• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»MBG Tak Hanya Soal Gizi, Juga Buka Peluang Kerja bagi Warga

MBG Tak Hanya Soal Gizi, Juga Buka Peluang Kerja bagi Warga

  • Kata Indonesia
  • - Thursday, 2 April 2026

MBG Tak Hanya Soal Gizi, Juga Buka Peluang Kerja bagi Warga

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin menunjukkan dampak strategis yang melampaui tujuan awal pemenuhan gizi anak. Di tengah fokus pemerintah memperkuat kualitas sumber daya manusia sejak usia sekolah, program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu juga berkembang menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan melalui penciptaan lapangan kerja baru, khususnya di tingkat lokal.

 

Berbagai dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terus bertambah telah membuka ruang kerja bagi juru masak, tim persiapan, distribusi, hingga pemasok bahan baku dari lingkungan sekitar. Situasi ini menjadikan MBG relevan dengan kebutuhan nasional saat ini.

 

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan bahwa MBG bukan sekadar program bantuan makanan, tetapi investasi besar negara untuk masa depan generasi sekaligus instrumen pemerataan ekonomi. Dengan target puluhan ribu dapur aktif hingga akhir 2026, pemerintah memproyeksikan jutaan peluang kerja baru dapat tercipta dari ekosistem program tersebut.

 

“MBG ini pada puncaknya akan menjangkau lebih dari 82 juta penerima manfaat. Dari sana, dapur-dapur yang beroperasi bisa mencapai sekitar 30 ribu unit, dan setiap dapur mempekerjakan sekitar 50 orang. Itu artinya, kita sedang membuka sedikitnya 1,5 juta lapangan kerja baru,” ujar Presiden.

 

Menurut Presiden, angka tersebut bahkan berpotensi terus bertambah seiring penguatan rantai pasok pangan nasional, mulai dari petani, peternak, nelayan, pelaku UMKM, hingga jasa distribusi yang menopang operasional dapur MBG di berbagai daerah. Penegasan ini memperlihatkan arah kebijakan pemerintah yang tidak hanya fokus pada output konsumsi, tetapi juga dampak ekonomi jangka panjang yang inklusif dan menyentuh masyarakat akar rumput.

 

Di SPPG Banjarwangunan 1, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, warga sekitar terlibat langsung dalam aktivitas harian dapur, dari menyiapkan bahan, memasak, hingga pengemasan dan distribusi. Adha Sidik Hidayat, salah satu juru masak, menyebut kehadiran MBG telah menjadi harapan baru bagi banyak warga yang sebelumnya belum memiliki pekerjaan tetap.

 

“Jadi dilihat dari relawan sendiri yang asalnya menganggur sudah pasti mendapat pekerjaan yang layak. Ada beberapa relawan kami sebagai orang tua tunggal (single parent) dengan keberadaan MBG ini sangat membantu untuk menafkahi anaknya,” kata Adha.

 

Ia menambahkan, skema penghasilan yang diterapkan cukup kompetitif dan mampu meningkatkan kesejahteraan pekerja.

 

“Patokan dari BGN untuk relawan itu Rp100-200 ribu per hari. Untuk chef rata-rata Rp200 ribu per hari. Tinggal dikalikan jumlah hari kerja. Ini cukup layak karena UMK di Cirebon hampir Rp3 juta, jadi sudah melebihi UMK Cirebon,” tuturnya.

 

Adha juga menegaskan bahwa kebijakan perekrutan warga lokal memberi efek domino yang sangat positif.

 

“Memang diwajibkan oleh BGN bahwa yang bekerja di SPPG tersebut wajib warlok (warga lokal). UMKM di sekitar juga tumbuh berkembang, termasuk warung dan pemasok bahan baku,” tegas Adha.

 

Di tengah evaluasi dan penguatan standar kualitas yang terus dilakukan pemerintah, perkembangan ini memperlihatkan bahwa MBG telah tumbuh menjadi kebijakan sosial-ekonomi yang komprehensif. Program ini bukan hanya menjawab kebutuhan gizi generasi muda, tetapi juga membuktikan keberpihakan pemerintah pada penciptaan kerja, penguatan UMKM, dan perputaran ekonomi daerah. Dengan tata kelola yang terus dibenahi, MBG kian menegaskan arah pemerintahan saat ini yang pro rakyat, produktif, dan berorientasi pada kesejahteraan berkelanjutan.***

Pekerja Hijau: Jawaban atas Perubahan Industri dan Tuntutan Keberlanjutan

September 22, 2026

Pekerja Hijau Disiapkan dari Sabang sampai Merauke lewat Balai Vokasi

September 21, 2026

Pekerja Hijau: Jawaban atas Perubahan Industri dan Tuntutan Keberlanjutan

By Kata IndonesiaSeptember 22, 20260

Pekerja Hijau: Jawaban atas Perubahan Industri dan Tuntutan Keberlanjutan *) Oleh : Dewi Astuti Jakarta…

Pekerja Hijau Disiapkan dari Sabang sampai Merauke lewat Balai Vokasi

By Kata IndonesiaSeptember 21, 20260

Pekerja Hijau Disiapkan dari Sabang sampai Merauke lewat Balai Vokasi JAKARTA — Pemerintah memperluas penyiapan…

Pemerintah Perkuat Balai Vokasi demi Cetak Pekerja Hijau Nasional

By Kata IndonesiaSeptember 21, 20260

Pemerintah Perkuat Balai Vokasi demi Cetak Pekerja Hijau Nasional Jakarta, – Pemerintah terus memperkuat kualitas…

Langkah Pemerintah Pulihkan Korban Pelanggaran HAM Mendapat Apresiasi

By Kata IndonesiaSeptember 21, 20260

Langkah Pemerintah Pulihkan Korban Pelanggaran HAM Mendapat Apresiasi Oleh: Fauzan Ali Upaya pemerintah dalam menyelesaikan persoalan hak asasi manusia (HAM) terus berjalan dengan menempatkan pemulihan korban sebagai bagian penting dari proses penanganan. Langkah pemerintah mencakup penanganan kekerasan yang masih terjadi hingga membuka kembali proses penyelidikan terhadap dugaan pelanggaran HAM berat pada masa lalu. Pemulihan korban menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penyelesaian kasus HAM. Proses penanganan tidak cukup berhenti pada pengungkapan peristiwa atau penegakan hukum terhadap pelaku, tetapi juga perlu memastikan hak dan kebutuhan korban mendapatkan perhatian. Komitmen pemerintah dalam memberikan perlindungan dan pemulihan korban mendapat apresiasi karena menunjukkan adanya upaya untuk melihat penyelesaian kasus HAM secara lebih menyeluruh. Penanganan tidak hanya diarahkan pada aspek hukum, tetapi juga mempertimbangkan dampak yang dirasakan korban dan masyarakat yang terdampak. Komitmen pemerintah terlihat dari respons terhadap kekerasan yang terjadi di Papua Pegunungan. Kementerian Hak Asasi Manusia (KemenHAM) mengecam penembakan tiga warga sipil ASN Dinas Pertanian di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya. Staf Khusus Menteri HAM, Thomas Harming Suwarta, menegaskan bahwa kekerasan terhadap warga sipil yang tengah menjalankan aktivitas untuk mencari penghidupan tidak dapat dibenarkan. KemenHAM meminta kasus tersebut diusut secara tuntas dan pelaku diproses secara tegas berdasarkan hukum yang berlaku. Thomas juga menekankan pentingnya memastikan masyarakat sipil tetap mendapatkan perlindungan. KemenHAM mengimbau seluruh pihak menahan diri agar penanganan persoalan di Papua tidak menimbulkan korban baru. Perlindungan terhadap warga sipil menjadi semakin penting ketika persoalan HAM beririsan dengan konflik dan kekerasan. Pemerintah telah menunjukkan komitmennya dengan memastikan setiap tindakan penanganan tetap berada dalam koridor hukum sekaligus menghormati hak dasar masyarakat.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.