• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»Menguatkan Fondasi Transisi Energi Rendah Karbon

Menguatkan Fondasi Transisi Energi Rendah Karbon

  • Kata Indonesia
  • - Saturday, 14 February 2026

Menguatkan Fondasi Transisi Energi Rendah Karbon

Oleh: Puteri Anggina Ramadhan

Menguatkan fondasi transisi energi rendah karbon merupakan langkah strategis yang menegaskan komitmen Indonesia dalam membangun sistem energi nasional yang tangguh, modern, dan berdaya saing global. Transformasi yang dijalankan PT Pertamina (Persero) melalui inisiatif Green Terminal di Terminal LPG Tanjung Sekong, Cilegon, menjadi bukti konkret bahwa agenda dekarbonisasi tidak berhenti pada tataran visi, melainkan diwujudkan dalam kebijakan operasional dan investasi teknologi yang terukur. Fasilitas yang menyuplai sekitar 35–40 persen kebutuhan LPG nasional tersebut kini diposisikan sebagai model percontohan pengelolaan terminal energi berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG), sekaligus tonggak penting dalam memperkuat arsitektur energi rendah karbon nasional.

 

Penerapan asesmen delapan pilar Green Terminal menunjukkan pendekatan komprehensif yang mencakup aspek operasional, keselamatan, lingkungan, sosial, tata kelola, serta transformasi digital. Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono, menegaskan bahwa Green Terminal merupakan bagian integral dari strategi keberlanjutan bisnis dan implementasi Roadmap Net Zero Emission 2060. Pernyataan Agung Wicaksono memperlihatkan bahwa Pertamina menempatkan keberlanjutan sebagai strategi inti korporasi, sekaligus pengungkit daya saing jangka panjang. Integrasi standar global dalam pengelolaan terminal energi strategis memperkuat fondasi transisi energi rendah karbon yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga andal dan efisien.

 

Langkah konkret tersebut diperkuat melalui pemanfaatan energi terbarukan di fasilitas operasional. Pemasangan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 85,5 kWp di Terminal LPG Tanjung Sekong dan 1.700 kWp di Integrated Terminal Tanjung Uban menjadi simbol percepatan dekarbonisasi berbasis teknologi. Direktur Utama PT Pertamina Energy Terminal (PET), Bayu Prostiyono, menyampaikan bahwa diversifikasi energi juga dilakukan melalui peralihan penggunaan genset berbahan bakar fosil ke jaringan listrik nasional serta persiapan pengembangan hidrogen hijau terintegrasi dengan proyek panas bumi Ulubelu. Pernyataan Bayu Prostiyono menegaskan bahwa transformasi operasional berjalan sistematis dan progresif, memperkuat posisi terminal sebagai simpul energi modern berstandar internasional.

 

Pengembangan ekosistem hidrogen hijau berbasis panas bumi Ulubelu menjadi lompatan strategis dalam memperkuat fondasi energi rendah karbon. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mengalokasikan investasi sekitar 3 juta dolar AS untuk proyek percontohan produksi hidrogen hijau dengan kapasitas 80–100 kilogram per hari menggunakan teknologi anion exchange membrane electrolyzer berdaya efisiensi tinggi. Direktur Utama PGEO, Ahmad Yani, menekankan bahwa proyek ini menjadi bagian penting dalam mendorong transisi energi berbasis sumber daya domestik yang bersih dan berkelanjutan. Komitmen investasi tersebut menunjukkan keberanian korporasi dalam membangun kapabilitas teknologi masa depan sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

 

Sinergi antaranak usaha Pertamina memperlihatkan model integrasi yang solid dari hulu ke hilir. PGEO bertindak sebagai produsen hidrogen hijau, PT Elnusa Petrofin mendukung distribusi, dan PET memanfaatkan hidrogen tersebut untuk kebutuhan operasional terminal melalui teknologi fuel cell. Sekitar 80 persen produksi hidrogen Ulubelu direncanakan untuk mendukung kebutuhan energi rendah karbon di Terminal LPG Tanjung Sekong dan berpotensi memenuhi hingga 25 persen kebutuhan listrik operasional. Skema ini memperlihatkan arsitektur kolaborasi yang kuat dan efisien, sekaligus mempercepat pengurangan emisi tidak langsung (Scope 2) pada aset strategis nasional.

 

Penguatan fondasi transisi energi rendah karbon juga diperluas melalui optimalisasi BioCNG. PT Perusahaan Gas Negara (PGN) memastikan kesiapan menjadi offtaker utama BioCNG dari fasilitas di Tapung Hilir, Riau, yang memanfaatkan limbah cair kelapa sawit sebagai bahan baku. Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Mirza Mahendra, menyampaikan bahwa BioCNG merupakan langkah strategis untuk memperluas portofolio gas rendah karbon dan meningkatkan fleksibilitas pasokan beyond pipeline. Proyeksi produksi ratusan ribu MMBTU per tahun serta potensi penurunan emisi puluhan ribu ton CO₂ menjadi bukti bahwa energi terbarukan berbasis biomassa mampu memberikan manfaat lingkungan sekaligus nilai ekonomi.

 

Dukungan terhadap pengembangan hidrogen dan manufaktur hijau juga diperkuat oleh komunitas riset internasional. Dalam forum ICSEEA 2026, Ta-Hui Lin dari National Cheng Kung University menegaskan pentingnya percepatan inovasi hidrogen hijau untuk mencapai netralitas karbon global. Hong Shik Lee dari Korea Institute of Industrial Technology serta Tegoeh Tjahjowidodo dari Katholieke Universiteit Leuven memaparkan terobosan teknologi hidrotermal yang meningkatkan efisiensi dan keselamatan proses industri. Sementara itu, Ahmad Razlan dari Universiti Malaysia Pahang menyoroti integrasi kecerdasan buatan dalam manufaktur hijau sebagai penggerak efisiensi energi dan pengurangan limbah. Paparan para ilmuwan tersebut memperkuat legitimasi ilmiah bahwa transisi energi rendah karbon berbasis inovasi teknologi merupakan arah masa depan industri global.

 

Rangkaian inisiatif ini memperlihatkan bahwa menguatkan fondasi transisi energi rendah karbon bukan sekadar agenda sektoral, melainkan strategi nasional yang terstruktur dan kolaboratif. Transformasi Terminal LPG Tanjung Sekong sebagai Green Terminal, pengembangan hidrogen hijau Ulubelu, serta optimalisasi BioCNG menunjukkan keseriusan membangun sistem energi yang bersih, andal, dan berkelanjutan. Dengan kepemimpinan korporasi yang visioner dan dukungan riset teknologi mutakhir, Indonesia menegaskan posisinya sebagai pelaku aktif dalam arus besar transisi energi global, sekaligus memperkokoh kedaulatan dan ketahanan energi untuk generasi mendatang.

 

*Penulis merupakan Peneliti Energi Terbarukan

Komitmen MBG dan Single National Identity Card Menguat dalam Taklimat Presiden 

July 21, 2026

Taklimat Presiden Tegaskan Optimisme Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia

July 21, 2026

Komitmen MBG dan Single National Identity Card Menguat dalam Taklimat Presiden 

By Kata IndonesiaJuly 21, 20260

Komitmen MBG dan Single National Identity Card Menguat dalam Taklimat Presiden  Oleh: Fajar Dwi Santoso Taklimat Presiden dalam Sidang Kabinet Paripurna kembali memperlihatkan arah kebijakan pemerintah yang tidak hanya berfokus pada pencapaian pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada penguatan kualitas sumber daya manusia dan reformasi tata kelola pemerintahan. Di hadapan jajaran kabinet, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan nasional harus menyentuh persoalan mendasar masyarakat, mulai dari pemenuhan gizi anak hingga penyederhanaan birokrasi melalui digitalisasi layanan publik. Kedua agenda tersebut saling berkaitan sebagai fondasi menuju Indonesia yang lebih produktif, inklusif, dan berdaya saing. Komitmen pemerintah terhadap peningkatan kualitas generasi penerus kembali ditegaskan melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Presiden memandang program tersebut bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun sumber daya manusia unggul. Menurut Presiden, masih tingginya angka stunting dan masih adanya anak-anak yang belum memperoleh asupan makanan yang memadai menjadi alasan utama mengapa negara harus hadir secara langsung melalui program pemenuhan gizi. Presiden juga menilai berbagai kritik terhadap MBG perlu dilihat secara proporsional. Alih-alih hanya memperdebatkan besaran anggaran, perhatian publik seharusnya diarahkan pada manfaat nyata yang dirasakan masyarakat. Dalam pandangannya, indikator keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari angka makroekonomi, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjaga stabilitas harga pangan, memastikan pupuk tersedia bagi petani dengan harga terjangkau, serta menjamin anak-anak memperoleh makanan bergizi di sekolah. Penegasan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi dan pembangunan manusia merupakan dua agenda yang berjalan beriringan. Pendekatan tersebut sejalan dengan berbagai kajian internasional yang menempatkan investasi pada gizi anak sebagai salah satu instrumen paling efektif untuk meningkatkan produktivitas nasional dalam jangka panjang. Anak yang memperoleh gizi memadai sejak dini memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh sehat, memiliki kemampuan belajar yang baik, serta menjadi tenaga kerja produktif pada masa depan. Karena itu, keberlanjutan MBG memiliki dimensi strategis yang jauh melampaui pemberian makanan semata. Pandangan serupa juga pernah disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik Sudaryati Deyang. Ia menjelaskan bahwa fokus pemerintah tidak hanya memperluas jangkauan penerima manfaat, tetapi juga memastikan kualitas layanan, keamanan pangan, dan tata kelola program terus diperbaiki agar manfaat MBG benar-benar dirasakan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan program bergantung pada pengawasan yang baik, keterlibatan pemerintah daerah, serta sinergi dengan pelaku usaha lokal sehingga manfaat ekonomi turut mengalir ke daerah. Di sisi lain, Presiden juga memberikan penekanan kuat terhadap reformasi birokrasi sebagai prasyarat percepatan pembangunan. Ia mengakui Indonesia telah berada pada jalur pembangunan yang benar, namun efektivitas pemerintahan masih perlu terus ditingkatkan. Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah banyaknya regulasi yang tumpang tindih dan prosedur birokrasi yang belum sepenuhnya efisien. Karena itu, pemerintah memilih mempercepat transformasi digital melalui pengembangan GovTech serta implementasi Single National Identity Card. Gagasan ini menjadi langkah penting untuk menyederhanakan pelayanan publik yang selama ini tersebar di berbagai kementerian dan lembaga. Dengan identitas digital nasional yang terintegrasi, masyarakat diharapkan tidak lagi menghadapi proses administrasi yang berulang, sementara pemerintah dapat meningkatkan akurasi data serta efektivitas penyaluran berbagai program.…

Taklimat Presiden Tegaskan Optimisme Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia

By Kata IndonesiaJuly 21, 20260

Taklimat Presiden Tegaskan Optimisme Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia Oleh: Shafiq Tauqy Optimisme Indonesia menjadi…

Percepatan Infrastruktur dan Ekonomi Desa Jadi Fokus Taklimat Presiden

By Kata IndonesiaJuly 21, 20260

Percepatan Infrastruktur dan Ekonomi Desa Jadi Fokus Taklimat Presiden Jakarta – Pemerintah menegaskan komitmennya untuk…

Taklimat Presiden Soroti Penguatan Infrastruktur, Pangan, dan Efisiensi BUMN

By Kata IndonesiaJuly 21, 20260

Taklimat Presiden Soroti Penguatan Infrastruktur, Pangan, dan Efisiensi BUMN Presiden Prabowo Subianto menyoroti percepatan pembangunan…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.