• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Mencegah Penyebaran Radikalisme di Kalangan Milenial

Mencegah Penyebaran Radikalisme di Kalangan Milenial

  • Kata Indonesia
  • - Sunday, 15 December 2019

 

Generasi muda atau milenial merupakan kelompok yang rentan terpapar radikalisme. Kerentanan tersebut muncul seiring kedekatan generasi milenial dengan internet maupun media sosial. Pemerintah dan masyarakat perlu meningkatkan sinergitas dan terobosan guna mencegah penyebaran paham anti Pancasila tersebut.

Penyebaran radikalisme yang cenderung senyap ini dinilai sejumlah pihak malah meresahkan. Alih-alih berkurang, perkembangannya justru makin meningkat dan mengkhawatirkan. Apalagi seiring melesatnya dunia digitalisasi yang makin membuat orang mudah untuk mengakses apapun melalui dunia maya.
Radikalisme ini juga menjadi salah satu masalah yang sangat krusial dan perlu diwaspadai di Indonesia. Penganut paham ini, biasanya secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi menentang Pancasila sebagai ideologi negara. Serta menganggap Indonesia sebagai negara thagut, negara liberal dan sekuler yang mana telah mengikuti ideologi negara kafir. Sehingga bermunculan wacana jika ideologi negara perlu diganti menjadi ajaran Islam melalui sistem khilafah.

Pancasila merupakan ideologi yang final bagi bangsa Indonesia, serta NKRI adalah harga mati. Hal tersebut adalah bagian dari kesepakatan para pendiri negara ini. Oleh karenanya, sudah tidak ada tawar menawar lagi dalam hal ideologi dan bentuk negara Indonesia yang terkenal dengan kemajemukannya ini.
Radikalisme tampaknya tumbuh subur di sektor pendidikan. Penyebarannya dinilai begitu mudah di lini pelajar karena masa-masa ini mereka masih dalam keadaan labil serta mudah di indoktrinasi. Sikapnya yang cenderung masih ikut sana ikut sini membuat pelaku radikalisme mengambil kesempatan, dengan upaya memasukkan paham-paham radikal yang menyimpang.
Bagi pelajar sendiri tentunya tak akan sadar, apalagi secara nurani keberadaan mereka (pelajar) ingin diakui. Esksitensi yang ingin didapatkan para pelajar di masanya ini disambut gembira oleh pelaku radikalisme. Mereka akan terus-menerus dijejali oleh informasi-informasi yang salah dan menyimpang hingga menentang kepemerintahan. Termasuk memunculkan sikap intoleransi kepada orang lain, menganggap diri paling benar hingga berperilaku ekstrim dan khas dengan Islam.

Padahal, sebenarnya paham radikal tidak selalu identik dengan kelompok Islam tertentu yang mempunyai pola pikir yang radikal, sehingga mengakibatkan citra Islam menjadi jelek. Namun, gerakan-gerakan semacamnya yang mengindikasikan ke-ekstriman pemahaman akan hal tertentu bisa termasuk ke dalam pengertian radikal.
Hanya saja publik sudah kenyang dengan berbagai peristiwa yang berhubungan dengan umat Islam. Seperti insiden Bom Bunuh diri yang kian merajalela, yang pelakunya adalah beragama Islam. Hal ini tentunya makin memposisikan umat Islam seolah memang Terorisme. Padahal, bukan agamanya (Islam) yang salah! Justru, orang-orangnyalah yang tak mampu mengerti ajaran Islam dengan baik dan benar.

Pelaku ini cenderung ingin menciptakan suatu terobosan karena pemerintahan seolah tak berjalan sesuai apa yang dipahaminya. Mirisnya, pelaku radikalisme ini ngajak-ngajak pelajar untuk melaksanakan kepentingannya. Mereka melihat potensi yang begitu besar dari kelabilan emosi pelajar yang akan mudah tersulut saat diberi doktrin-doktrin membangun, namun sebenarnya menyimpang.

Radikalisme yang menyebar di lingkungan sekolah memang belum terlihat secara kentara. Indikasi-indikasi sekolah yang terpapat radikalisme ini juga dinilai minim, namun bukan berarti tidak ada sama sekali. Salah satu indikator sekolah yang menganut sistem anti Pancasila ialah; tak mau menghormat pada bendera merah putih, tidak menyanyikan lagu Indonesia Raya, hingga tidak memasang foto presiden dan wakil presiden termasuk lambang Pancasila dan Burung Garuda.
Yang lebih bahaya ialah penghapusan mata pelajaran yang mendidik tentang nasionalisme. Kalau ini terjadi, bagaimana tunas-tunas muda akan mencintai negerinya sendiri jika tak memiliki sikap nasionalisme ini?

Maka dari itu, negara jangan sampai kecolongan. Aparat ataupun pengawas dari Dinas Pendidikan harus secara intensif berkunjung ke sekolah yang disinyalir berpotensi menjadi tempat penyebaran paham radikal. Antara lain dengan mengamati lingkungan sekolahnya, proses belajarnya, termasuk kegiatan ekstrakurikulernya.
Selain itu, Pihak sekolah pun harus pro aktif mengantisipasi penyebaran paham radikal. Upaya yang bisa dilakukan ialah dengan cara; menanamkan nilai-nilai Pancasila dengan memberikan pemahaman kepada para peserta didik saat upacara bendera, maupun acara lainnya yang dapat menyingkirkan pemahaman yang salah atas ideologi negara ini.
Sementara, bagi para guru atau tenaga pendidik diperlukan adanya suatu pembinaan agar dapat menyaring segala informasi terkait radikalisme ini dengan teliti. Sehingga pendidik tidak ikut terjerumus menyebarkan paham radikal di kalangan anak didiknya. Sebab, guru adalah pemersatu bangsa.

Melawan Radikalisme di kalangan milenial memang memiliki tantangan tersendiri. Dibalik kelabilan emosi, keluguan akan suatu pengalaman, dia tetaplah manusia yang memiliki sisi sensitif. Kita tak bisa serta merta memberikan larangan secara keras atas pergaulan yang mereka pilih. Atau kegiatan yang masih berbau pendidikan yang mereka pelajari. Bisa jadi pendekatan secara psikis bisa menjadi upaya agar bibit-bibit generasi bangsa ini memahami bahwa tindakan maupun paham radikal adalah salah. Dan semua upaya ini bisa berawal dari keluarga.

Danantara Perkuat Investasi untuk Pembangunan Nasional

August 22, 2026

Danantara Perkuat Investasi Strategis untuk Pembangunan Nasional

August 22, 2026

Danantara Perkuat Investasi untuk Pembangunan Nasional

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Danantara Perkuat Investasi untuk Pembangunan Nasional  Oleh: Ricky Rinaldi Pemerintah terus memperkuat transformasi ekonomi nasional dengan menempatkan investasi sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan jangka panjang. Dalam arah kebijakan menuju 2027, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memperoleh peran strategis sebagai instrumen untuk mengoptimalkan aset negara, memperkuat investasi, dan mendorong pembangunan sektor-sektor strategis. Kehadiran Danantara menunjukkan upaya pemerintah membangun sumber pertumbuhan baru yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Presiden Prabowo Subianto menegaskan posisi tersebut dalam penyampaian Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) 2027 beserta Nota Keuangan di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada 14 Agustus 2026 lalu. Presiden menyebut Danantara sebagai dana kedaulatan yang harus menjadi instrumen untuk membangun kapasitas bangsa dalam jangka panjang. Danantara karena itu diarahkan bukan sekadar sebagai pengelola aset negara, melainkan sebagai bagian dari strategi investasi dan pembangunan sektor strategis yang memberikan manfaat berkelanjutan. Arah tersebut memperlihatkan perubahan pendekatan dalam mengelola kekuatan ekonomi nasional. Aset negara perlu ditempatkan pada kegiatan produktif yang mampu meningkatkan kapasitas industri, mempercepat hilirisasi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan nasional. Melalui pengelolaan yang terintegrasi, Danantara diharapkan mampu menghubungkan kekayaan negara dengan kebutuhan investasi serta proyek pembangunan yang memiliki nilai strategis dan manfaat jangka panjang. Peran Danantara semakin penting dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa konsolidasi aset Danantara dapat menjadi katalis peningkatan investasi. Danantara dapat memaksimalkan aset dan proyek untuk menarik partisipasi sektor swasta dan pelaku ekonomi nonpemerintah. Dengan demikian, investasi negara dapat menciptakan efek crowd-in, yakni mendorong dunia usaha meningkatkan ekspansi, membuka fasilitas produksi baru, dan memperluas kegiatan bisnis. Pendekatan tersebut menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional merupakan tanggung jawab bersama seluruh pelaku ekonomi. Pemerintah tidak hanya berperan sebagai penyedia anggaran, tetapi juga menciptakan kondisi yang memungkinkan sektor swasta berkembang. Investasi Danantara dapat menjadi pemicu awal yang kemudian diikuti modal swasta sehingga kapasitas ekonomi nasional meningkat secara lebih luas. Sinergi tersebut juga berpotensi memperbesar penciptaan lapangan kerja dan memperkuat aktivitas ekonomi di berbagai daerah. Strategi investasi Danantara diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki nilai strategis dan potensi dampak luas. Delapan sektor utama yang menjadi fokus meliputi energi terbarukan, mineral, infrastruktur digital, infrastruktur dan utilitas, real estat, layanan keuangan, pangan dan pertanian, serta layanan kesehatan. Pemilihan sektor tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat ketahanan nasional, dan membangun fondasi pertumbuhan baru yang lebih bernilai tambah.…

Danantara Perkuat Investasi Strategis untuk Pembangunan Nasional

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Danantara Perkuat Investasi Strategis untuk Pembangunan Nasional Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara…

Danantara Kawal Penyederhanaan BUMN agar Aset Negara Lebih Produktif  

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Danantara Kawal Penyederhanaan BUMN agar Aset Negara Lebih Produktif Jakarta – Transformasi dan restrukturisasi Badan…

Ketahanan Energi 2027: Jalan Besar Indonesia Menuju Kemandirian Energi 

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Ketahanan Energi 2027: Jalan Besar Indonesia Menuju Kemandirian Energi  Oleh: Hanan Alfawazi Ketahanan energi merupakan salah satu fondasi utama bagi keberlanjutan pembangunan nasional. Tanpa pasokan energi yang cukup, terjangkau, dan dapat diandalkan, pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, pembangunan infrastruktur, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat akan menghadapi berbagai hambatan. Karena itu, arah kebijakan energi Indonesia pada 2027 memiliki arti strategis, bukan sekadar sebagai agenda sektoral, melainkan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian nasional. Kebutuhan energi terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, sementara produksi minyak nasional menghadapi tekanan penurunan alamiah. Pada saat yang sama, dinamika geopolitik global membuat harga dan pasokan energi semakin sulit diprediksi. Kondisi tersebut membuat penguatan sumber energi domestik menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Dalam konteks tersebut, target lifting minyak sebesar 610 ribu barel per hari dan lifting gas sekitar 950 ribu barel setara minyak per hari dalam RAPBN 2027 menjadi salah satu instrumen penting. Target tersebut dinilai realistis oleh Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya, terutama dengan melihat peluang optimalisasi lapangan produksi yang telah ada serta pengembangan sumur-sumur baru. Namun, peningkatan lifting tidak dapat dicapai hanya dengan menetapkan target. Sektor hulu migas membutuhkan investasi, teknologi, kepastian regulasi, serta proses pengembangan lapangan yang efisien. Tantangan natural decline juga harus dihadapi secara serius karena sebagian lapangan migas nasional telah memasuki fase produksi yang matang. Anggota Dewan Energi Nasional Saleh Abdurrahman melihat masih terdapat ruang untuk menahan laju penurunan alamiah tersebut melalui optimalisasi sumur eksisting dan pengembangan sumur baru. Pengembangan wilayah frontier serta penggunaan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) juga menjadi bagian dari pilihan strategis untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi nasional. Artinya, kebijakan peningkatan lifting harus ditempatkan sebagai agenda jangka panjang. Pemerintah tidak cukup hanya mengejar angka produksi dalam satu tahun anggaran, tetapi juga harus memastikan keberlanjutan investasi dan penemuan cadangan baru. Jika investasi hulu berjalan konsisten, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat ekosistem industri migas nasional.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.