Kuliah Umum Universitas Islam Malang (Unisma) Hadirkan Dubes RI untuk Azerbaijan Prof. Dr. Husnan Bey Fananie

43

Kuliah Tamu yang bertajuk “Pendidikan Islam Multikultural dalam Perspektif Historis Sosiologis” diberikan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Azerbaijan, Prof. Dr. H. Husnan Bey Fananie, MA, pada Senin (14/10).

Bertempat di Hall Abdurahman Wahid, Gedung Pascasarjana lantai 7 Universitas Islam Malang (Unisma). Kuliah Tamu ini turut dihadiri sekitar 700 Mahasiswa Unisma.

Dalam harapannya, Rektor Unisma, Prof. Dr.H. Maskuri, M.Si menyampaikan semoga dengan kehadiran Prof. Dr. H. Husnan Bey Fananir, MA ini, segenap civitas akademika Unisma dapat menambah motivasi jayanya Unisma NU yang menjadi lokomotif NU Indonesia.

Advertisement

Selain itu dirinya mengucapkan juga menjelaskan latar belakang Duta Besar untuk Azerbaijan, Prof. Dr. H. Husnan Bey Fananie, MA yang juga cucu dari Pendiri Pondok Gontor yang ternama di Indonesia ini.

“Beliau mau mengikuti pendidikan, bahkan mau belajar di Belanda. Beliau bukan sekedar duta besar, tapi orator, juga politisi musisi dan vokalis. Multi talenta. Luar biasa. Hidupnya di pesantren. Santri pun bisa menjadi duta besar,”ungkapnya.

Prof. Dr.H. Maskuri, M.Si pun turut menyampaikan, bahwa Unisma sebagai salah satu Universitas berbasis Islam NU sedang membangun sikap toleran terhadap berbagai macam perbedaan.

“Harus tetap kita jaga dengan baik dengan kajian2 multikultural. Maka Unisma akan menjadi lokomotif dalam rangka membawa Indonesia damai, toleran istiqhomah,” lanjutnya.

Unisma sendiri terdapat pula mahasiswa yang berasal dari 20 negara. Hal tersebut membuat Unisma terus bergerak dan semakin yakin guna mewujudkan sebagai World Class University. untuk itu dirinya ingin seluruh civitas akademika terus mengembangkan sikap konfidensi (kepercayaan diri), meningkatkan kapasitas diri, kelembagaaan dan umat.

Sementara itu, Prof. Dr. H. Husnan Bey Fananie, MA menjelaskan tentang negara Azerbaijan dan menceritakan dirinya saat diberikan tugas Pak Jokowi selama 4 tahun di negeri Azerbaijan.

“Awalnya saya berpikir Azerbaijan negara mana? saat saya datang, baru saya tahu. Oh.. ternyata Azerbaijan itu ada di dekat Rusia.” ungkapnya.

Selain itu, dia juga menceritakan keberhasilannya menyelesaikan studi di pesantren kuliah di Asia Selatan tepatnya Pakistan. Ketika mengenyam pendidikan, ia menceritakan bahwa telah bertemu banyak orang dengan karakternya masing-masing. lain bangsa, lain pula kelebihan yang dimiliki. Sebab itu hal menurutnya penting terutama konsep pendidikan.

Dalam kuliah tamunya, Duta Besar juga mengajak mahasiswa Unisma untuk tidak menyia-nyiakan kelebihan.

“Bapak ibu sekalian ini menjadi sesuatu. setiap kita memiliki kelebihan, oleh karena itu jangan sia-siakan kelebihan kita. Dan segeralah tahu apa kelebihan kita. Kelebihan kita yang tahu kita sendiri,” ajaknya.

Selain itu, Duta Besar tak lupa mengajak mahasiswa Unisma untuk menjadikan kampus Unisma sebagai rumah kedua dan menjadikan Rektor dan dosen-dosennya seperti orangtua.

Pasalnya, pembelajaran tentang akhlakul kharimah didapat di rumah dan di kampus. Jadi tak heran kenapa madrasah menjadi penting. Sebab Unisma ini adalah kawah candra dimuka. tempat menbentuk karakter.

“sehingga Jadikan dia rumah. Madrasah ulah, Rumah. jadikan bapak rektor, dosen, orang tua kita yang kita jaga. kita hormati kita serap ilmunya. Jadikan kampus ini rumah kalian yang membentuk karakter kalian. Yang menjadikan budi pekerti anda terbentuk. Makanya saya katakan kampus ini kawah candradimuko. kalian digodok matang, ” ungkapnya.

Info Lomba Terbaru