• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»La Miftaha wa Laa Yahya: Catatan Ringan dari Diskusi Warga NU di Berbagai Pelosok

La Miftaha wa Laa Yahya: Catatan Ringan dari Diskusi Warga NU di Berbagai Pelosok

  • Kata Indonesia
  • - Monday, 10 August 2026

Menjelang Muktamar NU ke-35—yang kini telah dipastikan akan digelar di Tambak Beras—berbagai elemen warga NU di berbagai daerah justru mulai terang-terangan menampakkan kegelisahannya. Acara mubes, diskusi, dan halaqoh di Yogyakarta, Batang, dan Solo menyuarakan satu kegelisahan yang sama: kecewa dengan kepemimpinan KH Miftachul Akhyar dan Gus Yahya Cholil Staquf—juga Gus Ipul—dengan ambisinya yang dinilai luar biasa.

Ada beberapa jargon sarkasme yang muncul di tengah keramaian acara tersebut. Mulai dari “NU: Muktamar Kanggo Umat, Dudu Rebutan Jabatan” di Batang, “NU Ora Didol: Meneguhkan Khittah NU untuk Kemandirian Nahdliyyin” di Yogyakarta, hingga merebaknya sebuah bisik-bisik lirih (penuh kewaspadaan) di setiap obrolan warga NU tentang perhelatan Muktamar nanti yang berpotensi mengeras: “La Miftaha wa laa Yahya.”

Riak ini tentu saja tak bisa dipandang remeh, atau sekadar letupan emosi sesaat. Di balik dinding-dinding tinggi pesantren, khususnya pasca-polemik tanda tangan tunggal pada surat penetapan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) di Ploso, Kediri, warga NU akar rumput makin yakin akan adanya keretakan struktural yang makin menganga. Ketika Rais Aam dan Ketua Umum PBNU tak lagi seiring dalam goresan pena organisasi, arus bawah membaca itu sebagai tanda bahaya: ego elite telah melampaui maslahat jam’iyah.

Eksklusif-Negatif: Retorika Tanpa Nama

Jika kalimat “La Miftaha wa laa Yahya” dibedah dari kacamata ilmu nahwu, kita akan menemukan sebuah kejutan retoris. Kalimat ini merupakan bentuk nafy (penolakan/peniadaan) terhadap dua subjek. Memang, kalau secara nahwu yang baku untuk nama orang adalah menggunakan struktur “Laisa Miftahun wa laa Yahya”. Namun, secara literal maknanya tetap sama: “Bukan Miftah dan bukan Yahya.”

Seiring dengan makna tersebut, perspektif ilmu balaghah pesantren juga memberikan pemaknaan yang tak kalah menarik dan berpotensi memiliki daya ledak yang patut direnungkan oleh para elite PBNU. Dalam retorika politik Arab, ini disebut sebagai slogan eksklusif-negatif. Slogan jenis ini sama sekali tidak menawarkan siapa yang harus dipilih, melainkan dengan tegas menyatakan siapa yang harus disingkirkan. Ia mirip dengan kalimat historis “La syarqiyyah wa la gharbiyyah” (Bukan Timur dan bukan Barat).

Kekuatan retorikanya justru terletak pada ruang kosong yang sengaja diciptakannya. Slogan ini tidak menjawab: lalu siapa? Akibatnya, ingatan kolektif warga Nahdliyin dipaksa untuk memikirkan sendiri alternatif kepemimpinan di luar dua kutub yang sedang bertikai tersebut. Ini adalah seruan halus bahwa NU jauh lebih besar ketimbang sekadar pertarungan bipolar dua nama.

Etika Siyasah dan Tradisi Pesantren

Meski demikian, tradisi intelektual pesantren selalu memiliki rem darurat yang cukup pakem. Dalam fikih siyasah, ada kaidah terkenal: “Al-hukmu ‘ala asy-syai’i far’un ‘an tashawwurihi” (Sebuah penilaian harus didasarkan pada pemahaman yang utuh).

Secara hukum organisasi dan ekspresi politik, slogan penolakan itu sah-sah saja. Namun, secara etika siyasah syar’iyyah, gerakan arus bawah ini tidak boleh berhenti hanya pada kejengkelan dan penolakan. Siyasah yang maslahat harus melangkah lebih jauh: siapa alternatifnya? Siapa yang lebih alim? Dan siapa yang mampu merajut kembali marwah organisasi yang terkoyak?

Dalam bahasa lugas para kiai kampung, “Ora cukup mung nolak calon. Kudu nduwe usulan calon sing luwih apik.” Jangan sampai energi warga habis dalam pusaran dekonstruksi tanpa mampu membangun kembali menara kepemimpinan yang berwibawa.

Jika ingin lebih elegan dan setia pada tradisi siyasah NU, para ulama sepuh sebenarnya memiliki artikulasi yang lebih halus (majas), yaitu: Laisa al-‘ibrah bil-asmaa’ wa innamaa bil-ahliyyah wal-amaanah (Bukan nama yang menjadi ukuran, melainkan kapasitas dan amanah).

Atau ungkapan yang lebih mengarah pada jalan keluar: “La Miftaha wa laa Yahya, balil aslahu lin-Nahdhah” (Bukan Miftah dan bukan Yahya, melainkan siapa yang paling maslahat bagi Nahdlatul Ulama).

Mengguncang dari Luar Pagar

Secara de jure, para oknum PBNU mungkin bisa jumawa. Hak suara di Muktamar nanti memang sepenuhnya milik pemilik SK resmi: PCNU dan PWNU. Bahkan, bila ada yang saat ini tidak “tegak lurus”, bisa terancam terkena jurus “caretaker” dari status quo yang berkuasa. Dalam hal ini, gerakan kultural di Yogyakarta, Solo, atau Batang benar-benar tidak punya mandat selembar pun di bilik suara.

Namun, meremehkan suara lirih dari luar pagar ini adalah kecerobohan fatal dalam membaca anatomi Nahdlatul Ulama. Hubungan struktur dan kultur di NU terikat oleh urat nadi spiritualitas. Ketika kiai-kiai muda dan akademisi mulai meneriakkan “krisis keteladanan ulama,” mereka sedang mengirim sinyal kuat kepada para pengurus cabang yang mayoritas adalah santri. Menentang fajar kultural ini bisa berarti su’ul adab, sebuah beban moral yang sangat dihindari di lingkungan Nahdliyin.

Lebih dari itu, gerakan ini mulai mengincar aturan main (tatib). Desakan agar pemilihan Ketua Umum PBNU dikembalikan ke sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) secara penuh—bukan voting langsung—adalah serangan langsung ke jantung pragmatisme politik elite. Jika sistem AHWA penuh disepakati pada Munas-Konbes Juni ini, maka peta lobi transaksional yang biasa dimainkan petahana akan rontok seketika.

Kini, palu perhelatan Muktamar ke-35 telah diketuk: Tambak Beras akan menjadi saksi sejarahnya. Namun, seiring dengan kepastian lokasi tersebut, gumam “La Miftaha wa laa Yahya” justru kian menjalar dan menggema. Dari riak ini kita tahu: arus bawah sedang bersiap menyita kembali kapal besar bernama NU, sebelum ia karam dalam syahwat politik para nakhodanya.

Anis Maftukhin

Warga NU akar rumput, tinggal di Tuntang, Kab. Semarang.

Data BPS Ungkap Fundamental Ekonomi Nasional Dinilai Tetap Kuat

November 6, 2026

Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Tengah Ketidakpastian Global

November 6, 2026

Data BPS Ungkap Fundamental Ekonomi Nasional Dinilai Tetap Kuat

By Kata IndonesiaNovember 6, 20260

Data BPS Ungkap Fundamental Ekonomi Nasional Dinilai Tetap Kuat JAKARTA – Kondisi perekonomian Indonesia dinilai…

Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Tengah Ketidakpastian Global

By Kata IndonesiaNovember 6, 20260

Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Tengah Ketidakpastian Global  Oleh: Agus Yanuar Perekonomian Indonesia memperlihatkan daya tahan di tengah ketidakpastian global dengan mencatat pertumbuhan sebesar 5,47 persen secara tahunan pada kuartal III 2026. Angka yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi nasional masih bergerak positif, meskipun belum menyamai capaian awal tahun. Kinerja ini menjadi modal untuk menjaga optimisme, sekaligus pengingat bahwa ketahanan ekonomi perlu diperkuat melalui kebijakan konsisten dan pembangunan yang manfaatnya dirasakan masyarakat. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Edy Mahmud, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 mencapai 5,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut memang lebih rendah daripada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen, tetapi meningkat dibandingkan kuartal II 2026 sebesar 5,29 persen dan kuartal III 2025 sebesar 5,04 persen. Perbandingan tersebut memperlihatkan momentum perekonomian masih terjaga, meskipun perkembangan setiap kuartal perlu dicermati agar perlambatan tidak berlanjut. BPS mencatat produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada kuartal III 2026 mencapai Rp6.741 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp3.633,2 triliun. Seluruh lapangan usaha berhasil membukukan pertumbuhan positif. Kondisi ini menunjukkan pergerakan ekonomi tidak hanya bergantung pada satu bidang, melainkan ditopang berbagai sektor yang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nasional. Lima lapangan usaha dengan kontribusi terbesar terhadap PDB adalah industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Edy Mahmud menyebutkan bahwa gabungan kelima sektor tersebut mencakup sekitar 65,31 persen dari total PDB nasional. Industri pengolahan memberikan kontribusi 19,22 persen, disusul pertanian 13,46 persen, perdagangan 13,24 persen, konstruksi 10,20 persen, serta pertambangan sebesar 9,19 persen. *Penulis merupakan pengamat kebijakan publik Dari sisi pertumbuhan, industri pengolahan meningkat 5,87 persen dan berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Kinerja tersebut memperlihatkan peran industri dalam menciptakan nilai tambah, menjaga produksi, serta mendukung rantai pasok dan kesempatan kerja. Perdagangan tumbuh 7,14 persen dan konstruksi mencapai 6,42 persen, sementara pertambangan kembali mencatat pertumbuhan positif sebesar 0,91 persen. Adapun pertanian hanya tumbuh 0,46 persen. Angka ini patut menjadi perhatian karena pertanian berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, penghidupan masyarakat pedesaan, dan stabilitas harga kebutuhan sehari-hari.…

Ketahanan Ekonomi RI Menjadi Modal Menjaga Optimisme Nasional

By Kata IndonesiaNovember 6, 20260

Ketahanan Ekonomi RI Menjadi Modal Menjaga Optimisme Nasional  Oleh: Abdul Gofar Ketahanan ekonomi Indonesia yang tetap terjaga di tengah ketidakpastian global menjadi modal penting bagi pemerintah untuk mempertahankan optimisme nasional sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,47 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada triwulan III 2026. Capaian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi nasional masih berada dalam jalur positif dengan dukungan berbagai sektor produktif, peningkatan perdagangan, serta penguatan industri manufaktur. Produk Domestik Bruto (PDB) berdasarkan harga konstan tercatat mencapai Rp3.633,2 triliun, sedangkan berdasarkan harga berlaku mencapai Rp6.741,0 triliun. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut memperlihatkan kemampuan Indonesia menjaga momentum pembangunan di tengah berbagai tantangan perekonomian internasional. Menurutnya, industri pengolahan menjadi sektor yang memberikan kontribusi paling besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dengan andil mencapai 1,20 poin persentase. Selain itu, perdagangan menyumbang 0,94 poin persentase, konstruksi sebesar 0,62 poin persentase, serta sektor informasi dan komunikasi memberikan kontribusi 0,49 poin persentase. Industri pengolahan sendiri mengalami pertumbuhan sebesar 5,87 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional. Peningkatan tersebut didukung permintaan pasar domestik maupun internasional yang semakin membaik. Salah satu subsektor yang memperlihatkan perkembangan positif adalah industri makanan dan minuman dengan pertumbuhan 7,09 persen. Kinerja ini ditopang peningkatan ekspor Crude Palm Kernel Oil (CPKO), produk turunan minyak kelapa sawit atau CPO, serta pemanfaatannya untuk kebutuhan produksi biodiesel di dalam negeri. Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional juga mencatatkan pertumbuhan 8,10 persen seiring meningkatnya produksi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan pupuk menjelang musim tanam. Sementara itu, industri logam dasar tumbuh mencapai 9,94 persen berkat peningkatan ekspor berbagai komoditas, termasuk katoda tembaga, nickel matte, dan aluminium. Perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil serta sepeda motor, turut menunjukkan perkembangan dengan pertumbuhan 7,14 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun 2025 sebesar 5,46 persen dan tahun 2024 sebesar 4,85 persen. Sebelum pengumuman pertumbuhan ekonomi tersebut, sejumlah indikator makroekonomi juga telah memberikan gambaran positif mengenai kondisi perekonomian nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai stabilitas harga, perkembangan industri manufaktur, dan kinerja perdagangan luar negeri menjadi tiga faktor penting yang menjaga kekuatan ekonomi Indonesia. Ia menyampaikan bahwa pemerintah berupaya mempertahankan keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan melalui koordinasi kebijakan yang berkelanjutan. Dari sisi harga, inflasi Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan, masih berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5±1 persen. Inflasi inti juga melambat menjadi 2,56 persen, sedangkan inflasi harga yang diatur pemerintah mencapai 3,24 persen. Meskipun demikian, kelompok pangan bergejolak masih perlu mendapatkan perhatian karena mengalami inflasi 5,81 persen akibat kenaikan harga cabai rawit, cabai merah, dan tomat. Fenomena El Niño yang memperpanjang musim kemarau turut memengaruhi produksi dan ketersediaan sejumlah komoditas pangan.…

Rupiah Bergerak, Peluang Penguatan Masih Terbuka

By Kata IndonesiaNovember 6, 20260

Rupiah Bergerak, Peluang Penguatan Masih Terbuka Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.