• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Headline»Mewaspadai Rekrutmen Kelompok Teroris Milenial Melalui Media Sosial

Mewaspadai Rekrutmen Kelompok Teroris Milenial Melalui Media Sosial

  • Kata Indonesia
  • - Thursday, 22 April 2021

Oleh : Raavi Ramadhan

Kelompok teroris mulai merekrut anggota dari remaja milenial. Mereka menggunakan media sosial untuk sarana mencari anak buah baru dan pengkaderan. Sebagai orang tua, kita patut lebih waspada. Jangan sampai anak ABG jadi salah jalan dan hanya ingin melakukan aksi teror dan pengeboman.

Saat ZA, tersangka penembakan Mabes Polri diteliti identitasnya, terkuak fakta bahwa ia masih berusia 25 tahun. Begitu juga dengan pasangan pengantin bom di Makassar. Mereka juga masih berumur 20-an. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok teroris saat ini memilih kader dari anak-anak muda (di bawah 30 tahun) agar mereka menurut dan mau diajak melakukan kekerasan.

Perekrutan anak-anak ABG sebagai anggota teroris tentu mengejutkan. Karena dulu tersangka teroris sudah berusia dewasa atau setengah tua, seperti Amrozi, Imam Samudra, atau Abubakar Baasyir. Namun saat ini anak muda sudah di-hunting oleh kelompok teroris agar mau dijadikan kader dan pasrah jadi pasangan pengantin bom.

Haris Amir Falah, mantan narapidana terorisme menyatakan bahwa generasi muda rentan terkena radikalisme. Mereka berusia di bawah 30 tahun dan itu adalah usia yang krusial, karena bertemu dengan kelompok teroris yang memiliki doktrin untuk menunjukkan kehebatan diri. Mereka juga berjanji akan mewujudkan keinginannya.

Haris yang mantan pemimpin JAT (sebuah kelompok teroris) bahkan mengaku bahwa ia dulu direkrut saat masih sekolah di SMA, karena masih fase mencari jati diri. Saat ini, kelompok teroris malah menggunakan dunia maya untuk mencari anggota baru. Di antaranya memakai media sosial Facebook dan aplikasi chatting Telegram.

Pernyataan Haris tentu mengejutkan, karena kelompok teroris telah memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk perekrutan dan pengkaderan. Dari channel Telegram serta grup Facebook, sengaja didesain agar anak muda mau bergabung demi alasan hijrah.

Padahal modus di baliknya adalah perekrutan anggota teroris yang memiliki jaringan dengan ISIS.
Para anggota teroris di dunia maya memang sengaja mencari anak SMA-kuliah untuk jadi anggota baru, dan diberi doktrin serta janji palsu.

Doktrin yang dibuat untuk meracuni pikiran adalah umat lain salah, menebas musuh itu dihalalkan darahnya, berjihad itu keren, dll. Selain itu, anak-anak muda diperdaya dengan janji bahwa setelah menjadi pengantin bom akan dijamin masuk surga karena telah melaksanakan jihad.

Doktrin seperti ini tentu salah besar, karena menjadi pasangan pengantin bom tentu membuat mereka sendiri kehilangan nyawa. Mereka tak mungkin dimasukkan ke surga, karena mati karena bunuh diri. Bagaimana bisa mereka ingin masuk surga sementara merugikan orang lain dan membuat banyak pihak terancam keselamatannya? Sungguh tega dan gila pembuat doktrin tersebut.

Banyak anak muda yang akhirnya mau-mau saja jadi anggota teroris, karena mereka bertemu dengan dedengkot terorisme di dunia maya. Dalam dunia psikologi, dijelaskan efek mengapa pengaruh suatu doktrin bisa dengan mudah masuk via media sosial. Karena saat manusia membuka FB atau Telegram, otaknya dalam anggota rileks, sehingga relatif mudah dipengaruhi.

Para anak muda dengan mudah dipengaruhi karena para teroris memiliki kemampuan untuk hipnotis dan skill merayunya kelas tinggi. Mereka dicekoki dengan doktrin bahwa berjihad untuk membela umat. Oleh karena itu, boleh melemparkan bom ke orang dengan keyakinan lain, karena termasuk berjihad.

Padahal berjihad tidaklah seperti itu. Ketika perang telah usai, maka jihad bisa dimaknai dengan perang melawan nafsu diri sendiri, dengan lebih sering puasa sunnah dan melakukan ibadah di awal waktu. Bekerja juga dikategorikan jihad karena membela hak keluarga dan melawan kemalasan.

Sebagai orang tua, maka wajib untuk makin waspada dan mengawasi anak-anak remaja dan mahasiswa, agar mereka tidak terperosok jadi anggota teroris. Pastikan mereka tidk pernah berkontak dengan teroris dan sesekali awasi media sosialnya. Karena para petinggi teroris telah merambah dunia maya untuk merekrut para ABG.

Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Rakyat Menjerit Lihat Ini! Penampakan Nyata 74 Kg Emas dan Duit Rp476 Miliar Hasil Sitaan

July 10, 2026

Peresmian BBM B50 Menjadi Tonggak Penguatan Transisi Energi Nasional

July 10, 2026

Rakyat Menjerit Lihat Ini! Penampakan Nyata 74 Kg Emas dan Duit Rp476 Miliar Hasil Sitaan

By Kata IndonesiaJuly 10, 20260

Tim gabungan Kortas Tipikor Polri dan Polda Metro Jaya mengamankan sejumlah barang bukti dari penggeledahan…

Peresmian BBM B50 Menjadi Tonggak Penguatan Transisi Energi Nasional

By Kata IndonesiaJuly 10, 20260

Peresmian BBM B50 Menjadi Tonggak Penguatan Transisi Energi Nasional Oleh: Nurlita Prastiwi Peresmian Program Mandatori…

Presiden Prabowo Dorong Kemandirian Energi melalui Peluncuran Biodiesel B50

By Kata IndonesiaJuly 10, 20260

Presiden Prabowo Dorong Kemandirian Energi melalui Peluncuran Biodiesel B50 Oleh: Aryadi Hutama Peluncuran Program Mandatori…

Presiden Prabowo Resmikan Program B50, Indonesia Perkuat Kemandirian Energi

By Kata IndonesiaJuly 10, 20260

Presiden Prabowo Resmikan Program B50, Indonesia Perkuat Kemandirian Energi Jawa Barat – Pemerintah resmi meluncurkan…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.