentunya juga berpengaruh pada sektor investasi, yang tentunya masih mendominasi Indonesia. Kelambatan respon pemerintah inilah yang ditengarai membuat para investor enggan mendekat. Maka dari itu, diperlukan terobosan agar jajaran organisasi birokrasi dapat bertransformasi menjadi lembaga yang lincah, efektif dan efisien.

Untuk dapat mengoptimalkan peran JF dalam birokrasi seperti arahan Presiden dan amanat UU 5/2014, maka membutuhkan alternatif untuk menggantikan model organisasi birokrasi ala Weber dengan model organisasi lain yang lebih adaptif dan bersifat responsif. Secara teoritis, banyak pola organisasi yang dapat diterapkan dalam sebuah birokrasi, namun terdapat dua model organisasi praktis terbaru yang dapat diterapkan guna memangkas layer birokrasi dan mengoptimalkan peran JF agar lebih berperan secara profesional sesuai kompetensi dan keahliannya.
Menurut Brian J Robertson pada tahun 2009 dan agile organization menerapkan pola Holakrasi yang merupakan hasil riset dari McKinsey tahun 2018. Secara singkat sistem holakrasi ini mengintegrasikan tren kepemimpinan modern serta dapat digambarkan dengan baik oleh struktur organisasi yang terus berubah. Yakni, tim kecil yang diorganisir ke dalam sebuah jaringan dan dipimpin melalui pengambilan keputusan bersama dan tingkat otonomi yang sangat tinggi.

Sementara untuk model kedua, agile organization yang dirilis oleh McKinsey, digambarkan layaknya organisasi yang lincah. Organisasi ini memiliki sifat yang stabil namun dinamis pada saat yang berbarengan. Dalam organisasi tersebut diatur sebuah elemen tulang punggung yang bersifat stabil, dan berevolusi secara perlahan dan mampu mendukung kemampuan dinamis dan dapat beradaptasi dengan cepat atas tantangan serta adanya peluang baru.
McKinsey turut menganalogikan dengan telepon pintar (smartphone), di mana perangkat fisik bertindak sebagai wadah yang konstan untuk berbagai aplikasi dinamis, dan dapat menyajikan berbagai fitur dan bisa digunakan oleh para penggunanya. Kedua model organisasi tersebut sebetulnya memiliki kesamaan, yakni sama-sama bekerja secara teamwork dengan mengedepankan kompetensi dan keahlian di masing-masing kelompok fungsionalnya. Tepatnya sesuai tematik dan bersifat dinamis ketika merespons perubahan beserta tantangan yang ada.

Harapannya, semoga organisasi birokrasi di Indonesia mampu meniru pola-pola organisasi yang lebih lincah, dinamis, dan besifat fleksibel sehingga menjadi sebuah birokrasi yang responsif. Terlebih, mampu menjadi katalisator pembangunan nasional. Tak hanya menyederhanakan birokrasi yang terkesan “padat” dan tak berfungsi secara maksimal, namun juga menciptakan lapangan kerja baru dan mengedepankan SDM berdaya saing yang lebih unggul. Agar, Indonesia mampu mengejar ketertinggalan dari negara-negara lainnya. Mari dukung pemangkasan birokrasi demi terwujudnya Indonesia lebih maju.

Pemerintah Perkuat Balai Vokasi demi Cetak Pekerja Hijau Nasional

September 21, 2026

Langkah Pemerintah Pulihkan Korban Pelanggaran HAM Mendapat Apresiasi

September 21, 2026

Pemerintah Perkuat Balai Vokasi demi Cetak Pekerja Hijau Nasional

By Kata IndonesiaSeptember 21, 20260

Pemerintah Perkuat Balai Vokasi demi Cetak Pekerja Hijau Nasional Jakarta, – Pemerintah terus memperkuat kualitas…

Langkah Pemerintah Pulihkan Korban Pelanggaran HAM Mendapat Apresiasi

By Kata IndonesiaSeptember 21, 20260

Langkah Pemerintah Pulihkan Korban Pelanggaran HAM Mendapat Apresiasi Oleh: Fauzan Ali Upaya pemerintah dalam menyelesaikan persoalan hak asasi manusia (HAM) terus berjalan dengan menempatkan pemulihan korban sebagai bagian penting dari proses penanganan. Langkah pemerintah mencakup penanganan kekerasan yang masih terjadi hingga membuka kembali proses penyelidikan terhadap dugaan pelanggaran HAM berat pada masa lalu. Pemulihan korban menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penyelesaian kasus HAM. Proses penanganan tidak cukup berhenti pada pengungkapan peristiwa atau penegakan hukum terhadap pelaku, tetapi juga perlu memastikan hak dan kebutuhan korban mendapatkan perhatian. Komitmen pemerintah dalam memberikan perlindungan dan pemulihan korban mendapat apresiasi karena menunjukkan adanya upaya untuk melihat penyelesaian kasus HAM secara lebih menyeluruh. Penanganan tidak hanya diarahkan pada aspek hukum, tetapi juga mempertimbangkan dampak yang dirasakan korban dan masyarakat yang terdampak. Komitmen pemerintah terlihat dari respons terhadap kekerasan yang terjadi di Papua Pegunungan. Kementerian Hak Asasi Manusia (KemenHAM) mengecam penembakan tiga warga sipil ASN Dinas Pertanian di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya. Staf Khusus Menteri HAM, Thomas Harming Suwarta, menegaskan bahwa kekerasan terhadap warga sipil yang tengah menjalankan aktivitas untuk mencari penghidupan tidak dapat dibenarkan. KemenHAM meminta kasus tersebut diusut secara tuntas dan pelaku diproses secara tegas berdasarkan hukum yang berlaku. Thomas juga menekankan pentingnya memastikan masyarakat sipil tetap mendapatkan perlindungan. KemenHAM mengimbau seluruh pihak menahan diri agar penanganan persoalan di Papua tidak menimbulkan korban baru. Perlindungan terhadap warga sipil menjadi semakin penting ketika persoalan HAM beririsan dengan konflik dan kekerasan. Pemerintah telah menunjukkan komitmennya dengan memastikan setiap tindakan penanganan tetap berada dalam koridor hukum sekaligus menghormati hak dasar masyarakat.…

Pidato Kyai Gontor: Cermin Kejujuran di Hadapan Kekuasaan

By Kata IndonesiaSeptember 21, 20260

Oleh : KH Anis Maftukhin Viral. Zaman sekarang menyebutnya begitu. Dulu, istilahnya nggregeti—bikin gelisah. Bikin…

Langkah Pemerintah Pulihkan Korban Pelanggaran HAM Mendapat Apresiasi

By Kata IndonesiaSeptember 21, 20260

Langkah Pemerintah Pulihkan Korban Pelanggaran HAM Mendapat Apresiasi   Oleh: Fauzan Ali Upaya pemerintah dalam menyelesaikan persoalan hak asasi manusia (HAM) terus berjalan dengan menempatkan pemulihan korban sebagai bagian penting dari proses penanganan. Langkah pemerintah mencakup penanganan kekerasan yang masih terjadi hingga membuka kembali proses penyelidikan terhadap dugaan pelanggaran HAM berat pada masa lalu. Pemulihan korban menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penyelesaian kasus HAM. Proses penanganan tidak cukup berhenti pada pengungkapan peristiwa atau penegakan hukum terhadap pelaku, tetapi juga perlu memastikan hak dan kebutuhan korban mendapatkan perhatian. Komitmen pemerintah dalam memberikan perlindungan dan pemulihan korban mendapat apresiasi karena menunjukkan adanya upaya untuk melihat penyelesaian kasus HAM secara lebih menyeluruh. Penanganan tidak hanya diarahkan pada aspek hukum, tetapi juga mempertimbangkan dampak yang dirasakan korban dan masyarakat yang terdampak. Komitmen pemerintah terlihat dari respons terhadap kekerasan yang terjadi di Papua Pegunungan. Kementerian Hak Asasi Manusia (KemenHAM) mengecam penembakan tiga warga sipil ASN Dinas Pertanian di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya. Staf Khusus Menteri HAM, Thomas Harming Suwarta, menegaskan bahwa kekerasan terhadap warga sipil yang tengah menjalankan aktivitas untuk mencari penghidupan tidak dapat dibenarkan. KemenHAM meminta kasus tersebut diusut secara tuntas dan pelaku diproses secara tegas berdasarkan hukum yang berlaku. Thomas juga menekankan pentingnya memastikan masyarakat sipil tetap mendapatkan perlindungan. KemenHAM mengimbau seluruh pihak menahan diri agar penanganan persoalan di Papua tidak menimbulkan korban baru. Perlindungan terhadap warga sipil menjadi semakin penting ketika persoalan HAM beririsan dengan konflik dan kekerasan. Pemerintah telah menunjukkan komitmennya dengan memastikan setiap tindakan penanganan tetap berada dalam koridor hukum sekaligus menghormati hak dasar masyarakat.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.