• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Masyarakat Tegas Menolak Reuni 212

Masyarakat Tegas Menolak Reuni 212

  • Kata Indonesia
  • - Friday, 8 November 2019

Oleh : Muhammad Zaki (Penulis adalah pengamat sosial politik)

Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) berencana melakukan reuni 212 pada 2 Desember 2019.  Sejumlah elemen masyarakat pun menolak rencana tersebut. Selain tidak relevan dilaksanakan, Reuni 212 hanya dianggap membuat gaduh situasi nasional pasca Pemilu 2019.

Kabar terbaru menyebutkan, bahwa akan digelar reuni akbar 212 yang turut melibatkan pentolan FPI, Habib rizieq Shihab (HRS). Meski sosoknya masih belum ada di Nusantara. Namun, gembar-gembor acara telah banyak beredar, hingga ke dunia maya. Ada yang menarik disini, Prabowo salah satu simpatisan yang dulu mereka usung tak masuk daftar hadir kegiatan ini? Apa kiranya yang terjadi? Apakah mereka kecewa dengan sang Menhan sekarang ini?

Fachrul Razi, selaku Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi, enggan menanggapi Rencana Persaudaraan Alumni 212 (PA 212). Yang akan menggelar acara ini kembali dihelat pada 2 Desember mendatang. Dirinya berdalih tak ingin salah berkomentar terkait rencana yang belum ada kejelasannya ini. Reuni 212 ini ditengarai dimotori oleh sejumlah ormas Islam seperti, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF), PA 212, FPI, Ulama dan Forum Umat Islam, yang tergabung dalam ijtimak ulama 4. Menurut laporan mereka mengusung NKRI bersyariah.

Sebelumnya, di media sosial telah tersebar poster bertajuk “Munajat untuk Keselamatan Negeri: Maulid Agung dan Reuni Alumni 212. Yang kemudian disusul konfirmasi oleh Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif, bahwasanya pihaknya akan kembali menghelat Reuni Aksi 212 lagi pada 2 Desember 2019.

Pada awalnya Aksi 212 ini terbentuk guna memprotes pernyataan bernada SARA dari (mantan) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Tepatnya setelah  menggelar aksi 411 pada tanggal 4 November tahun 2016, GNPF Ulama kemudian lanjut memotori Aksi 212 pada 2 Desember di tahun yang sama.

Bahkan, Aksi ini diklaim menghadirkan sekitar 7 juta orang, yang kini menjadi agenda tahunan dan di-handle oleh pihak PA 212. Kegiatan ini, pernah juga mengusung nama Pentolan Gerindra, Prabowo Subianto beserta para partai koalisinya. Namun, Ketua Media Center PA 212 Habib Novel Bamukmin mencoret nama Prabowo dari daftar hadirnya. Dirinya berdalih jika dia tak paham karena tidak ada pembahasan terkait nama yang sekarang menjabat jadi Menhan di kabinet baru Jokowi tersebut.

Tak diundangnya Prabowo ini ditanggapi sejumlah pihak dengan beragam asumsi. Mulai dari tudingan “tak teman” lagi hingga pendapat lainnya yang dinilai cukup menggelitik. Sebab, hal ini dinilai begitu kentara, mengingat Prabowo pernah dielu-elukan saat mencalonkan diri menjadi Presiden sebagai rival Jokowi kala itu.

Dalam reuni 212 dulu  disebutkan mampu menyedot hingga jutaan massa. Namun, apakah reuni yang ketiga tanpa Prabowo akan seramai itu? Namun, kemungkinan akan tetap selalu ada, bisa jadi akan padat massa atau bahkan sepi peserta. Perlahan 212 ditinggalkan loyalisnya, sebab Prabowo tak lagi ikut tergabung di dalamnya dan memilih hijrah ke kubu pemerintah.

Bukan hanya terkesan menggandeng sejumlah tokoh untuk kepentingan politik. Namun, memang ada kemungkinan acara reuni tahunan ini mengandung agenda politis. Belum lagi, turut mengundang pemimpin FPI yang kini masih belum terlihat batang hidungnya. Bukan menghakimi, seperti yang sudah-sudah rencana aksi 212 selalu memicu pro dan kontra. Organisasi ini banyak dinilai terlalu keras mengkritisi langkah pemerintahan. Padahal, seperti yang kita tahu, pemerintah selalu berusaha hadir bagi warga negaranya.

Kembali pada rencana agenda rutin yang akan digelar di Monas, agaknya masih terlihat “ngalor-ngidul” tersebab pernyataan pihak panitia yang selalu berubah-ubah. Dulu, sewaktu akan dihelat acara yang sama, mereka menyatakan diri murni sebagai ajang reuni persaudaraan tahunan. Namun, pada kenyataannya, sejumlah elit politik digandeng guna “meramaikan” panggung acara.

Berkenaan dengan HRS, pentolan FPI dengan beberapa kasus dan “keras” terhadap pemerintahan Jokowi ini juga mengundang beragam persepsi. Apakah kiranya esensi dari digelarnya acara ini? Atau masih pada tujuan yang sama yakni “merongrong” segala langkah pemerintahan? Jadi wajar saja jika kegiatan ini banyak menuai protes, sebab kejelasan tujuan aksi belum bisa dipastikan. Apalagi Menag, fachrul Razi juga belum mampu berkomentar, terkait pelaksaan yang belum diajukan.

APBN 2027: Menjaga Daya Beli Sambil Mempercepat Investasi

October 26, 2026

MBG 2.0 Menandai Peralihan dari Perluasan Menuju Penguatan Kualitas

October 26, 2026

APBN 2027: Menjaga Daya Beli Sambil Mempercepat Investasi

By Kata IndonesiaOctober 26, 20260

APBN 2027: Menjaga Daya Beli Sambil Mempercepat Investasi Oleh: Dhita Karuniawati Pemerintah menempatkan Anggaran Pendapatan…

MBG 2.0 Menandai Peralihan dari Perluasan Menuju Penguatan Kualitas

By Kata IndonesiaOctober 26, 20260

MBG 2.0 Menandai Peralihan dari Perluasan Menuju Penguatan Kualitas Oleh: Rangga Mahendra Program Makan Bergizi…

Peningkatan Kontribusi Hilirisasi Membuka Peluang Penguatan Industri Nasional 

By Kata IndonesiaOctober 26, 20260

Peningkatan Kontribusi Hilirisasi Membuka Peluang Penguatan Industri Nasional  Oleh: Bara Winatha Peningkatan kontribusi hilirisasi terhadap investasi dan ekspor membuka peluang strategis bagi penguatan industri nasional di tengah dinamika ekonomi global. Melalui pengolahan sumber daya alam di dalam negeri, Indonesia berpeluang meningkatkan nilai tambah produk, menciptakan lapangan kerja, mengembangkan teknologi, dan memperbesar penerimaan devisa. Namun, keberhasilannya tidak cukup diukur dari pertumbuhan investasi semata, melainkan juga dari kemampuan membangun industri yang produktif, kompetitif, dan berkelanjutan. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa kontribusi investasi hilirisasi mencapai 35 persen pada triwulan III 2026, meningkat dari 26 persen pada 2024. Kenaikan tersebut menunjukkan semakin besarnya peran kegiatan pengolahan dalam struktur investasi nasional sekaligus memperkuat arah pembangunan ekonomi berbasis nilai tambah. Menurut Rosan, investasi perlu menghasilkan manfaat yang lebih luas, terutama penyerapan tenaga kerja, peningkatan kemampuan teknologi, dan penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Pengembangan industri nikel dan baterai kendaraan listrik menjadi salah satu fokus pemerintah. Dalam pelaksanaannya, keseimbangan antara ketersediaan bahan baku, kapasitas pengolahan, dan kebutuhan industri lanjutan harus dijaga agar ekspansi produksi disertai peningkatan kualitas manufaktur. Prospek hilirisasi juga tercermin dalam proyeksi ekspor yang disampaikan Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN, Septian Hario Seto, memperkirakan nilai ekspor produk hilirisasi mencapai US$50 miliar pada akhir 2026. Angka tersebut meningkat sekitar 45 persen dibandingkan capaian 2024 sebesar US$34,5 miliar. Pertumbuhan diperkirakan terutama berasal dari pengolahan nikel, aluminium, serta komponen baterai litium. Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa basis hilirisasi Indonesia mulai meluas. Septian memperkirakan ekspor produk aluminium mencapai US$7,2 miliar pada 2026, lebih dari dua kali lipat nilai 2024 sebesar US$3,5 miliar. Peningkatan kapasitas produksi dan rencana investasi fasilitas peleburan aluminium atau smelter menjadi faktor pendukung pertumbuhan sektor ini. Di sisi lain, industri baterai menawarkan peluang untuk memperkuat penguasaan teknologi. Indonesia mulai mengembangkan produksi komponen kendaraan listrik, termasuk anoda dan katoda, serta memiliki fasilitas pemurnian litium meskipun tidak mempunyai sumber daya litium domestik. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan industri dapat ditempuh melalui kemampuan pengolahan, integrasi rantai pasok, dan kerja sama teknologi, bukan semata kepemilikan bahan mentah.…

Makin Dirasakan Manfaatnya, Kontribusi Hilirisasi terhadap Investasi Meningkat

By Kata IndonesiaOctober 26, 20260

Makin Dirasakan Manfaatnya, Kontribusi Hilirisasi terhadap Investasi Meningkat Jakarta – Hilirisasi industri semakin memperkuat perannya…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.