Oleh: M. Tata Taufik
“Siapa yang tidak dididik oleh orang tuanya, maka akan dididik oleh zaman.”
Terkadang kita terlena dengan kesibukan yang jelas ataupun tersamar, sehingga pilar-pilar kehidupan keluarga bisa jadi terabaikan, bahkan kita asyik dengan bersembunyi di balik kesibukan kita. Mungkin juga kita sangat peduli dengan keluarga kita, secara material kita penuhi berbagai kebutuhan kita, kebutuhan anak dan istri kita. Kita telah merespons berbagai tawaran yang bertemakan keluarga, terlebih di Ramadan, kita menyambut baik berbagai tawaran program Ramadan, mulai dari perkakas rumah sampai perlengkapan yang boleh jadi nantinya tak terpakai. Ini menjadi fenomena umum bukan saja di negara kita, tapi di belahan Dunia sana juga tak jauh berbeda, berbagai dicount dan penurunan harga ditawarkan, dari properti sampai produk minuman. Pertanyaannya apakah kepedulian kita sudah cukup adil merespons tawaran Ramadan? Adil dalam arti seimbang menjawab panggilan spiritual Ramadan dan panggilan pemenuhan materialistis “pasar” Ramadan?
Berbicara keluarga, berarti berbicara tentang diri kita, anak dan istri kita, mereka yang tinggal serumah dengan kita. Keluarga adalah orang-orang yang berada dalam seisi rumah yang sekurang-kurangnya terdiri dari suami, istri, dan anak-anak (Poerwadarminta, 2023). Dalam kenyataannya seperti yang bisa diamati dalam kehidupan sosial, keluarga merupakan sekumpulan orang yang tinggal bersama dalam satu rumah yang dihubungkan dengan suatu ikatan aturan dan emosional (saling merasakan adanya pertautan batin) serta setiap individunya memiliki peran masing-masing dan merupakan bagian dari keluarga.
Keluarga baik keluarga besar maupun kecil tentu saja memiliki cita-cita ideal yang hendak dicapai. Dalam ketentuan umum undang–undang tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga misalnya, Pasal 1 pada ayat 10 dijelaskan bahwa keluarga berkualitas adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah dan bercirikan sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan ke depan, bertanggung jawab, harmonis dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Keluarga Ideal:
Bagi keluarga muslim konsep keluarga ideal bisa didapat dari anjuran-anjuran yang diisyaratkan dalam al-Quran maupun Hadis Nabi Muhammad SAW. Baik yang bersifat pembinaan keluarga, seperti QS. 31: 12-19 yang berisikan nasihat Luqman as terhadap anaknya; tidak musyrik, menghormati orang tua, mendirikan shalat dan amar ma’ruf nahi munkar, tidak sombong dan memiliki etika sosial seperti menghargai orang lain. Tugas anggota keluarga; menjaga keluarga jangan sampai terjerumus ke neraka (QS. 66:6), Mengajak keluarga supaya beriman, QS. 20: 132. QS.52: 21. Etika sosial; tentang persaudaraan seiman, tidak saling menghina, atau memanggil dengan julukan yang tak pantas, tidak buruk sangka dan menggunjing satu sama lain, QS. 49: 10-12. dan lain sebagainya.
Ada juga berupa kisah seru tentang satu keluarga yang berakhir dengan happy ending seperti dalam surat Yūsuf (12) dari ayat 4, bermula dari Yusuf menceritakan mimpinya kepada ayahnya, lalu pada ayat 8 mulailah rasa iri saudaranya, kemudian bergelut antara intrik dan perdaya dalam perjalanan panjang kisahnya, namun ditutup dengan sikap para saudara Yusuf dan Ayahnya yang mengharukan. Betapa tidak saudara-saudara Yusuf mengakui kesalahannya, dan memohon agar orang tuanya memohonkan ampunan kepada Allah atas kesalahan mereka, kemudian dengan bijak sang ayah berjanji akan memohonkan ampunan kepada Allah atas kesalahan mereka ini tertulis di ayat 97 dan 98. Kisah kemudian dipungkas dengan pertemuan satu keluarga utuh dalam kebahagiaan ayat 100. Serta diakhiri doa nabi Yusuf as “Tuhanku, sungguh Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh.” QS.12: 101.
Adapun dari Hadis seperti hadis dari Aisyah ra. Rasulullah SAW. bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi).
Serta hadis dari Abdullah Ibn Umar ra. Rsulullah SAW. Bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Penguasa yang memimpin rakyatnya dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Dan istri pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya tentang mereka, Dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari & Muslim).
Tentang menafkahi keluarga Hadis dari Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW. Bersabda:“Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya paling besar adalah yang engkau berikan untuk keluargamu.” (HR. Muslim).
Pendidikan:
Hadis tentang mendidik anak, Jabir bin Abdullah ra. Meriwayatkan bahwa Nabi SAW. bersabda: “Barangsiapa yang memiliki tiga orang putri, lalu ia mendidiknya, menyayangi, dan merawat mereka, maka surga telah ditetapkan untuknya.” Dikatakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika ia memiliki dua orang putri?” Beliau menjawab, “Sekalipun ia memiliki dua orang putri.” Beliau berkata, “Sebagian orang mengira jika ia mengatakan: ‘Satu’, niscaya ia akan mengatakan: ‘Satu’.” (HR. Ahmad dan shahih menurut Al-Albani).
Tiga poin penting dalam keluarga adalah; mendidik, menyayangi, dan merawat anggota keluarga, minimal anak dan istri. Kegiatan mendidik tersebut tidak berbatas waktu—berlaku sepanjang hayat. Jika sejak bayi mengajari berbagai kemahiran seperti bicara, berjalan, kemudian menanamkan norma keluarga dan sosial, perkembangan intelektual, dan keimanan serta keagamaan, maka setelah dewasa masih tetap memberikan nasihat dan arahan, melakukan kontrol perilaku dan memberi peringatan.
Menyayangi, kata sayang memiliki spektrum makna yang luas, bisa bermakna melindungi: Perlindungan fisik, melindungi dari lapar, sakit, dan bahaya lahiriah. Perlindungan psikis: Menjadi “rumah” tempat pulang. Ukurannya tidak terdengar lagi teriakan seperti dilukiskan Iwan Fals…”di jalanan kami sandarkan cita-cita, sebab di rumah tak ada lagi yang bisa dipercaya….” Anak atau pasangan tidak merasa takut dihakimi, rumah bisa menjadi pendengar yang baik dari keluahan anggota keluarganya. Anggota keluarga (terutama anak) bisa kembali ke rumah saat menghadapi kesulitan dan kegundahan, ada tempat mengadu, berkonsultasi dan mendapatkan bantuan berupa konseling dan pembinaan, ala khas keluarga. Bentuk sayang bisa juga berarti penerimaan: Menghargai keunikan karakter masing-masing anggota keluarga, tidak membanding-bandingkan anak yang satu dengan yang lain, serta memberikan ruang untuk tumbuh yang sama. Termasuk kasih sayang juga lemah lembut dalam komunikasi, ada sentuhan fisik, membelai, menyapa, menasihati. Menyayangi secara spiritual: Menjaga anggota keluarga agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang merusak moral dan akhirat, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa neraka. (QS. 66: 6).
Terakhir merawat –setelah budaya keluarga ideal tercipta ada pendidikan (ta’dib), ada kasih sayang. atau memelihara berarti menjaga agar sesuatu tetap baik, utuh, atau sehat, bisa juga menjaga dan mengobati, bisa juga berarti mengurus, mengatur segala keperluan seseorang atau sesuatu agar tetap baik. Di sini berarti menjaga interaksi dan komunikasi agar tujuan keluarga (bahagia dunia dan akhirat) bisa dicapai bersama.
Merawat Keluarga Ramadan Kita:
Untuk melihat bagaimana keluarga mendidik anak-anaknya, baik dikemukakan di sini apa yang disusun oleh Sa’īd bin ‘Alī bin Wahf Al-Qaḥṭānī dalam “Al-Hadyu An-Nabawiy fī Tarbiyati Al-Awlād fī Ḍaw’i Al-Kitāb wa As-Sunnah” yang terdiri dari 24 pembahasan. Dimulai dari pembahasan pentingnya pendidikan anak dalam Islam. pentingnya memilih istri yang shalihah dalam mendidik anak, aqiqah dan pemberian nama yang baik, menafkahi keluarga dengan rizki yang halal, bermain dengan anak-anak, menjaga kesehatan, menyusui, mengasuh, menafkahi anak, mengajari syariat, mengajari pekerjaan yang baik, memelihara perkembangan intelektualitas, membiasakan akhlak yang mulia, mendidiknya dengan pendidikan ala Nabi, berlaku adil terhadap anak, kesabaran dan kelembutan, kasih sayang untuk anak-anak, bersikap baik dan lembut terhadap anak-anak dan memberi kebahagiaan bagi mereka. Menyertai mereka setelah baligh, mengajari mereka cara mencari teman dan sahabat yang shaleh, hasil dan manfaat pendidikan yang baik, bahaya pendidikan yang buruk, petunjuk Nabi dalam mendidik anak muda, serta pembahasan terakhir tentang mendidik dan mendisiplinkan dengan keras bila diperlukan (Al-Qaḥṭānī, 2012).
Kita ambil satu topik saja tentang “menyertai mereka setelah baligh,” artinya mengawasi dan memerhatikan tingkah laku mereka di usia remaja. Beberapa pertanyaan reflektif bisa kita ajukan pada diri kita. Apakah mereka berpuasa? Apakah mereka belajar menghidupkan malam Ramadan? Apakah mereka belajar membaca al-Quran, apakah membaca? Dengan singkat bisa kita nyatakan “rancangan budaya atau tradisi” apakah yang telah kita sepakati bersama di keluarga kita di Ramadan ini? Atau sebaliknya, menyerahkan saja mereka dididik zamannya.