• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Memutus Nalar Jahat Radikalisme

Memutus Nalar Jahat Radikalisme

  • Kata Indonesia
  • - Saturday, 2 May 2020

Oleh: Yoga Utama (Blogger/Mahasiswa Ilmu Sosial dan Politik UBK)

Nalar radikalisme yang ingin mendirikan khilafah masih hidup di benak para anggotanya. Nalar sangat sulit dideteksi dan dibasmi kalau tidak dengan secara serius dan terus menerus. Kita boleh bergembira dengan pembubaran HTI, tapi tugas kita belum selesai, masih banyak HTI-HTI lain yang berkeliaran.

Nalar radikalisme yang selanjutnya bisa melahirkan aksis teror, yakni menganggap orang/pihak lain kafir dan halal darahnya sehingga harus dimusnahkan, masih terus ada dan mungkin masih berkeliaran di sekitar kita. Sama dengan kelompok Khawarij, secara kelembagaan sudah musnah berabad-abad yang lalu, tapi nalar Khawarij: kaku; mau benar sendiri; tekstualis; menegasikan orang lain, masih hidup sampai sekarang.

Tugas kita dalam konteks ini adalah berupaya terus menerus untuk memutus mata rantai nalar radikalisme itu. Nalar yang tidak mengakui pluralitas; tidak menghargai pihak lain; tidak mengakui hukum manusia sebagai pegangan bersama; berusaha untuk mengubah sistem negara yang sudah disepakati; menegasikan orang/pihak lain, harus sedini mungkin diputus.

Nalar seperti ini masih banyak dijumpai di media sosial, bahkan dengan bebas dan riangnya mereka mengampanyekannya. Nalar dan paham seperti inilah yang harus diberantas bersama-sama.

Baca juga: Mewaspadai Radikalisme di Sekolah dan Kampus

Ibarat akar yang menghujam ke dasar tanah itu nalarnya. Menumbangkan pohon, tentu tidak berhenti hanya memotong batangnya saja, tapi harus mengikis dan membongkar akar-akarnya juga. Karena boleh jadi, sisi batang pohon ini masih bisa menumbuhkan cabang batang pohon lagi.

Nalar-lah yang mengarahkan manusia. Nalar kebencian, akan melahirkan tindakan kebencian. Nalar kekerasan, akan melahirkan tindakan kekerasan. Begitu juga, nalar perdamaian, akan melahirkan tindakan yang membawa kedamaian. Nalar ibarat mesin yang bersifat abstrak yang tertanam di alam sadar manusia. Alam bawah sadar ini baik bersifat personal, yakni individu manusia, maupun bersifat kolektif, yakni masyarakat.

Untuk itu, membasmi radikalisme tidak bisa hanya dengan melawan perwujudannya saja, tetapi harus memutus sumber dan akarnya, yakni nalar yang terpatri di benak manusia. Sebab, jika radikalisme itu ibarat kue, maka nalar yang ada di benak ibarat tuangan kue. Memperbaiki atau menghancurkan kue, tidak bisa hanya sekadar berhenti pada kue, tetapi harus masuk kepada tuangan kue. Sebab bagus dan buruknya kue tergantung dari model tuangannya.

Lalu bagaimana cara memutus nalar radikalisme?

Cara pertama adalah menggeser nalar dari al-hakimiyah al-ilahiyah (Tuhan adalah hakim/pembuat hukum) menuju al-hakimiyah al-basyariyah (manusia sebagai pembuat hukum). Implikasinya, tidak ada lagi yang mengklaim, bahwa ini sistem thagut, itu sistem kafir, ini berhala besar yang harus ditumpas.

Cara kedua, dekonstruksi makna jihad fi sabilillah, bahwa jihad bukan hanya terbatas pada perang dan permusuhan, melainkan jihad adalah totalitas hidup. Jihad bukan mati dijalan Allah, melainkan hidup damai di jalan Allah.

Pemutusan nalar ini tentu butuh kerjasama, tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja. Kerja kolektif dengan partisipasi semua lapisan masyarakat adalah pra-syarat melakukan pemutusan nalar radikalisme ini. Proses dekonstruksi dari nalar kekerasan menuju nalar perdamaian butuh keaktifan semua lini, pemerintah, ormas, masyarakat, semuanya harus bahu-membahu demi Indonesia damai.

Bansos Beras Presiden Bantu Ringankan Beban Masyarakat

June 15, 2026

Bansos Beras Presiden Jadi Bantuan Strategis bagi Keluarga Penerima

June 15, 2026

Bansos Beras Presiden Bantu Ringankan Beban Masyarakat

By Kata IndonesiaJune 15, 20260

Bansos Beras Presiden Bantu Ringankan Beban Masyarakat Oleh: Fajar Nugroho Pemerintah kembali memperkuat perlindungan sosial…

Bansos Beras Presiden Jadi Bantuan Strategis bagi Keluarga Penerima

By Kata IndonesiaJune 15, 20260

Bansos Beras Presiden Jadi Bantuan Strategis bagi Keluarga Penerima Oleh: Andika Prasetyo Komitmen pemerintah dalam…

Subsidi Beras 10 Kg Diperpanjang Pemerintah demi Jangkau 33 Juta KPM

By Kata IndonesiaJune 15, 20260

Subsidi Beras 10 Kg Diperpanjang Pemerintah demi Jangkau 33 Juta KPM Jakarta – Pemerintah memperpanjang…

Pemerintah Perpanjang Penyaluran Bantuan Beras 10 Kg Selama Tiga Bulan

By Kata IndonesiaJune 15, 20260

Pemerintah Perpanjang Penyaluran Bantuan Beras 10 Kg Selama Tiga Bulan Jakarta – Pemerintah kembali melanjutkan…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.