Langkah kaki Datuk Dr. Bungsu Aziz bin Haji Jaafar terhenti sejenak saat memasuki pelataran Pondok Pesantren Wali, Desa Candirejo, Selasa, 6 Mei 2026. Bukan kemegahan arsitektur yang menyambutnya, melainkan sebuah kejujuran ruang. Sang Mufti Negeri Sabah, Malaysia, itu datang dengan sebuah misi besar: mencari formula bagaimana sebuah lembaga pendidikan Islam bisa tegak berdiri di atas kaki sendiri.
Diplomasi tingkat tinggi ini tidak digelar di balik meja mahoni yang kaku. Datuk Bungsu diterima di Bangsal Literasi, sebuah rumah limasan Jawa kuno yang bersahaja, berdempetan dengan rumah pengasuh pondok. Di sana, di atas hamparan ubin kuno yang telah berumur puluhan tahun, sang Mufti duduk lesehan bersama rombongan. Suasana egaliter segera menyeruak; tidak ada jarak antara ulama besar dari negeri jiran itu dengan para santri yang menyambutnya.
Keakraban kian kental saat sajian polo pendhem—kacang rebus, pisang godhog, ubi talas, dan singkong yang mengepulkan uap tipis—disuguhkan langsung di atas ubin, tepat di tengah lingkaran dialog. Aroma kopi tubruk khas Salatiga menyeruak, menemani sang Mufti yang mulai membedah anatomi kemandirian pesantren ini.
Dari Sabah ke Jantung Jawa
Kunjungan ini merupakan babak baru dari kerjasama internasional pasca penandatanganan Memorandum Persefahaman (MoU) antara Pejabat Mufti Negeri Sabah dengan UIN Salatiga pada Mei 2026. Sang Mufti tidak sendirian; ia didampingi Rektor UIN Salatiga Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag., Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr. H. Muh. Saerozi, M.Ag., serta para asatidz Ma’had Tahfidz Al-Qur’an Ibnu Al-Jazari (MTIJ) Sabah.
“Kami berkunjung ke sini untuk belajar bagaimana pesantren bisa mandiri. Karena di Malaysia pesantren itu dapat support full dari pemerintah,” ungkap Datuk Bungsu dengan nada takzim. Ia tampak menyimak dengan saksama saat Gus Anis Maftuhin, pengasuh Ponpes Wali, memaparkan akar gerakan pesantrennya yang lahir dari akronim Wakaf Literasi Islam Indonesia.
*Ngaji Kehidupan di Atas Ubin Kuno*
Sembari mencicipi hidangan dari lantai, sang Mufti menyaksikan bagaimana santri-santri Wali menjadi motor penggerak ekonomi. Dari Biro Umroh Wali Wisata, New Born Photography, hingga peternakan kambing dan lele. Bagi Gus Anis, ini adalah metode Learning Based on Project.
“Waktu mereka mengaji tidak terganggu, karena apa yang mereka rasakan, yang mereka lihat, dan mereka lakukan itu adalah bagian dari pendidikan, atau ngaji kehidupan,” tutur Gus Anis.
Sistem open management yang dijalankan di sini melibatkan tokoh-tokoh berpengaruh seperti Nafis Munandar (Penasihat Yayasan dan Anggota DPRD Kab. Semarang) serta Faisal Reza Fahmi (Pengawas Yayasan dan pengusaha asal Solo). Keduanya bertindak sebagai mentor bagi para santri yang mengelola bisnis dengan konsep bagi hasil—70 persen untuk tim dan 30 persen untuk pondok.
“Prinsipnya, unit usaha ini adalah inkubasi bisnis, tidak semata-mata mencari profit. Namun, alhamdulillah tetap sangat menguntungkan,” imbuh Gus Anis. Hal ini dibuktikan oleh kemandirian pondok yang kini mampu membiayai kegiatannya sendiri melalui unit-unit produktif tersebut.
Diplomasi yang Membumi
Dialog yang berlangsung asyik selama dua jam itu kian lengkap dengan kehadiran Faisal Khadziq, S.Sos., Ketua Baznas Kabupaten Semarang.
Rombongan Mufti kemudian diajak meninjau “Kandang Mendo Ngremboko”, sebuah proyek binaan pesantren bersama Baznas RI untuk pemberdayaan masyarakat.
Nafis Munandar menjelaskan kepada sang Mufti bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tapi juga pusat solusi bagi ummat melalui program Candirejo Desa Santri. Dengan ekosistem ekonomi yang mapan, pesantren justru mewakafkan diri untuk kemajuan warga melalui layanan KBIHU Wali, Laziswaf, hingga konsultasi hukum waris.
*Bekal Puluh ke Negeri Jiran*
Sebelum berpamitan meninggalkan Bangsal Literasi, Datuk Bungsu mengaku terkesan. Di balik kesederhanaan ubin kuno dan sajian polo pendhem di atas lantai, ia menemukan filosofi besar yang ditanamkan Gus Anis kepada para santrinya:
“Jadilah orang kaya yang bermanfaat untuk Ummat agar hartamu berkah, bukan sekadar untuk membangun istana di atas jembatan menuju akhirat yang pasti runtuh.”
Mufti Sabah itu pulang membawa lebih dari sekadar kenangan kopi tubruk; ia membawa sebuah inspirasi tentang bagaimana pesantren bisa menjadi mercusuar kemandirian bagi bangsa. @mediawali