• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Headline»HUT RI Momentum Wujudkan Indonesia Tangguh dan Tumbuh

HUT RI Momentum Wujudkan Indonesia Tangguh dan Tumbuh

  • Kata Indonesia
  • - Monday, 16 August 2021

Oleh : Muhammad Zaki

Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) hendaknya dijadikan momentum untuk bersatu guna mewujudkan Indonesia Tangguh dan Tumbuh. Pesan itu disampaikan Presiden Jokowi dalam pidato kenegaraan pada 16 Agustus 2021.

Pidato Presiden adalah momen yang dinanti-nanti oleh masyarakat karena menanti petuah dan langkah-langkah pemerintah selanjutnya. Termasuk pidato Presiden Jokowi tanggal 16 Agustus 2021, saat beliau menghadiri sidang tahunan MPR RI. Pidato tersebut disiarkan langsung di televisi maupun beberapa akun Youtube.

Presiden Jokowi dalam pidatonya mengangkat tema tentang pandemi. Menurut beliau, pandemi adalah api tetapi memiliki 2 sisi, bisa membakar dan juga menerangi. Api bisa menginspirasi sehingga kita terus mawas diri dan mengevaluasi di masa depan. Dalam artian, pandemi menjadi momen penting untuk terus waspada dan melihat apa saja kesalahan yang telah dibuat, agar tidak terulang lagi.

Presiden Jokowi menambahkan, pandemi bagai kawah candradimuka yang menguji, mengajarkan, sekaligus mengasah. Pandemi memberikan beban yang berat sekaligus menguji ketabahan dan kesabaran. Dalam artian, kita bisa melihat sisi positif dari pandemi yakni bisa lulus ujian kesabaran dan terus bersikap tabah dalam menghadapi berbagai hal buruk.

Kawah candradimuka adalah tempat yang dikisahkan di cerita pewayangan, di mana para ksatria dimasukkan tetapi setelah keluar akan bertambah kesaktiannya. Jika pandemi diumpamakan seperti itu, maka ia adalah tempat untuk membuat kita makin kuat. Pasca pandemi kita bisa makin kompak dan tegar, dan tidak mudah putus asa.

Jangan mudah untuk menyerah saat pandemi karena ketika manusia kehilangan harapan hidup, ia bagai hidup segan mati tak mau. Kita wajib optimis pandemi akan lekas berakhir dan tetap sabar, karena ujian ini diberikan agar hati makin sabar dan tabah. Bukankah Tuhan tidak memberikan ujian yang melebihi kemampuan hamba-Nya? Jadi kita wajib untuk terus positive thinking.

Selain itu, Presiden Jokowi juga berpesan untuk terus bersatu-padu untuk melawan corona dan efek negatifnya. Dalam artian, virus nakal ini bisa pergi jauh-jauh jika semua WNI kompak dalam mengatasinya. Contoh paling sederhana adalah dengan saling mengingatkan ketika ada yang lupa tidak memakai masker atau maskernya tidak dikenakan dalam posisi yang benar.
Kekompakan dalam mengatasi pandemi Covid-19 juga bisa dilakukan dari lingkungan terkecil.

Misalnya ketika ada tetangga yang sedang isolasi mandiri, maka pihak RT mengatur agar semua warga bergantian mengirim hidangan untuk mereka 3 kali sehari, karena belum tentu yang kena corona kuat untuk memasak sendiri. Jika pesan antar dari restoran belum tentu mereka punya uang yang cukup.

Masyarakat juga bisa kompak saat pandemi dengan menggalakkan protokol kesehatan 10M. Poin protokol yang bertambah, dari 3M, ke 5M, lalu ke 10M wajib untuk disosialisasikan via media sosial atau grup WA. Warga diajak untuk hidup bersih dan tetap menjaga kesehatan dengan rajin berolahraga walau di rumah saja dan makan sayur, buah, serta minum air mineral 2 liter dalam sehari.

Kekompakan wajib dilakukan agar pandemi bisa lekas teratasi, karena bagaikan sapu lidi, ketika tidak bersatu maka akan buyar semua. Kita bisa membuktikan bahwa dalam keadaan sulit, akan tetap solid dan saling menolong antar warga. Singkirkan egoisme untuk sementara.

Terakhir, Presiden Jokowi berpesan untuk menghadapi dunia yang penuh dengan disrupsi alias perubahan yang bisa memakan teknologi atau hal-hal yang lama di masa lalu. Misalnya dulu komunikasinya memakai surat, tetapi sekarang bisa via WA atau email sehingga surat-menyurat makin jarang. Saat ini perdagangan marak via internet karena pasar tradisional dibatasi jam bukanya.

Untuk menghadapi era disrupsi maka saat pandemi kita wajib belajar hal-hal baru dan jangan malas untuk terus meng-upgrade diri. Justru ini momen yang baik untuk terus tumbuh dan mencari peluang bisnis baru. Jangan menyerah begitu saja.

Pesan Presiden Jokowi dalam pidato tahunan sangat sesuai dan masyarakat puas karena beliau meniupkan api optimisme ke dalam dada. Kita tidak boleh galau dan lesu tetapi tetap bekerja keras dan bahu-membahu saat pandemi.

Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

September Hitam Jangan Menjadi Panggung Mobilisasi Kebencian yang Merusak Demokrasi

September 17, 2026

September Hitam Harus Jadi Ruang Ingatan Kolektif, Bukan Mobilisasi Emosi

September 17, 2026

September Hitam Jangan Menjadi Panggung Mobilisasi Kebencian yang Merusak Demokrasi

By Kata IndonesiaSeptember 17, 20260

September Hitam Jangan Menjadi Panggung Mobilisasi Kebencian yang Merusak Demokrasi  Oleh: Indah Prameswari Setiap September, ruang publik Indonesia kembali diwarnai refleksi mengenai berbagai peristiwa yang pernah menjadi bagian dari perjalanan bangsa. Momentum ini dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memahami sejarah, memperkuat kepedulian terhadap nilai kemanusiaan, serta melihat pentingnya menjaga kehidupan demokrasi secara sehat. Refleksi terhadap masa lalu akan lebih bermakna apabila diarahkan pada upaya membangun masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu, pembahasan mengenai September Hitam perlu ditempatkan dalam semangat dialog, penghormatan terhadap kebebasan berpendapat, dan tanggung jawab bersama agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi permusuhan di tengah masyarakat. Pengamat politik dari Indeks Data Nasional, Ayip Tayana, mengingatkan agar wacana September Hitam yang berkembang di media sosial tetap ditempatkan sebagai ruang refleksi dan aktivisme digital yang positif. Menurut Ayip, momentum tersebut perlu dijaga agar tidak bergeser menjadi mobilisasi massa yang didorong emosi dan kebencian, karena kondisi demikian justru dapat menjauhkan masyarakat dari tujuan membangun diskusi yang sehat. Ayip menilai penyampaian aspirasi melalui demonstrasi tetap merupakan bagian yang sah dalam kehidupan demokrasi. Namun, ia mendorong mahasiswa dan masyarakat sipil mengevaluasi bentuk gerakan agar tidak berhenti pada pengerahan massa, melainkan diarahkan pada pembahasan yang lebih substantif mengenai pemulihan korban, efektivitas kebijakan, serta langkah pencegahan, sehingga persoalan serupa tidak kembali terjadi. Ia menekankan, mahasiswa memiliki ruang yang lebih luas untuk mengambil peran sebagai penggerak solusi dengan memanfaatkan riset dan kajian berbasis bukti. Aspirasi yang disusun melalui data dan rekomendasi kebijakan dinilai dapat memperkaya proses penyelesaian persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) sekaligus menjaga agar momentum September Hitam tetap produktif dan tidak terjebak dalam mobilisasi emosi. Di sisi lain, kewaspadaan terhadap potensi provokasi menjadi penting karena stabilitas sosial merupakan prasyarat bagi berlangsungnya kehidupan demokratis. Kapolda Papua Barat Irjen Pol Alfred Papare mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh isu yang membawa nama Black September atau September Hitam. Kepolisian, menurut Alfred, telah berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat akibat ajakan aksi yang beredar di media sosial.…

September Hitam Harus Jadi Ruang Ingatan Kolektif, Bukan Mobilisasi Emosi

By Kata IndonesiaSeptember 17, 20260

September Hitam Harus Jadi Ruang Ingatan Kolektif, Bukan Mobilisasi Emosi Oleh: Rania Zafirah September kembali menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengingat berbagai peristiwa kelam dalam perjalanan bangsa. Istilah September Hitam berkembang sebagai simbol untuk mengenang sejumlah kasus kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang masih menjadi bagian dari ingatan publik. Momentum tersebut penting karena mengingat sejarah bukan sekadar menghadirkan kembali luka masa lalu, tetapi juga membangun kesadaran agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi. Di tengah perkembangan teknologi informasi, proses mengingat berbagai peristiwa masa lalu semakin mudah dilakukan melalui media sosial. Berbagai arsip, dokumentasi, kesaksian, maupun kajian mengenai kasus HAM dapat diakses oleh generasi yang tidak mengalami langsung peristiwa tersebut. Kondisi ini membuka peluang terbentuknya ingatan kolektif yang lebih luas, sekaligus menghadirkan tantangan berupa penyebaran informasi tanpa konteks, opini, maupun narasi yang belum terverifikasi. …

Isu September Hitam, Aspirasi Disampaikan Tertib dan Sesuai Aturan Tanpa Provokasi Anarkistis

By Kata IndonesiaSeptember 17, 20260

Isu September Hitam, Aspirasi Disampaikan Tertib dan Sesuai Aturan Tanpa Provokasi Anarkistis Jakarta – Isu…

Sejumlah Pihak Ingatkan September Hitam Jangan Berubah Jadi Mobilisasi Emosi

By Kata IndonesiaSeptember 17, 20260

Sejumlah Pihak Ingatkan September Hitam Jangan Berubah Jadi Mobilisasi Emosi Jakarta – Sejumlah pihak mengingatkan…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.