Oleh: KH. Anis Maftukhin
Dua puluh delapan tahun sudah bahtera Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) membelah samudera kebangsaan yang kerap bergemuruh. Bagi hitung-hitungan politik praktis, usia ini barangkali sekadar deret angka perjalanan menuju pemilu berikutnya. Namun, bagi para santri yang akrab terbiasa menelaah kitab-kitab kuning, angka ini memancarkan wibawa kesempurnaan—sebuah monumen pembuktian betapa perahu bersarung itu liat bertahan dihempas pelbagai gelombang zaman.
Dalam kacamata kebijaksanaan sufi, 28 bukanlah sembarang angka. Syeikh al-Akbar Ibn ‘Arabi dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah memaknainya sebagai titik perjumpaan yang syahdu antara 28 fase bulan (Manazilul Qamar) di cakrawala dengan 28 huruf hijaiyah di lisan manusia.
Maknanya teramat puitis sekaligus berat: makrokosmos dan mikrokosmos berkelindan dalam satu tarikan napas. Memasuki usia ke-28, PKB sejatinya diasumsikan telah khatam mengeja realitas sosial. Ia semestinya telah menjelma menjadi tangan yang lihai merangkai 28 abjad penderitaan rakyat menjadi sebuah kalimat kesejahteraan yang utuh.
Di sudut rasionalitas sains, para cendekiawan Ikhwan as-Shafa menempatkan angka 28 sebagai Al-‘Adad al-Tamm, bilangan yang sempurna. Bila Anda memecahnya ke dalam faktor-faktor pembaginya—14, 7, 4, 2, dan 1—lalu menjumlahkannya kembali, hasilnya akan pulang memeluk angka 28. Presisi, mandiri, dan tak tergoyahkan.
Di ranah psikologi perkembangan, inilah fase Saturn Return—sebuah titik kedewasaan esensial di mana pencarian jati diri telah usai, berganti dengan masa penuntutan takdir untuk mewariskan karya dan bakti bagi negeri.
Dari Ciganjur Menuju Orkestrasi Masa Depan
Mari sejenak memutar waktu ke sebuah halaman rimbun di Ciganjur. Tanggal 23 Juli 1998, ketika debu sejarah pergantian rezim masih menebar bau mesiu, lima kiai sepuh yang mulia—Gus Dur, Gus Mus, Kiai Ilyas Ruchiyat, Kiai Munasir Ali, dan Kiai Muchith Muzadi—melangitkan doa dan menitipkan sebuah bahtera.
Kini, di pertengahan 2026, bahtera dari Ciganjur itu telah bertransformasi menjadi kapal induk yang gagah; kingmaker tulen yang menentukan ke mana arah angin kekuasaan bertiup di republik ini.
Namun, perayaan kedewasaan ini sekaligus membuktikan bahwa PKB tidak sudi hanya hidup dalam bilik romantisme masa lalu. Mereka membuktikan bahwa tradisi sarung dan wirid bisa berdansa luwes dengan kemajuan peradaban. Kita melihat potret yang ganjil namun menjanjikan: selain diisi dengan khidmatnya Ijtima’ Ulama dan pembangunan sekolah, Harlah ini juga diramaikan dengan simposium Artificial Intelligence (AI) di tengah kehangatan pesantren, gerakan teologi lingkungan (fiqh al-bi’ah) melalui penanaman pohon, hingga tajuk Harlah yang futuristik, “Arah Baru Amanat Ekonomi Konstitusi”.
Di sinilah letak kelincahan kultural PKB. Di panggung tata dunia politik, PKB memposisikan dirinya secara anggun sebagai Confessional Centrist—partai berhaluan tengah yang digerakkan oleh napas keagamaan yang inklusif. Sebuah kearifan tingkat tinggi yang sanggup merangkul pluralitas adat lokal tanpa mencabut akar moralitas ketuhanannya.
Mengayun ‘Rambut Muawiyah’, Menggenggam ‘Pedang Al-Mansur’
Tentu, membaca kegemilangan Kitab Siyasah PKB hari ini rasanya mustahil tanpa mengeja nama sang nakhoda: Abdul Muhaimin Iskandar. Kepemimpinan Cak Imin sejak 2005 adalah sebentuk epos tersendiri tentang seni mengemudikan kapal di lautan politik Indonesia yang tak pernah sepi dari intrik.
Bila dicermati, gaya kepemimpinannya adalah sintesis yang memesona antara keliatan diplomasi tingkat tinggi dan ketegasan prinsipil yang dingin. Dalam berhadapan dengan kekuasaan dan koalisi eksternal, ia seolah mewarisi keluwesan “Falsafah Rambut” ala Muawiyah bin Abi Sufyan: menariknya kala kendur, mengulurnya kala tegang, merawat agar helai silaturahmi politik itu tak pernah terputus. Di tangan Cak Imin, romantisme idealisme “langit” warisan Gus Dur diterjemahkan menjadi rasionalitas politik yang membumi. Ia memastikan partainya tak pernah terlempar dari pusaran kebijakan, agar bisa mengeksekusi perubahan riil bagi jutaan kaum santri.
Namun di saat yang sama, tatkala menatap ke dalam rumah besar PKB, keluwesan itu berganti rupa menjadi ketegasan institusional layaknya Khalifah Abu Ja’far al-Mansur. Melalui konsolidasi yang rapi, sentralistik, dan terukur, ia menjaga partai dari segala friksi internal maupun hantaman badai dari luar. Hasilnya: PKB hari ini berdiri solid, disiplin, dan bersaf dalam satu komando perjuangan.
Muhasabah di Ambang Kesempurnaan
Menurut petuah para ulama, “Al-Kamalu Lillah, wal naqshu fi thaba’i al-basyar”. Kesempurnaan mutlak hanyalah milik Allah, sementara kekurangan atau ruang untuk perbaikan adalah tabiat dasar manusia. Maknanya, even the best can be improved—bahwa sesuatu yang sudah dinilai sangat baik pun senantiasa menyisakan celah untuk disempurnakan.
Filosofi ini senada dengan “dawuh” para kyai-kyai kepada para santrinya “Man istawa yaumahu fahuwa maghbun”. Barangsiapa yang pencapaian hari ini sama belaka dengan hari kemarin, maka sejatinya ia adalah orang yang merugi. Kalimat hikmah ini adalah landasan spiritual dari continuous improvement. Ia menjadi alarm yang menuntut kita untuk tidak cepat mabuk kepayang oleh hasil “terbaik” hari ini. Sebab, jika esok hari kita enggan berbenah dan meningkatkan kapasitas, sejatinya kita sedang berjalan mundur.
Tarikan napas filosofis inilah yang semestinya menjadi ruh di usia ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Angka 28 bukanlah sekadar garis finis, melainkan momentum muhasabah bagi siapa pun yang berikrar setia di geladak perahu besar ini. Harus ada untaian “kecemasan historis” yang terus dirawat dan dihidupkan, agar kejayaan hari ini tak menjelma menjadi kelalaian.
Berikut adalah empat simpul muhasabah yang harus direnungkan:
Menjaga Denyut Nadi Kerakyatan Keluwesan strategi politik dan pragmatisme dalam merajut koalisi harus senantiasa diikat kuat oleh narasi kerakyatan. Setiap manuver yang terjadi di pusat kekuasaan ibu kota semata-mata adalah wujud li i’lai kalimatillah dan Izzul Islam wal Muslimin. Kekuasaan adalah alat pendorong untuk mengangkat derajat umat, bukan pelabuhan akhir tempat idealisme tertidur pulas.
Mewariskan Api, Bukan Sekadar Abu Organisasi yang kokoh dan berumur panjang selalu mendamba mata air kaderisasi yang tak pernah kering. Kedewasaan di usia 28 tahun menuntut PKB untuk mulai bergerak masif menetaskan tunas-tunas pemimpin masa depan. Mereka adalah generasi penerus yang harus sanggup mewarisi ketangguhan mental serta kecerdasan taktis para pendahulunya.
Menjembatani Jarak Elite dan Akar Rumput Lompatan diskursus elite pusat tentang kecerdasan buatan (AI), tata ekonomi konstitusi, dan kesejahteraan global tidak boleh hanya berhenti sebagai pesona pidato di atas mimbar. Gagasan elite itu harus membumi; diudar dan diterjemahkan menjadi bahasa yang merakyat serta kerja nyata yang bisa dirasakan langsung oleh para kiai dan pejuang partai di pelosok ranting.
Merawat Tali Pusar Sosiologis Nahdlatul Ulama adalah rahim sejarah yang melahirkan partai ini. Riuh rendah dinamika politik barangkali sesekali akan memantik ketegangan di pucuk struktur. Itu wajar. Namun, cinta dan khidmat yang tulus kepada kiai kampung, bilik-bilik pesantren, serta warga Nahdliyin adalah detak jantung PKB yang sesungguhnya. Detak jantung itu tidak boleh dibiarkan melemah oleh apa pun.
Dua puluh delapan tahun telah tunai. Bulan telah genap singgah di stasiun kesempurnaannya. Selamat merayakan kedewasaan, Partai Kebangkitan Bangsa. Teruslah mengeja sejarah dengan siasat politik yang cerdas, sembari tetap menjaga syahdunya doa para kiai dan memeluk erat keringat rakyat jelata. Di ufuk sana, fajar sejatinya masih menyimpan banyak janji cahaya.
Sugeng Milad ke 28, PKB !!!
Pengasuh Pondok Pesantren WALI, Tuntang, Kab Semarang, pegiat literasi Islam, anggota Dewan Syuro DPP PKB