• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Lawan Hoaks dengan Literasi Media

Lawan Hoaks dengan Literasi Media

  • Kata Indonesia
  • - Sunday, 7 July 2019

Oleh : Dhea Putri

Membaca merupakan salah satu akses yang mengantarkan kita ke jendela dunia. Dengan membaca kita dapat mengetahui apa yang sebelumnya bahkan tidak pernah kita dengar. Namun, terkadang ketidaktuntasan dalam membaca sebuah informasi dapat menyebabkan kita terjerumus dalam lembah hoaks. Hoaks yang menjamur di berbagai sosial media seolah-olah terus menyuntik setiap khalayak untuk semakin mempercayainya.

Lalu apakah penyebab masifnya hoaks?
Inisiator Komunitas Masyarakat Indonesia Anti Hoax, Septiaji Eko Nugroho, menilai, rendahnya kesadaran literasi menjadi salah satu faktor pendorong masifnya peredaran kabar bohong atau hoaks. Budaya baca yang rendah menyebabkan masyarakat menelan informasi secara instan dan utuh.

Informasi yang diterima langsung diyakini sebagai kebenaran, lalu berupaya membagi informasi tersebut kepada orang lain. Hal ini relevan dengan catatan UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-bangsa), menurut UNESCO pada 2012, Indeks membaca bangsa Indonesia hanya 0,001. Artinya, di antara 1.000 orang, hanya satu orang yang membaca dengan serius. Demikian pula catatan survey Most Literated Nation In The World yang dilakukan pada 2015 lalu menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari 61 negara. Generasi saat ini atau generasi Z dan millennial adalah generasi yang tumbuh besar bersama perangkat teknologi dan internet. Sebagai digital natives (generasi yang lahir di saat era digital sudah berlangsung dan berkembang pesat), generasi millennial menerima media sosial sebagai sesuatu yang taken for granted (sesuatu yang sudah biasa). Ini berbeda dengan generasi orang tua mereka yang masuk dalam kategori digital immigrant (generasi yang lahir sebelum generasi digital berkembang). Fokus literasi media dalam kurikulum pendidikan adalah memastikan setiap orang mampu membaca perkembangan teknologi termasuk konsekuensi pesan di dalamnya secara kritis dan bijak dalam menggunakannya.

Lemahnya budaya literasi bagi masyarakat menyebabkan daya nalar seseorang dan menyebabkan kesulitan berpikir secara jernih dan kritis dalam menemukan setiap masalah, alhasil yang tercermin adalah emosi dan egoisme. Sehingga, isu-isu provokatif dan hasutan yang dihembuskan oleh berita-berita tipuan dengan mudah disebarkan dan mempengaruhi khalayak. Lemahnya budaya literasi pun menyebabkan meningkatnya plagiarisme, kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang literasi media juga membuat seseorang menelan mentah-mentah berita yang sumber dan kebenarannya masih dipertanyakan.

Besarnya dampak dan kerugian terhadap isu hoaks yang beredar membuat pemerintah beranjak untuk berkampanye demi memerangi hoaks bersama. Kampanye memerangi hoaks atau berita bohong saat ini semakin gencar dilaksanakan khususnya melalui media sosial. Berita hoaks tidak lagi dipandang sebagai masalah yang sederhana, karena jika penyebarannya dibiarkan terus menerus akan menyebabkan goyahnya kehidupan bangsa.

Masyarakat pengguna internet perlu lebih cermat dalam menerima dan menyebarluaskan informasi melalui media sosial. Informasi memuat ujaran kebencian yang menyebar dengan cepat dapat mengancam persatuan bangsa. Perkembangan teknologi dan semakin banyaknya pengguna internet di Indonesia, kata Adhyaksa, telah memicu perang informasi. Melalui media sosial, berbagai informasi begitu cepat masuk ke ruang pribadi masyarakat pengguna internet. Informasi itu sangat mudah memengaruhi sikap masyarakat dan membentuk opini publik. Pengguna internet saat ini juga tidak lagi bersikap pasif sebagai penerima informasi semata.

Masyarakat telah berubah menjadi jurnalis warga yang memproduksi informasi dan menyebarkannya dengan sangat cepat. Kemajuan teknologi media sosial ibarat dua mata pisau. Di satu sisi, ia memberi kemudahan bagi penggunanya untuk mengakses informasi. Di sisi lain, banyak pihak yang memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk menyebarkan ujaran kebencian.
Dalam rangka memerangi berita hoaks yang tersebar sangat massif dan sulit dicegah penyebarannya maka perlu adanya literasi media oleh masyarakat. Literasi media merupakan kemampuan untuk memahami, menganalisis dan mendekontruksi apa yang disajikan oleh media. Literasi media merupakan aktifitas yang menekankan aspek edukasi di kalangan masyarakat agar mereka tahu bagaimana mengakses serta memilih informasi yang akurat dan bermanfaat. Melalui literasi media, masyarakat menjadi kritis, peka terhadap informasi, serta mampu meningkatkan kualitas masyarakat itu sendiri dengan aktif mencari informasi yang sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan referensi yang ada.

Dalam literasi media, ada tahapan yang bisa digunakan oleh masyarakat dalam menerima, memilih, dan menyeleksi informasi sesuai dengan kebutuhan intelektual yang dibutuhkan, yaitu, Explore, keahlian dalam memilih dan memutuskan informasi yang dibutuhkan dari suatu pesan.

Recognize symbol, keahlian untuk mengidentifikasi dan memilah symbol, seperti menafsirkan makna pesan media massa dan menyimpulkan pesan-pesan media massa yang diterima dan yang terakhir yaitu membatasi jumlah jam yang digunakan dalam penggunaan internet secara proposional.

Tentunya, budaya hoaks tidak bisa dihilangkan begitu saja, tetapi sebagai insan yang selalu berpikir dan berikhtiar, sekiranya literasi media menjadi solusi alternative di tengah gelombang kabar burung yang kini kian meraja. Semoga kita termasuk ke dalam golongan insan yang selalu berikhtiar dengan meningkatkan budaya literasi agar dapat menghantarkan kita kepada jendela ilmu pengetahuan.

Pemerintah Perkuat Satgas Terpadu Percepat Penanganan Gempa NTT

August 19, 2026

Satgas Gempa NTT Dikawal hingga Fase Darurat Beralih ke Rehabilitasi

August 19, 2026

Pemerintah Perkuat Satgas Terpadu Percepat Penanganan Gempa NTT

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Pemerintah Perkuat Satgas Terpadu Percepat Penanganan Gempa NTT Jakarta – Pemerintah memperkuat pembentukan satuan tugas…

Satgas Gempa NTT Dikawal hingga Fase Darurat Beralih ke Rehabilitasi

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Satgas Gempa NTT Dikawal hingga Fase Darurat Beralih ke Rehabilitasi Jakarta – Penanganan korban gempa…

Kebijakan Transformatif Tunjukkan Negara Bergerak Cepat Membenahi Masalah

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Kebijakan Transformatif Tunjukkan Negara Bergerak Cepat Membenahi Masalah  Oleh: Agus Sasongko Sudah saatnya publik menilai perjalanan pembangunan bukan hanya dari janji, tetapi juga dari arah kebijakan dan hasil yang mulai terlihat di tengah kehidupan masyarakat. Dalam 21 bulan pemerintahan, berbagai langkah yang diambil menunjukkan adanya upaya mempercepat penyelesaian persoalan yang selama ini dianggap rumit dan membutuhkan waktu panjang. Di tengah tantangan pada sektor pangan, energi, pendidikan, kesehatan, hingga pelayanan publik, rangkaian kebijakan transformatif menjadi sinyal bahwa negara sedang bergerak lebih cepat membenahi masalah sekaligus membangun fondasi yang lebih kuat bagi masa depan Indonesia. Gambaran tersebut mengemuka dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung Nusantara, Jakarta. Pada kesempatan itu, Prabowo Subianto menyampaikan bahwa pemerintah telah memutuskan sekaligus menjalankan 121 kebijakan transformatif selama 663 hari pemerintahan. Artinya, rata-rata satu kebijakan lahir setiap lima hari sebagai bagian dari upaya menyelesaikan persoalan negara yang sebagian telah berlangsung selama puluhan tahun dan membutuhkan keberanian dalam pengambilan keputusan. Menurut Prabowo Subianto, pencapaian tersebut lahir dari kombinasi keberanian mengambil keputusan, kerja keras, arah kebijakan yang jelas, serta semangat gotong royong seluruh unsur bangsa. Pemerintah juga tidak mengklaim seluruh persoalan telah selesai, tetapi menilai berbagai tantangan nasional mulai memasuki tahap penyelesaian yang lebih nyata. Cara pandang tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan diposisikan sebagai proses berkelanjutan yang menuntut konsistensi, bukan sekadar mengejar pencapaian jangka pendek yang mudah dilupakan. Salah satu indikator keberhasilan yang paling menonjol selama setahun terakhir terlihat pada sektor pangan. Indonesia berhasil mencapai swasembada delapan komoditas utama lebih cepat dibanding target awal yang diperkirakan membutuhkan empat hingga lima tahun. Beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit menjadi komoditas yang berhasil diperkuat melalui kombinasi kebijakan produksi, distribusi, serta dukungan kepada petani. Pencapaian ini memperlihatkan bahwa percepatan kebijakan dapat menghasilkan dampak nyata ketika hambatan birokrasi dan distribusi mulai disederhanakan. Keberhasilan tersebut diperkuat oleh langkah pemerintah menghapus 145 aturan penyaluran pupuk yang selama ini dinilai menghambat akses petani. Selain itu, harga pupuk berhasil diturunkan hingga 20 persen sehingga biaya produksi menjadi lebih ringan. Kebijakan tersebut tidak hanya membantu meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga berdampak terhadap kinerja PT Pupuk Indonesia yang mencatat peningkatan keuntungan sebesar 252,8 persen. Situasi ini memperlihatkan bahwa kebijakan yang tepat dapat menghadirkan manfaat ganda, yakni memperkuat kesejahteraan petani sekaligus meningkatkan kinerja badan usaha milik negara. Pada sektor energi, pemerintah juga menunjukkan langkah strategis melalui implementasi diesel berbasis campuran biodiesel B50. Sejak 1 Juli 2026, Indonesia tidak lagi mengimpor solar dari luar negeri sehingga mampu menghemat devisa sekitar Rp170 triliun atau setara USD9,5 miliar. Langkah tersebut menjadi salah satu pencapaian penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri. Keberhasilan itu menunjukkan bahwa hilirisasi sumber daya dan pemanfaatan energi domestik mulai memberikan hasil yang konkret bagi perekonomian nasional.…

Kebijakan Transformatif: Pemerintahan Jadi Cepat, Tegas, dan Berorientasi Hasil

By Kata IndonesiaAugust 19, 20260

Kebijakan Transformatif: Pemerintahan Jadi Cepat, Tegas, dan Berorientasi Hasil Oleh: Ahmad Mustofa Di tengah berbagai…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.