Oleh: Syukri Andarusman (Tokoh Muda di Sumatera Barat)
Siapa bilang jalan licin itu selalu baik karena dapat mempercepat perjalanan? Bisa jadi membuat kita terpeleset seperti apa yang dialami oleh Partai Nasdem.
Partai tersebut menjadi partai pertama yang mendeklarasikan seorang calon presiden pilihannya yakni Anies Baswedan yang menuai banyak sekali pro dan kontra dari berbagai pihak. Partai Nasdem dinilai terlalu cepat melakukan segala persiapan untuk pemilihan presiden tahun 2024.
Beberapa pengamat politik merasa bahwa Partai Nasdem banyak melakukan kesalahan dalam langkah-langkah yang diambil untuk persiapan pilpres 2024. Banyak dari mereka menilai bahwa menjadi yang pertama dan yang tercepat tidak selalu baik. Sekarang, Nasdem hanya memperlihatkan kesalahan sendiri atau blunder yang dijadikan contoh bagi partai lain agar tidak jatuh ke lubang yang sama seperti Nasdem.
Kontroversi yang pertama dan utama, yang masih dibicarakan hingga kapanpun adalah bagaimana pengambilan keputusan dari Surya Paloh yang mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai calon presiden pilihan Nasdem. Padahal, Nasdem pada saat itu sedang berpihak kepada Jokowi. Nasdem dianggap menjadi partai yang tidak bisa dipercaya setelah ‘pengkhianatan’ nya dari Jokowi.
Akibat hal itu, Jokowi ‘kesal’ dibuatnya. Mulai dari enggan mengomentari pendeklarasian Anies Baswedan, menyindir Nasdem, hingga reshuffle kabinet dilakukan oleh Jokowi karena pengkhianatan ini. Menurut para pengamat politik, kehilangan dukungan presiden adalah sesuatu yang sepatutnya disesali oleh suatu partai politik.
Namun, Nasdem tidak menunjukkan rasa penyesalan apapun setelah berpaling dari Jokowi. Hal ini sangat disayangkan bahkan oleh kader-kader Nasdem sendiri.
Akhirnya, tidak sedikit yang ikut berpaling dari Nasdem termasuk ribuan kader yang keluar dari Nasdem karena merasa kepentingan mereka tidak terpenuhi dan sudah tidak sejalan. Padahal dalam organisasi atau partai, pemimpin organisasi dan anggota harus memiliki tujuan dan harapan yang sama.
Baru-baru ini, rakyat dihebohkan pula dengan pembentukan koalisi perubahan untuk persatuan yang beranggotakan trio Partai Nasdem-PKS-Demokrat. Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa koalisi ini tidak cukup kuat untuk melawan, walaupun sah secara di mata hukum untuk berkoalisi.
Baru saja terbentuk, Nasdem sudah mengancam PKS dan Demokrat untuk tidak memaksakan cawapres Anies Baswedan yang tentunya mengejutkan secara koalisi tersebut baru seumur jagung.
Dapat dibayangkan apa hal yang terjadi jika Anies Baswedan yang dikendarai trio partai tersebut terpilih menjadi presiden. Tentunya akan semakin parah konflik yang terjadi dan bisa jadi terpecah menjadi bagian-bagian baru. Hal ini tentunya adalah ancaman kepada masa depan bangsa Indonesia yang harus dihindari.
Blunder bertubi-tubi Nasdem sangat disayangkan oleh sangat banyak pihak di Indonesia, seharusnya Nasdem harus hati hati dan memperhatikan segala langkah yang diambil sehingga hal-hal tidak perlu seperti itu dapat dihindari. Citra Nasdem, koalisinya, dan Anies Baswedan jadi sedikit ternodai karena blunder-blunder ini.
Kalau sudah seperti ini, Anies terkena dampak yang paling parah. Hal ini akan menyebabkan elektabilitas Anies Baswedan berkurang dan melemah secara drastis. Beberapa survei telah membuktikan hal tersebut, Elektabilitas Anies Baswedan berada di posisi tiga di bawah Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo. Hal yang sangat disayangkan, impian Anies Baswedan menjadi presiden Indonesia bisa sirna begitu saja karena kemelut partai politik dan koalisinya.
Ditambah lagi Ganjar Pranowo baru dideklarasikan dan memiliki koalisi partai yang bisa dikatakan cukup kuat untuk bersaing yakni trio partai PDIP-Hanura-PPP dan desas-desus cawapres Ganjar yang unggul sehingga duet Ganjar dapat menguasai suara se-pulau Jawa. Hal ini makin menegaskan bagaimana kecilnya kesempatan Anies Baswedan dalam memenangi pemilihan presiden 2024 yang akan datang.
Prabowo yang memiliki elektabilitas tinggi dan digadang-gadang duet bersama Anies karena satu ‘aliran’ juga akhirnya memilih jalan sendiri untuk menjadi calon presiden. Hal ini tentunya menyebabkan perpecahan suara dari kubu yang dahulu pernah mereka bangun dan ini bukanlah hal yang bagus untuk Anies Baswedan
Sekarang Nasdem sudah terpeleset dari ‘jalan cepat’ nya dan hanya bisa merangkak dan berjalan lambat untuk sampai ke tujuan. Sementara capres usungannya yakni Anies Baswedan dibuat mati kutu karena ulah partai pendukung serta koalisinya. Disaat Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo bersaing secara ketat di papan atas, Anies justru tercecer dan harus puas terpaut jauh dari Prabowo dan Ganjar.