• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Ekonomi»Energi»Harga BBM di Indonesia Termasuk yang Termurah di Dunia

Harga BBM di Indonesia Termasuk yang Termurah di Dunia

  • Kata Indonesia
  • - Friday, 15 April 2022

Harga BBM di Indonesia Termasuk yang Termurah di Dunia

Oleh : Alif Fikri

Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia termasuk yang termurah di dunia, meskipun Pemerintah telah menaikan harga Pertamax. Masyarakat pun diimbau bijak menyikapi kenaikan Pertamax karena penyesuaian harga tersebut merupakan kebijakan yang tidak dapat dihindari.

Kenaikan harga BBM di Indonesia tak bisa dielakkan, PT Pertamina menaikkan harga bahan bakar minyak jenis Pertamax pada 1 April 2022 dari Rp 9.000 menjadi Rp 12.500 per liter.

Kenaikan yang tak terhindarkan ini merupakan dampak dari perang antara Rusia dan Ukraina. Meski demikian, harga Pertamax di Indonesia termasuk yang termurah di dunia.

Piter Abdullah selaku Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyatakan bahwa walaupun naik, sebenarnya harga Pertamax di termasuk paling murah di dunia.

Piter menekankan, masyarakat harus paham bahwa kenaikan harga harus dilakukan. Selain itu, kenaikan harga hanya diberlakukan untuk BBM non subsidi, yakni Pertamax yang sebenarnya ditujukan untuk masyarakat kelas menengah ke atas. Itu pun volume penjualan Pertamax juga kecil, hanya 14% dari total penjualan BBM Pertamina.

Di sisi lain, pemerintah tidak menaikkan harga BBM dan LPG subsidi, termasuk Pertalite, Biosolar, dan gas melon yang notabene ditujukan untuk kalangan menengah ke bawah, hingga saat ini tidak terjadi kenaikan harga.
Piter menjelaskan, harga baru Pertamax sebesar Rp 12.500 per liter sebenarnya juga masih jauh di bawah harga keekonomian Rp 16.000 per liter. Dengan demikian, pertamina sebenarnya masih memberikan subsidi pada Pertamax sebesar Rp 3.500 per liter.
Dengan segala kondisi ini, bisa dipahami bahwa kebijakan kenaikan harga Pertamax sudah tepat. Tinggal bagaimana pemerintah nantinya bisa mengkomunikasikan kepada masyarakat dengan baik terkait dengan kondisi yang ada saat ini.
Data dari Global Petro Prices menyebutkan bahwa harga Pertamax yang dijual seharga Rp 12.500 per liter jauh lebih murah dibandingkan dengan BBM sejenis di negara-negara ASEAN. Di Singapura, BBM serupa Pertamax dipatok Rp 30.208 per liter, Laos Rp 24.767 per liter, Filipina Rp 20.828 per liter, Kamboja Rp 20.521 per liter, Thailand Rp 19.767 per liter dan Vietnam Rp 16.500 per liter.
Satu-satunya negara Asia Tenggara yang menjual BBM sejenis lebih murah adalah Malaysia yaitu Rp 6.965 per liter. Tetapi harus diingat, bahwa di Malaysia, BBM setara Pertamax memang mendapat subsidi, sehingga harganya lebih rendah. Sedangkan di Indonesia, Subsidi diberikan kepada Pertalite.
Di Hongkong, harga BBM sejenis Pertamax juga jauh lebih mahal, yakni mencapai Rp 41.346 per liter, Belanda Rp 36.148 per liter, bahkan di Zimbabwe Rp 33.795 per liter. Di dalam negeri, harga Pertamax lebih murah dibandingkan SPBU swasta yang menjual BBM dengan RON 92 dengan harga Rp 12.900 hingga Rp 16.000 per liter.
Kondisi serupa juga terjadi pada harga LPG. Bright gas keluaran Pertamina dijual Rp 15.725 per kilogram, jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara lain, seperti Vietnam Rp 26.927 per kilogram, Filipina Rp 26.989 per kilogram dan Singapura Rp 29.927 per kilogram. Hanya Malaysia yang lebih rendah, yaitu Rp 6.466 per kilogram.
Tetapi Gas Petronas 12 Kg tersebut merupakan produk subsidi dari pemerintah Malaysia, sehingga bisa dijual lebih murah. Oleh karena itu, Piter meminta kepada kalangan mahasiswa untuk bijak dalam menyikapi kenaikan harga BBM Pertamax tersebut.
Sementara itu, Presiden Joko Widodo mengaku, bahwa tidak mudah menghadapi kondisi perekonomian saat ini. Salah satu tantangannya adalah pemerintah tidak bisa lagi menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah lonjakan harga minyak dunia.
Dalam kesempatan sidang Kabinet di Istana Negara, Jokowi mengatakan, Situasinya tidak memungkinkan. Tidak mungkin tidak menaikkan harga BBM, oleh sebab itu harga Pertamax naik.
Dirinya juga memerintahkan kepada para menterinya untuk terus waspada dan menghitung kenaikan harga tiap pekan. Jokowi mengatakan, hampir seluruh negara saat ini mengalami inflasi. Tak terkecuali Amerika Serikat yang mengalami inflasi mencapai 7.9% dari yang biasanya di bawah 1%.
Dengan harga Pertamax di Indonesia saat ini, tentu saja kita perlu membuka mata secara global bahwa BBM Pertamina di Indonesia masih termasuk dalam kategori murah di khususnya di Asia Tenggara. Semua pihak diharapkan dapat menahan diri dan menyikapi penyesuaian harga Pertamax secara tepat, salah satunya dengan perubahan pola konsumsi.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

 

Pemerintah Perkuat Satgas untuk Percepat Pemulihan Wilayah Terdampak Bencana

October 21, 2026

Pemerintah Perkuat Sinergi Pusat-Daerah untuk Percepat Pemulihan Bencana

October 21, 2026

Pemerintah Perkuat Satgas untuk Percepat Pemulihan Wilayah Terdampak Bencana

By Kata IndonesiaOctober 21, 20260

Pemerintah Perkuat Satgas untuk Percepat Pemulihan Wilayah Terdampak Bencana JAKARTA – Pemerintah memperkuat koordinasi Satuan…

Pemerintah Perkuat Sinergi Pusat-Daerah untuk Percepat Pemulihan Bencana

By Kata IndonesiaOctober 21, 20260

Pemerintah Perkuat Sinergi Pusat-Daerah untuk Percepat Pemulihan Bencana *Jakarta* – Pemerintah terus memperkuat sinergi antara…

Pemerintah Memperluas Transaksi Lokal demi Ketahanan Rupiah dan Ekonomi

By Kata IndonesiaOctober 21, 20260

Pemerintah Memperluas Transaksi Lokal demi Ketahanan Rupiah dan Ekonomi Oleh : Jems Andrian Pemerintah bersama…

Pemerintah Menjaga Fundamental Ekonomi di Tengah Tekanan Rupiah

By Kata IndonesiaOctober 21, 20260

Pemerintah Menjaga Fundamental Ekonomi di Tengah Tekanan Rupiah  Oleh: Ricky Rinaldi Dinamika perekonomian global yang diwarnai tingginya ketidakpastian pasar keuangan internasional, ketegangan geopolitik lintas benua, serta kebijakan suku bunga tinggi di negara-negara maju memicu tekanan yang signifikan terhadap nilai tukar mata uang di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS menjadi tantangan nyata yang memerlukan kecermatan serta presisi strategi kebijakan ekonomi makro secara komprehensif. Dalam menghadapi volatilitas pasar keuangan tersebut, ketahanan ekonomi nasional tidak ditentukan oleh respon kepanikan jangka pendek, melainkan oleh kekuatan fundamental ekonomi riil dan solidnya koordinasi kebijakan antar-lembaga. Langkah strategis pemerintah bersama otoritas moneter dalam menjaga ketahanan fundamental ekonomi terbukti menjadi benteng utama dalam mempertahankan stabilitas finansial, menjaga daya beli masyarakat, serta memastikan keberlanjutan arus investasi nasional secara inklusif. Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pemerintah terus memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter bersama Bank Indonesia guna meredam dampak gejolak nilai tukar terhadap perekonomian domestik. Menurutnya, APBN menjalankan peran vital sebagai peredam kejutan (shock absorber) untuk melindungi daya beli masyarakat berpenghasilan rendah dari potensi dampak kenaikan harga barang-barang impor (imported inflation). Pengelolaan defisit anggaran secara disiplin, efisiensi belanja negara, serta optimalisasi penerimaan perpajakan dan non-pajak dipastikan tetap terjaga dengan aman guna menopang kepastian iklim usaha dan memberikan tingkat kepercayaan yang tinggi bagi pasar keuangan global. Suahasil menjelaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang sangat berdaya tahan, didukung oleh laju pertumbuhan ekonomi yang konsisten berada di atas lima persen, tingkat inflasi nasional yang terkendali dalam sasaran target, serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus secara beruntun. Pemerintah memberikan kepastian bagi dunia usaha bahwa ketahanan fiskal Indonesia sangat memadai untuk menghadapi guncangan eksternal. Instrumen insentif perpajakan dan kemudahan fasilitas kepabeanan tetap dialokasikan secara tepat sasaran untuk mendukung industri manufaktur berorientasi ekspor serta mendorong penggunaan komponen dalam negeri demi menekan ketergantungan bahan baku impor. Menjaga fundamental ekonomi di tengah tekanan fluktuasi mata uang merupakan wujud tanggung jawab kepemimpinan ekonomi yang matang dan berpandangan jauh ke depan. Pemerintah memberikan penegasan yang jelas kepada publik bahwa stabilitas Rupiah ditopang oleh kekuatan sektor riil dan cadangan devisa yang mencuputi. Ketegasan pemerintah dalam mendorong pendalaman pasar keuangan serta optimalisasi penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam di dalam negeri menjadi instrumen hukum yang sangat krusial untuk memperkuat ketersediaan likuiditas valuta asing di pasar domestik. Penguatan fundamental ini juga diperkokoh melalui pengawasan ketat terhadap efisiensi belanja BUMN dan korporasi swasta yang memiliki kewajiban utang luar negeri. Koordinasi berkala dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan setiap potensi risiko likuiditas terdeteksi dan dimitigasi secara terukur sebelum berdampak pada sektor perbankan nasional. Langkah pencegahan yang terintegrasi ini menjamin bahwa seluruh industri keuangan nasional memiliki bantalan modal yang sangat tebal dalam menghadapi gejolak eksternal. Langkah percepatan penataan ekosistem modal usaha dan daya saing industri dalam negeri ini berjalan selaras dengan dorongan penanaman modal strategis. Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani mengatakan ketahanan fundamental ekonomi nasional menjadi faktor penentu utama yang menjaga kepercayaan para investor global untuk tetap menanamkan modal jangka panjang di Indonesia. Menurutnya, dinamika kurs jangka pendek tidak menyurutkan minat investasi langsung (Foreign Direct Investment) karena daya tarik Indonesia terletak pada besarnya potensi pasar domestik, kelimpahan sumber daya alam, dan ketegasan kebijakan hilirisasi industri.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.