• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»Kolaborasi Masyarakat Cegah Penyebaran Radikalisme

Kolaborasi Masyarakat Cegah Penyebaran Radikalisme

  • Kata Indonesia
  • - Tuesday, 13 February 2024

Kolaborasi Masyarakat Cegah Penyebaran Radikalisme

Oleh : Chairil Fauzan

Munculnya kelompok radikal dan intoleran berpotensi semakin besar jelang pelaksanaan Pemilu 2024. Kelompok tersebut memanfaatkan momentum Pilpres 2024 dengan memainkan isu agama, suku, ras, dan antar golongan untuk memprovokasi masyarakat. Umumnya, kelompok tersebut menyebar informasi palsu atau hoaks di berbagai media online.

Radikalisme terkadang sulit untuk diidentifikasi. Radikalisme tidak bisa hanya dilihat dari penampilan atau perilaku, melainkan dari pemikirannya. Paham radikal bisa menyasar siapapun dan tak mengenal umum. Alasannya, para pemuda masih enerjik dan tengah mencari jati diri

Isu radikalisme memang kerap kali menjadi salah satu isu paling menantang yang dihadapi oleh negara-negara di seluruh dunia. Terutama Indonesia yang kaya akan keberagaman. Hal tersebut yang coba dimanfaat kan kelompok radikal dan intoleran untuk menyebarkan pahamnya kepada masyarakat.

Apabila radikalisme masuk dalam tataran politik formal, dipastikan akan menimbulkan kekacauan. Maka dari itu, masyarakat dan pemerintah harus bersinergi membangun kehidupan demokrasi menjelang pesta demokrasi terbesar di Indonesia ini.
Jika melihat dari pengalaman Pemilu/Pilpres 2014 dan 2019 yang menjadi kesaksian sejarah satu dekade terakhir bahwa pengerahan identitas agama, ras dan etnis (SARA) memicu ketegangan sosial dalam masyarakat multikultural. Sehingga menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, perhatian terhadap radikalisme politik harus semakin mendalam dan signifikan. Agar potensi potensi tersebut dapat diredam dan diminimalisir.
Kepala BNPT, Komjen Pol. M Rycko Amelza Dahniel mengatakan saat ini terdapat peningkatan aktivitas terorisme seperti pendanaan, radikalisasi, perekrutan dan konsolidasi sel sel teroris. Aktivitas tersebut menyasar tiga kelompok rentan yaitu perempuan, remaja dan anak. Dengan adanya fenomena tersebut, BNPT berkomitmen meningkatkan sinergi dalam menjalankan program pencegahan terorisme di beberapa wilayah di Pulau Jawa. Langkah ini dilakukan dengan membangun ketahanan masyarakat sekaligus meredam penyebaran radikalisme. Pihaknya mengatakan resiliensi akan terbentuk pada saat masyarakat memiliki pengetahuan dan kesadaran akan bahaya radikalisme dan terorisme. Selain pencegahan, sinergi ini juga akan diintensifkan untuk penguatan program deradikalisasi bagi mantan eks narapidana terorisme (eks napiter).
Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap setiap konten-konten ataupun berita berbau provokasi yang disebarkan kelompok radikal dan intoleran. Literasi diruang digital perlu terus digalakkan guna meminimalisir hoax, disinformasi, ujaran kebencian, serta radikalisme terutama jelang Pilpres yang akan dilaksanakan 14 Februari 2024 mendatang. Disamping itu, patroli siber perlu terus digalakkan agar situasi Kamtibmas aman dan kondusif.
Wakil Ketua DPRD Kaltim, Muhammad Samsun mengatakan masyarakat perlu terus menerapkan nilai nilai toleransi sebagai landasan utama serta mengutuk segala bentuk ekstremisme, serta menekankan pentingnya saling menghormati perbedaan. Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, menjaga persatuan dan toleransi menjadi prinsip kunci untuk menjaga keamanan dan stabilitas negara. Masyarakat perlu memiliki jiwa tanggung jawab bersama untuk memperkuat nilai nilai kebangsaan yang menjunjung tinggi persatuan dalam keberagaman. Langkah pertama dalam mewujudkan masyarakat yang toleran adalah dengan terus meningkatkan pemahaman tentang keberagaman budaya, agama, dan suku di Indonesia. Pendidikan multikultural harus diperkuat, tidak hanya di sekolah tetapi juga melalui berbagai media sosial dan informasi.
Penting untuk terus memberdayakan pemuda, sebagai agen perubahan yang potensial. Melalui pembekalan keterampilan sosial dan pendidikan, pemuda dapat menjadi garda terdepan dalam menolak paham radikal dan mempromosikan nilai nilai toleransi menjelang Pemilu.
Dengan memahami dan menghargai perbedaan tersebut, masyarakat dapat membangun bangsa yang kuat dan bersatu, serta menolak segala bentuk radikalisme yang dapat merusak keberagaman dan persatuan NKRI.
Upaya penangkalan konten radikalisme, terorisme maupun hoaks dilakukan untuk memastikan situasi nasional yang produktif dan sehat. Selain itu kewaspadaan masyarakat terhadap konten konten radikalisme juga harus ditingkatkan, karena apabila tidak, masyarakat dapat terpengaruh sehingga berdampak pada kehidupan sosialnya.
Apabila radikalisme masuk dalam tataran politik formal, dipastikan akan menimbulkan kekacauan. Maka dari itu, masyarakat dan pemerintah harus bersinergi membangun kehidupan demokrasi menjelang pesta demokrasi terbesar di Indonesia ini.
Radikalisme adalah suatu paham atau ideologi yang tidak sejalan dengan Pancasila, ideologi dasar negara Indonesia. Radikalisme dapat berdampak negatif bagi anak muda, baik secara individu maupun kolektif. Oleh karena itu, perlu ada upaya-upaya untuk mencegah radikalisme pada anak muda.
Dalam menghadapi tahun politik, pemerintah giat berupaya menangkal berbagai ancaman, terutama paham radikalisme, yang dapat merusak stabilitas negara. Ancaman ini dapat meresap ke berbagai lapisan masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, kesadaran individu memegang peranan kunci dalam mengantisipasi masuknya paham intoleran tersebut. Pendidikan dan peningkatan literasi masyarakat tentang bahaya radikalisme menjadi langkah penting dalam merawat keutuhan sosial. Individu yang memiliki kesadaran tinggi dan pengetahuan yang memadai dapat menjadi garda terdepan dalam melawan penyebaran paham radikal. Kunci untuk mengatasi masalah ini adalah membangun pertahanan diri yang kokoh, didukung oleh informasi yang akurat dan kepedulian terhadap nilai-nilai kebangsaan. Dengan demikian, upaya pencegahan paham radikal dapat dilakukan secara efektif, menjaga persatuan dan keselamatan masyarakat di tengah dinamika politik yang kompleks.
)* Penulis merupakan Mahasiswa yang tinggal di Bogor

Pemerintah Pastikan Semua Anak Bisa Sekolah Gratis Sampai Sarjana

September 29, 2026

Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda Menyatukan Akses dan Mutu Pendidikan

September 29, 2026

Pemerintah Pastikan Semua Anak Bisa Sekolah Gratis Sampai Sarjana

By Kata IndonesiaSeptember 29, 20260

Pemerintah Pastikan Semua Anak Bisa Sekolah Gratis Sampai Sarjana Oleh: Miftah Hizyan Agenda pendidikan nasional…

Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda Menyatukan Akses dan Mutu Pendidikan

By Kata IndonesiaSeptember 29, 20260

Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda Menyatukan Akses dan Mutu Pendidikan Oleh: Rizky Adi Perman Perluasan…

Pemerintah Perluas Akses Pendidikan Papua melalui Sekolah Rakyat Terintegrasi

By Kata IndonesiaSeptember 29, 20260

Pemerintah Perluas Akses Pendidikan Papua melalui Sekolah Rakyat Terintegrasi Oleh : Yohanes Wandikbo Pendidikan merupakan…

Magang Nasional: Investasi Tenaga Kerja Muda 

By Kata IndonesiaSeptember 29, 20260

Magang Nasional: Investasi Tenaga Kerja Muda  Oleh: Yusuf Rinaldi Program Magang Nasional yang diperluas pemerintah menjadi 150 ribu peserta pada 2026 menunjukkan upaya memperkuat transisi lulusan perguruan tinggi menuju dunia kerja. Program ini tidak hanya memberikan pengalaman kerja bagi lulusan baru, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan keterampilan, membangun jejaring profesional, dan memperbesar peluang masuk ke pasar kerja formal di tengah persaingan memperoleh pekerjaan yang semakin ketat. Sejak 2025, pemerintah membuka Program Magang Nasional dengan target 100 ribu peserta. Pada 2026, kuotanya diperluas menjadi 150 ribu peserta. Program berlangsung selama enam bulan dengan fasilitas pelatihan, pendampingan mentor, sertifikat, jejaring profesional, serta uang saku yang ditanggung pemerintah. Besaran uang saku mengacu pada Upah Minimum Kabupaten/Kota di lokasi pemagangan dan dibayarkan setiap bulan berdasarkan jumlah hari yang diperhitungkan. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan perluasan program tersebut dilakukan secara bertahap dan tetap disertai evaluasi terhadap pelaksanaan setiap angkatan. Pada batch pertama terdapat 46.160 peserta, sedangkan batch kedua menetapkan 40.962 peserta. Pemerintah kemudian menyiapkan batch ketiga dengan sekitar 62 ribu peserta untuk memenuhi target 150 ribu peserta pada 2026. Pendaftaran penyelenggara disiapkan sejak September, seleksi peserta pada Oktober, dan pelaksanaan batch ketiga ditargetkan dimulai pada November. Evaluasi tersebut diarahkan untuk memastikan pemagangan benar-benar memberikan kesempatan kepada peserta meningkatkan kompetensi, memperoleh pengalaman kerja, membangun portofolio, serta memperluas jejaring. Untuk batch ketiga, pemerintah juga mengubah skema penempatan dengan menempatkan seluruh peserta di perusahaan, tanpa kementerian dan lembaga pemerintah. Dari perspektif ekonomi, pemberian uang saku selama enam bulan memberikan dukungan bagi lulusan baru yang berada dalam masa transisi dari pendidikan menuju pekerjaan. Selain memperoleh pengalaman kerja, peserta mendapatkan tunjangan yang disesuaikan dengan upah minimum daerah. Pemerintah juga memberikan fasilitas Pajak Penghasilan Pasal 21 ditanggung pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 6 Tahun 2026 yang berlaku hingga Desember 2026. Dampak terhadap penyerapan tenaga kerja menjadi indikator penting dalam melihat keberlanjutan program. Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kemnaker Darmawansyah menyampaikan bahwa sekitar 30 ribu dari 60 ribu alumni Magang Nasional 2025 yang menjalani pemagangan di industri telah bekerja tiga bulan setelah menyelesaikan program. Tingkat penyerapan tersebut meningkat dari sekitar 30 persen ketika peserta baru menyelesaikan masa pemagangan.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.