• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Nasional»Mendukung Peran Tokoh Agama Moderat Tangkal Radikalisme

Mendukung Peran Tokoh Agama Moderat Tangkal Radikalisme

  • Kata Indonesia
  • - Sunday, 5 December 2021

Mendukung Peran Tokoh Agama Moderat Tangkal Radikalisme

Oleh : Zainudin

Tokoh agama moderat diharap untuk menyiarkan ajaran yang cinta damai dan ikut menangkal radikalisme. Dengan adanya peran tokoh agama tersebut, maka radikalisme diharapkan dapat ditangkal secara maksimal.

Saat ini kita bisa dengan mudah mengakses ceramah tokoh agama, baik secara langsung, via televisi, radio, atau internet. Banyak sekali tokoh yang berpidato dengan berbagai tema, tinggal pilih saja yang sesuai dengan keadaan hari itu. Akan tetapi jangan salah pilih karena ada kiai tekek alias abal-abal yang menyebarkan ajaran sesat, karena malah mengajarkan tentang ekstrimisme dan radikalisme.

Tokoh agama moderat didorong untuk lebih rajin dalam menyiarkan syiar, sehingga masyarakat makin paham apa itu mdoerasi beragama. Ceramah mereka selalu dinanti agar memperlihatkan agama yang cinta damai, bukannya malah memprovokasi. Masyarakat juga perlu diedukasi agar tidak sembarangan memilih ceramah dan akhirnya malah terjebak dalam radikalisme dan terorisme.

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Saadi menyatakan bahwa pemeritnah dapat mebentuk pendakwah yang menyampaikan syiar agama dengan nilai moderat dan dapat mengikuti perubahan zaman. Dalam artian, tokoh agama moderat perlu didorong agar lebih rajin berceramah dan mengkampanyekan moderasi beragama.
Moderasi beragama perlu diviralkan karena ia membaut seseorang beragama secara moderat alias di tengah-tengah, tidak ekstrim kanan atau kiri. Jika beragama dengan moderat maka ia tidak akan terlalu fanatik sampai mengkafir-kafirkan orang lain, karena paham bahwa hal ini sebenarnya dilarang oleh nabi. Ekstrimisme tidak bisa dibenarkan karena ia tidak toleran dan cenderung dengan jalan kekerasan.
Makin banyak tokoh yang berceramah mengenai moderasi beragama tentu makin bagus karena kita butuh syiar yang cinta damai. Bukan yang malah mengobarkan peperangan dengan alasan jihad dan merusak persatuan Indonesia. Jihad yang paling utama adalah mencari nafkah untuk keluarga dan mengekang amarah serta hawa nafsu, bukannya berkoar-koar ingin menyerang orang lain dengan alasan sentimen.
Pembelajaran di Pesantren juga seharusnya diwarnai dengan moderasi beragama dan tidak ekstrimis. Pesantren adalah pusat ilmu agama dan yang diajarkan adalah beragama dengan saling menyayangi, bukan saling membenci. Toleransi adalah kunci di negara yang majemuk seperti Indonesia. Lagipula Nabi Muhammad sendiri mencontohkan toleransi dan tidak pernah menghina orang dengan keyakinan lain, serta berdakwah dengan lemah lembut.
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyatakan bahwa ada 3 ciri seorang santri yakni: moderat, menghargai keragaman, dan cinta tanah air. Santri itu memiliki pemahaman dan pengamalan beragama yang tidak ekstrim alias moderat. Penyebabnya karena ilmu-ilmu yang dipelajari di pesantren seperti tasawuf, fikih, ilmu kalam, dll bukanlah yang ekstrim.
Santri wajib menghargai keragaman karena ajaran agama yang mengajari tentang perbedaan.Menghargai keberagaman bukan berarti mengabaikan keyakinan. Seorang santri diajari untuk membina hubungan baik dengan Tuhan dan juga sesama manusia, tak hanya dengan yang seagama tetapi juga umat dengan keyakinan lain.
Moderasi beragama memang patut diajarkan terus di pesantren karena para santri adalah calon ustad, kiai, dan pemimpin di masa depan. Mereka akan terus bersyiar mengenai kebajikan dan beragama dengan moderat serta lemah lembut. Dakwah tidak boleh dilakukan secara ekstrim karena akan menyakiti orang lain.
Pengajaran tentang moderasi beragama hendaknya dilakukan di smua tempat, mulai dari pesantren hingga sekolah. Para murid dan santri akan sadar bahwa moderasi beragama adalah yang paling tepat, sehingga bisa bersyiar sekaligus cinta damai.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo Catat Capaian Positif, Publik Diajak Jaga Kondusivitas

September 24, 2026

Investasi Era Prabowo Menguat, Stabilitas Jadi Modal Pertumbuhan Ekonomi

September 24, 2026

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo Catat Capaian Positif, Publik Diajak Jaga Kondusivitas

By Kata IndonesiaSeptember 24, 20260

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo Catat Capaian Positif, Publik Diajak Jaga Kondusivitas Jakarta — Menjelang dua…

Investasi Era Prabowo Menguat, Stabilitas Jadi Modal Pertumbuhan Ekonomi

By Kata IndonesiaSeptember 24, 20260

Investasi Era Prabowo Menguat, Stabilitas Jadi Modal Pertumbuhan Ekonomi JAKARTA – Momentum investasi Indonesia yang…

Jaga Hari Tani Kondusif, Aspirasi Damai Jangan Dicederai Provokasi

By Kata IndonesiaSeptember 24, 20260

Jaga Hari Tani Kondusif, Aspirasi Damai Jangan Dicederai Provokasi JAKARTA — Momentum Hari Tani Nasional…

Pemerintah Akomodasi Aspirasi Buruh lewat RUU Ketenagakerjaan hingga Rumah Subsidi

By Kata IndonesiaSeptember 24, 20260

Pemerintah Akomodasi Aspirasi Buruh lewat RUU Ketenagakerjaan hingga Rumah Subsidi Jakarta – Pemerintah dan DPR…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.