• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»FPI Identik Dengan Kekerasan dan Kegaduhan

FPI Identik Dengan Kekerasan dan Kegaduhan

  • Kata Indonesia
  • - Sunday, 15 December 2019

Oleh : Imam Subadi (pengamat sosial politik)

Keberadaan Front Pembela Islam (FPI) selalu identik dengan kegaduhan dan kekerasan. Narasi negatif Ormas tersebut muncul seiring banyaknya aksi main hakim sendiri hingga provokasi demonstrasi dengan tema yang mengada-ada . Pemerintah diminta tegas dalam menyikapi Ormas ini.

Persatuan Alumni 212 atau PA 212 dan FPI telah menggelar demonstrasi di depan Bareskrim Polri pada Jumat 13/12/2019. Demo tersebut menuntut polisi untuk mengusut kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Sukmawati Soekarno Putri dan Ahmad Muwafiq alias Gus Muwafiq.

Aksi tersebut seakan menggoreng sesuatu yang bernada penistaan Agama, namun terkesan seperti haus akan eksistensi jika harus turun ke jalan. Meski ada ‘cacat logika’ dalam pernyataan Sukmawati, tentu saja tuduhan penodaan agama yang dilayangkan kepada putri Presiden ke-1 RI tersebut adalah hal yang berlebihan.
Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU) Guntur Romli mengatakan, ada cacat logika dalam pernyataan Sukmawati, dimana Nabi Muhammad yang hidup pada abad ke-7 kok ada kaitannya dengan abad ke-20 dimana Soekarno hidup, hal tersebut tentu merupakan pertanyaan yang salah, kesalahan tersebut semstinya dikoreksi.
Menurut Romli, pernyataan Sukmawati salah, dan sudah semestinya yang salah dikoreksi, bukan dilaporkan ke polisi. Upaya berdemo dengan menggoreng-goreng pernyataan Sukmawati tentu terlalu berlebihan.

Gus Romli pun lantas menyinggung terkait dengan pelaporan yang dilakukan oleh Korlabi. Ia menganggap kesalahan Sukmawati tersebut dijadikan ajang dalam mempertahankan eksistensi kelompok PA 212 dan FPI yang saat ini cukup sulit mencari panggung.
Pelaporan Sukmawati itu tentu sama saja mengingatkan kasus pelaporan penodaan agama yang dituduhkan pada tokoh mereka Rizieq Shihab yang dituding menghina Tuhan agama lain. Bahkan kelompok pimpinannya juga pernah menghadang jemaat gereja HKBP yang saat itu hendak melakukan peribadatan di Gereja.
Sementara itu, Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans, meminta agar Front Pembela Islam (FPI) agar tidak mencari panggung dengan melaporkan pendakwah Ahmad Muwafiq alias Gus Muwafiq.

Gus Hans menilai, bahwa Ormas seperti FPI tidak lagi bicara mengenai soal konten, tetapi mencari celah untuk menyerang orang-orang selama ini dekat dengan Istana Negara. Hans lalu menimpalinya bahwa FPI janganlah mencari panggung.
Lantaran Gus Muwafiq kerap diundang ke Istana Negara, lanjut Gus Hans, tentu membuat orang-orang yang berada di luar lingkaran Istana mencoba mencari ‘titik lemah’ agar Gus Muwafiq bisa terpeleset dan kemudian hal tersebut dapat dipakai untuk menyerang kelompok di lingkaran Istana.

Hans juga mengatakan, bahwa FPI dan kelompoknya tengah mencari common enemy untuk men-solidkan internal mereka, hal ini mereka lakukan karena energi mereka berkurang pasca bergabungnya jenderal yang dielu-elukan menjadi presiden, tetapi sekarang malah bergabung dengan mantan lawan politiknya dalam 1 kabinet.
Kita bisa saja menerka-nerka bahwa FPI sedang kekurangan isu, sehingga apapun topiknya bisa dijadikan alat politis untuk nge-tes solidaritas internal mereka. Tentu kita tahu bahwa reuni 212 kemarin seakan kurang nendang.
Artinya FPI yang berdemo pada hari ini memang membutuhkan Isu untuk bisa mengabsen simpatisannya. Namun sayang trigger yang diciptakan oleh FPI kurang nendang.

Pada kesempatan berbeda, anggota DPP FPI Amir Hasanudin melaporkan Muwafiq ke Bareskrim Mabes Polri, namun sayangnya berita tersebut tidak diterima karena terdapat berkas yang kurang, yakni terkait dengan terjemahan bahasa Jawa.
Gus Muwafiq dalam ceramahnnya sempat menyebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw lahir biasa saja, tidak bersinar seperti yang digambar sejumlah orang selama ini. Sebab, apabila terlihat bersinar maka bisa ketahuan bala tentara Abrahah.
Dalam ceramahnya di Kabupaten Purwodadi, Jawa Tengah menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW saat kecil rembes karena diasuh kakeknya, Abdul Mutholip.

Jika pernyataan yang dilontarkan oleh Gus Muwafiw itu salah, tentu tidak etis jika pernyataan tersebut langsung dilaporkan ke pihak kepolisian. Mending kalau Cuma lapor lha ini sampai ada pengerahan massa yang begitu banyaknya.

Kita tahu bahwa ormas FPI telah mencatatkan sejarah sebagai ormas yang sering melakukan kerusuhan. Seperti pada aksi damai yang diselenggarakan oleh Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).
Dengan banyaknya masa yang hadir dalam aksi demo tersebut, tentu saja mengesankan bahwa FPI memiliki bahan isu terbaru untuk kemudian disebar di tempat umum hanya bermodalkan gadget.

Danantara Perkuat Investasi untuk Pembangunan Nasional

August 22, 2026

Danantara Perkuat Investasi Strategis untuk Pembangunan Nasional

August 22, 2026

Danantara Perkuat Investasi untuk Pembangunan Nasional

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Danantara Perkuat Investasi untuk Pembangunan Nasional  Oleh: Ricky Rinaldi Pemerintah terus memperkuat transformasi ekonomi nasional dengan menempatkan investasi sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan jangka panjang. Dalam arah kebijakan menuju 2027, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memperoleh peran strategis sebagai instrumen untuk mengoptimalkan aset negara, memperkuat investasi, dan mendorong pembangunan sektor-sektor strategis. Kehadiran Danantara menunjukkan upaya pemerintah membangun sumber pertumbuhan baru yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Presiden Prabowo Subianto menegaskan posisi tersebut dalam penyampaian Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) 2027 beserta Nota Keuangan di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada 14 Agustus 2026 lalu. Presiden menyebut Danantara sebagai dana kedaulatan yang harus menjadi instrumen untuk membangun kapasitas bangsa dalam jangka panjang. Danantara karena itu diarahkan bukan sekadar sebagai pengelola aset negara, melainkan sebagai bagian dari strategi investasi dan pembangunan sektor strategis yang memberikan manfaat berkelanjutan. Arah tersebut memperlihatkan perubahan pendekatan dalam mengelola kekuatan ekonomi nasional. Aset negara perlu ditempatkan pada kegiatan produktif yang mampu meningkatkan kapasitas industri, mempercepat hilirisasi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan nasional. Melalui pengelolaan yang terintegrasi, Danantara diharapkan mampu menghubungkan kekayaan negara dengan kebutuhan investasi serta proyek pembangunan yang memiliki nilai strategis dan manfaat jangka panjang. Peran Danantara semakin penting dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa konsolidasi aset Danantara dapat menjadi katalis peningkatan investasi. Danantara dapat memaksimalkan aset dan proyek untuk menarik partisipasi sektor swasta dan pelaku ekonomi nonpemerintah. Dengan demikian, investasi negara dapat menciptakan efek crowd-in, yakni mendorong dunia usaha meningkatkan ekspansi, membuka fasilitas produksi baru, dan memperluas kegiatan bisnis. Pendekatan tersebut menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional merupakan tanggung jawab bersama seluruh pelaku ekonomi. Pemerintah tidak hanya berperan sebagai penyedia anggaran, tetapi juga menciptakan kondisi yang memungkinkan sektor swasta berkembang. Investasi Danantara dapat menjadi pemicu awal yang kemudian diikuti modal swasta sehingga kapasitas ekonomi nasional meningkat secara lebih luas. Sinergi tersebut juga berpotensi memperbesar penciptaan lapangan kerja dan memperkuat aktivitas ekonomi di berbagai daerah. Strategi investasi Danantara diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki nilai strategis dan potensi dampak luas. Delapan sektor utama yang menjadi fokus meliputi energi terbarukan, mineral, infrastruktur digital, infrastruktur dan utilitas, real estat, layanan keuangan, pangan dan pertanian, serta layanan kesehatan. Pemilihan sektor tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat ketahanan nasional, dan membangun fondasi pertumbuhan baru yang lebih bernilai tambah.…

Danantara Perkuat Investasi Strategis untuk Pembangunan Nasional

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Danantara Perkuat Investasi Strategis untuk Pembangunan Nasional Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara…

Danantara Kawal Penyederhanaan BUMN agar Aset Negara Lebih Produktif  

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Danantara Kawal Penyederhanaan BUMN agar Aset Negara Lebih Produktif Jakarta – Transformasi dan restrukturisasi Badan…

Ketahanan Energi 2027: Jalan Besar Indonesia Menuju Kemandirian Energi 

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Ketahanan Energi 2027: Jalan Besar Indonesia Menuju Kemandirian Energi  Oleh: Hanan Alfawazi Ketahanan energi merupakan salah satu fondasi utama bagi keberlanjutan pembangunan nasional. Tanpa pasokan energi yang cukup, terjangkau, dan dapat diandalkan, pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, pembangunan infrastruktur, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat akan menghadapi berbagai hambatan. Karena itu, arah kebijakan energi Indonesia pada 2027 memiliki arti strategis, bukan sekadar sebagai agenda sektoral, melainkan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian nasional. Kebutuhan energi terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, sementara produksi minyak nasional menghadapi tekanan penurunan alamiah. Pada saat yang sama, dinamika geopolitik global membuat harga dan pasokan energi semakin sulit diprediksi. Kondisi tersebut membuat penguatan sumber energi domestik menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Dalam konteks tersebut, target lifting minyak sebesar 610 ribu barel per hari dan lifting gas sekitar 950 ribu barel setara minyak per hari dalam RAPBN 2027 menjadi salah satu instrumen penting. Target tersebut dinilai realistis oleh Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya, terutama dengan melihat peluang optimalisasi lapangan produksi yang telah ada serta pengembangan sumur-sumur baru. Namun, peningkatan lifting tidak dapat dicapai hanya dengan menetapkan target. Sektor hulu migas membutuhkan investasi, teknologi, kepastian regulasi, serta proses pengembangan lapangan yang efisien. Tantangan natural decline juga harus dihadapi secara serius karena sebagian lapangan migas nasional telah memasuki fase produksi yang matang. Anggota Dewan Energi Nasional Saleh Abdurrahman melihat masih terdapat ruang untuk menahan laju penurunan alamiah tersebut melalui optimalisasi sumur eksisting dan pengembangan sumur baru. Pengembangan wilayah frontier serta penggunaan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) juga menjadi bagian dari pilihan strategis untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi nasional. Artinya, kebijakan peningkatan lifting harus ditempatkan sebagai agenda jangka panjang. Pemerintah tidak cukup hanya mengejar angka produksi dalam satu tahun anggaran, tetapi juga harus memastikan keberlanjutan investasi dan penemuan cadangan baru. Jika investasi hulu berjalan konsisten, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat ekosistem industri migas nasional.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.