• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Mewaspadai Ancaman Terorisme Momentum Perayaan Natal dan Tahun Baru 2020

Mewaspadai Ancaman Terorisme Momentum Perayaan Natal dan Tahun Baru 2020

  • Kata Indonesia
  • - Monday, 23 December 2019

Penulis : Agung Setia Budi, S.I.P, M.Sos

Sejumlah ancaman kerawanan menjelang Hari Natal dan Tahun Baru 2020 yang bersumber ancaman terorisme masih sangat berpotensi terjadi menyasar di tempat keramaian dan rumah ibadah. Indikasi tersebut mencermati dari rekam jejak rangkaian aksi terorisme sepanjang 2019 tercermin peledakan bom di Poltabes Medan dan terkini penusukan mantan Menkopolhukam Wiranto di Banten.

Selain itu, berdasarkan data dari Polri terkait gangguan Kamtibmas sepanjang perayaan Hari Natal dan Tahun Baru pada 2018-2019 mengalami kenaikan 4.012 kasus atau 27,49 persen jika dibandingkan dengan periode pada 2017-2018 yang hanya 2.909 kasus. Tetapi jumlah kecelakaan lalu lintas perayaan Natal pada 2018-2019 terdapat penurunan 30 persen dari 965 kasus menjadi 673 kasus.

Mencermati kondisi tersebut, aparat keamanan dan intelijen perlu meningkatkan penebalan keamanan di tempat keramaian dan rumah ibadah agar menciptakan rasa aman seluruh warga masyarakat untuk terlindungi.

Antisipasi negara dalam deteksi dini masalah potensi ancaman terorisme sudah dilakukan, tercermin keberhasilan Densus 88 menangkap dua terduga teroris di Kenagarian Baringin, Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat menjelang Nataru 2020.

Di lokasi keramaian menjelang Nabaru 2020, adanya pola baru pelaku teror yang melibatkan keluarga karena diangapnya cara baru yang paling efektif. Hal ini menjadikan penangangan aksi tindak terorisme semakin sulit diantisipasi.

Selain itu, aksi terorisme selalu mencari peluang momentum yang tepat dalam upayanya mengirimkan pesan kepada negara akan eksistensi radikalisme mereka dan membangkitkan perasaan ketakutan luar biasa ditengah-tengah masyarakat. Tentunya ikhtiar kuat terorisme dalam pemilihan lokasi-lokasi yang strategis bertujuan membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat dan negara.

Aksi terorisme memanfaatkan momentum Natal dan Tahun Baru di Indonesia sudah berlangsung lama dari tahun 2013 hingga sekarang dengan catatan adanya pola yang digunakan kaum terorisme melakukan inovasi seperti dari perseorangan menjadi kelompok keluarga dengan dasar pemikiran awal radikalisme menjadi terorisme, upaya memanipulasi logika berfikir tekait anak-anak lebih jarang diperiksa oleh aparat keamanan.

Migrasi dari tradisional ke modern serta perubahan fisik secara modis atau kekinian dalam mengcover tindakan eksekusi akhirnya. Namun ada yang selalu ditolak dalam adaptasi inovasi mereka, istiqomah kuat mengisolasi ruang pemikiran dan hubungan sosial di masyarakat Pancasila.

Selain itu, yang belum mengalami penyesuain perubahan terkait pola komunikasi dan gerakannya masih kuat teroganisir dalam sel-sel terorisme di Indonesia yang masih cukup banyak tersebar. Dalam banyak kasus-kasus yang terungkap belum ada terorisme melakukan aksinya secara mandiri dan mereka tetap melakukan aktivitas secara linier organisasi dengan tingkat kerahasian sangat tinggi.

Bercermin dari kasus bom gereja di Surabaya tahun 2018 yang dilakukan satu keluarga dari rumpun JAD, ikhtiar suatu keluarga mengkondisikan diri menjadi radikal tidak mungkin terjadi secara alami. Keluarga tersebut dapat dipastikan masuk dalam rumah bersama jaringan pemikiran radikal, kemudian lebih dalam lagi mendorong mereka melakukan aksi pembunuhan umat manusia.

Jangan anggap sepele pemirikan radikal yang terus muncul diranah publik, tidak terlalu sulit bagi kita untuk menemukan siapa berbuat apa diranah publik ini, banyak hasil survey mempublikasikan hampir 10 juta warga Indonesia berpaham radikal. Sehingga situasi bonus keberagaman moderat, toleran dan akomodatif yang menjadi fondasi kuat negara dasar negara ini bangun telah dibayangi iblis terorisme yang anti bonus intensif geososial yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain di dunia ini.

Tanggung jawab mengatasi terorisme dan akar pemikiran radikalisme buka saja otoritas negara beserta instrumen pendukungnya tapi adalah bagaimana saat ini masyarakat
membangun kesadaran akan tanggung jawab serta komitmen bersama melawan terorisme.

Kepedulian dalam konteks partisipasi masyarakat perlu terus diperluas digalang terutama pemuka agama, pendidik maupun politisi perlu untuk meminimalkan dan melawan isu SARA dan kembali mengajak setiap pihak untuk kembali mengamalkan ideologi Pancasila dan menempatkan terorisme sebagai musuh bersama masyarakat.

Peneliti Studi Radikalisme dan Terorisme Di Negara Berkembang

Danantara Perkuat Investasi untuk Pembangunan Nasional

August 22, 2026

Danantara Perkuat Investasi Strategis untuk Pembangunan Nasional

August 22, 2026

Danantara Perkuat Investasi untuk Pembangunan Nasional

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Danantara Perkuat Investasi untuk Pembangunan Nasional  Oleh: Ricky Rinaldi Pemerintah terus memperkuat transformasi ekonomi nasional dengan menempatkan investasi sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan jangka panjang. Dalam arah kebijakan menuju 2027, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memperoleh peran strategis sebagai instrumen untuk mengoptimalkan aset negara, memperkuat investasi, dan mendorong pembangunan sektor-sektor strategis. Kehadiran Danantara menunjukkan upaya pemerintah membangun sumber pertumbuhan baru yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Presiden Prabowo Subianto menegaskan posisi tersebut dalam penyampaian Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) 2027 beserta Nota Keuangan di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada 14 Agustus 2026 lalu. Presiden menyebut Danantara sebagai dana kedaulatan yang harus menjadi instrumen untuk membangun kapasitas bangsa dalam jangka panjang. Danantara karena itu diarahkan bukan sekadar sebagai pengelola aset negara, melainkan sebagai bagian dari strategi investasi dan pembangunan sektor strategis yang memberikan manfaat berkelanjutan. Arah tersebut memperlihatkan perubahan pendekatan dalam mengelola kekuatan ekonomi nasional. Aset negara perlu ditempatkan pada kegiatan produktif yang mampu meningkatkan kapasitas industri, mempercepat hilirisasi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan nasional. Melalui pengelolaan yang terintegrasi, Danantara diharapkan mampu menghubungkan kekayaan negara dengan kebutuhan investasi serta proyek pembangunan yang memiliki nilai strategis dan manfaat jangka panjang. Peran Danantara semakin penting dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa konsolidasi aset Danantara dapat menjadi katalis peningkatan investasi. Danantara dapat memaksimalkan aset dan proyek untuk menarik partisipasi sektor swasta dan pelaku ekonomi nonpemerintah. Dengan demikian, investasi negara dapat menciptakan efek crowd-in, yakni mendorong dunia usaha meningkatkan ekspansi, membuka fasilitas produksi baru, dan memperluas kegiatan bisnis. Pendekatan tersebut menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional merupakan tanggung jawab bersama seluruh pelaku ekonomi. Pemerintah tidak hanya berperan sebagai penyedia anggaran, tetapi juga menciptakan kondisi yang memungkinkan sektor swasta berkembang. Investasi Danantara dapat menjadi pemicu awal yang kemudian diikuti modal swasta sehingga kapasitas ekonomi nasional meningkat secara lebih luas. Sinergi tersebut juga berpotensi memperbesar penciptaan lapangan kerja dan memperkuat aktivitas ekonomi di berbagai daerah. Strategi investasi Danantara diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki nilai strategis dan potensi dampak luas. Delapan sektor utama yang menjadi fokus meliputi energi terbarukan, mineral, infrastruktur digital, infrastruktur dan utilitas, real estat, layanan keuangan, pangan dan pertanian, serta layanan kesehatan. Pemilihan sektor tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat ketahanan nasional, dan membangun fondasi pertumbuhan baru yang lebih bernilai tambah.…

Danantara Perkuat Investasi Strategis untuk Pembangunan Nasional

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Danantara Perkuat Investasi Strategis untuk Pembangunan Nasional Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara…

Danantara Kawal Penyederhanaan BUMN agar Aset Negara Lebih Produktif  

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Danantara Kawal Penyederhanaan BUMN agar Aset Negara Lebih Produktif Jakarta – Transformasi dan restrukturisasi Badan…

Ketahanan Energi 2027: Jalan Besar Indonesia Menuju Kemandirian Energi 

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Ketahanan Energi 2027: Jalan Besar Indonesia Menuju Kemandirian Energi  Oleh: Hanan Alfawazi Ketahanan energi merupakan salah satu fondasi utama bagi keberlanjutan pembangunan nasional. Tanpa pasokan energi yang cukup, terjangkau, dan dapat diandalkan, pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, pembangunan infrastruktur, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat akan menghadapi berbagai hambatan. Karena itu, arah kebijakan energi Indonesia pada 2027 memiliki arti strategis, bukan sekadar sebagai agenda sektoral, melainkan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian nasional. Kebutuhan energi terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, sementara produksi minyak nasional menghadapi tekanan penurunan alamiah. Pada saat yang sama, dinamika geopolitik global membuat harga dan pasokan energi semakin sulit diprediksi. Kondisi tersebut membuat penguatan sumber energi domestik menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Dalam konteks tersebut, target lifting minyak sebesar 610 ribu barel per hari dan lifting gas sekitar 950 ribu barel setara minyak per hari dalam RAPBN 2027 menjadi salah satu instrumen penting. Target tersebut dinilai realistis oleh Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya, terutama dengan melihat peluang optimalisasi lapangan produksi yang telah ada serta pengembangan sumur-sumur baru. Namun, peningkatan lifting tidak dapat dicapai hanya dengan menetapkan target. Sektor hulu migas membutuhkan investasi, teknologi, kepastian regulasi, serta proses pengembangan lapangan yang efisien. Tantangan natural decline juga harus dihadapi secara serius karena sebagian lapangan migas nasional telah memasuki fase produksi yang matang. Anggota Dewan Energi Nasional Saleh Abdurrahman melihat masih terdapat ruang untuk menahan laju penurunan alamiah tersebut melalui optimalisasi sumur eksisting dan pengembangan sumur baru. Pengembangan wilayah frontier serta penggunaan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) juga menjadi bagian dari pilihan strategis untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi nasional. Artinya, kebijakan peningkatan lifting harus ditempatkan sebagai agenda jangka panjang. Pemerintah tidak cukup hanya mengejar angka produksi dalam satu tahun anggaran, tetapi juga harus memastikan keberlanjutan investasi dan penemuan cadangan baru. Jika investasi hulu berjalan konsisten, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat ekosistem industri migas nasional.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.