JAKARTA – Pengamat Pemilu dari Rumah Demokrasi Ramdansyah mengatakan debat capres cawapres akan menentukan pilihan dari undecided voters pemilih yang belum menentukan pilihan) dan juga swing voters. Jumlah mereka kata mantan Ketua Panwaslu DKI Jakarta tersebut sangat banyak yang diungkapnya di acara Dialog Interaktif Radio Elshinta, Rabu malam (6/12/2023).
Karena itu, debat tersebut jelas Ramdansyah menjadi sangat krusial untuk mendongkrak elektabilitas capres cawapres.
“Undecided voters akan tunggu debat seperti ini. Mereka baru akan memilih nantinya, tetapi wait and see. Sikap mereka juga tidak pernah disampaikan oleh para enumerator lembaga survei di lapangan. itu jumlahnya sangat tinggi bahkan di atas 30 persen di sejumlah lembaga survei,” ujarnya.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI telah memutuskan untuk menggelar tiga kali debat calon presiden (capres) dan dua kali debat calon wakil presiden (cawapres).
Adapun debat pertama dijadwalkan pada 12 Desember 2023. Itu adalah debat capres yang mengangkat isu pemerintahan, hukum, hak asasi manusia (HAM), pemberantasan korupsi, penguatan demokrasi, peningkatan layanan publik, dan kerukunan warga.
“Format debat, capres cawapres, jadwal pertama pada 12 Desember 2023. Pengumuman oleh Ketua KPU RI Hasyim Asyari semalam menurut saya menjawab keraguan publik bahwa tidak ada debat kandidat. Seolah ada asumsi salah satu kandidat tidak punya kapasitas dalam debat,” jelas Ramdansyah yang mantan Ketua Panwaslu Provinsi DKI tahun 2008-2012.
“Orang melihatnya ada unsur inkapasitas, tidak punya kemampuan. Tapi menurut saya tidak, tapi lebih kepada rekayasa. Tim sukses calon presiden dan wakil presiden punya strategi pemasaran politik sendiri. Capres dan Cawapres akan mengikuti arahan dari tim pemasaran. Contohnya begini dalam marketing politik seorang calon harus memiliki pembeda. harus membedakan dirinya dengan yang lain,” imbuhnya.
Ramdansyah menambahkan bahwa Capres Ganjar dan Anies sudah punya track record sebagai gubernur. Keduanya bisa melakukan strategi ‘kampanye menyerang’.
“Dalam teori kampanye politik dia menunjukkan hal-hal positif yang sudah dilakukan. Kemudian menyerang pasangan lain atau mendebatkan. Tetapi pada Gibran misalnya dia tidak mungkin melakukan itu. Dia akan kesulitan kalau mengklaim atau membuktikan bukti bukti keberhasilan sebagai Walikota Solo. Karena dua tahun di Solo itukan masih belum pengalaman. Tapi ini kan bagian dari strategi debat dalam bentuk strategi bertahan atau defence strategy. Karena strategi debat ini yang digunakan oleh Gibran, maka ia menjadi pembeda dengan yang lainnya. Itu yang bisa dilakukan Gibran dan berhasil menurut saya,” beber Ramdansyah.
“Bicara debat maka kita harus melihat timeline. Ada tiga yakni pra debat, saat debat dan pasca debat. Ketika pra debat pak Anies dan Ganjar dianggap sebagai punya potensi dan kapasitas, lalu Gibran tidak diperhitungkan. Tetapi ketika saat debat berlangsung, pak Anies dianggap tidak sesuai ekspektasi publik, maka undecided voter tidak akan memilih mereka. Gibran yang misalkan tidak diperhitungkan pra debat, tetapi saat debat dia berbeda dan melebihi ekspektasi publik justru undecided voters akan bergeser akan memilih Gibran,” Ramdansyah memberikan argumen penjelasan.
Hal tersebut jelas Ramdansyah adalah strategi dari tim marketing pasangan calonnya tersebut untuk kemudian menggiring pemilih baru.
“Jadi menurut saya terkait debat yang mau ditampilkan itu adalah dua hal. Pertama, soal karakter. Kedua, soal wacana dan juga struktur orang bicara,” ujarnya.
Kalau struktur bicara atau wacana debat kandidat tentang HAM, transportasi segala macam itu menurut Ramdansyah sangat mudah. Karena ada tim belakang layar yang akan mempersiapkan itu.
“Tetapi soal karakter adalah hal yang berbeda. Undecide voter bisa saja empati terhadap orang yang dizolimi. Misalkan sebagai anak muda yang memiliki karakter santun atau gemoy gemesin. Itukan bagian dari debat yang melekat, tidak bisa kemudian debat itu hanya bicara tentang konten. Tidak hanya bicara tentang kapasitas calon dalam membangun retorika,” jelas Ramdansyah.
“Retorika itu ada tiga menurut saya. Retorika retrospektif, deliberatif dan terakhir demonstratif. Karena retorika itu sendiri menurut saya itu bisa dimodifikasi. Retorika retrospektif biasanya pengadilan yang melakukan ini. Dilakukan untuk melihat kebelakang untuk membuat pembenaran untuk membuktikan seseorang benar atau salah,” imbuhnya.
Tetapi ketika bicara debat politik, punya program HAM, transportasi, maka prospektifnya dampak dari program yang akan dijalani seperti ini. “Di sini kita bicara retoria deliberatif atau wacana diskursus. Calon harus memiliki program yang jelas terkait isu kampanyenya dan secara deliberatif mempertanggungjawabkannya ke depan seperti apa kalau dia menjabat,” jelas Ramdansyah.
Menurutnya, saat ini masuk pra debat kemudian pada saat on going proses dan pasca, kita harus melihat bahwa kekuatan tiga pasangan calon ini, tidak semata-mata pada saat debat.
“Tetapi pasca debat, media maupun buzzer akan bermain. Dan media memiliki kekuatan jaringan un untuk memframing setiap isu. Pada saat debat pasangan Capres dan Cawapres bermain play victim dizolimi pada saat debat, tapi pasca debat akan digoreng untuk menarik popularitasnya menjadi elektabilitas,” beber Ramdansyah yang juga pengamat Pemilu dari Rumah Demokrasi.
“Jadi apa yang dilakukan Gibran di Pemilu 2024 dengan menggunakan defense strategy, tidak diperhitungkan pada saat pra debat, maka serendah apapun kemampuannya pada debat, tetapi memenuhi ekspektasi sebagian besar masyarakat yang ada di kelas menengah bawah, maka ia berpotensi mendapatkan kenaikan elektabilitas. Coba ini kita bandingkan dengan Presiden Jokowi di Pemilu 2014 dan 2019 yang dianggap tidak diperhitungkan. Ia sekedar petugas partai, tetapi di Pemilu 2024 Jokowi dengan segenap kemampuan yang dimiliki melampaui ekspektasi publik menjadi pemain kunci dalam Pemilu 2024 terlepas soal pro dan kontra yang terjadi,” pungkas Ramdansyah menutup dialog di Radio Elshinta.