• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»KITA SIBUK MENYIAPKAN MASA DEPAN ANAK, SIAPA YANG MENYIAPKAN AKHIRATNYA?

KITA SIBUK MENYIAPKAN MASA DEPAN ANAK, SIAPA YANG MENYIAPKAN AKHIRATNYA?

  • Kata Indonesia
  • - Tuesday, 16 June 2026

Ada pertanyaan yang sering saya ajukan dalam hati, terutama ketika melihat para orang tua begitu sibuk memilihkan sekolah terbaik untuk anak-anak mereka.

Kita rela antri dari subuh untuk mendaftarkan anak ke SMP favorit. Kita rela membayar les matematika, les bahasa Inggris, les coding, les piano — semuanya sekaligus. Kita hafal nama universitas terbaik di luar negeri. Kita update soal passing grade jurusan kedokteran. Kita tahu persis harga kursus IELTS dan TOEFL.

Tapi pernahkah kita bertanya dengan sungguh-sungguh: sudahkah kita menyiapkan anak kita untuk menghadap Allah?

Bukan pertanyaan yang mudah. Dan bukan pertanyaan yang nyaman.

Anak Bukan Hanya Investasi Dunia

Para ekonom suka menyebut anak sebagai investasi jangka panjang. Dalam arti tertentu, itu benar. Kita menanam biaya, waktu, dan tenaga selama dua dekade — dengan harapan mereka tumbuh menjadi manusia yang mandiri, sukses, dan kelak bisa merawat kita di hari tua.

Tapi Islam mengajarkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kalkulasi itu.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

Perhatikan. Dari tiga pintu pahala yang tetap mengalir setelah kita mati, salah satunya adalah anak saleh. Bukan anak yang kaya. Bukan anak yang berpangkat. Bukan anak yang fotonya sering muncul di media sosial karena baru beli rumah mewah.

Anak saleh.

Artinya, investasi terbesar yang bisa kita lakukan sebagai orang tua bukan deposito, bukan properti, bukan tabungan pendidikan — meskipun semua itu penting. Investasi terbesar kita adalah memastikan anak kita tumbuh menjadi manusia yang kenal Allah, yang hidupnya diterangi iman, dan yang doanya akan menemani kita bahkan setelah nafas terakhir kita berhenti.

Pertanyaannya: apakah pendidikan yang kita pilihkan untuk mereka sedang mengarah ke sana?

Kita Mengajarkan Cara Mengejar Dunia. Tapi Siapa yang Mengajarkan Cara Meraih Surga?

Saya tidak sedang mengkritik sekolah umum. Saya tidak sedang mengatakan bahwa ilmu sains, teknologi, atau ekonomi itu tidak penting. Justru sebaliknya — ilmu-ilmu itu dibutuhkan.

Yang saya pertanyakan adalah: komposisinya.

Kita menghabiskan dua belas tahun pendidikan formal untuk mengajarkan anak-anak kita cara berhitung, cara menulis, cara menganalisis data, cara bersaing di pasar kerja. Dan itu baik. Itu perlu.

Tapi berapa jam dalam dua belas tahun itu yang digunakan untuk mengajarkan mereka cara shalat dengan khusyuk? Cara membaca Al-Qur’an dengan benar? Cara memahami halal dan haram? Cara bersikap di hadapan Allah dan di hadapan manusia?

Jika jawabannya “tidak banyak” — maka kita perlu jujur kepada diri sendiri. Kita sedang menyiapkan anak untuk hidup di dunia, tapi belum cukup serius menyiapkan mereka untuk pulang ke akhirat.

Dan Allah Ta’ala sudah mengingatkan kita jauh-jauh hari: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Menjaga keluarga dari api neraka. Itu bukan tugas guru agama seminggu sekali. Itu tanggung jawab kita — para orang tua — yang tidak bisa kita subkontrakkan sepenuhnya kepada sekolah umum yang sibuk mengejar kurikulum nasional.

Mengapa Pesantren Adalah Jawaban yang Sering Kita Tunda

Banyak orang tua yang sebenarnya ingin memasukkan anak ke pesantren. Tapi ada bisikan yang selalu menghalangi.

“Nanti anakku tidak bisa bersaing di dunia kerja.”

“Nanti anakku ketinggalan teknologi.”

“Nanti anakku tidak bisa masuk universitas negeri.”

Bisikan-bisikan itu lahir dari gambaran pesantren yang sudah lama usang. Pesantren bukan lagi tempat yang tertinggal. Pesantren terbaik hari ini justru mencetak generasi yang paling lengkap: ilmu agama yang kokoh, wawasan umum yang luas, karakter yang kuat, dan keterampilan yang relevan dengan zaman.

Bayangkan seorang anak yang bangun sebelum subuh karena sudah terbiasa — bukan karena dipaksa. Yang hafal Al-Qur’an dan bisa membaca kitab kuning, tapi juga fasih berbahasa Inggris dan Arab. Yang terbiasa hidup dalam komunitas, sehingga emosinya matang, kepemimpinannya terasah, dan adabnya terjaga.

Anak seperti itu bukan hanya siap untuk dunia kerja. Ia siap untuk kehidupan.

Dan lingkungan pesantren — dengan ritme ibadah yang konsisten, komunitas yang saling mengingatkan, dan pengasuh yang hadir bukan hanya sebagai guru tapi sebagai teladan hidup — adalah tempat paling efektif untuk membentuk karakter itu. Sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh sekolah mana pun, se-elit apa pun gedungnya.

Pondok Pesantren Wali: Dua Dunia Dalam Satu Atap

Di Jalan Mertokusumo No. 99, Candirejo, Tuntang, Kabupaten Semarang, berdiri sebuah pesantren yang patut mendapat perhatian serius para orang tua.

Pondok Pesantren Wali — di bawah naungan Wakaf Literasi Islam Indonesia — hadir dengan visi yang tegas: “Menjadi wadah kaderisasi umat yang melahirkan insan beriman tangguh, berpikir cemerlang, dan berakhlak karimah.”

Bukan kalimat kosong. Itu peta jalan yang diwujudkan dalam sistem pendidikan bernama KMI — Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah — sebuah sistem yang sudah terbukti melahirkan generasi ulama dan cendekiawan selama puluhan tahun, dipadukan dengan tradisi pesantren salaf yang mengajarkan kitab kuning secara mendalam.

Di PP Wali, pendidikan berlangsung 24 jam. Bukan dalam arti anak dipaksa belajar seharian tanpa istirahat. Tapi dalam arti bahwa segala yang dilihat, didengar, dan dirasakan santri di pesantren ini adalah bagian dari pendidikan. Cara makan bersama. Cara berbicara kepada yang lebih tua. Cara mengelola waktu. Cara menyelesaikan konflik. Semua itu pelajaran — yang tidak pernah ada di buku teks mana pun.

Program unggulannya dirancang untuk menjawab dua kebutuhan sekaligus — dunia dan akhirat. Ada Tahfidz Al-Qur’an yang memastikan kalam Allah tertanam di dada sejak dini. Ada Kitab Kuning yang menyambungkan santri pada khazanah keilmuan Islam yang kaya. Ada Literacy Skills yang melatih kemampuan membaca, menulis, dan menerjemahkan secara produktif.

Ada pula Bahasa Inggris dan Bahasa Arab sebagai jembatan menuju dunia yang lebih luas. Dan ada Desain Komunikasi Visual — karena dakwah di era ini juga perlu berbicara melalui bahasa gambar dan media digital.

Ekstrakurikulernya pun tidak kalah serius: keorganisasian dan kepemimpinan, latihan pidato, seni baca Al-Qur’an, kaligrafi, olahraga, kesenian, hingga pelatihan penerjemahan bahasa asing. Ini bukan pesantren yang memenjarakan bakat. Ini pesantren yang menghidupkannya.

Untuk Para Orang Tua yang Masih Bimbang

Saya ingin berkata satu hal dengan jujur.

Kita tidak tahu berapa lama kita punya waktu bersama anak-anak kita. Kita tidak tahu kapan Allah memanggil kita, atau kapan anak kita harus berdiri sendiri menghadapi dunia dan akhirat mereka. Yang kita tahu adalah: pilihan pendidikan yang kita buat hari ini akan membentuk siapa mereka selamanya.

Memasukkan anak ke pesantren yang baik bukan berarti kita melepaskan mereka. Itu berarti kita mempercayakan mereka kepada lingkungan yang akan menjaga, membentuk, dan mengarahkan mereka ketika kita tidak bisa selalu ada.

Itu bukan pengorbanan. Itu adalah bentuk cinta yang paling serius.

Informasi Pendaftaran Santri KMI PP Wali 2026–2027

Untuk putra-putri lulusan SD dan SMP yang ingin menempuh pendidikan di lingkungan yang menyeimbangkan ilmu agama dan kesiapan menghadapi zaman, Pondok Pesantren Wali kini membuka Penerimaan Santri KMI Tahun Ajaran 2026–2027.

Pendaftaran Gelombang II dibuka: 1 – 10 Juni 2026 — dan kursi tersisa terbatas.

Untuk informasi dan pendaftaran, hubungi langsung:

Ustadz Dzikry: 085724896747

Ustadzah Farisa: 081393697569

Ikuti juga di: Instagram, TikTok, dan Facebook @ponpeswali

Karena pendidikan terbaik bukan hanya yang mengajarkan anak cara mengejar dunia — tapi juga cara meraih surga.

 

Pendidikan Inklusif Melalui Program Sekolah Rakyat untuk Generasi Masa Depan

June 16, 2026

Dari Infrastruktur hingga SDM, Sekolah Rakyat Dipersiapkan untuk Pendidikan Berkualitas

June 16, 2026

Pendidikan Inklusif Melalui Program Sekolah Rakyat untuk Generasi Masa Depan

By Kata IndonesiaJune 16, 20260

Pendidikan Inklusif Melalui Program Sekolah Rakyat untuk Generasi Masa Depan Jakarta – Pemerintah terus memperluas…

Dari Infrastruktur hingga SDM, Sekolah Rakyat Dipersiapkan untuk Pendidikan Berkualitas

By Kata IndonesiaJune 16, 20260

Dari Infrastruktur hingga SDM, Sekolah Rakyat Dipersiapkan untuk Pendidikan Berkualitas Jakarta – Pemerintah terus mempercepat…

Koperasi Desa Merah Putih Perkuat Fondasi Ekonomi Papua

By Kata IndonesiaJune 16, 20260

Koperasi Desa Merah Putih Perkuat Fondasi Ekonomi Papua Oleh : Yohanes Wandikbo Pembangunan Koperasi Desa…

KITA SIBUK MENYIAPKAN MASA DEPAN ANAK, SIAPA YANG MENYIAPKAN AKHIRATNYA?

By Kata IndonesiaJune 16, 20260

Ada pertanyaan yang sering saya ajukan dalam hati, terutama ketika melihat para orang tua begitu…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.