• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»Evaluasi Berkala Jadi Fokus Pemerintah dalam Pelaksanaan MBG

Evaluasi Berkala Jadi Fokus Pemerintah dalam Pelaksanaan MBG

  • Kata Indonesia
  • - Tuesday, 2 June 2026

Evaluasi Berkala Jadi Fokus Pemerintah dalam Pelaksanaan MBG

Oleh : Alfisyah Arafah

Pemerintah terus memperkuat pengawasan dan evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna memastikan kualitas pelayanan tetap terjaga dan manfaat program benar-benar dirasakan masyarakat. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam membangun generasi sehat melalui pelayanan gizi yang tepat sasaran, transparan, dan berkelanjutan. Selama setahun terakhir, pemerintah dinilai berhasil memperluas cakupan program MBG, memperkuat distribusi makanan, serta meningkatkan pengawasan terhadap kualitas pelayanan di lapangan.

 

Salah satu upaya terbaru dilakukan Badan Gizi Nasional melalui peluncuran aplikasi Reviu Menu MBG atau Organoleptik. Aplikasi tersebut memungkinkan guru dan kepala posyandu memberikan penilaian langsung terhadap kualitas makanan yang diterima penerima manfaat. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Sony Sonjaya mengatakan sistem ini dikembangkan untuk meningkatkan kewaspadaan seluruh pelaksana program dalam menjaga mutu makanan.

 

Melalui aplikasi tersebut, pengawasan tidak lagi hanya dilakukan secara internal oleh Badan Gizi Nasional, tetapi juga melibatkan pihak penerima manfaat secara langsung. Guru yang ditunjuk sekolah dan kepala posyandu bertugas sebagai PIC Kelompok Penerima Manfaat MBG dan dapat memberikan evaluasi terhadap makanan yang diterima setiap hari. Penilaian dilakukan berdasarkan sejumlah indikator, mulai dari ketepatan waktu distribusi, aroma makanan, rasa makanan, tampilan makanan, hingga variasi menu yang disajikan.

 

Menurut Sony Sonjaya, keterlibatan guru dan kepala posyandu diharapkan mampu meningkatkan akurasi pengawasan sekaligus menjadi sistem deteksi dini apabila ditemukan persoalan distribusi maupun kualitas makanan di lapangan. Pemerintah menilai sistem evaluasi digital tersebut dapat mempercepat penanganan masalah serta meningkatkan kualitas pelayanan secara menyeluruh.

 

Data Dashboard Reviu Menu MBG per 23 Mei 2026 menunjukkan hasil evaluasi yang cukup positif. Sebanyak 1.707 laporan telah masuk dari berbagai wilayah di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.705 laporan atau sekitar 99,88 persen menyatakan makanan dalam kondisi layak konsumsi. Hanya dua laporan yang menyebut makanan tidak layak dikonsumsi.

 

Selain itu, tingkat ketepatan waktu distribusi makanan mencapai 97,95 persen. Sebanyak 1.672 laporan menyebut makanan diterima tepat waktu atau bahkan lebih awal, sedangkan 35 laporan mencatat adanya keterlambatan distribusi. Dari sisi kualitas sensorik, aroma makanan dinilai layak dalam 1.702 laporan atau sekitar 99,71 persen. Sementara pada aspek tampilan makanan, sebanyak 1.697 laporan atau 99,41 persen menyebut kondisi makanan sesuai standar pelayanan. Pada aspek rasa, sebanyak 1.688 laporan atau sekitar 98,89 persen menilai makanan dapat diterima dengan baik oleh penerima manfaat.

 

Capaian tersebut menunjukkan adanya peningkatan kualitas tata kelola program MBG selama setahun terakhir. Pemerintah tidak hanya fokus memperluas jangkauan penerima manfaat, tetapi juga memperkuat sistem pengawasan dan evaluasi agar kualitas pelayanan tetap terjaga. Kehadiran aplikasi evaluasi digital dinilai menjadi salah satu terobosan penting dalam menciptakan sistem pengawasan yang lebih cepat, transparan, dan akurat.

 

Di sisi lain, pemerintah juga menegaskan bahwa efisiensi anggaran tidak akan mengurangi kualitas pelayanan program. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa efisiensi diterapkan untuk memperbaiki manajemen belanja negara agar penggunaan anggaran menjadi lebih optimal dan akuntabel. Pemerintah terus melakukan pembenahan sistem pengelolaan program, termasuk pola belanja dan mekanisme distribusi yang dijalankan Badan Gizi Nasional.

 

Purbaya Yudhi Sadewa menilai langkah pembenahan tersebut akan memperkuat transparansi sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Pemerintah berupaya memastikan setiap anggaran yang digunakan benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas gizi penerima manfaat dan tidak terhambat persoalan distribusi maupun pengelolaan administrasi.

 

Komitmen pemerintah dalam menjaga kualitas pelaksanaan MBG juga terlihat dari langkah evaluasi yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto terhadap dapur penyedia makanan. Presiden menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mentoleransi pelaksanaan program yang tidak memenuhi standar pelayanan. Karena itu, lebih dari 3.000 dapur MBG yang dinilai memiliki berbagai kekurangan dalam pengelolaan diputuskan untuk ditutup sebagai bagian dari upaya penertiban dan peningkatan kualitas layanan.

 

Prabowo Subianto mengakui bahwa pelaksanaan program MBG masih menghadapi sejumlah kekurangan. Namun pemerintah memilih melakukan pembenahan secara terbuka agar kualitas pelayanan terus meningkat dan kepercayaan masyarakat tetap terjaga. Penutupan dapur yang tidak memenuhi standar dinilai sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam memastikan program berjalan profesional dan berkelanjutan.

 

Selain pengawasan internal, Presiden juga meminta pemerintah daerah, anggota DPR, hingga masyarakat untuk ikut aktif melakukan pengawasan terhadap operasional dapur MBG. Pemerintah menilai partisipasi publik sangat penting agar kualitas makanan, distribusi, dan pelayanan kepada penerima manfaat dapat terjaga secara konsisten di seluruh wilayah.

 

Meski anggaran MBG tahun 2026 mengalami efisiensi dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun, pemerintah memastikan pengurangan tersebut tidak akan memengaruhi kualitas maupun cakupan pelayanan. Pemerintah justru ingin memastikan bahwa setiap anggaran digunakan lebih efektif demi memperkuat kualitas tata kelola program.

 

Dengan evaluasi berkala, penguatan pengawasan, serta keterlibatan masyarakat dalam proses pemantauan, program MBG diharapkan mampu menjadi fondasi penting dalam menciptakan generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan berdaya saing. Pemerintah juga diharapkan terus menjaga konsistensi pembenahan agar program ini dapat berjalan transparan, profesional, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.

 

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Gentengisasi Prabowo, Memperkuat UMKM dan Menghidupkan Potensi Ekonomi Daerah

November 7, 2026

Pembasahan Gambut Menjadi Langkah Penting Memutus Siklus Karhutla

November 7, 2026

Gentengisasi Prabowo, Memperkuat UMKM dan Menghidupkan Potensi Ekonomi Daerah

By Kata IndonesiaNovember 7, 20260

Gentengisasi Prabowo, Memperkuat UMKM dan Menghidupkan Potensi Ekonomi Daerah Oleh Sulaiman Di tengah upaya memperkuat…

Pembasahan Gambut Menjadi Langkah Penting Memutus Siklus Karhutla

By Kata IndonesiaNovember 7, 20260

Pembasahan Gambut Menjadi Langkah Penting Memutus Siklus Karhutla Oleh : Sigit Prasetyo Pembasahan gambut menjadi…

Kasus Penyadapan Ilegal Diusut, Semua Pihak Diminta Tunduk pada Hukum

By Kata IndonesiaNovember 7, 20260

Kasus Penyadapan Ilegal Diusut, Semua Pihak Diminta Tunduk pada Hukum Jakarta – Kasus dugaan penyadapan…

Mengapresiasi Prabowo: Berani dan Tegas kepada Pengancam Negara 

By Kata IndonesiaNovember 7, 20260

Mengapresiasi Prabowo: Berani dan Tegas kepada Pengancam Negara  Oleh: Amril Jambak Ada saatnya seorang pemimpin harus mengambil sikap tegas. Bukan semata-mata untuk menunjukkan kekuasaan, melainkan untuk memastikan bahwa negara tidak boleh dipermainkan oleh siapa pun. Terlebih jika persoalan yang dihadapi menyangkut keselamatan kepala negara, keamanan pemerintahan, serta kedaulatan bangsa. Perkembangan terbaru mengenai dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat negara menjadi persoalan serius yang tidak boleh dipandang sebagai perkara biasa. Apalagi, dugaan tersebut menyeret sejumlah individu dari lingkungan institusi penegak hukum. Pada 3 November 2026, Bareskrim Polri menetapkan tiga personel kepolisian berinisial LSP, ASN, dan EH sebagai tersangka dalam perkara dugaan penyadapan tanpa prosedur, akses ilegal, serta penghapusan data elektronik. Ketiganya kemudian menjalani penahanan untuk kepentingan penyidikan. Sehari setelahnya, 4 November 2026, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden Prabowo sangat prihatin atas peristiwa tersebut. Pemerintah bahkan menilai perkara itu memiliki indikasi yang mengarah pada perbuatan makar dan berpotensi membahayakan keselamatan pimpinan serta kepentingan negara. Langkah Presiden yang menandatangani keputusan pemberhentian Listyo Sigit Prabowo dari jabatan Kepala Staf Kepresidenan juga menunjukkan bahwa persoalan ini tidak dibiarkan berlarut-larut. Untuk sementara, Presiden menunjuk Letjen TNI Ariyo Windutomo sebagai Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan. Keputusan tersebut patut diapresiasi. Sebab, seorang presiden tidak boleh ragu mengambil tindakan ketika terdapat persoalan serius yang menyentuh keamanan dan kewibawaan negara. Indonesia adalah negara hukum, bukan negara yang boleh dikendalikan oleh kepentingan kelompok, jaringan kekuasaan, ataupun faksi tertentu.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.