Angka perceraian di Kabupaten Indramayu masih tinggi.
Pengamat Sosial dari Universitas Wiralodra Ujang Suratno mengatakan, fenomena yang terjadi di Indramayu cukup unik.
Yakni banyak warga yang menikah saat waktu panen. “Saat paceklik mereka bercerai,” kata Ujang, yang merupakan rektor di Universitas Wiralodra.
Banyaknya tenaga kerja wanita juga bisa menjadi faktor penyebabnya.
Ujang mengatakan, untuk mengatasi persoalan itu memang pemerintah perlu meningkatkan lapangan pekerjaan. Dengan demikian, warga bisa meningkatkan perekonomian masing-masing dengan bekerja di Indramayu.
“Pertumbuhan ekonomi ditingkatkan sehingga bisa menekan perceraian,” katanya. Jika persoalan ekonomi sudah dibenahi, maka persoalan perceraian setidaknya bisa berkurang signifikan.
Pemerintah daerah pun sudah berupaya untuk menekan perceraian di Kabupaten Indramayu.
Data dari Pengadilan Agama Kabupaten Indramayu angka perceraian pada tahun 2019 kemarin mencapai 9.822 kasus.
Presiden Prabowo Subianto menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2026 tentang Percepatan Swasembada Pangan…
Ekonomi Indonesia diperkirakan akan menghadapi tekanan akibat berbagai kondisi yang berdampak ke tanah air. Perang…
Kepuasan Publik dan Legitimasi Program MBG Oleh : Rivka Mayangsari Dukungan publik terhadap pemerintahan Presiden…
MBG dan Tingginya Kepuasan Publik terhadap Kinerja Pemerintah Oleh: Asep Faturahman Program Makan Bergizi Gratis…
Ikan sapu-sapu yang ditangkap di aliran Kali Ciliwung, Kramat Jati, Jakarta Timur, kerap dimanfaatkan oleh…
Survei Ungkap MBG Berkontribusi pada Tingginya Kepuasan Kinerja Pemerintah Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis…